"Perampok!!"
Suara menggelegar itu membelah hiruk-pikuk sore di pusat kota.
Seorang pria bertubuh gemuk berlari terhuyung-huyung, dengan pipi yang berguncang hebat seiring langkah kaki yang berat dan tak seimbang. Keringat membanjiri dahi dan leher. Napasnya terdengar seperti kipas tua yang tersedak. Ia menunjuk ke depan dengan gemetar, matanya melotot marah sekaligus takut kehilangan harta bendanya.
"Berhenti!! Penculik, bukan, bukan. Perampok!" Ia berseru dengan napas yang terengah-engah tajam.
Teriakan itu terdengar sekali lagi. Kali ini jauh lebih lemah dan seperti sedang terjepit di tenggorokan.
Kaki pria malang itu terasa seperti diisi semen. Dadanya sesak luar biasa, seakan udara di sekitarnya tiba-tiba menipis habis.
Semakin lama, langkah kaki itu semakin melambat perlahan. Wajah itu menjadi pucat pasi. Berhasil membuat semua orang menatapnya iba, tapi jga tak berkeinginan untuk sedikit menolong.
"Aku-sudah-tidak-sanggup," gumamnya pelan, lalu tubuh gempal itu ambruk seketika ke aspal. Dan semuanya menjadi gelap.
Pingsan.
***
Di balik pilar beton besar sebuah gedung ruko yang tak jauh dari sana, Jeslyn berdiri menekan tubuhnya erat. Seakan-akan ingin segera mengecil saat ini juga.
Jantung gadis berdegup kencang, dengan telapak tangan dingin dan basah oleh keringat yang sedari tadi bercucuran.
Ia mengintip perlahan ke kiri, lalu ke kanan. Matanya menyapu kerumunan yang mulai berkumpul di kejauhan, memastikan tidak ada sosok gemuk yang mengejarnya.
"Aku selamat," desisnya pelan, menghela napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia menepuk dadanya berulang kali, berusaha menenangkan diri. "Astaga, jantungku mau copot saja."
Jeslyn, namanya. Gadis berusia dua puluh tahun dengan wajah yang polos dan mata yang selalu berbinar ceria, bahkan di hari-hari terberatnya sekalipun.
Dan hari ini adalah hari yang sangat spesial, ini adalah pengalaman pertamanya. Sebagai pencuri.
Salah dengar?? Tentu tidak.
Itulah profesi yang tengah digeluti Jeslyn saat ini. Jadi wajar saja jika lututnya masih gemetar hebat. Harap maklum, karena ia sama sekali belum berpengalaman.
Dengan jantung yang perlahan mulai tenang, rasa takut itu berganti menjadi rasa bangga yang meledak-ledak. Bibirnya melengkung lebar menjadi senyum kemenangan.
Ia merogoh saku jaket lusuhnya, mengeluarkan dompet kulit tebal milik si pria gemuk itu. Jemarinya gemetar sedikit saat membuka penutupnya. Bayangan makanan enak, sewa kamar yang tertunda, dan melunasi tagihan yang menumpuk seketika berputar di kepalanya.
"Akhirnya," gumamnya penuh harap, memasukkan tangannya ke dalam kantong dompet itu.
Wajahnya berubah datar seketika. Matanya menyipit tak percaya.
"Apa? Hanya ini?!"
Di antara jari telunjuk dan ibu jarinya, tergolek selembar uang kertas berwarna ungu pudar, atau senilai sepuluh ribu rupiah.
Tidak ada yang lain. Tidak ada logam mulia, tidak ada kartu kredit, bahkan uang receh pun nyaris tak ada. Ia menempelkan lembaran uang itu tepat di keningnya, menatap langit sore yang mulai berubah jingga dengan tatapan putus asa.
"Kenapa pengalaman pertamaku sangat tidak beruntung?" keluhnya pelan, jari telunjuknya memijit kening yang tiba-tiba terasa berdenyut nyeri. "Aku bahkan rela melakukannya demi ini? Ya ampun, Jeslyn, kamu bodoh sekali."
Dengan kasar ia melempar dompet kosong itu ke sembarang tempat ke arah tumpukan sampah di pinggir jalan. Sambil meremas perutnya yang mulai mengalunkan nada horor, keroncongan.
Ia memilih untuk melangkah, meski gontai, kembali ke trotoar yang ramai. Langkahnya lunglai, bahunya merosot tak berdaya. Matanya melayang kosong ke segala arah, berharap ada keajaiban yang jatuh dari langit.
Tepat di sudut parkir yang agak sepi, matanya tertuju pada sebuah mobil sedan hitam berkilauan yang terparkir rapi. Body mobil itu memantulkan cahaya matahari terbenam, tampak begitu mulus dan mahal.
"Bagus sekali!" serunya tanpa sadar, matanya berbinar kembali.
Ia melangkah untuk mendekat, telapak tangannya mengelus perlahan permukaan pintu mobil yang dingin itu.
"Seandainya aku bisa memiliki benda ini dan menjualnya, mungkin aku tak perlu lagi melakukan hal gila seperti ini."
Ucapannya terhenti mendadak. Matanya membelalak saat melihat sesuatu di balik kaca jendela yang sedikit terbuka. Mencondongkan badannya, memicingkan mata agar lebih fokus.
Di atas kursi penumpang, tergeletak sebuah kotak beludru kecil yang terbuka sedikit. Dan di sana, ada sesuatu berkilauan tajam, memancarkan cahaya putih yang jernih.
"Cincin? Berlian?" bisiknya tak percaya. Napasnya tertahan, bersamaan dengan jiwa rampok yang ikut membuncah.
Naluri mengambil alih. Ia melirik ke kiri dan kanan sekali lagi. Tidak ada siapa pun di sekitar sana. Perlahan, dengan jantung yang kembali berpacu gila, tangannya meraih gagang pintu mobil itu. Ia menariknya perlahan dan,
Klik.
Pintu itu terbuka. Tanpa mengeluarkan teriakan atau alarm yang membuatnya kembali dikejar-kejar orang lain.
Jeslyn menelan ludah. "Mimpi apa aku tadi malam?"
Tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, dengan gerakan cepat dan senyap, ia menyelinap masuk, duduk di lantai mobil tepat di belakang kursi pengemudi, dan menarik pintu itu tertutup rapat dari dalam.
Ia mengambil cincin berkilau tersebut dan menyelipkannya dengan cepat ke jari manis tangan kirinya. Berlian itu berkilau sempurna, memantulkan cahayanya tepat ke mata Jeslyn.
"Ini berlian sungguhan!" Ia berseru riang, senyumnya kembali merekah lebar. "Aku akan kaya. Aku akan menjualnya dan aku takkan pernah lapar lagi!"
Kalimat itu belum selesai terucap sepenuhnya ketika pintu depan terbuka dengan kasar. Seseorang masuk, duduk di kursi pengemudi, membanting pintu hingga tertutup rapat.
"Sial!!" Makhluk itu mengumpat.
Makhluk yang ternyata seorang pria itu menyalakan mesin dengan kasar. Ban mobil berdecit tajam saat kendaraan mahal itu melesat kencang meninggalkan tempat parkir, membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi.
Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Jeslyn.
"Gawat!!" bisik Jeslyn, matanya terbelalak ketakutan. Tubuhnya meringkuk. "Ternyata hari sialku belum berakhir. Astaga, tolong aku!!"
Jeslyn hanya diam, menahan napas, berdoa dalam hati agar pria itu segera berhenti di tempat sepi di mana ia bisa meloloskan diri tanpa terlihat.
Sayangnya, mobil itu justru melaju semakin cepat, menembus lampu lalu lintas satu demi satu. Pria itu mengerang kesal, memukul setir berkali-kali dengan kepalan tangannya yang kuat.
"Semua perempuan sama saja! Tidak ada yang bisa setia!" geramnya penuh kepahitan dan kemarahan yang meluap-luap.
Dengan kasar ia meraih buket bunga mawar merah yang besar di kursi sebelahnya, lalu melemparkannya ke belakang dengan amarah.
"Aauuw!"
Jeslyn memekik nyaring. Buket bunga yang cukup berat itu mendarat tepat di wajah dan kepalanya, kelopak mawar yang tajam sempat menggores pipinya sedikit.
Suara itu memecah keheningan. Pria itu tersentak hebat. Dengan gerakan mendadak, ia menginjak rem sekuat tenaga.
Ckiiit!
Suara gesekan ban dengan aspal terdengar mengerikan, meninggalkan jejak hitam yang panjang di permukaan jalan. Mobil itu berhenti mendadak, membuat tubuh Jeslyn terlempar ke depan, lalu tersentak ke belakang.
Pria itu segera berbalik, menatap ke arah kursi belakang. Matanya yang tajam dan gelap menatap tepat ke arah sosok yang masih meringkuk di lantai mobil. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, matanya menyala penuh amarah.
"Siapa kamu? Kamu penjahat?!" teriaknya nyaring, suaranya menggelegar di ruang tertutup itu.
Jeslyn mendongak dengan mata yang terbelalak ketakutan. Ia menggelengkan kepala secepat mungkin, kedua telapak tangannya terangkat ke udara tanda menyerah.
"Ti-tidak. Aku bukan penjahat. Aku hanya tersesat!" jawabnya terbata-bata, suaranya bergetar hebat.
Di saat yang sama, pandangan tajam pria itu jatuh pada tangan Jeslyn yang terangkat. Di sana, terpasang cincin berlian yang baru saja ia beli untuk sang kekasih.
Wajah pria itu semakin mengeras. Matanya menyipit tajam.
"Kamu pencuri?!" bentaknya dingin dan penuh ancaman.
"Tidak. Aku bukan. I-itu, itu hanya ...." Jeslyn mencoba membela diri, tapi lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengeluarkan suara.
Pria itu meraih pergelangan tangan Jeslyn dengan cengkeraman kuat yang tak bisa ia lepaskan. Menatap pada cincin, lalu pada Jeslyn dengan tatapan yang membuat darahnya membeku.
"Lalu ini apa?" Suaranya rendah mengerikan.
Jeslyn menelan ludah. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
'Gawat. Benar-benar gawat.'
Bersambung.