"Bram, tolong dengarkan aku sekali ini saja! Kamu tidak tahu apa yang sedang kita hadapi!"
Suara lengkingan itu menggema, memantul di dinding-dinding kepala Bram. Gendang telinganya berdenyut hebat. Kerongkongannya terasa sekering padang pasir, sementara lidahnya kelu, menyisakan sesapan rasa logam yang pekat dan anyir.
Bram mengerang panjang. Kelopak matanya terasa seberat timah saat ia mencoba membuka mata. Sudut pandangnya buram, berputar-putar seperti ditarik pusaran air.
Ketika kesadarannya perlahan terkumpul, ia menyadari wajahnya tengah menempel di atas permukaan dingin lantai parket ruang tamu.
Aroma lilin aromaterapi lavender yang biasa dinyalakan istrinya menguap, digantikan oleh bau menyengat yang asing, bau besi yang berkarat.
"Sarah?" bisik Bram. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri.
Ia mencoba bangkit. Rasa pening yang luar biasa langsung menghantam bagian belakang kepalanya, membuat Bram limbung dan kembali bertumpu pada kedua telapak tangannya. Saat itulah pandangannya tertuju pada kemeja katun abu-abu yang ia kenakan.
Noda merah pekat yang separuhnya telah mengering membasahi bagian dada hingga lengan kanannya. Ia mengusap cairan itu dengan gemetar. Cairan itu kental. Darah.
"Apa yang terjadi?" gumamnya berulang kali. Ingatannya kosong melompong. Lembaran memorinya seperti kertas putih yang sengaja dibakar habis, menyisakan abu kelabu yang tidak menyisakan petunjuk apa pun.
Ia mengingat kilasan samar-masar tentang jam dinding yang menunjukkan angka sebelas malam, tentang siluet Sarah yang berdiri di dekat meja makan, dan setelah itu, gelap gulita.
Bram memaksakan diri untuk berdiri, meraba dinding ruang tamu sebagai pegangan. Keheningan di dalam rumah itu terasa begitu ganjil dan menekan.
Biasanya, jam segini ia sudah bisa mendengar gemercik air dari dapur atau suara langkah kaki Sarah yang ringan.
Langkah kakinya yang telanjang terasa lengket saat melintasi batas ruang tamu. Di atas lantai kayu, jejak-jejak samar berwarna merah membentuk alur yang serampangan, menuju ke arah kamar tidur utama di sebelah kiri lorong.
Keberanian Bram runtuh perlahan, digantikan oleh sejenis cekaman paranoia yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sarah, kamu di dalam?" Pintu kamar tidak tertutup rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter.
Bram mendorong daun pintu kayu itu pelahan. Derit engselnya terdengar seperti jeritan pilu di tengah kesunyian.
Begitu pintu terbuka sempurna, pasokan udara di paru-paru Bram seolah disedot paksa keluar. Seluruh sendi lututnya melemas hingga ia jatuh berlutut di ambang pintu.
Sarah tergeletak di samping ranjang dengan posisi miring. Gaun tidur putih rajut kesukaannya kini berubah warna secara mengerikan.
Kubangan cairan merah pekat mengitari tubuhnya, merembes ke karpet bulu yang kini rusak total. Wajah istrinya pucat pasi, kedua matanya setengah terbuka, menatap kosong ke langit-langit kamar tanpa ada lagi binar kehidupan.
"Tidak, tidak, tidak! Sarah!"
Bram merangkak histeris, menubruk tubuh kaku itu. Ia merengkuh pundak Sarah, mengguncangnya dengan harapan sang istri hanya sedang melakukan lelucon yang buruk.
Ia menempelkan telinganya ke dada Sarah, mencari-cari detak jantung yang biasa menentramkannya setiap malam. Nihil. Dada itu sedingin es dan tak lagi bergerak naik-turun.
Tangan Bram yang gemetar menyentuh leher Sarah, mendapati luka robek yang dalam di sana. Darah yang menempel di baju Bram kini bercampur dengan darah baru dari tubuh Sarah.
Air mata Bram tumpah seketika, dadanya sesak oleh rasa duka yang datang menghantam bertubi-tubi seperti ombak badai.
Ia meraung, mendekap kepala istrinya erat-erat ke dadanya, mengabaikan fakta bahwa seluruh tubuhnya kini ikut bersimbah darah.
Bagaimana mungkin ini terjadi? Siapa yang tega melakukan kekejian ini kepada wanita selembut Sarah? Dan yang paling merongrong jiwanya, di mana Bram saat peristiwa jahanam ini berlangsung? Mengapa ia justru terbangun di lantai ruang tamu tanpa mengingat satu detik pun kejadian mengerikan yang merenggut nyawa belahan jiwanya?
Di tengah badai kepanikan dan duka yang mengoyak akal sehatnya, pikiran Bram berputar liar. Ia harus menelepon ambulans. Ia harus menghubungi polisi. Ia harus mencari bantuan.
Bram melepaskan dekapannya pada tubuh Sarah dengan enggan. Ia berdiri dengan tubuh gemetar hebat, berniat melangkah kembali ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya yang entah berada di mana. Namun, baru dua langkah ia meninggalkan ambang kamar, sebuah bunyi keras mengejutkannya.
Gedor! Gedor! Gedor!
Pintu depan rumah mereka dihantam dengan kekuatan besar dari luar, membuat kaca jendela di sekitarnya bergetar.
"Kepolisian! Buka pintunya!" Sebuah suara berat dan tegas berwibawa menggema dari balik pintu, memecah kesunyian fajar yang mencekam.
Bram membeku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya yang berlumuran darah terangkat di depan dada, bergetar hebat. Matanya menatap ke arah pintu depan, lalu beralih menatap pantulan dirinya di cermin koridor.
Ia melihat seorang pria dengan tatapan mata liar penuh ketakutan, wajah yang tercoreng noda merah, dan seluruh pakaian yang bersimbah darah korban pembunuhan.
Gedor! Gedor!
"Buka pintunya sekarang atau kami dobrak!"
Bram melangkah mundur dengan panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Di dalam otaknya yang buntu, sebuah kesadaran mengerikan mendadak muncul ke permukaan.
Jika ia membuka pintu sekarang dengan penampilan seperti ini, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang akan mempercayai kata-katanya.
Sebelum Bram sempat mengambil keputusan atau menyembunyikan tangannya, terdengar suara hantaman keras.
Selot pintu depan jebrak, patah menjadi dua. Pintu kayu itu terbuka lebar, dan tiga orang petugas kepolisian berseragam lengkap langsung merangsek masuk dengan senjata api yang mengarah lurus ke dada Bram.
"Jangan bergerak! Angkat tangan di atas kepala!" bentak petugas yang berada di posisi paling depan.
Bram terpaku. Di bawah sorotan lampu senter polisi yang menyilaukan mata, pandangannya tidak sengaja jatuh ke atas meja kecil di dekat vas bunga yang pecah di ruang tamu.
Di sana, tergeletak sebuah pisau dapur bergagang hitam yang berkilat basah oleh darah segar, pisau miliknya sendiri.