“Awas, Mimi! Minggir dari jalur!”
Teriakan lantang itu mengejutkan Mimi. Belum sempat ia menggeser kakinya yang terasa kaku, sesosok bayangan melesat cepat di sampingnya.
Wuuush!
Angin kencang berembus, menerbangkan ujung rambutnya yang dikepang dua. Kiki meluncur dengan sangat mulus, meliuk-liuk di antara tiang-tiang pembatas semen di halaman sekolah. Kedua kakinya bergerak lincah, bergantian membentuk angka delapan dengan gerakan yang sangat rapi.
Mimi mengembuskan napas panjang. Ia menunduk, menatap sepasang sepatu roda berwarna biru pudar yang melingkari kakinya. Salah satu rodanya sudah agak seret dan mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali dipaksa berputar. Keberanian yang sejak pagi ia kumpulkan langsung menguap begitu saja.
“Mimi, kamu masih di situ sejak sepuluh menit yang lalu?” tanya Lala, sahabatnya, yang datang mendekat sambil membawa sekotak susu stroberi. Berbeda dengan teman-teman yang lain, Lala tidak ikut bermain karena pergelangan tangannya sedang terkilir.
“Aku takut, Lala,” bisik Mimi pelan. Suaranya hampir tenggelam di antara riuh rendah sorak-sorai anak-anak kelas tiga yang sedang asyik bermain.
“Setiap kali aku mencoba mendorong kaki kanan, kaki kiriku seperti mau berjalan ke arah yang berbeda. Mengapa mengendalikan benda roda delapan ini sulit sekali, ya?”
Lala tersenyum maklum.
“Kamu, hanya kurang latihan. Sini, pegang tanganku. Aku bantu jaga keseimbanganmu.”
Mimi mengangguk ragu. Ia meraih jemari Lala, lalu mencoba menggerakkan kaki kanannya ke depan. Sialnya, permukaan aspal halaman sekolah tidak rata.
Salah satu roda lamanya tersangkut pada retakan kecil. Keseimbangan Mimi goyah. Kedua lengannya langsung mengayun liar di udara seperti baling-baling bambu yang rusak.
Bruk!
Mimi terduduk keras di atas tanah. Telapak tangannya terasa perih karena bergesekan dengan butiran pasir tajam. Beruntung Lala sempat menarik tangannya menjauh, sehingga sahabatnya itu tidak ikut terjungkal.
“Hahaha! Mimi jatuh lagi!”
Tawa melengking itu berasal dari Riko, anak laki-laki berambut ikal yang paling jago meluncur mundur di kelas mereka.
“Mimi memang si siput lambat! Berjalan saja sering tersandung, apalagi pakai roda!”
Wajah Mimi seketika merona merah, menahan rasa malu yang amat sangat. Ia segera bangkit, mengabaikan rasa nyeri di bagian belakang tubuhnya, lalu buru-buru melepas tali sepatu roda tersebut dengan jemari yang gemetar. Dibandingkan rasa sakit akibat benturan, ejekan teman-temannya jauh lebih menusuk hati.
Faktanya, Mimi memang selalu menjadi yang terakhir dalam segala hal yang membutuhkan kecepatan fisik. Saat pelajaran olahraga lari, ia selalu berada di urutan paling belakang, terengah-engah dengan napas pendek.
Ketika bermain bentengan, ia menjadi sasaran paling mudah untuk ditangkap karena larinya yang lambat. Bahkan untuk urusan berbaris di pagi hari pun, kepang rambutnya yang panjang sering kali menjadi penanda barisan paling belakang.
“Jangan dengarkan Riko,” hibur Lala saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah setelah bel pulang berbunyi.
Mimi melangkah dengan gontai, menjinjing sepasang sepatu roda bekas milik sepupunya itu dengan perasaan dongkol.
“Dia hanya senang pamer karena ayahnya baru membelikan sepatu roda dengan lampu LED yang bisa menyala.”
“Ini bukan hanya tentang Riko, Lala,” sahut Mimi lesu.
“Aku hanya merasa kesal pada diriku sendiri. Mengapa semua orang bisa bergerak dengan cepat dan lincah, sementara aku selalu tertinggal? Rasanya aku ditakdirkan untuk menjadi anak paling lambat di dunia ini.”
Sore itu, mendung kelabu mulai menggantung di langit saat Mimi tiba di rumah kakeknya. Orang tua Mimi sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan, sehingga Mimi harus menginap di rumah tua berarsitektur kayu tersebut selama beberapa hari.
Rumah Kakek sangat besar, dikelilingi oleh pohon-pohon mangga yang rindang, tapi suasananya selalu terasa sepi.
Kakek sedang duduk di kursi goyangnya di beranda depan, membaca koran dengan kacamata yang melorot di ujung hidung. Ketika melihat cucunya datang dengan wajah sekuyu itu, Kakek melipat korannya.
“Ada apa dengan pahlawan kecil Kakek? Mengapa wajahmu ditekuk seperti cucian belum disetrika?” tanya Kakek dengan suara bass yang ramah.
Mimi meletakkan tas sekolahnya di lantai depan, lalu duduk di dekat kaki Kakek.
“Kakek, apakah waktu Kakek kecil, Kakek pernah menjadi orang yang paling lambat dalam segala hal?”
Kakek terkekeh pelan, membuat jenggot putihnya bergoyang.
“Tentu saja pernah. Menjadi lambat itu tidak selalu buruk, Mimi. Orang yang berjalan lambat bisa melihat banyak hal detail yang dilewatkan oleh orang-orang yang berlari tergesa-gesa.”
“Di sekolah, menjadi lambat itu menyebalkan. Aku selalu diejek,” keluh Mimi sambil memainkan ujung kepang rambutnya.
Kakek menatap Mimi dengan pandangan mata yang hangat penuh rahasia.
“Kamu belum menemukan alat yang tepat untuk membuatmu melesat cepat. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk terbang, Mimi.”
Mimi tidak terlalu paham dengan ucapan filosofis Kakek. Ia memilih berpamitan untuk masuk ke dalam rumah demi menyegarkan diri.
Saat melintasi lorong tengah yang menuju ke arah dapur, langkah kaki Mimi terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh.
Pintu itu menuju ke gudang bawah tanah milik Kakek. Biasanya, pintu tersebut selalu dikunci rapat dengan gembok besi yang besar. Kakek selalu berpesan agar Mimi tidak bermain di sekitar sana karena banyak barang tua yang tajam dan berdebu.
Sore ini, ada sesuatu yang tidak biasa. Gembok besi yang besar itu tidak terpasang dengan benar, rantainya menggantung longgar, dan pintu kayu itu sedikit terbuka, menyisakan celah hitam selebar beberapa sentimeter.
Dari celah tersebut, embusan angin dingin yang berbau harum kayu kuno dan kertas tua berembus keluar, menerpa wajah Mimi.
Bersamaan dengan embusan angin itu, Mimi mendengar sebuah suara sayup-sayup yang aneh. Bunyinya seperti gemerincing lonceng kecil yang tertiup angin, berpadu dengan suara desingan halus yang sangat berirama.
Sring, sring, wuuush.
Mimi menoleh ke belakang, memastikan Kakek masih berada di depan. Lorong rumah itu sepi. Rasa penasaran yang besar tiba-tiba membakar dadanya, mengalahkan rasa takut yang biasanya selalu mendominasi dirinya.
Mimi mengulurkan tangan yang agak gemetar, menyentuh permukaan pintu kayu yang dingin, lalu mendorongnya perlahan. Pintu itu terbuka tanpa suara, menampakkan tangga batu yang menurun ke dalam kegelapan gudang bawah tanah yang misterius.