“Beneran kamu kunci pintunya dari dalam, Maudy?”
“Iya. Biar kamu sadar kita udah bukan bocah SD yang bisa asal nyelonong.”
Maudy memutar kunci pintu kayu itu.
Klik.
Suara kunci yang terpasang menggema tipis di dalam kamar berukuran empat kali empat meter tersebut.
Di atas kasur, dua tumpuk seprai renda berwarna putih bersih, hadiah sesumbar dari Tante Eka masih menyisakan bau pabrik yang cukup pekat.
Rian melempar jas resepsinya yang terasa seberat dua kilo ke atas kursi rias.
Kebaya pengantin Maudy yang anggun dengan taburan payet lokal masih melekat di tubuh wanita itu. Namun, ritsleting bagian belakangnya sudah melorot setengah karena udara kamar yang terasa gerah.
Kipas angin gantung berkaki besi berdecit pelan. Udara malam terus diputar.
Pernikahan mereka baru selesai tiga jam lalu. Resepsinya digelar sederhana di pekarangan rumah Maudy.
Lucunya, rumah mereka memang hanya dipisahkan satu tembok bata setengah meter.
Banner bertuliskan Selamat Atas Pernikahan Rian & Maudy di gang depan bahkan dipasang oleh Pak RT yang sama. Orang yang dulu sering mengejar mereka berdua karena melempari buah jambu air miliknya menggunakan ketapel.
“Panas banget, elah.”
Rian menarik dasinya dengan kasar. Tanpa aba-aba. Tanpa rasa canggung manis khas pengantin baru.
Dia langsung membuka kancing kemejanya satu per satu. Dalam hitungan detik, kemeja putih itu sudah melayang ke atas meja belajar.
Rian kini hanya mengenakan kaus kutang putih tipis dan celana bahan yang sedikit kedodoran.
Maudy yang baru saja melepas konde buatan salon komplek mendadak menoleh lewat cermin rias. Matanya membulat.
“Mas Rian! Kamu ngapain, sih?!” Suara Maudy terdengar setengah berbisik, tetapi tatapannya sudah tajam. “Ganti baju tuh di kamar mandi! Jangan asal lempar kemeja di situ. Kotor, tahu!”
Rian meloncat kaget. Tangannya langsung menutupi dada kaus kutangnya seolah-olah baru saja menjadi korban pelecehan.
“Loh? Kok di kamar mandi?” Dia mengernyit. “Biasanya juga kalau aku main ke rumahmu atau kamu main ke kamarku, aku ganti kaus di depan TV!”
“Itu dulu waktu kita masih umur dua belas tahun, Mas!”
Maudy berkacak pinggang. Napasnya naik turun. Kebaya yang beberapa jam lalu membuatnya terlihat seperti putri keraton kini sudah kehilangan seluruh wibawanya.
“Sekarang kita ini udah, udah ....”
“Udah apa?” Rian mengangkat sebelah alis. Senyum remeh khasnya muncul. “Udah suami-istri?”
Maudy terdiam. Rian terkekeh kecil.
“Nggak usah sok formal deh, Dy. Aku tahu kamu dari zaman ingus kamu masih suka diusap ke lengan baju SD.” Dia menunjuk Maudy santai. “Nggak usah akting canggung atau sok romantis kayak di novel-novel.”
Maudy mendengkus. Kesal yang sudah tertahan sepanjang hari karena harus berdiri hampir delapan jam di pelaminan akhirnya meledak juga.
Tanpa membalas, Maudy berjalan menuju lemari pakaian.
Dia mengambil satu benda yang paling berharga untuk ketenangan malam ini.
Daster terusan berwarna hijau pudar.
Motifnya batik kencana.
Pinggir bagian ketiaknya bahkan sudah robek kecil.
Daster keramat yang menjadi favoritnya sejak zaman kuliah.
Maudy membawa pakaian itu ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka.
Sosok Maudy sang pengantin cantik dan anggun resmi sirna.
Yang tersisa hanyalah Maudy sang tetangga sebelah rumah.
Wajah polos tanpa makeup.
Sedikit berminyak.
Rambutnya dicepol asal menggunakan jepit badai berwarna ungu.
Daster terusan hijaunya mengembang diterpa hembusan kipas.
Rian yang sedang merebahkan tubuh di pinggir kasur sambil mengusap tengkuknya yang pegal langsung terduduk.
“Ya Tuhan, Maudy. Malam pertama kita, dan kamu milih pakai daster yang bau minyak kayu putih itu? Itu daster yang waktu itu kena tumpahan kuah bakso Pak Kumis, kan?”” Rian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tatapannya turun ke daster tersebut.
“Biarin! Ini daster adem! Dibanding kamu, malam pertama malah bau keringat ketek!”
Maudy melemparkan tatapan sengit. Dia langsung menghempaskan tubuh ke sisi kasur yang berseberangan.
Kasur berderit.
Keduanya mendadak terdiam.
Jarak mereka kini tak sampai selengan.
Di ruang sempit itu, aroma minyak kayu putih Maudy bercampur dengan wangi parfum maskulin murahan milik Rian yang masih tersisa.
Hening merayap perlahan.
Suara jangkrik dari pekarangan rumah orang tua mereka di luar terdengar sangat jelas.
Aneh.
Tiba-tiba saja, fakta bahwa mereka kini tidur di atas kasur yang sama membuat dada Rian terasa berbeda.
Bukan lagi sebagai tetangga yang sejak kecil suka saling lempar sandal. Bukan lagi sebagai dua bocah yang berebut mangga di halaman.
Mereka sekarang pasangan sah.
Rian menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Dia melirik Maudy dari sudut matanya.
Leher putih wanita itu terlihat karena rambutnya dicepol tinggi. Entah kenapa, lumayan manis.
Maudy pun merasakan hal yang sama. Pipinya mendadak hangat. Dia meremas ujung dasternya.
Gengsinya terlalu tinggi untuk membuatnya menatap Rian lebih dulu. Namun, berada di bawah satu selimut dengan cowok yang sejak kecil memanjat pohon mangga bersamanya ternyata jauh lebih mengintimidasi daripada yang dia bayangkan.
Rian berdeham. Suasana kamar mendadak terasa aneh.
“Dy.”
“Apa?” Suara Maudy terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
“Kamu, capek, ya?” Nada suara Rian berubah lebih lembut dan jujur.
“Lumayan. Pegel kaki aku. Dari pagi pakai hak tinggi.” Dia mengusap betisnya. Maudy menelan ludah.
“Siniin kakimu.”
Rian menggeser duduknya. Dia meraih pergelangan kaki Maudy dengan hati-hati.
Tangannya hangat. Sedikit kasar.
Sentuhan itu membuat Maudy terdiam.
Rian mulai memijat telapak kaki istrinya perlahan tanpa banyak bicara.
Maudy terpaku. Ada rasa hangat yang perlahan menyusup ke dadanya.
Di balik semua kelakuan absurd dan gengsinya yang setinggi langit, Rian memang selalu punya cara sendiri untuk memerhatikannya sejak mereka masih bocah.
“Makasih ya, Mas.”
Suara Maudy lirih. Tatapannya melunak.
Rian tersenyum tipis. Dia menatap mata Maudy.
Jarak di antara mereka perlahan menipis.
Rian bergerak mendekat. Kepalanya menunduk perlahan.
Suasana kamar terasa semakin hangat.
Maudy memejamkan mata. Jantungnya berdetak liar.
Untuk sesaat, keduanya seperti lupa bagaimana caranya bercanda. Lupa bagaimana caranya saling mengejek. Mereka hanya diam. Menunggu momen romantis pertama dalam pernikahan mereka.
Lalu, puuuuut.
Sebuah suara nyaring bergema membelah keheningan kamar.
Gerakan Rian terhenti. Matanya langsung terbuka lebar.
Maudy ikut membuka mata.
Suasana hangat yang baru saja terbentuk musnah seketika. Digantikan aroma samar yang membuat hidung mereka berdua mengernyit.
Maudy perlahan menoleh. Tatapannya penuh kecurigaan.
“Mas.”
“Apa?”
“Kamu kentut, ya?”
Rian membelalakkan mata. Dia langsung menegakkan tubuh. Tangannya mengibas-ngibas udara dengan panik.
“Enggak! Enak aja! Siapa yang kentut?!”
“Bohong! Jelas-jelas bunyinya dari bawah selimut kamu. “Mana baunya bau telur rebus lagi!”” Maudy menarik selimut menjauh. Ekspresinya langsung berubah jijik. Dia menutup hidung menggunakan ujung dasternya.
“Enggak, Maudy! Itu, itu suara motor tetangga!”” Rian membela diri habis-habisan. Wajahnya memerah menahan malu.
Maudy menatapnya tak percaya. “Di dalam kamar?!”
Rian terdiam. Otaknya bekerja keras mencari alasan. Lalu dia menunjuk jendela.
“Motornya mungkin masuk lewat jendela!”