“Berapa harga yang mereka tawarkan untuk kepalaku, Yah?”
Suara Arini bergetar, nyaris tidak terdengar di antara isak tangis ibunya yang tertahan di sudut ruang tamu sempit itu.
Di depannya, seorang pria paruh baya dengan gurat kelelahan dan rasa malu yang mendalam hanya mampu menunduk.
“Dua miliar, Rin,” jawab ayahnya pelan, suaranya serak.
“Mereka akan menghapus seluruh utang Ayah, memberikan sertifikat rumah ini kembali, dan membiayai pengobatan ibumu sampai tuntas. Syaratnya hanya satu, kau harus menikah dengan putra sulung keluarga Dirgantara.”
Arini memejamkan mata rapat-rapat. Nama ‘Dirgantara’ bukan sekadar nama keluarga biasa. Mereka adalah penguasa imperium bisnis yang guritanya mencengkeram hampir seluruh sektor industri di negeri ini.
“Menikah dengan pria lumpuh itu?” Arini tertawa getir, meski air mata mulai membasahi pipinya.
“Jadi, aku adalah tumbal untuk meja judi Ayah?”
“Maafkan Ayah, Rin. Ayah terjebak. Mereka mengancam akan membawa masalah ini ke jalur hukum.”
Pilihan. Kata itu terasa begitu mewah bagi Arini. Sebagai seorang perempuan yang baru saja merintis karier, ia selalu membayangkan pernikahan yang didasari oleh cinta, atau setidaknya kesepakatan antara dua insan yang saling menghargai.
Seminggu setelah percakapan menyakitkan itu, Arini mendapati dirinya berdiri di depan sebuah cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang sangat mahal, bertahtakan payet kristal yang berkilauan tertimpa lampu kristal di ruang rias. Namun, wajah di balik riasan tebal itu tampak pucat pasi.
Upacara pernikahan berlangsung tertutup dan sangat singkat di kediaman mewah keluarga Dirgantara. Tidak ada pesta pora, tidak ada jabat tangan hangat. Adrian bahkan tidak hadir di altar. Pernikahan itu disahkan melalui wali dan tanda tangan di atas dokumen hukum yang dingin.
Malam harinya, sebuah mobil mewah membawanya menuju sebuah mansion yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota. Mansion itu berdiri angkuh di atas bukit, dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Saat gerbang terbuka, suasana sunyi yang mencekam langsung menyergap. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi di sepanjang jalan masuk seolah berbisik menyambut tawanan baru mereka.
“Mari, Nyonya Muda. Tuan Muda sudah menunggu di dalam,” ucap seorang pelayan pria tua bernama Pak Gunawan dengan nada bicara yang sangat formal.
Langkah kaki Arini menggema di atas lantai marmer yang mengilap. Mansion ini begitu luas dan megah, tapi terasa sangat dingin.
Pak Gunawan mengantarnya ke sebuah pintu kayu jati besar di lantai dua. Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia tahu, di balik pintu inilah “penjaranya” yang sesungguhnya berada.
“Silakan masuk, Nyonya. Tuan tidak suka menunggu lama.” Pak Gunawan membukakan pintu untuknya.
Ruangan itu sangat luas, minim pencahayaan. Hanya ada sebuah lampu meja kecil yang menyala di sudut ruangan, menyisakan sebagian besar area dalam keremangan yang suram.
Aroma kayu cendana bercampur dengan bau obat-obatan samar menusuk indra penciuman Arini. Di dekat jendela besar yang tertutup tirai beludru berat, ia melihat sesosok siluet pria yang duduk diam di atas kursi roda.
Pria itu membelakanginya, menatap kegelapan di balik jendela yang tertutup. Bahunya lebar, tampak kaku. Kesunyian di ruangan itu berlangsung cukup lama hingga bulu kuduk Arini meremang.
“Jadi, kau adalah barang yang dibeli orang tuaku?” Suara itu rendah, berat, dan penuh dengan nada sarkasme yang tajam.
Arini tersentak. Ia mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil.
“Namaku Arini, dan aku bukan barang.”
Adrian memutar kursi rodanya perlahan. Saat wajahnya tertimpa cahaya lampu meja yang temaram, Arini sempat tertahan napas.
Pria itu sangat tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung, tapi matanya, mata itu tampak mati. Dingin, hampa, dan penuh dengan kebencian yang mendalam. Tidak ada sisa-sisa kehangatan manusia di sana.
Adrian menatap Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Ia lalu mendengkus pendek, sebuah tawa kering yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun.
“Arini.” Adrian mengeja namanya dengan nada jijik.
“Berapa banyak ayahmu meminta? Dua miliar? Tiga miliar? Murah sekali untuk harga sebuah harga diri.”
“Aku melakukan ini untuk keluargaku,” balas Arini, tangannya mengepal di balik gaun pengantinnya yang masih ia kenakan.
“Keluarga? Jangan membual tentang pengabdian di depanku. Kau di sini karena kau menginginkan kenyamanan hidup sebagai istri seorang Dirgantara, meski suamimu hanya setengah manusia, bukan?” Adrian menggerakkan kursi rodanya mendekat, membuat Arini refleks melangkah mundur.
Adrian berhenti tepat di depan Arini. Ia meraih pergelangan tangan Arini dengan cengkeraman yang sangat kuat, kekuatan yang tidak terduga dari seorang pria yang duduk di kursi roda. Ia menarik Arini mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
“Dengar baik-baik, Arini. Kau mungkin memiliki status istri di atas kertas, tapi di rumah ini, kau tidak lebih dari sekadar pajangan. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan cinta dariku, dan jangan pernah berharap hidupmu akan indah setelah ini.”
Cengkeraman itu terlepas kasar. Adrian kembali memutar kursi rodanya, memunggungi Arini seolah keberadaan wanita itu sudah tidak ada lagi.
“Sekarang, lepaskan gaun konyolmu itu dan keluar. Pelayan akan menunjukkan kamarmu. Kamar kita terpisah. Aku tidak ingin melihat wajahmu sampai aku memanggilmu,” titahnya dingin.
Arini hanya bisa berdiri mematung. Rasa sesak di dadanya kian menjadi. Ia membalikkan badan, hendak keluar dari ruangan terkutuk itu, langkahnya terhenti ketika ia melihat sesuatu di atas meja kecil di dekat pintu.
Sebuah bingkai foto yang retak, menampilkan sosok Adrian yang sedang berdiri gagah dengan pakaian balap, tersenyum lebar ke arah kamera. Namun, yang membuat jantung Arini seakan berhenti berdetak adalah sebuah noda merah yang mengering di sudut foto itu, seperti noda darah tua yang sengaja dibiarkan.
Tepat saat Arini hendak menyentuh bingkai itu, suara Adrian kembali menggelegar dari balik kegelapan.
“Jangan sentuh apa pun di ruangan ini jika kau masih ingin melihat matahari besok pagi, Arini!”
Arini terjingkat dan segera keluar dengan perasaan campur aduk. Saat pintu tertutup rapat di belakangnya, ia baru menyadari satu hal yang luput dari perhatiannya sejak awal. Di koridor yang gelap itu, ia melihat seorang pria lain berdiri di kegelapan ujung lorong, mengawasinya dengan tatapan yang sangat aneh, bukan tatapan kasihan, melainkan tatapan penuh ancaman.
Siapakah pria itu? Dan apa yang sebenarnya terjadi di mansion ini? Arini menyadari, pernikahannya bukan sekadar soal melunasi utang, melainkan awal dari sebuah misteri yang mungkin akan mempertaruhkan nyawanya.