


oleh Aran · 77 Bab
Hampir setiap malam, Aurelie terbangun dari mimpi buruk yang sama. Masa kecilnya kosong, tertutup kabut yang tak pernah menyingkap apa pun. Di siang hari, ia hidup seperti biasa. Namun, ada keputusan yang tercatat atas namanya, tanpa ia ingat pernah membuatnya. Hingga suatu kesalahan fatal terjadi, dan Aurelie harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang bahkan tak ia ingat pernah dilakukan. Jika bukan dia, lalu siapa?
‘Tidak! Jangan!’
Aurelie ingin berteriak lantang, tapi suaranya terkubur di kerongkongan. Lidahnya menempel di langit-langit, sedangkan tangannya menggantung tanpa daya. Tubuhnya terasa seperti milik orang lain.
Semakin ia ingin kabur, semakin dekat langkah yang menguntitnya, ritmenya seperti hitungan mundur menuju tujuan akhir.
Kakinya bergerak dengan gelisah, ingin berlari secepat mungkin. Namun, sekuat apa pun usahanya untuk menghindar, derap langkah kaki di belakangnya malah semakin mendekat.
Belum sempat ia berteriak dan menarik napas, sebuah telapak kasar menghujam wajahnya, menutup suara, menelan udara yang hendak ia hirup.
"Mmhh ...," desahnya teredam.
Dada Aurelie terasa sesak karena paru-parunya menjerit meminta ruang dan asupan oksigen. Kemudian, seperti boneka rusak, ia diseret menjauh dari gerbang rumahnya sendiri. Kehangatan lampu beranda memudar bagai kenangan yang dipaksa tenggelam dengan cara yang brutal.
Kini, bukan rasa takut saja yang harus dilawan, ia juga harus berjuang untuk tetap sadar dan berpikir cara untuk menyelamatkan diri.
Popcorn masih tersimpan dalam kantong plastik di tangannya, renyah yang tak sempat menyentuh bibir, rencana sederhana yang hancur begitu saja. Malam yang harusnya dipenuhi tawa bersama sang adik untuk menonton film bersama, kini berubah menjadi lorong gelap yang menutup rapat semua harapan yang menari-nari di pelupuk mata.
Aurelie mencoba untuk menendang ke belakang sebagai bentuk perlawanan, tapi kakinya tidak mengikuti perintah yang dia inginkan.
‘Kenapa aku tak bisa bergerak?’
Rintihan itu melesak di dalam batin. Kakinya mengejang, seperti ada sesuatu, entah apa, memutus hubungan antara kemauan dan tubuh.
‘Tolong ....’ Lirihnya tak berdaya. Dia mencoba sekali lagi untuk menendang orang tersebut, tapi lagi-lagi, tubuhnya terasa lumpuh total.
‘Apa yang terjadi denganku?’ Aurelie merasakan putus asa yang teramat sangat. Tubuhnya terseret semakin jauh dari pekarangan rumahnya. Lampu beranda yang tadinya masih terlihat cahayanya, kini semakin samar-samar dalam penglihatan Aurelie
‘Aku harus melakukan sesuatu sebelum aku benar-benar berakhir di tangan orang ini.’
Aurelie mengumpulkan sia-sia tenaga dan keberanian yang dimiliki. Ia menggerakkan wajahnya ke samping kiri agar bekapan tangan itu terasa longgar. Begitu ada kesempatan, ia menggigit tangan tersebut, dan ….
"Aaa!"
Teriakan Aurelie terdengar menggelegar, tapi rupanya hanya bergaung dalam tubuhnya sendiri.
Ia mencoba menendang ke segala arah, tangannya memukul dan menggapai, sambil menggeram dengan napas berat. Berharap bisa lepas dari jeratan orang tersebut.
"Hei! Aurelie! Hellooo!"
Sepasang tangan hangat mengguncang tubuhnya yang sudah bermandikan keringat. Menariknya dari lubang tergelap yang pernah ada.
"Tidak! Lepaskan aku, orang jahat!” pekik Aurelie. Tubuhnya bergerak-gerak liar tak terkendali.
“Hei! Heiii!” bentak suara di sampingnya.
Aurelie tersentak kaget. Ia berkedip pelan saat kilau cahaya menyapa matanya.
"Aku di mana?" bisiknya goyah.
"Di rumah. Di tempat tidur. Sama aku. Kamu mimpi buruk lagi kan?" Lirih Darren bertanya. Bukan iba. Lebih mirip kejengkelan berbalut sopan.
Darren, suami Aurelie, terbangun saat wanita itu sedang berjuang melawan sosok misterius yang sering muncul dalam setiap mimpi buruknya.
"A-pa?" tanya Aurelie bingung. Dengan tiba-tiba ia mendorong tubuhnya ke atas untuk menemukan posisi duduk yang tepat.
"Kok nanya lagi, sih? Tadi kamu teriak-teriak seperti orang kesurupan," jelas Darren dengan nada yang semakin kesal.
Aurelie memeluk lututnya, seakan berusaha untuk melindungi diri sendiri.
"Makanya, lain kali berdoa dulu sebelum tidur."
"Aku doa kok, Mas, tapi masalah mimpi, mana bisa aku kontrol?" balas Aurelie pelan. Dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Darren yang terlihat masih mengantuk.
"Mengganggu tahu!" sentak Darren tanpa basa-basi.
Aurelie membelalak tak percaya. Pria yang selama ini selalu menemani dan memeluknya saat dia sedang berjuang melawan sosok misterius dalam mimpinya, kini memberikan tatapan tak bersahabat padanya.
"Mas, aku, aku takut," ucap Aurelie dengan bibir yang bergetar pelan. Tangannya terulur ke arah Darren untuk mencari kehangatan, tapi pria itu malah mendengkus kesal. Dia melirik jam di dinding, lalu kemudian menarik selimut di bawah kakinya.
"Ayo tidur! Besok aku harus berangkat pagi-pagi ke kantor."
Aurelie mengangguk, pelan, takut salah bergerak. Posisi duduknya masih sama seperti tadi.
"Jangan ngangguk aja." Darren menghela napas, panjang dan berat.
"Sabar, Mas. Aku akan berusaha untuk bisa tidur lagi. Mimpi-mimpi buruk ini membuatku trauma setiap kali hendak tidur."
“Trauma? Lalu, efeknya ke aku apa? Kamu kira aku nggak capek? Setiap malam kayak gini. Teriak. Tendang. Mukul. Nyeret selimut. Aku juga manusia yang butuh istirahat setelah kerja seharian."
Nada suara itu seperti pisau tumpul, tidak cukup tajam untuk memutus, tapi cukup untuk melukai berkali-kali.
Aurelie merapatkan kedua lutut ke dada, menyelimuti dirinya yang mulai menggigil.
"Mas, aku mohon, jangan marah. Mimpiku terasa nyata dan mengerikan. Aku bahkan nggak tahu siapa dia. Setiap aku mencoba lihat wajahnya, layaknya ada tembok di pikiranku."
Darren membalikkan tubuhnya, punggungnya seperti dinding yang tak bisa ditembus.
“Mungkin kamu butuh bantuan profesional,” katanya datar, tanpa menoleh.
"Kalau kamu mem ...."
"Atau aku butuh istri yang bisa tidur tanpa bikin aku begadang tiap malam."
Ucapan itu menjatuhkan Aurelie dalam diam yang memekakkan. Tiba-tiba ada jarak dan keheningan yang lahir bukan dari damai, tapi dari keletihan.
'Ke mana pria hangat yang selalu ada untukku?' raung Aurelie dalam hati.
Entah sejak kapan pria itu mulai berubah. Bulan lalu? Minggu ini? Kemarin? Sosok Darren yang biasanya hangat, sudah direnggut darinya. Suara yang menenangkan dan tatapan kasih sayang yang biasa diterima Aurelie, kini sirna.
Ia menatap punggung suaminya yang terlihat seperti daratan asing tanpa pelabuhan.
“Mengapa sekarang kamu bicara seperti aku ini beban untukmu, Mas?”Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Darren tak menjawab. Ia menarik selimut, menutup seluruh tubuh, menyamarkan napas kesalnya. Membiarkan Aurelie memikul kalimat itu sendirian.
***
Aurelie turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, seolah lantai itu ingin mengingatkan bahwa ia benar-benar terjaga, atau justru belum bangun dari mimpi buruk yang setia menghampirinya setiap kali ia terlelap.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam rambutnya yang basah oleh keringat.
‘Kenapa aku tidak pernah bisa lihat wajahnya? Siapa dia? Dan kenapa selalu adegan yang sama? Apa yang dia mau dariku?’
Begitu pikirannya mencoba menembus kabut mimpi itu, kepala bagian belakangnya terasa ditarik. Sakitnya datang tiba-tiba, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas otaknya dan mencabik-cabik memori yang hampir terlihat.
Aurelie menggelang pelan, berharap gerakannya itu bisa mengurangi kecemasan yang melandanya.
Dicobanya sekali lagi untuk menarik kembali memori yang tersimpan dalam ruang tergelap. Namun, ada suara lain dalam kepalanya, berdesis marah, melarang dan menutup pintu ingatannya.
"Aaargh." Ia merintih pelan, mencoba bernapas dengan kengerian yang mencekam.
Ada bisikan, bukan dari mulut siapa pun.
Dari suatu tempat yang tidak ingin ia ketahui.
Jangan ingat.
Aurelie memejam kuat. Air mata turun, bukan karena sedih, tapi karena dia mulai merasa seperti orang gila. Dia takut pada sesuatu yang tak bisa ia lihat. Takut pada dunia yang menuntutnya kuat padahal lututnya nyaris menyerah.
Di belakangnya, Darren sudah terlelap, memunggungi. Terlalu jauh untuk dijangkau, terlalu dekat untuk dilupakan.
Aurelie menghela napas, panjang, getir.
Mungkin, justru di dunia nyata inilah ia benar-benar sendirian.

Aran
8 Pengikut · 1 Novel