“Kirana, kamu tahu tidak bedanya air cucian beras sama air mata menantu yang tertindas?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari balik masker lumpur berwarna hijau pekat. Kirana hampir saja menyemprotkan es kopi yang baru seteguk singgah di mulutnya. Ia menoleh patah-patah ke samping kanan.
Di atas sofa beludru merah muda yang empuk, seorang wanita paruh baya sedang bersandar santai dengan dua irisan mentimun segar yang menempel erat di kelopak matanya. Wanita itu adalah Mama Sarah, ibu kandung Aris, yang sejak kemarin resmi menyandang status sebagai ibu mertua Kirana.
“Maksud, maksud Mama bagaimana?” Kirana bertanya dengan nada ragu. Jemarinya yang masih agak gemetar menggenggam gelas kaca dengan erat.
Mama Sarah menghela napas panjang, membuat masker hijaunya agak retak di bagian sekitar bibir.
“Kalau air cucian beras itu bisa bikin wajah cerah, tapi kalau air mata menantu tertindas, itu biasanya gara-gara mertuanya hobi nonton sinetron azab lalu mempraktikkannya di dunia nyata. Nah, Mama tidak mau kulit wajahmu keriput sebelum waktunya hanya karena stres menghadapi aku. Sini, dekat-dekat. Pakai serum asam hialuronat ini di bagian bawah matamu. Kemarin waktu resepsi, kamu pasti kurang tidur, kan?”
Kirana mengerjapkan matanya berulang kali. Skenario yang sudah ia susun di dalam kepala sejak enam bulan lalu mendadak runtuh tanpa sisa.
Sebelum hari pernikahannya dengan Aris bergulir, Kirana telah melakukan riset mendalam. Ia membaca ratusan utas di media sosial tentang kekejaman ibu mertua.
Ia bahkan sudah menonton belasan video tips bertahan hidup di rumah mertua, menyiapkan mental baja, dan melatih ekspresi wajah yang tegar sekiranya ia diminta bangun pukul empat pagi untuk menyapu seluruh rumah, mencuci baju dengan tangan, atau dicaci maki hanya karena takaran garam di sayur asem kurang pas. Kirana sudah siap menjadi lakon tertindas demi cintanya pada Aris.
Realitanya hari pertama ini sungguh di luar prediksi kendali logikanya.
Alih-alih disambut dengan sapu ijuk atau tatapan sinis yang menusuk tulang, Kirana justru diseret ke ruang tengah yang meriah begitu Aris berangkat kerja ke kantor pukul delapan pagi tadi.
Ruangan itu wangi semerbak aromaterapi lavender. Di atas meja kaca, alih-alih ada tumpukan baju kotor yang belum disetrika, justru tergelar belasan botol produk perawatan kulit dari berbagai merek ternama.
“Jangan melamun, Kirana. Kulit wajah kalau sering melamun itu cepat kehilangan elastisitas,” tegur Mama Sarah lagi sembari mengangkat sepasang timun dari matanya, lalu menatap Kirana dengan pandangan menyelidik.
“Kamu tipe kulitnya kering atau kombinasi? Mama lihat agak sedikit dehidrasi di area pipi.”
“Kombinasi cenderung sensitif, Ma,” jawab Kirana jujur, merasa makin kikuk.
“Bagus. Berarti kamu cocok pakai masker esens yang ini. Sini, biar Mama oleskan. Jangan takut, Mama tidak akan menaruh racun tikus di dalamnya. Ini beli langsung di mal, bukan barang kedaluwarsa,” seloroh Mama Sarah dengan kekehan renyah yang terdengar sangat lepas.
Kirana pasrah saat jemari lentik Mama Sarah yang terawat rapi mulai mengoleskan cairan dingin ke permukaan wajahnya. Sentuhannya lembut, sama sekali tidak mencerminkan sosok monster mertua yang selama ini menghantui mimpi-mimpi buruk Kirana sebelum menikah.
***
"Ma," panggil Kirana pelan saat masker itu mulai mengering di wajahnya.
"Ya? Jangan terlalu banyak bergerak wajahnya, nanti maskernya pecah."
"Mama, tidak menyuruh saya masak untuk makan siang? Atau membersihkan kamar belakang?"
Mama Sarah meletakkan kuas masker ke dalam wadah kecil, lalu menatap menantunya dengan dahi berkerut, heran.
“Masak? Untuk apa? Zaman sekarang sudah ada aplikasi pesan antar makanan di ponsel. Lagi pula, hari ini jadwalnya kita merawat diri. Urusan bersih-bersih rumah, besok saja kita panggil jasa pembersih profesional. Hemat tenaga, hemat waktu. Lebih baik energinya kita pakai untuk hal yang lebih berfaedah."
"Hal berfaedah seperti apa, Ma?"
Mama Sarah tersenyum misterius. Ia merogoh saku daster sutranya, mengeluarkan sebuah gawai berlogo apel kroak, lalu menggeser layarnya dengan lincah.
"Seperti ini. Sini, mendekat. Kamu tahu tidak, kalau suamimu si Aris itu, waktu umur lima tahun pernah menangis histeris di tengah pasar swalayan hanya karena tidak dibelikan balon berbentuk lumba-lumba merah muda?"
Mata Kirana langsung berbinar. Rasa canggung yang sedari tadi mengungkung dirinya perlahan-lahan mencair, tergantikan oleh rasa penasaran yang membuncah.
“Ah, ya? Aris tidak pernah cerita soal itu, Ma!"
"Tentu saja dia tidak akan cerita! Dia kan gengsian," bisik Mama Sarah penuh konspirasi.
“Bukan cuma itu. Waktu SMP, dia pernah salah kirim surat cinta. Niatnya mau ditembakkan ke gadis populer di kelas sebelah, malah nyasar ke laci meja guru matematika yang paling galak se-sekolah. Alhasil, dia dihukum berdiri di lapangan basket sambil memegang buku rumus.”
Kirana tidak bisa lagi menahan tawa. Gelak renyahnya pecah, membuat masker di wajahnya retak di beberapa tempat, tetapi ia tidak peduli lagi. Cerita-cerita memalukan tentang suaminya mengalir deras dari bibir Mama Sarah bagai air air terjun yang tak ada habisnya.
Mereka menghabiskan waktu dua jam berikutnya dengan bergosip ria, menertawakan masa lalu Aris, dan membandingkan perilaku konyol pria itu dari masa kanak-kanak hingga menjadi pria dewasa yang kaku seperti sekarang.
Bagi Kirana, ini bukan lagi hubungan antara menantu dan ibu mertua yang penuh sekat formalitas. Ini terasa seperti dirinya sedang mengobrol dengan sahabat karibnya di kamar kos sewaktu kuliah dulu. Satu frekuensi, tanpa sensor, dan sangat menyenangkan.