


oleh Dina0505 · 27 Bab
Perjuangan seorang ayah untuk menyelamatkan anaknya yang mengidap leukumia. Dari seorang yang tidak dianggap, perlahan dirinya menjadi seorang yang sangat dihormati setelah pertemuannya dengan tetua sebuah organisasi. Fadil pun mendapatkan kehormatan menjadi pimpinan yang menghandle sebuah perusahaan terbesar di Indonesia. Mampukah Fadil yang seorang pria sederhana dan tidak memiliki pengetahuan tentang bisnis menjalankan perusahaan itu? Dan apakah Fadil dapat menyelamatkan putrinya dari penyakit yang dideritanya?
Fadil begitu senang ketika mendapat kabar sang putri Sanaya mendapatkan juara umum di sekolahnya. Pria berumur empat puluh tahun yang berprofesi sebagai seorang pelukis jalanan bersenandung riang mendengar kabar kejuaraan sang anak. Rasanya, dia tak sabar untuk segera menemui sang putri.
Fadil bergegas mengemasi lukisannya dan mengangkutnya ke motor yang selalu digunakannya untuk melukis di tepi jalan. Selanjutnya, Fadhil bergegas ke toko perlengkapan sekolah untuk membelikan tas sekolah dan seragam baru yang diimpikan sang putri.
Di tengah perjalanan ban motornya bocor dan Fadil tidak bisa melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan motornya.
"Argh! Kenapa motor ini malah bocor segala, di saat aku lagi membutuhkannya untuk menjemput Sanaya," gerutu Fadil dalam hati.
Fadil melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 10.00 WIB menandakan sebentar lagi Sanaya akan segera pulang. Demi menghemat waktu Fadil berinisiatif untuk menggunakan sepeda butut yang dimilikinya di rumah. Fadil pun bergegas menuju ke rumahnya.
Dengan napas tersengal Fadil membuka pintu rumahnya dan mengambil sepeda bututnya. Ia segera mengayuh sepedanya menemui putrinya.
Fadil mengendarai sepedanya dengan cepat. Sesampainya di sekolah Fadil mendapati Sanaya menunggunya dengan senyuman di wajahnya.
"Sayang, maaf Ayah sedikit lama. Tadinya Ayah mau jemput kamu pakai motor, tetapi tiba-tiba bannya bocor kena paku. Supaya kamu tidak menunggu lama Ayah pakai sepeda ontel ini saja untuk menjemputmu," jelas Fadil pada sang putri.
"Tidak apa-apa Ayah, Sanaya senang Ayah mau menjemput Sanaya," ucap gadis berumur sepuluh tahun itu dengan mata sayu.
"Kamu nggak apa-apa, Nak? Kok wajah kamu pucat sekali?" tanya Fadil sambil memperhatikan wajah putri kecilnya.
"Tidak mengapa Ayah, ayo kita segera pulang. Aya capek sekali, Yah," ujar Sanaya sambil menahan rasa sakit kepala yang teramat sangat yang dirasanya, tetapi masih mengukir senyum di bibir mungilnya.
Fadil dengan penuh kegembiraan segera merangkul putri semata wayangnya kemudian mengajaknya berjalan menuju parkiran. Akan tetapi, baru saja sang putri melangkahkan kakinya untuk turun dari tangga sekolah, tiba-tiba saja dirinya terpeleset lalu terjatuh, sehingga tubuh mungil gadis kecil itu terguling ke lantai bawah sekolahnya.
Melihat kejadian yang baru saja menimpa Sanaya, para siswa dan guru berhamburan menghampirinya. Begitu juga dengan Fadil, dia pun bergegas menuju kepada sang putri yang tergeletak dengan wajah pucat dengan hidung berdarah.
"Sanaya! Kamu kenapa, Nak?" Fadil menepuk-nepuk wajah sang anak yang telah pingsan. Salah seorang guru yang melihat kejadian itu segera menelepon ambulans.
Sanaya segera digotong ke rumah sakit. Fadil pun mengendarai sepeda menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, para petugas medis segera membawa Sanaya ke ruang IGD untuk segera diperiksa.
Fadil yang cemas dengan keadaan putrinya bergegas ke ruangan di mana putrinya dirawat, tetapi beberapa orang petugas keamanan menghentikannya.
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk, hanya petugas medis yang boleh masuk ke ruang IGD," cegah salah satu petugas pada Fadil.
"Tapi Pak, yang berada di dalam sana itu putri saya. Saya harus melihatnya sekarang juga," sela Fadil pada petugas itu.
Sementara itu, beberapa anggota keluarga yang baru saja berada di ruang tunggu menatapnya dengan dingin dan seakan menyalahkannya.
"Dasar tidak berguna. Merawat putri sendiri saja tidak becus! Bagaimana bisa putri kamu sampai terluka seperti itu?" Sang ipar berkata ketus, menatap sinis pada Fadil.
Ingin sekali Fadil mengatakan bahwa putrinya secara tidak sengaja jatuh saat turun dari tangga menuju parkiran, tetapi semua itu telah terjadi. Fadil pun hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa sedih sambil menyalahkan dirinya atas kejadian menimpa putrinya.
"Aku memang bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan putri kecilku terluka seperti itu?"
Saat itu pula, sang mertua datang untuk menemui cucu mereka. "Di mana cucuku? Apa yang terjadi padanya?" tanya Husain, ayah mertua Fadil.
Fadil hanya menatap sendu pada ayah mertuanya tanpa bisa berkata apa pun.
"Fadil, ayo jawab. Kenapa kamu diam saja? Awas saja, jika terjadi sesuatu pada Sanaya, Ibu tidak akan memaafkan kamu!" ancam Nafsha, sang ibu mertua.
"Ayah macam apa kamu? Ceroboh sekali, bisa-bisanya anakmu jatuh saat bersamamu!" Sinis Erika, sang adik ipar.
"Dia memangnya bisa apa, Ma, selain hanya menjadi benalu di rumah kita. Bahkan melindungi satu orang anak saja tidak becus," timpal Yana, sang kakak ipar sambil menatap remeh pada Fadil.
Yana memang orang yang paling tidak pernah setuju dengan pernikahan antara adiknya Aisha dengan Fadil karena perbedaan kasta di antara mereka.
"Dengar, Fadil! Jika sesuatu terjadi pada cucuku, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang di dalam rumahku!" Tunjuk sang ayah mertua ke wajah Fadil sambil menatapnya dengan dingin.
Sikap yang ditunjukkan oleh ayah dan ibu mertua beserta para keluarga yang menyalahkannya, membuat Fadil merasa tertekan. Dirinya terus menatap ruang operasi rumah sakit, membayangkan putrinya jatuh, dan air mata terus mengalir di matanya, tanpa ada sepatah kata pun untuk membela diri terhadap semua tuduhan padanya.
Satu jam berlalu, dokter keluar dari ruangan operasi. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Fadil bergegas menghampiri sang dokter.
"Maafkan kami Pak. Dengan sangat menyesal kami dari pihak tim medis menyampaikan bahwa putri Anda mengidap leukemia yang relatif langka, dan harus dioperasi secepatnya agar anak Anda dapat diselamatkan," jelas sang dokter kembali.
"A-apa? Leukimia?" ulang Fadil sambil terbata.
"Ya, leukimia adalah kanker darah, di mana jumlah sel darah putih lebih besar daripada sel darah merah," jelas dokter.
"Apa itu bisa disembuhkan, Dok?" tanya Fadil dengan suara bergetar menahan tangis.
"Bisa, tetapi kita harus melakukan operasi besar dan kemoterapi untuk mencegah sel kanker berkembang lebih lanjut."
"Berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan?" tanya Fadil dengan frustrasi.
"Untuk biaya operasi sekitar dua puluh lima juta sampai tiga puluh juta, sedangkan untuk kemoterapi sekali kemo saja membutuhkan biaya sepuluh juta. Akan tetapi, kesempatan untuk sembuhnya juga sangat kecil," jelas sang dokter kembali.
Mendengar penjelasan itu, Fadil terkejut dan tersandar ke tembok. Ia memikirkan untuk kesembuhan Sanaya, dia membutuhkan banyak uang, dan hasil akhirnya belum tentu bisa disembuhkan juga.
Mendengar jumlah biaya yang sangat mahal, Fadil mengembuskan napas kasar.
"Huft, buat makan sehari-hari saja susah. Bagaimana mau bayar biaya operasi?" Tania sang kakak ipar menunjukkan ekspresi jijik.
Beda halnya dengan Husain sang ayah mertua, dengan tegas dia mengatakan, "Kita harus mengobati Sanaya, Ayah nggak mau kehilangan cucu Ayah. Bagaimanapun caranya, cucuku harus sembuh!"

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel