


oleh Noona Y · 34 Bab
“Aku akan menikahimu.” Kalimat itu seharusnya jadi penyelamat. Namun, bagi Bela itu justru mimpi buruk. Dalam hati, ia bersumpah lebih baik kehilangan ingatan daripada harus menikah dengan Juna. “Jangan mimpi! Dan jangan pernah berani mengatakan soal ini pada ayahku!" ancam Bella. "Jangan pernah berani menceritakan apa yang kau lakukan padaku pada siapa pun! Lupakan semua ini, anggap tidak pernah terjadi!" Baginya, Juna hanyalah seorang tukang kebun, pria yang tak layak bersanding dengannya. Namun, Juna bukan pria yang bisa disingkirkan begitu saja. Ia memiliki sebuah rahasia besar. Karena pria yang Bella hina sebagai tukang kebun, sebenarnya adalah calon suaminya.
Rrrr-tt-tt-tt-tt!
Suara deru baling-baling helikopter memecah keheningan di atas puncak gedung pencakar langit "The Raden Corporation".
Ray, asisten pribadi Arjuna, berdiri di antara para deretan pria tegap yang mengenakan setelan jas hitam dan kacamata hitam.
Helikopter mendarat mulus di atas helipad. Juna melangkah keluar. Ia mengenakan setelan jas berwarna charcoal yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.
Ray segera mendekat, diikuti barisan pengawal yang langsung menundukkan kepala begitu Juna melewatinya.
"Apakah aku terlambat?" tanya Juna datar.
"Tidak, Tuan. Masih ada waktu lima belas menit sebelum rapat dimulai," jawab Ray sigap, menyamai langkah cepat tuannya.
Juna berhenti sejenak di depan pintu kaca menuju ruang rapat. "Semua sudah berkumpul?"
"Sudah, Tuan. Para pemegang saham utama telah menunggu di dalam. Hanya Tuan Sadewa yang belum datang."
Juna mendengkus kasar. Pagi ini ia terpaksa kembali ke kota, meninggalkan Desa Wirata yang menjadi tempat persembunyiannya selama ini. Berangkat subuh saat langit masih gelap, Juna harus menanggalkan identitasnya sebagai mandor kebun dan kembali mengenakan identitas aslinya sebagai calon pewaris tunggal kerajaan bisnis The Raden.
Juna mengencangkan simpul dasinya, tatapannya kini berubah menjadi lebih tajam. Jika ia harus kembali ke dunia ini, maka ia harus memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa menginjak-injaknya.
"Buka pintunya," perintah Juna dingin.
Pintu besar ruang rapat terbuka lebar, menampakkan ruangan mewah yang seketika hening begitu Arjuna Raditya Raden melangkah masuk.
Belasan pasang mata tertuju padanya. Atmosfer ruangan seketika berubah, berat dan penuh dengan ketegangan yang tersembunyi.
"Arjuna!"
Suara lembut memecah keheningan. Citra Dewi Maharani, wanita dengan aura keanggunan yang selalu terpancar, bergegas menghampiri putranya. Ia menyambut Arjuna dengan pelukan hangat. "Bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama kita tidak bertemu," bisiknya pelan, hanya terdengar oleh Arjuna.
Arjuna tersenyum sumringah pada ibunya, lalu mengalihkan pandangan ke kepala meja. Di sana, duduk Yudistira, pria tua yang matanya masih setajam elang meski usia telah menggerogoti fisiknya.
"Kukira kau tidak akan datang hari ini," ujar Yudistira dengan nada meremehkan yang familiar bagi Arjuna.
Arjuna justru terkekeh. Ia menarik kursi tepat di depan kakeknya, lalu menatap pria tua itu dengan tatapan menantang. "Karena saya tahu, rapat sepenting ini tidak akan berjalan tanpa kehadiran saya."
Yudistira hanya mendengkus, tapi ada kilatan kebanggaan di balik tatapan sinisnya.
Pandangan Arjuna kemudian beralih ke sisi lain meja, ke arah Wisnu—ayah tirinya—ayah dari Sadewa, sang kakak yang hingga kini belum muncul.
Seperti biasa, Arjuna mengangguk sopan padanya, sebuah gestur formalitas yang memang harus ia tunjukkan dihadapkan umum.
"Selamat pagi, Ayah." Namun, Wisnu hanya menatapnya kosong tanpa keramahan ataupun sapaan balik. Jelas, ia tidak mengharapkan kehadiran Arjuna, anak tirinya itu.
Wisnu melipat tangannya di atas meja dengan tenang, tetapi ketidaksukaan yang mendalam terasa begitu kental, bahkan lebih dingin daripada tatapan sang kakek.
Arjuna tak peduli, selalu mengabaikan respon dingin itu. Ia menyandarkan punggungnya, menautkan jemarinya di atas meja, dan mulai menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.
"Jadi, mari kita mulai. Di mana Sadewa? Apa dia harus dijemput dahulu agar bisa hadir di rapat sepenting ini?"
Sindiran Arjuna membuat suasana ruangan semakin panas. Selalu ada permainan yang dimainkan kakaknya itu.
Suasana di dalam ruang rapat seketika berubah serius saat lampu meredup dan proyektor menampilkan desain maket digital yang megah.
"Proyek 'Mandala Pandawa'." Ray memulai presentasi dengan suara lantang. "Pembangunan kompleks resort bintang lima, pusat perbelanjaan eksklusif, dan deretan villa mewah tepat diatas laut. Proyek ini akan memikat wisatawan asing dari berbagai mancanegara."
Arjuna menyilangkan kaki, memerhatikan setiap detail bangunan di layar dengan saksama. Sementara itu, gumaman mulai terdengar dari para pemegang saham.
"Saya setuju sepenuhnya," sahut salah satu direktur senior sambil mengangguk mantap. "Lokasi itu adalah tambang emas yang belum digali maksimal. Jika kita berhasil menguasai pesisir Pandawa, kompetitor lain tidak akan punya celah."
Ketegangan mulai muncul saat seorang pria tua di sudut meja mengetukkan pulpennya dengan keras.
"Saya keberatan," potongnya tegas. "Biaya investasinya terlalu fantastis, belum lagi masalah perizinan lahan di wilayah pesisir yang semakin ketat. Ini terlalu berisiko. Kita bisa terjebak dalam masalah hukum berkepanjangan hanya untuk sebuah pusat perbelanjaan yang belum tentu ramai."
Ruangan itu terbelah. Perdebatan mulai memanas. Ada yang mendukung, tapi ada juga yang skeptis dan takut akan kerugian besar.
"Bagaimana menurutmu, Arjuna?" tanya Yudistira tiba-tiba. Suara sang kakek seketika membungkam perdebatan di ruangan itu. Semua mata kini tertuju pada pria yang baru saja kembali dari desa tersebut.
Arjuna tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, memutar-mutar pena di jarinya, lalu menatap layar proyektor dengan pandangan yang sulit ditebak.
"Pusat perbelanjaan itu ide yang buruk," ucap Arjuna tenang namun berwibawa, membuat mereka yang setuju tadi terperanjat.
"Tapi ...." Arjuna menjeda kalimatnya, ia bangkit dari kursi dan berjalan perlahan menuju layar proyektor. Ia mematikan slide pusat perbelanjaan yang mewah itu, menyisakan layar kosong yang putih bersih.
"Kita tidak akan membangun mall. Kita akan membangun tempat isolasi," ucapnya penuh penekanan.
Seluruh ruangan terdiam. Yudistira menyipitkan mata, sementara Wisnu tampak ingin tertawa mengejek.
"Apa maksudmu? Membawa konsep pedesaan ke Pantai Pandawa? Itu gila, Arjuna!" seru salah satu pemegang saham.
"Orang-orang di perkotaan besar dan negara maju, tidak lagi membutuhkan barang bermerek, melainkan "waktu dan ketenangan" Saya ingin membangun sebuah kompleks di mana para konglomerat dunia bisa datang, menanggalkan ponsel mereka, dan hidup seperti petani, tapi dengan fasilitas pelayanan raja."
"Mereka akan menanam buah hasil kebun mereka sendiri dengan air yang dialirkan langsung dari gunung, mereka akan berkuda di pesisir pantai seperti yang dilakukan para bangsawan kuno, dan mereka akan membayar sepuluh kali lipat harga hotel bintang lima, hanya untuk mendapatkan pengalaman 'kembali ke jaman kuno'."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Ide itu terdengar gila, mustahil, tetapi entah mengapa terasa sangat masuk akal bagi pasar kelas atas yang sudah bosan dengan kemewahan ibukota.
Wisnu, ayah tirinya, akhirnya bersuara dengan nada dingin yang menusuk. "Kau bicara seolah-olah sudah melakukan riset mendalam, Arjuna. Jangan lupa, kau sudah terlalu lama berada di desa, mungkin pandangan bisnismu mulai ... tumpul."
Arjuna tersenyum miring, sama sekali tidak terintimidasi.
Tepat saat suasana mencapai puncak ketegangan, pintu ruang rapat terbuka dengan kasar.
"Maaf saya terlambat." Sadewa melangkah masuk dengan setelan jas yang tak kalah mahal.

Noona Y
6 Pengikut · 5 Novel