


oleh Miellna · 39 Bab
Dua dunia. Satu ancaman. Waktu mereka hampir habis. Devanka hanya ingin hidup bebas tanpa aturan. Naladhipa hanya ingin menjaga ketertiban. Mereka seharusnya tidak pernah bekerja sama, tetapi ketika rahasia kelam mulai terungkap di sekolah mereka, pilihan bukan lagi sebuah kemewahan. Dari suara-suara aneh di lorong hingga bayangan yang bergerak sendiri, sesuatu yang tak kasat mata sedang mengintai. Bersama, mereka menemukan sebuah kebenaran yang jauh lebih besar dari sekadar misteri sekolah: gerbang antara dunia manusia dan dunia gaib. Jika gerbang itu terbuka sepenuhnya, tidak ada tempat yang akan selamat. Mampukah mereka menghentikan bencana sebelum terlambat? Ataukah Muhara akan jatuh dalam kegelapan?
Matahari siang menggantung tinggi di langit Muhara, mewarnai gedung-gedung dengan cahaya terang nan panasnya.
Di halaman depan SMA Wijaya Kusuma, para siswa masih berkeliaran, sebagian bercanda di bawah pohon rindang, sebagian lagi berjalan santai menuju gerbang sekolah.
Namun, suasana yang semula tenang berubah saat sebuah motor melaju cepat, berhenti mendadak di depan gerbang.
BRAAK!
Devanka menurunkan kakinya dari pedal dan melepas helm, memperlihatkan rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan.
Seragamnya kusut, dasinya tidak dikancingkan dengan benar, dan lengan kemejanya digulung sembarangan.
Dia turun dari motornya, mengabaikan tatapan heran beberapa siswa yang memperhatikan.
"Jadi ini sekolah baruku?" gumamnya seraya melirik papan nama di atas gerbang. "SMA Wijaya Kusuma … terlalu bersih."
Saat ia hendak melangkah masuk, seorang guru piket mendekatinya dengan ekspresi tidak senang.
"Kamu murid baru yang bernama Devanka Guhyaraja?"
Devanka mendengkus kecil. "Mungkin. Kenapa?"
Guru itu melipat tangan di dada. "Kamu datang terlambat di hari pertama sekolah."
"Bukannya hari pertama biasanya cuma perkenalan?"
"Itu bukan alasan."
Devanka memutar bola mata, lalu menyelipkan tangan ke dalam saku celananya. "Baik, baik, aku masuk sekarang, kan?"
Guru itu menatapnya tajam sebelum menghela napas. "Aula. Sekarang!"
Tanpa membantah, Devanka berjalan santai menuju aula, membiarkan tatapan siswa lain mengikuti setiap langkahnya. Ia sudah terbiasa jadi pusat perhatian, tapi yang menarik perhatiannya justru satu hal—mata-mata yang mengawasinya terasa berbeda.
Seolah bukan hanya manusia yang sedang memperhatikannya.
***
Kehadiran Devanka langsung menarik perhatian para penghuni yang tengah melakukan rapat di aula.
Bukan hanya karena ia masuk terlambat, tapi juga karena aura berandalan yang terpancar dari dirinya.
Para guru yang duduk di depan panggung sudah terlihat lelah, seolah mereka sudah diberi peringatan tentang murid baru ini.
Tepat di tengah aula, seorang gadis berdiri di podium, memegang mikrofon dengan sikap tegap.
Seragamnya rapi, dasinya terpasang sempurna, dan lambang OSIS di dadanya bersinar tertimpa cahaya lampu.
Postur tubuhnya ideal, dengan kulit terawat, dan rambut merah gelap yang panjang.
Naladhipa Pratibha.
Tatapannya segera tertuju pada Devanka, lalu ia melirik guru yang mengawalnya. "Murid baru?" tanyanya tanpa mengubah ekspresi.
Guru itu mengangguk. "Devanka Guhyaraja. Tolong arahkan dia ke kelasnya setelah ini!"
Naladhipa diam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Baik."
Devanka menyeringai kecil. "Jadi, ketua OSIS yang akan jadi babysitter-ku?"
Sorot mata Naladhipa sedikit mengeras. "Bukan babysitter. Hanya memastikan kamu tidak melakukan hal yang seharusnya tidak kamu lakukan."
"Aku?" Devanka memasang ekspresi terkejut palsu. "Kenapa? Aku 'kan anak baik-baik."
Beberapa siswa menahan tawa, tetapi Naladhipa tetap tenang. Ia mengabaikan sindiran Devanka dan kembali menatap para siswa.
"Baik, kembali ke pengumuman. Jangan lupa! Minggu ini ada festival sekolah. Panitia sudah menyusun rencana untuk dekorasi juga lomba dan para OSIS bisa langsung menuju koordinat masing-masing, jadi mohon kerja samanya. Sekian."
Suaranya tegas, tidak tergoyahkan oleh kehadiran Devanka yang jelas-jelas mencoba mengusiknya.
Saat ia turun dari podium, guru yang tadi berbicara dengan Devanka menyerahkan tugas kepadanya.
"Naladhipa, tolong antarkan dia ke kelasnya! Saya masih ada urusan di ruang guru."
Naladhipa mengangguk, lalu berjalan melewati Devanka tanpa melihatnya. "Ikut aku!"
Devanka tersenyum miring sebelum mengikuti di belakangnya.
***
[Lorong Kelas 2-B]
Langkah mereka menggema di lorong yang mulai sepi. Naladhipa berjalan dengan postur lurus, seolah tidak peduli dengan Devanka yang berjalan sedikit lebih santai di belakangnya.
"Aku dengar kamu dikeluarkan dari sekolah sebelumnya," katanya tiba-tiba.
Devanka menoleh dengan alis terangkat. "Penasaran?"
"Bukan. Aku hanya tidak ingin ada masalah di sini."
Devanka tertawa kecil. "Sayangnya, masalah suka datang sendiri pada diriku yang tampan ini."
"Kalau begitu, pastikan tidak ada masalah yang melibatkan orang lain," ucap Naladhipa tanpa mengubah nada suaranya.
Devanka memperhatikan gadis itu lebih teliti. Ada sesuatu dalam sorot matanya—keteguhan yang tidak biasa. Ketua OSIS ini pasti bukan sembarang orang.
"Jadi, ada alasan kenapa kamu repot-repot jadi pengawas sekolah?" tanyanya.
"Ada."
Devanka menunggu, tetapi Naladhipa tidak melanjutkan.
"Hemat kata, ya?" godanya.
"Aku tidak suka bicara dengan orang yang tidak berniat serius."
Devanka terkekeh. "Wah, berbobot sekali."
Mereka akhirnya tiba di depan pintu kelas 2-B. Naladhipa berhenti, menatap Devanka.
"Ini kelasmu. Jangan buat masalah!"
Devanka menyeringai. "Akan kucoba."
Naladhipa tidak membalas. Ia hanya berbalik dan pergi, meninggalkan Devanka yang masih berdiri di depan pintu.
Saat ia hendak masuk, tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Perasaan itu merayapinya kembali. Seseorang … atau sesuatu … sedang mengawasinya.
Ia lantas menoleh ke lorong.
Kosong, tidak ada orang lain di sana. Namun, ia bersumpah, sesaat tadi, ia melihat bayangan hitam berdiri di ujung sana, dekat tangga.
Ia mengangkat bahu, bersikap tidak peduli lalu membuka pintu kelas dengan suara keras tanpa salam. Ruangan kelas pun terasa lebih senyap saat Devanka melangkah masuk. Beberapa siswa langsung berbisik satu sama lain, jelas membicarakannya.
Devanka mengabaikan mereka dan berjalan santai, mencari kursi kosong. Namun, sesuatu membuatnya berhenti. Ada satu bangku kosong di sudut belakang, tetapi rasanya … cukup berbeda.
Tidak ada yang duduk di sana, tapi bangku itu tidak terlihat seperti diabaikan selama berbulan-bulan. Tidak ada tas, tidak ada coretan di mejanya, bahkan debu pun seolah tidak menempel di permukaannya, dan yang lebih aneh lagi … siswa di dekatnya terlihat gelisah, seolah tidak ingin bangku itu diduduki.
Devanka tersenyum miring. "Kenapa? Bangkunya milik hantu?" tanyanya bercanda.
Tidak ada yang menjawab.
Seorang siswa di depannya menoleh, wajahnya sedikit pucat. "Jangan duduk di sana!"
Devanka mengangkat alis. "Kenapa?"
Siswa itu menelan ludah, lalu berbisik, "Karena yang terakhir duduk di sana … tidak pernah pulang."
Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin, suhu turun hingga membuat menggigil. Semua siswa mengusap tengkuk dengan tidak nyaman.
Devanka melirik bangku itu lagi, kini dengan rasa penasaran yang lebih besar. Dia merasa itu menyenangkan dan ketertarikannya menjadi besar. Lagi, kepada siswa itu dia bertanya, "Serius?"
Siswa itu tidak menjawab, hanya menunduk. Hatinya gelisah dan gugup, jelas tidak berani.
Devanka menyeringai kecil. "Menarik."
SREET-
Tanpa ragu, ia menarik kursi itu dan duduk. Beberapa siswa langsung menahan napas bahkan ada yang menunduk takut. Namun, ....
Hening.
Tidak ada yang terjadi.
Devanka menoleh ke teman-temannya yang masih terlihat tegang. "Lihat? Tak ada apa–"
DUAK!
Tiba-tiba, pintu kelas tertutup sendiri. Lampu ruangan berkedip dua kali, hidup dan mati. Dalam sekejap, udara di ruangan itu berubah, terasa lebih berat, seolah ada sesuatu yang kini duduk di sampingnya.
Devanka menegang.
Untuk pertama kalinya sejak ia masuk sekolah ini, ia merasakan sesuatu yang nyata. Bukan hanya perasaan diawasi, tapi kehadiran yang sesungguhnya. Sebuah suara berbisik di telinganya.
Pelan.
Serak.
Nan penuh dendam.
"Kamu tidak seharusnya ada di sini."
***
Bersambung ....

Miellna
5 Pengikut · 1 Novel