


oleh aletha_dah · 15 Bab
Haris dan Viola yang telah bersahabat dari kecil, tiba-tiba dijodohkan oleh orang tua mereka dan harus melaksanakan pernikahan dalam waktu satu minggu. Haris dan Viola terkejut dan tidak ingin menerima keputusan tersebut. Namun, orang tua mereka besekukuh tetap ingin menikahkan mereka. Bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah Viola dan Haris tetap menikah atau malah sebaliknya?
Haris dan Viola duduk berdampingan di hadapan kedua orang tua mereka.
Viola menatap sahabatnya sekilas, lalu dia kembali menatap ayahnya, begitu juga dengan Haris yang melakukan hal sama.
"Ehem! Ada yang ingin ayah bicarakan pada kalian," ucap ayah Haris sambil melonggarkan dasinya.
"Ada apa, Yah?" tanya Haris.
"Ayah dan juga ayahnya Viola sepakat untuk menjodohkan kalian. Saat ini kami para orang tua sudah menyusun rencana pernikahan kalian," jawab ayah Haris.
"Apa?!" teriak Viola dan Haris bersamaan.
Viola dan Haris tentu saja sangat terkejut mendengar hal ini. Tidak ada angin atau hujan, tapi kenapa tiba-tiba para orang tua menjodohkan mereka tanpa meminta pendapat terlebih dahulu?
"Dijodohkan?" tanya Haris pada ayahnya.
"Iya." Jawaban tegas dari ayahnya membuat bahu Haris merosot. Dia tidak habis pikir dengan keputusan yang dibuat ayahnya ini.
"Tidak!" seru Viola.
Haris yang berada di dekatnya harus menutup telinganya karena suara teriakan Viola yang begitu keras.
"Tidak ada penolakan, Vi! Kamu harus menikah dengan Haris minggu depan." Michael berkata dengan tegas sambil menatap tajam putrinya.
"Ayah, aku tidak mau menikah. Bukan tidak mau, tapi belum saatnya."
"Betul apa yang diucapkan Viola, Om. Usia kami masih sangatlah muda, belum saatnya kami menikah," imbuh Haris.
Haris berharap Michael dan ayahnya mau mengerti dan mempertimbangkan keputusan mereka. Menikah bukanlah permainan yang bisa dimainkan sesuka hati. Haris juga belum kepikiran untuk menikah di usianya yang masih sangat muda.
"Haris, kalau kamu menolak rencana pernikahan yang sudah ayah dan Michael tentukan, maka jangan salahkan ayah kalau semua fasilitas yang kamu pakai, ayah cabut!"
Dapat Haris rasakan jika ayahnya tidak hanya sekedar menggertaknya, tapi ini adalah ancaman dari ayahnya.
"Pokoknya minggu depan kalian harus menikah." Michael berkata dengan tegas dan tidak memberikan celah untuk Haris maupun Viola membantahnya.
Viola membelalakkan mata saat mendengar keputusan ayahnya. Viola benar-benar tidak ingin menikah di usia muda, apalagi harus menikah dengan Haris.
‘'Awas aja Ayah, nanti aku akan mengadu sama Bunda kalau Ayah maksa aku menikah sama Haripo,” batin Viola, menatap Michael intens.
"Kenapa kamu menatap ayah seperti itu, Viola?" tanya Michael, melihat putrinya yang sedang menatapnya dengan mata melotot.
"Aku mau ngadu sama Bunda," ucap Viola, bersedekap dada dengan wajah marah.
"Apa kamu juga sudah bosan sama fasilitas yang ayah berikan buat kamu, Viola?" tanya Michael, lalu minum teh hangat yang disediakan oleh ART.
"Ayah!" seru Viola, berdiri dan meninggalkan tiga pria di ruang keluarga dengan langkah cepat.
Mengambil sepeda yang ia parkir di halaman rumah keluarga Alexsandra, Viola mengayuh sepeda dengan cepat, sambil tak berhenti mengomel.
Rumah Viola dan Harris tidak begitu jauh, 20 menit sudah sampai.
Viola memasuki rumahnya, masih terus mengomel dengan wajah merah padam. Suaranya yang keras membuat sang bunda yang sedang menonton TV menoleh ke asal suara.
"Kamu kenapa, Vi?" tanya bunda Viola dengan suara lembut, berusaha menenangkan putrinya.
"Bunda, Ayah jahat," rengek Viola, lalu menangis. Sang bunda pun menghampiri Viola yang duduk di sofa single, memeluknya dengan erat.
"Kenapa?" Bunda Viola mengusap punggung anaknya dengan lembut. "Cerita sama bunda."
"Ayah sama Om Lucas maksa aku menikah sama Haris, Bun, aku gak mau!" jelas Viola dengan wajah yang semakin merah. Viola menatap bundanya dengan mata yang berkaca-kaca, berharap mendapatkan dukungan dari ibunya.
"Pokoknya, Bunda harus bujuk Ayah supaya jangan maksa aku menikah sama Haris," ucap Viola memohon, suaranya bergetar.
"Kenapa tidak mau menikah dengan Haris, bukannya kalian itu sahabat dekat, ya?" tanya bunda Viola, yang sejujurnya juga sudah tahu rencana suaminya untuk menjodohkan putri bungsunya dengan anak sahabat suaminya. Bunda Viola menatap putrinya dengan ekspresi penasaran.
"Haris itu sudah aku anggap sebagai kakak aku sendiri, Bun. Pokoknya, aku gak mau nikah sama Haris, titik! Gak ada lagi koma," ucap Viola, berdiri, lalu pergi meninggalkan bundanya di ruang nonton TV dengan langkah cepat dan wajah yang masih merah padam.
Sedangkan dua pria paruh baya masih berbincang-bincang. Begitu pun dengan Haris, yang masih ada di sana dengan wajah yang terlihat tidak sabar.
"Bagaimana, Haris?" tanya Michael.
"Tergantung Vio aja, Om. Kalau Vio nolak, aku bisa apa?" ucap Haris, dengan wajah dinginnya yang terlihat semakin memanas karena kesal.
"Viola tidak akan nolak Haris, percaya sama om," ucap Michael yakin. Haris tersenyum kecil pada ayahnya dan Michael. Namun, di balik senyum itu, Haris merasa tidak nyaman dengan keputusan yang dibuat oleh ayahnya.
'Semoga saja kamu nolak, Violet. Aku gak bisa ngelawan Ayahku. Kalau aku ngelawan, semua fasilitasku hilang, aku gak mau,' batin Haris dengan rasa khawatir yang semakin membesar.
"Ya sudah, Lucas. Aku pulang dulu! Aku akan menyuruh Riyana membujuknya supaya menikah dengan Haris," ucap Michael berdiri, bersalaman pada Lucas, lalu beralih pada calon menantunya.
Setelah kepulangan Michael, Haris memberanikan diri untuk bertanya suara yang sedikit bergetar karena kesal.
"Ayah, kenapa aku harus dijodohkan sama Viola? Bagaimana kalau Viola sudah punya pacar?" tanya Haris dengan mata yang memandang ayahnya dengan penuh harap.
"Bukannya selama ini kamu sama Viola selalu bersama?" Lucas balas bertanya, terdengar sedikit dingin.
"Apa selama ini Viola pernah pergi bersama pria lain?" sambung Lucas, menatap tajam putra pertamanya itu. Haris menggeleng dengan perasaan tidak nyaman.
"Pokoknya kalian harus menikah. Kalian tidak perlu tahu alasan kami menikahkan kalian. Yang jelas, kalau kalian menikah, silaturahmi kita semakin baik," ucap Lucas. Ia berdiri, mengambil ponsel yang ada di atas meja, dan pergi meninggalkan Haris sendiri di ruang keluarga dengan perasaan kesal dan tidak sabar.
"Awas aja ya kamu, Violet! Menerima perjodohan ini, aku masukin kamu dalam karung," gumam Haris melirik arloji di tangannya, kemudian keluar dari kediaman Alexsandra.
Setelah makan malam, lagi-lagi Viola dihadapkan pada sidang oleh Michael, karena Viola bersikukuh untuk menolak perjodohannya dengan Haris. Viola duduk dengan wajah masamnya, sambil memandang kedua orang tuanya dengan mata yang terlihat kesal dan sedih.
"Viola!" seru Riyana, ibunda Viola, suara yang lembut tetapi terdengar tegas, mencoba untuk menenangkan putrinya.
"Dengar, Nak, keputusan Ayah adalah yang terbaik," ucap Riyana, mencoba untuk meluluhkan hati putri bungsunya dengan senyum yang lembut.
"Terbaik untuk Ayah sama Bunda, belum tentu terbaik buat aku sama Haris," jawab Viola dengan suara yang tetap keras. Namun, terdengar sedikit bergetar karena kesal dan sedih.
Michael memijit pelipisnya, merasa pusing menghadapi sang putri yang keras kepala, dan wajah yang terlihat frustrasi.
"Anak ini, kenapa keras kepala sekali sih?" gumam Michael, merasa kesal.
"Kalau kamu sampai menolak, ayah tarik semua fasilitas yang sekarang ada sama kamu, dan kamu akan ayah kirim ke panti asuhan!" ancam Michael, meninggalkan ruang keluarga dengan langkah yang cepat dan marah, dengan pintu yang ditutup dengan keras.
Riyana menatap suaminya yang pergi meninggalkan dirinya dan sang putri, lalu menatap putrinya dengan kelembutan, dab mata yang terlihat khawatir.
"Kamu pikirin baik-baik ya, dengerin bunda. Semua keputusan Ayah adalah yang terbaik, Sayang," ucap Riyana, penuh kelembutan.
"Ayah tidak mungkin membuat anak-anaknya susah atau apa pun yang ada di dalam pikiran kamu itu," sambung Riyana, mengelus pundak putrinya dengan lembut.
Viola terdiam, merenung setiap kata-kata bundanya. Ingin menerima perjodohan, tapi dia belum yakin apa dia akan bahagia dengan Haris.
"Gimana dengan Haris ya, apa dia menolak atau menerima perjodohan ini?" gumam Viola, yang masih duduk di sofa, dengan mata yang terlihat bingung dan sedih.
"Apa aku kabur aja dari rumah," gumam Viola. Hatinya yang penuh dengan kegundahan dan ketakutan.

aletha_dah
18 Pengikut · 2 Novel