"Jangan pernah menoleh ke arah timur jika laut mulai berwujud abu-abu," kata Kakek sembari meletakkan sendok besinya di atas piring.
Suasana meja makan yang semula hangat oleh uap gulai ikan kakap langsung mendingin. Gilang, yang baru saja berusia delapan tahun, menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Di sebelahnya, Ibu menunduk, sementara Ayah pura-pura sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas bening.
"Kenapa, Kek? Apakah di sana ada bajak laut?"
Kakek menatap Gilang tajam. Guratan-guratan di wajah tua penjelajah laut itu tampak mengeras di bawah temaram lampu gantung.
“Lebih buruk daripada sekadar penjahat berbaju compang-camping, Gilang. Di sana ada Pulau Kabut. Daratan yang tidak dikehendaki oleh peta mana pun. Tempat itu menelan siapa saja yang datang tanpa izin, lalu mengembalikan mereka dalam wujud ingatan yang hilang.”
"Kakek dulu pernah ke sana?"
Kakek tidak menjawab. Beliau justru bangkit dari kursi kayu jati yang berderit nyaring, meninggalkan separuh nasi di piringnya, lalu melangkah menuju ke belakang yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Ayah menghela napas panjang, memberikan isyarat kepada Gilang agar menyudahi pertanyaannya.
Desa tempat tinggal Gilang bernama Desa Kaladipa. Sebuah permukiman nelayan yang tenteram, di mana rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi menghadap selat.
Kehidupan di sini sangat bergantung pada kemurahan hati ombak. Namun, ada satu hukum tidak tertulis yang dipatuhi oleh seluruh warga desa, jangan pernah mengarahkan kemudi perahu ke sisi timur selat, tempat gumpalan uap putih raksasa selalu menggantung di cakrawala, bahkan saat matahari sedang terik-teriknya.
Bagi orang dewasa di Kaladipa, tempat itu adalah tabu. Namun, bagi anak-anak seusia Gilang, mistisisme tersebut justru menjadi magnet yang luar biasa.
Esok paginya, aroma asin air laut bercampur dengan bau amis pasar ikan menyambut Gilang saat ia berjalan menuju dermaga timur.
Tugasnya pagi ini adalah menjemput beberapa butir telur di warung seberang untuk keperluan memasak Ibu. Namun, langkah kakinya melambat ketika melewati kedai kopi tempat para nelayan tua berkumpul sebelum melaut.
Dari balik dinding papan yang renggang, Gilang mendengar suara-suara berat yang saling berbisik.
"Semalam jaringku tersangkut di batas arus luar," kata seorang lelaki bermata sipit, suaranya parau akibat terlalu banyak mengisap tembakau.
“Aku bersumpah, dari balik kabut itu, aku mendengar suara detak yang aneh. Seperti detak jantung, tapi bunyinya seperti besi yang beradu.”
"Kau terlalu banyak melamun, Barkah," sahut nelayan lain dengan nada getir. "Aku tidak menampik. Dua hari lalu, saat air surut terendah, kabut itu agak menipis. Aku seperti melihat siluet menara batu yang sangat tinggi. Hampir menyerupai cakar naga."
"Ingat pesan tetua desa. Jika kabut mulai bergerak mendekati batas laut kita, itu tandanya sesuatu di dalam sana sedang terusik. Kita harus bersiap jika sewaktu-waktu air laut pasang tanpa sebab," bisik suara ketiga yang terdengar lebih berwibawa.
Gilang menahan napas, menempelkan telinganya lebih dekat ke sela papan. Jantungnya berdegup kencang. Berarti, apa yang dikatakan Kakek semalam bukan sekadar cerita dongeng untuk menakut-nakutinya agar tidak bermain terlalu jauh. Pulau Kabut itu benar-benar ada, bergerak, dan mungkin saja bernyawa.
Rasa penasaran yang besar mulai membakar dada bocah berambut ikal itu. Ia segera berlari menuju warung, menyelesaikan tugasnya secepat kilat, lalu bergegas kembali ke rumah. Pikiran Gilang tidak lagi berada di ruang kelas atau di halaman bermain. Pikirannya tersangkut di pulau misterius yang selalu ditutupi uap abu-abu tersebut.
Siang harinya, rumah dalam keadaan sepi. Ayah sudah pergi ke pelelangan ikan, sedangkan Ibu sedang mengantarkan pesanan kain songket ke desa tetangga. Kakek? Beliau biasanya tidur siang di kamar belakang yang menghadap ke kebun. Ini adalah kesempatan emas bagi Gilang.
Gilang menyelinap ke bagian belakang rumah, menuju sebuah bangunan kecil yang terbuat dari susunan batubara, kayu palet kuno, gudang penyimpanan alat-alat pelayaran lama milik Kakek. Pintu gudang tersebut tidak pernah dikunci, hanya diselot menggunakan pasak kayu sederhana yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil pun, Gilang menggeser pasak tersebut. Pintu terbuka dengan derit halus. Bau debu, minyak pelumas, dan karung goni tua langsung menyengat hidungnya.
Di dalam gudang, terdapat berbagai macam benda eksotis, jangkar karatan, gulungan tali tambang rami yang besar, jaring yang sudah robek, hingga potongan-potongan kemudi kapal yang sudah pecah.
Gilang melangkah lebih dalam, mendekati sebuah peti kayu besar yang sudut-sudutnya dilapisi kuningan kuning kusam. Peti itu penuh dengan debu tebal.
Di atasnya, terdapat lambang jangkar kembar yang dipahat dengan sangat rapi. Ini adalah peti pribadi Kakek, tempat beliau menyimpan barang-barang dari masa mudanya saat masih menjadi kapten kapal penjelajah.
Menggunakan seluruh tenaga kecilnya, Gilang mengangkat tutup peti yang terasa sangat berat. Aroma cengkih dan kertas tua langsung menguar.
Di dalamnya terdapat tumpukan paspor lama, teropong kuningan yang lensanya sudah agak buram, dan beberapa gulungan perkamen yang ujung-ujungnya sudah hangus.
Jemari Gilang mengaduk-aduk bagian dasar peti dengan tidak sabar. Tiba-tiba, jarinya menyentuh sesuatu yang keras, berbentuk lingkaran, dan dibungkus oleh selembar kain beludru hitam yang sudah sangat usang hingga warnanya berubah menjadi abu-abu pudar.
Gilang menarik benda itu keluar. Ia membuka bungkusan kain tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalam genggamannya kini terdapat sebuah kompas saku yang sangat tidak biasa.
Ukurannya agak besar untuk tangan anak berusia delapan tahun. Casing kompas tersebut terbuat dari tembaga hitam dengan ukiran naga laut yang saling melilit di sekeliling pinggirannya.
Ketika Gilang membuka tutup pelindungnya, ia mengira akan melihat jarum penunjuk arah utara dan selatan seperti kompas pada umumnya. Namun, ia salah. Jarum kompas ini tidak berwarna merah, melainkan perak berkilau. Yang paling aneh, jarum itu tidak menunjuk ke arah utara.
Gilang memutar badannya ke arah barat. Jarum itu bergetar hebat, lalu berputar kembali dengan cepat ke satu titik yang sama. Gilang melangkah beberapa tindak ke kanan, jarum perak itu tetap mengunci arahnya dengan kaku. Jarum itu seolah memiliki kehendak sendiri, menolak mematuhi medan magnet bumi.
Gilang menatap keluar jendela gudang yang kecil, mencoba menyamakan arah bidikan jarum perak tersebut dengan pemandangan di luar. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyadari satu kenyataan mutlak.
Jarum perak itu menunjuk lurus, tanpa bergeser satu milimeter pun, tepat ke arah gumpalan kabut tebal di ujung timur laut desa mereka. Kompas ini menunjuk ke Pulau Kabut.