“Kau yakin kapal ini tidak akan membawamu tersesat lebih jauh dari kenyataan?” tanya Bara, menyodorkan dua kaleng kopi dingin kepada Arya yang termenung menatap deburan ombak Selat Lombok yang bergemuruh di bawah teriknya matahari siang.
“Justru aku ingin tersesat, Bara. Kota itu sudah terlalu bising untuk kepala yang hampir pecah,” jawab Arya lirih, menyambut kaleng kopi tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar.
Pelabuhan Lembar siang itu riuh rendah oleh deru mesin truk logistik yang memekakkan telinga, teriakan para buruh panggul yang berlalu-lalang membawa karung beras serta kardus besar, serta bau asin air laut yang bercampur pekat dengan asap solar. Suasana pelabuhan penyeberangan yang sibuk ini selalu berhasil menciptakan rasa asing yang menenangkan bagi orang-orang yang ingin melarikan diri dari rutinitas.
Bagi Arya, keputusannya mendaki Rinjani bukanlah sekadar hobi akhir pekan pengisi waktu luang atau pelarian sesaat dari kejenuhan bekerja di kantor. Keputusan ini adalah sebuah pelarian nekat dari reruntuhan karier yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan penuh cucuran keringat, serta hubungan asmaranya yang kandas di tengah jalan akibat pengkhianatan yang sangat menyakitkan di ibu kota.
Dua minggu lalu, dunia Arya seolah runtuh dalam waktu bersamaan, ia kehilangan posisinya sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan multinasional akibat efisiensi perusahaan yang sarat intrik politik kantor, dan di hari yang sama, ia mendapati kekasih yang telah ia pacari selama lima tahun berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri.
Kepedihan itu membuatnya mati rasa. Tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk menangis, yang ada hanyalah rongga hampa di dada dan dengung konstan di kepalanya akibat stres berkepanjangan. Dalam kondisi mental yang compang-camping dan hampir menyerah pada keadaan, Arya memutuskan untuk mengemas barang seadanya ke dalam tas ransel carrier berukuran enam puluh liter, membeli tiket kapal laut satu arah ke Lombok tanpa rencana pasti di kepala, selain tekad bulat untuk mencari udara segar yang jauh dari jangkauan manusia-manusia toksik di Jakarta.
Pertemuannya dengan Bara terjadi secara tidak sengaja di atas dek kapal feri penyeberangan dari Padang Bai, Bali, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Saat itu, penyeberangan memakan waktu hampir lima jam di tengah cuaca Selat Lombok yang kerap kali tidak bersahabat dengan gelombang tinggi. Bara sedang sibuk mengatur lensa telefoto kameranya untuk membidik burung-burung camar yang terbang berputar di sekitar buritan kapal, ketika Arya yang berdiri limbung akibat goyangan ombak hampir saja menjatuhkan tas ransel besarnya ke tumpukan barang bawaan penumpang lain.
Bara bergerak cepat menangkap tali ransel Arya sebelum benda berat itu meluncur bebas. Dari insiden kecil itulah obrolan mengalir begitu saja. Bara ternyata adalah seorang fotografer alam bebas freemance asal Yogyakarta yang sedang mendapat penugasan khusus untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati dan keindahan lanskap di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Dalam obrolan di atas geladak kapal yang diterpa angin laut asin itu, keduanya menyadari bahwa mereka memiliki tujuan destinasi akhir yang sama, mendaki Rinjani.
Bara melihat sorot mata kosong dan kelelahan yang luar biasa di wajah Arya, sementara Arya menemukan sosok teman bicara yang netral, seseorang yang tidak mengenal masa lalunya, tidak tahu betapa hancurnya kariernya, dan tidak peduli dengan kisah patah hatinya. Tanpa rencana panjang yang matang, di atas dek kapal feri yang bergetar hebat dihantam ombak Selat Lombok, mereka sepakat untuk menggabungkan langkah kaki menyusuri tanah Lombok menuju kaki gunung berapi aktif tertinggi kedua di Indonesia tersebut.
Perjalanan darat singkat dari dermaga kedatangan menuju pintu keluar pelabuhan mempertemukan mereka dengan hiruk-pikuk calo tiket bus dan sopir angkutan umum yang berebut menawarkan jasa penjemputan. Bara tampak piawai menawar harga sewa mobil angkutan pedesaan yang akan membawa mereka langsung menuju kaki Gunung Rinjani di Desa Sembalun. Udara tropis Lombok yang lembap dan hangat langsung menyergap kulit begitu mereka melangkah keluar dari area naungan dermaga utama pelabuhan yang teduh.
Di tengah kesibukan mereka merapikan barang bawaan tepat di depan pintu keluar area pelabuhan, dan saat Bara sedang bernegosiasi mengenai tarif sewa kendaraan dengan seorang sopir lokal yang mengenakan topi tenun Sasak, sebuah getaran keras tiba-tiba terasa di dalam saku celana kain Arya.
Getaran itu berulang kali, konstan, seolah mendesak untuk segera direspons.
Ponsel pintar miliknya berdering nyaring, memecah konsentrasi mereka di tengah keriuhan pelabuhan yang bising. Arya menghentikan aktivitasnya merapatkan tali ransel. Dengan rasa enggan yang teramat sangat, ia merogoh saku celananya perlahan-lahan, seolah benda di dalam genggamannya itu adalah seekor kalajengking beracun yang siap menyengat kapan saja.
Ketika layar ponsel itu menyala terang di bawah terik matahari siang Pelabuhan Lembar, seketika jantung Arya terasa berhenti berdetak. Aliran darahnya mendadak terasa dingin, mengalir lambat ke seluruh ujung jemarinya. Di atas layar sentuh yang menampilkan latar belakang hitam polos, tertera jelas sebuah nama yang selama dua minggu terakhir mati-matian ia coba hapus dari ingatan dan kehidupannya, Sintia.
Panggilan suara itu masuk tanpa henti, disertai notifikasi rentetan pesan singkat yang menumpuk di bilah pemberitahuan. Nama itu seakan menjadi hantu masa lalu yang mengejarnya hingga ke ujung timur Nusantara, menolak untuk membiarkannya pergi dengan tenang. Arya menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar, terjebak di antara kebimbangan yang luar biasa hebat antara menggeser tombol hijau untuk mendengarkan penjelasan yang mungkin hanya akan menorehkan luka baru, atau mematikan daya ponsel itu selamanya dan membiarkan sinyal seluler hilang ditelan barisan bukit di kaki Rinjani.
“Ada masalah, Ary?” tanya Bara tiba-tiba, menyadari perubahan drastis pada wajah temannya yang mendadak memucat pasi sambil mematung menatap layar ponsel di tangannya.
Arya tidak langsung menjawab. Ia menelan ludahnya yang terasa kelat, sementara deru mesin truk di sekitarnya mendadak terasa senyap, digantikan oleh debar jantungnya sendiri yang bergemuruh kencang. Jempolnya tergantung ragu di atas layar sentuh yang terus bergetar hebat.