


oleh Nur Sholeka Karunialia · 7 Bab
Aku tidak bisa mundur lagi sekarang. Mata Nazala dipenuhi api. Aku kembali memperlihatkan video seorang lelaki yang membawa kue ulang tahun untukku. "Jangan pernah perlihatkan wajahmu di depanku lagi, Anggia. Jangan pernah!" Nazala mengusap air matanya. Ekspresi terluka di wajahnya menghantam dadaku dengan telak, seperti ledakan tata surya. Aku sengaja menghancurkan hati Nazala kemudian pergi ke Mentawai demi hutang budi.
“Muaro Bungo medan berperang. Jepang masuk Belanda lari ….” Nazala mengusap tengkuknya.
“Cakep. Masak air.” Aku menahan tawa. Bahkan di saat suasana romantis seperti ini, Nazala sempat jadi pelawak.
“Aku serius, Anggia. Pantun ini semalaman aku cari di Mbah Google. Dengarkan aku dulu.”
Aku mengacungkan jempol ke arah pemuda berkulit cokelat itu.
Dengan logat Jawa, Nazala melafalkan pantun Melayu, “Muaro Bungo medan berperang. Jepang masuk Belanda lari. Hilang bunga dapat dikarang. Hilang kau ke mana kucari.”
Tawa riangku berhenti karena rasa kesetrum. Tanganku di atas meja tersentuh oleh Nazala, desiran darahku mengalir dengan cepat. Untuk menenangkan detak jantungku sendiri, aku menarik tanganku, menangkupkannya di pipi.
"Kemerahan, cantik sekali." Nazala mengomentari warna wajahku.
“Gombal.”
“Gombal dalam bahasa Jawa artinya baju lho, Anggia.”
Aku melotot, jempol dan dan jari telunjukku menyatu hendak mencubit Nazala. Tapi, urung aku lakukan karena pemuda tengil itu menjerit duluan.
“Aduh enak.”
“Nazala, iih.”
Nazala menepuk puncak kepala yang ditutupi jilbab, wajahnya berubah serius. "Berjanjilah untuk setia, Anggia. Setelah menyelesaikan kuliah, kita menikah, ya."
Aku mengangguk, lidahku terasa kelu untuk menjawab permintaan Nazala. Sebagai remaja yang baru menyelesaikan masa SMA, impian kami berdua terlalu tinggi. Tapi aku tidak punya angan-angan lain selain mempunyai rumah bersama Nazala. Dia, cinta pertamaku.
Gerimis mulai turun bersamaan angin kencang yang menggoyang pelepah pinang botol di taman depan rumahku. Ibu berseru dari dalam rumah meminta aku dan Nazala masuk ke dalam. Tapi kami bersikeras, di hari terakhir bersama, Nazala ingin mengikat janji denganku.
"Di Pulau Jawa pasti banyak gadis cantik, kamu bisa tergoda, Nazala." Aku menggigit bagian dalam bibirku.
"Yang cantik banyak, tapi jodohku cuma satu." Nazala tertawa kecil.
"Bagaimana jika aku rindu?" Nazala belum pergi saja, hatiku sudah terasa nyeri.
"Kita punya banyak kenangan dari kecil, Anggia. Ada banyak yang bisa diingat untuk mengobati kerinduan. Ingat-ingat saat kamu nangis karena ada yang ngejek gigimu ompong, kemudian aku jadi pahlawan." Nazala membusungkan dadanya. “Ingat aku mengorbankan jaket saat kamu datang bulan tembus di sekolah.”
Mataku basah. Pemuda ini sudah menjadi penompangku. Sejak Bapak dan Ibu mulai mengabaikanku, hanya Nazala yang selalu tersenyum hangat.
"Besok kamu tidak bisa berlama-lama menyapu teras, berharap aku ke luar rumah, ya."
Aku tersenyum malu. Ternyata Nazala tahu, setiap bangun tidur aku menunggunya, hanya karena berharap lambaian tangan di depan pintu rumah.
Tangan Nazala yang hangat, menggenggam tanganku yang pucat. Cincin emas polos ia masukkan dalam jari manisku.
"Mengagih tando, aku sudah menandaimu untuk jadi istriku." Nazala mengedipkan sebelah matanya membuat lututku lemas.
Aku terperanjat saat seorang pedagang menawarkan tisu tepat di depanku. Bayangan masa lalu buyar dalam pikiranku. Setelah aku meminta maaf karena menolak untuk membeli dagangannya, pedagang asongan itu berlalu.
Hanya berselang lima menit aku menyesali keputusanku karena ombak yang membuat kapal bergoyang dengan keras membuat perutku seperti diaduk-aduk. Aku memuntahkan isi perutku hingga terasa lemas.
"Allah tolong aku. Nazala, maaf, maafkan aku," gumamku sambil mengusap air mata di sudut mata.
Ini perjalanan terjauhku meninggalkan rumah. Semalaman aku menempuh perjalanan menggunakan bis dari Bangko ke Padang. Kemudian naik kapal laut dari Pelabuhan Teluk Bayur, nyaris sepuluh jam aku terombang-ambing di lautan, menuju Pulau Mentawai.
Aku pergi menjauh dari Nazala. Sejauh ribuan kilometer aku tempuh karena berupaya membunuh cintaku.
Aroma garam yang dibawa angin laut, membuatku memejamkan mata. Seraut wajah tampan dengan dagu berbentuk persegi kembali memenuhi kelopak mataku.
"Maaf, aku tidak bisa menunggu. Saat kuliah di Kota Jambi, ada seorang teman yang membuatku jatuh cinta," ucapku tanpa berani menatap mata Nazala.
Setelah berpisah selama enam tahun, Nazala pulang membawa gelar dokter. Wajahnya terlihat lebih matang, ada bulu-bulu halus yang tumbuh sepanjang rahangnya.
Aku sudah menyelesaikan kuliah terlebih dahulu dibandingkan Nazala. Karena Bapak meminta pulang, aku membantunya menjadi tengkulak sawit setelah pulang mengajar di SMP. Aku sengaja menunggu Nazala di desa kami.
"Anggia, kamu bercanda. Lihat ini, cincin dariku masih ada." Nazala membawa jemari tanganku ke dadanya.
Aku menarik tanganku dengan kasar. Gemetar tanganku melepas cincin, kemudian memberikan pada Nazala. "Ini aku kembalikan. "Cincin aku letakkan di meja yang membatasi kami. Bunyi berdenting terdengar saat cincin itu membentur gelas kosong.
Nazala hendak mengelus pipiku, tapi aku menghindar. Aku memperlihatkan foto bersama seorang pria di layar ponselku. Nazala menggenggam cincin yang aku berikan kemudian melemparkannya di tempat sampah.
Aku tidak bisa mundur lagi sekarang. Mata Nazala dipenuhi api. Ekspresinya campuran marah dan terluka. Aku kembali memperlihatkan video seorang lelaki yang membawa kue ulang tahun untukku.
"Jangan pernah perlihatkan wajahmu di depanku lagi, Anggia. Jangan pernah!" Nazala mengusap air matanya. Ekspresi terluka di wajahnya menghantam dadaku dengan telak, seperti ledakan tata surya.
Aku membalikkan badan dengan maksud mengusir Nazala, sekaligus menyembunyikan air mataku. Hanya semesta yang boleh tahu, aku sudah menyakiti orang yang kucintai.
Setelah memastikan Nazala pergi menerobos hujan sore itu. Aku melangkah gamang memasuki rumah.
Bapak dan Ibu yang terdiam di depan TV dan senyum polos Shanum–adikku, membuat aku mendekap dada sendiri.
"Sudah berakhir, Dek." Aku menepuk bahu Shanum. "Saya ikut kemauan Bapak dan Ibu," ucapku sambil menatap mereka satu persatu.
Ibu mengangguk, Bapak hanya menatap kosong ke arah dinding.
"Saya masuk kamar dulu." Tanpa mengharapkan jawaban, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu dengan hati-hati, kemudian menyembunyikan isak di bawah bantal.
Berulangkali aku memukul dadaku sendiri, berharap rasa sesak sedikit berkurang. Aku yakin Nazala di sebrang jalan, mengamuk di dalam kamarnya. Mungkin saja Nazala membanting pigura yang berisi foto kami dengan baju seragam putih abu.
"Maafkan aku, Nazala. Maaf. Aku harus menukar cinta dengan balas budi," ucapku berulang di sela-sela tangisan.
Suara pemberitahuan melalui pengeras suara, bahwa kapal KM Sabuk Nusantara 37 akan segera merapat di dermaga Pelabuhan Labuhan Bajau membuat aku gugup. Aku segera mempersiapkan tas ransel dan koper yang kubawa. Kemudian aku tersadar seharusnya turun di Pelabuhan Muara Saibi di Siberut, tempat berikutnya kapal berhenti.
Aku kembali duduk di dekat jendela kapal, mengamati orang-orang yang turun dari kapal. "Setidaknya aku mengabulkan keinginanmu, Nazala. Aku tidak akan menampakkan diri lagi," desisku lirih.
Sepertinya takdir membuka jalanku untuk pergi, aku berhasil menjadi salah satu PNS di Kabupaten Mentawai. Sejak dulu aku menyukai pantai, Mentawai jadi pilihanku untuk melarikan diri.
Kapal kembali melaju, membawaku semakin menjauh dari Nazala. Matahari tenggelam di tengah laut membuat panorama terlihat luar biasa. Aku menyeret barang bawaan ke geladak, menikmati pertemuan warna jingga bercampur biru.
Aku membuka galeri di handphone, untuk mendengar suara orang yang kucintai, menatap wajahnya yang terlihat bahagia.
"Biru itu aku, jingga warnamu, Anggia." Nazala berdiri di bibir pantai, senyum menghiasi wajah tampannya. Pemuda itu menulis namaku bersanding dengan namanya sendiri di pasir putih. "Jika sudah saatnya, aku akan membawamu ke pantai. Di Jambi gak ada pantai kan, Anggia. Jangan kampungan terus guling-guling di pasir, ya, kalau kita ke sini."
Berulangkali aku memutar video itu, mengaturnya menjadi gerakan slow motion. Kemudian aku memutuskan menghapus file video yang dikirim Nazala saat di Pulau Jawa.
Tidak akan pernah ada pantai yang sama untukku dan Nazala. Tidak pernah. Sekarang dia menjadi milik Shanum. Adikku yang cantik itu pasti bisa membuat Nazala melupakan sakit hatinya.
Aku pergi di hari pernikahan Shanum dan Nazala karena tidak ada lagi tempat untukku di rumah itu.
Kakiku menjejak pantai di Mentawai untuk sebuah harapan baru. Harapan untuk menjadikan kenangan bersama Nazala serupa debu.

Nur Sholeka Karunialia
3 Pengikut · 1 Novel