


oleh Dina0505 · 24 Bab
Perjuangan seorang ayah untuk menyelamatkan anaknya yang mengidap leukumia. Dari seorang yang tidak dianggap, perlahan dirinya menjadi seorang yang sangat dihormati setelah pertemuannya dengan tetua sebuah organisasi. Fadil pun mendapatkan kehormatan menjadi pimpinan yang menghandle sebuah perusahaan terbesar di Indonesia. Mampukah Fadil yang seorang pria sederhana dan tidak memiliki pengetahuan tentang bisnis menjalankan perusahaan itu? Dan apakah Fadil dapat menyelamatkan putrinya dari penyakit yang dideritanya?
Perayaan ulang tahun telah usai. Seluruh tamu dan para keluarga sangat menikmati pesta megah yang telah diberikan Fadil untuk putri tercintanya.
Malam itu Fadil telah membuktikan kalau dia bukanlah seorang pembual yang hanya bermimpi terlalu tinggi. Semua hinaan Arya telah ditepis oleh Fadil dengan pembuktian atas usahanya, bahkan semua keluarga terlihat bangga padanya.
Di balik kebahagiaan Fadil bersama istri dan putrinya, ada saja orang yang iri dengan kebahagiaannya. Orang itu adalah Evan. Dia memperhatikan Alexa, yang semenjak tadi berusaha mencari perhatian Fadil dari kejauhan, kini mulai mendekatinya.
"Halo, Nyonya Alexa. Apa kita bisa bicara?" sapa Evan yang mendekatinya.
"Tuan Evan rupanya. Senang bertemu dengan Anda. Apa ada yang bisa saya bantu?" Wanita muda itu menoleh ke arahnya.
"Saya ingin melakukan kerja sama dengan Anda, bisa kita bicara empat mata?" pinta Evan padanya dengan penuh keyakinan. Dia tahu misinya kali ini tidak akan gagal.
"Baiklah, kalau begitu kita akan bertemu di ruang tunggu saja. Bagaimana?" usul wanita itu padanya. Dibalas dengan anggukan oleh Evan.
Pria itu pergi terlebih dahulu, karena dia benar-benar sudah muak dalam acara itu. Melihat kebersamaan Aisha, Fadhil dan putrinya membuat Evan terbakar api cemburu, ingin sekali dia menghancurkan pesta itu, tetapi dengan cara bermain halus.
Sebenarnya, Evan sengaja mendatangi Alexa, bukan untuk bisnis, tapi untuk bernegosiasi dengannya. Ia tahu persis Alexa sangat menyukai Fadil. Hal itu dapat dilihat dari sikap Alexa yang sangat begitu ingin mendapatkan perhatian dari Fadil.
Sementara, Fadil tidak mengacuhkannya, karena yang dipikirkan Fadil saat ini adalah memberikan kebahagiaan untuk putrinya, Sanaya.
'Sepertinya, aku tertarik pada Fadil. Tadinya, aku pikir dia hanya relasi bisnis saja. Ternyata, dia pria yang baik dan sangat menyenangkan,' puji Alexa dalam hatinya. Ia sangat mengagumi cara Fadil menyayangi keluarganya, bahkan dia berniat ingin memiliki Fadil.
Setelah menyapa rekan bisnisnya, Alexa menemui Evan untuk membahas sesuatu yang akan direncanakan Evan padanya.
"Maaf, saya membuat Anda menunggu. Tadi ada relasi bisnis yang menemui saya dan saya tidak enak jika menolak mereka," jelas Alexa pada Evan yang sedang menunggunya dan bersantai di lobi hotel.
"Nyonya, saya punya penawaran untuk Anda. Jika Anda berkenan saya akan menjelaskannya pada Anda," ujar pria itu lagi.
"Apakah itu penawaran bisnis?" selidik wanita itu sambil duduk di hadapan Evan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan bisnis, tetapi saya yakin sekali Anda pasti akan tertarik untuk penawaran saya," ucap Evan sambil menyesap minumannya.
"Saya tidak mengerti. Sebenarnya, penawaran apa yang Anda inginkan dari saya?" Alexa menautkan alisnya.
"Saya memperhatikan Anda dari tadi. Sepertinya, Anda sangat peduli pada Fadil. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk merebut pasangan mereka?" Evan tersenyum penuh arti.
"Anda jangan sok tahu, karena saya ada di sini hanya sebagai tamu. Jika ada urusan pribadi lebih baik Anda selesaikan saja langsung dengan orang yang bersangkutan."
Ia merasa terusik oleh sikap Evan yang sangat berterus terang padanya. Sedangkan, Alexa sendiri tidak terlalu menyukai pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Ayolah, Nyonya Alexa. Saya bisa mengerti kalau Anda begitu menyukai Fadil, karena dari awal pertemuan mata Anda telah menunjukkannya," ucap lelaki itu lagi.
Alexa sedikit tersentil oleh ucapan sarkas lelaki itu. Di satu sisi, Alexa tertarik untuk menuruti perkataan Evan, tapi ia bukanlah orang yang mudah percaya begitu saja pada orang lain.
"Saya rasa Anda hanya akan membuang waktu saja jika membicarakan hal ini pada saya. Maaf, saya harus pergi!" pungkas wanita itu kemudian pergi meninggalkan Evan sendirian.
Evan tersenyum kecut melihat wanita itu pergi begitu saja darinya. Sepertinya dia salah memilih rekan untuk bekerja sama, karena Alexa bukan tipe orang yang mudah terpengaruh.
"Nyonya Alexa, saya mencari Anda tadi, ternyata Anda di sini. Ayo, silakan masuk," ajak Sharga sambil mempersilakan Alexa itu berjalan lebih dulu dari pada dirinya.
Sedari tadi dia menangkap sinyal, ada orang yang ingin menghancurkan tuan besarnya.
'Ternyata, benar dugaanku. Kepergian Evan dari keramaian bukan karena ia ingin keluar dari pesta tapi ia memang memiliki rencana pada Tuan Besar,' monolog Sharga dalam hatinya.
Ia memang sengaja berjaga-jaga karena ia tidak ingin Tuan Besar beserta keluarganya terancam bahaya. Setelah memastikan Alexa masuk ke dalam, ia melihat Evan yang telah bergabung bersama para tamu di ruangan itu.
"Kau dari mana? Aku kira kau meninggalkan pesta ini," ucap Arya yang melihat Evan telah kembali.
"Hanya mencari angin saja. Suasana di sini tidak cukup baik bagiku," jawab Evan pada sahabatnya.
"Ya sudah. Ayo, nikmati saja pestanya," ajak Arya padanya lagi. Ia membawa Evan untuk makan bersamanya di pesta itu
"Arya, aku rasa kita akan mendapatkan orang yang tepat untuk memisahkan Aisha dan Fadil," ucap Evan saat mereka telah membawa makanan ke meja yang telah disediakan.
"Apa?" Tiba-tiba saja tenggorokan Arya tercekat.
"Iya, kau lihat wanita yang di sana?" tunjuk Evan pada wanita yang asyik bercengkerama dengan Fadil dan keluarganya.
"Maksudmu, Alexa?" tanya Arya memastikan.
"Hm, sepertinya dia menyukai Fadil. Aku yakin kita bisa memanfaatkannya untuk menjebak Fadil dengannya." Tunjuk Evan ke arah Alexa yang sedang bicara dengan para tamu.
"Aku setuju, kita harus bisa meyakinkannya terlebih dahulu." Arya memperhatikan Alexa yang sedang bersama para tamu.
"Aku harap Fadil bisa pergi jauh dari keluargaku. Aku benar-benar sudah tidak tahan melihat lelaki itu dipuji oleh Ayah." Arya mengepalkan tangannya meluapkan emosinya.
"Kau benar, aku sudah mencoba untuk bernegosiasi dengannya. Hanya saja, dia sedikit sulit untuk didekati," keluh Evan.
"Aku akan mencari cara untuk membuat wanita itu mau bekerja sama dengan perusahaanku." Arya menyesap minumannya. "Aku yakin, cara itu bisa membuatnya dekat dengan Fadil lalu aku akan menyulut api dalam hubungan Fadil dan Aisha."
Arya tersenyum licik penuh dendam memperhatikan Fadil.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel