


oleh Rara Qumaira · 32 Bab
Naura terpaksa menjadi pengantin pengganti dan menikah dengan Bagas karena calon mempelai wanita tiba-tiba menghilang. Di saat-saat benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, sang mantan tiba-tiba kembali. Mampukah mereka mempertahankan pilar pernikahan mereka? Ataukah malah pernikahan mereka tumbang akibat datangnya orang ketiga?
"Apa? Gak. Naura gak mau, Ma. Masak, Naura disuruh nikah sama si tukang rese itu sih. Gak. Gak mau."
"Naura sayang. Tolonglah! Apa kamu tidak kasihan melihat Tante Salma sedih? Kalau acara pernikahan ini sampai gagal, mereka pasti malu,” bujuk mamanya.
"Naura sayang. Mau ya, nikah sama Bagas? Tolong Tante!" ucap Tante Salma sambil terisak.
Naura yang semula gigih menolak, mulai diliputi kebimbangan. Di satu sisi, dia tidak tega melihat wanita di hadapannya tersebut bersedih. Namun, di sisi lain, dia juga tidak bisa membayangkan jika harus menikah dengan pria yang notabene tidak dia cintai.
"Naura, bagaimana? Mau ya nikah sama Bagas?" ucap tante Salma sambil terus terisak.
“Tapi, Tan, aku ….”
“Sayang, tolonglah. Kalau perlu, Tante akan bersujud memohon sama kamu."
“Tante, jangan seperti ini!” seru Naura seraya berusaha mencegah wanita tersebut melaksanakan niatnya.
"Tante, sudah jangan nangis lagi. Iya, Naura mau kok nikah sama Kak Bagas."
"Terima kasih, sayang. Terima kasih," ucap Tante Salma dengan terharu sembari memeluk Naura.
***
BEBERAPA WAKTU SEBELUMNYA
Hari ini adalah hari pernikahan Bagas dan kekasihnya, Kirana. Akad nikah akan dilaksanakan di gedung tempat mereka mereka akan mengadakan resepsi.
Kirana yang rencananya akan dirias di gedung tersebut, menolak dengan alasan ingin merias dirinya sendiri untuk acara akad nikah. MUA akan digunakan saat acara resepsi saja.
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Akan tetapi, rombongan pengantin perempuan dan keluarganya belum kelihatan.
Waktu terus berlalu. Rombongan pengantin perempuan belum juga tiba. Para undangan sudah mulai gelisah. Pun dengan Bagas dan keluarga Om Adrian.
Bagas terlihat memegang ponselnya dengan gelisah. Dia mencoba menghubungi Kirana dan keluarganya. Namun sayang, tak satupun diantara mereka yang ponselnya aktif. Bagas semakin gelisah.
Tidak lama kemudian ada sebuah mobil datang. Setelah diperhatikan, ternyata itu bukan rombongan pengantin. Namun, hanya orang tua Kirana dan pamannya.
"Pak Adrian, boleh saya bicara sebentar?" tanya Pak Wibawa, ayah Kirana.
"Silahkan, Pak! Mari kita bicara di belakang."
"Sebelumnya, saya selaku paman Kirana dan adik Pak Wibawa memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami juga tidak ingin hal seperti ini terjadi. Namun, mau bagaimana lagi. Jujur saja, kami juga shock. "
"Ada apa ini Om Agung? Om Wibawa? Di mana Kirana? Semua tamu undangan dan penghulu sudah menunggu sejak tadi," sela Bagas.
"Maafkan kami, Nak Bagas. Maafkan kami Pak Adrian. Kirana pergi. "
"Pergi? Apa maksudnya ini?"
"Benar, Nak Bagas. Saat kami ingin menjemput Kirana di ruang rias, ternyata dia sudah tidak ada. Hanya pakaian pengantinnya yang tertinggal. Kami sudah mencari ke mana-mana. Kami juga sudah menghubungi teman-temannya, tetapi tidak ada yang tahu. Sekali lagi kami sekeluarga mohon maaf Pak Adrian karena terpaksa rencana pernikahan ini dibatalkan."
Setelah mengatakan hal tersebut, keluarga Kirana pergi meninggalkan gedung.
"Ada apa Adrian? Di mana pengantinnya?" tanya Pak Hendrawan. Akhirnya, Pak Adrian menceritakan apa yang terjadi.
"Bagaimana ini, Yah? Masak, pernikahan Bagas dibatalkan? Bunda kan malu. Semua undangan sudah datang. Para kerabat dan kolega juga sudah datang. Bunda malu, Yah."
"Mau bagaimana lagi, Bun? Keadaannya sudah seperti ini. Biar Ayah yang menyampaikan hal ini kepada para tamu undangan. Bunda dan Bagas langsung pulang saja."
"Yah, bagaimana kalo rencana perjodohan Bagas dan Naura kita lanjutkan? Kan, mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi kita bisa besanan sama Pak Hendrawan dan Jeng Sinta. Bagaimana menurut Jeng Sinta?"
"Wah, saya setuju. Sayang kalo rencana pernikahan ini digagalkan. Sudah keluar biaya banyak juga. Urusan Naura, biar saya yang urus.”
**"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah?"
"Alhamdulillahirobbilalamin!"
Tanpa terasa air mataku menetes. Hari ini, Naura resmi menjadi nyonya Bagas.
Setelah akad selesai, Mama Naura dan Bunda Bagas menuntun Naura ke depan untuk duduk di samping Bagas. Wanita paruh baya tersebut menyenggol lengan Naura memberikan kode. Naura yang tak mengerti apa-apa tampak kebingungan.
"Cium tangan suamimu!" bisik Tante Salma. Tanpa pikir panjang, Naura pun menuruti perintah tersebut. Setelah itu, ganti Bagas mengecup kening istrinya. Meskipun terpaksa, tapi mereka berusaha mengikuti prosesi tersebut dengan khidmat.
Berbeda dengan kedua mempelai, para orang tua tampak berbahagia. Di luar perkiraan, rencana perjodohan yang dulu mereka rencanakan, kini terealisasi tanpa sengaja.
Sementara itu, Bagas menampilkan ekspresi wajahnya sedingin es. Entah bagaimana nasib pernikahan yang akan dia jalani. Pernikahan terpaksa dan tanpa cinta.
***
Setelah menyelesaikan serangkaian acara, pasangan pengantin baru tersebut akan menginap di hotel tempat resepsi di gelar.
"Bagas, antar Naura ke kamar! Dia pasti capek sekali. Sayang, kamu istirahat disini dulu ya," ujar Tante Salma.
"Iya, Tante," jawab Naura.
"Lho, kok masih panggil tante sih? Panggil bunda dong, seperti Bagas. Kan, sekarang kamu menantu Bunda. Sudah jadi anak bunda.”
"Iya, Bun."
"Ya udah, selamat istirahat sayang."
Naura dan Bagas berjalan beriringan menuju kamar hotel. Mereka berjalan beriringan dalam diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Perasaan mereka pun campur aduk, antara bingung, takut, dan cemas. Entah apa yang akan terjadi nanti di dalam kamar.
"Kenapa bengong di situ? Cepat masuk."
"Iya, ini juga mau masuk. Bawel,"gerutu Naura.
Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Bagas segera melepas jasnya dan masuk ke kamar mandi.
Mumpung Bagus sedang mandi, Naura segera melepas gaunnya dan mengganti dengan piyama. Untung saja tidak ada drama resleting nyangkut, jadi dia bisa ganti dengan aman.
Saat Naura duduk di meja rias menghapus make up, Bagas ke luar kamar mandi Hanya dengan handuk di pinggang. Tanpa sengaja Naura melihat pemandangan roti sobek itu.
"Aaa ... Kak Bagas jorok! Kenapa gak pake baju sekalian di kamar mandi sih?" teriak Naura sembari menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Rara Qumaira
8 Pengikut · 2 Novel