“Apa kau benar-benar tidak punya rasa malu, Long Chen? Sudah menumpang hidup di keluarga kami, kerjamu hanya membuat kotor lantai dan menghabiskan beras saja!”
Suara bentakan melengking itu menggema di sudut ruang makan kediaman utama Keluarga Lin, memecah keheningan pagi yang seharusnya tenang. Wanita paruh baya dengan pakaian mewah dan perhiasan berkilauan di jemarinya, Nyonya Besar Zhao, bibi dari Lin Wanru, menatap tajam ke arah seorang pemuda yang berdiri tegap di dekat meja makan.
Pemuda itu adalah Long Chen. Ia mengenakan pakaian sederhana yang kontras dengan kemewahan interior rumah megah bergaya klasik tersebut. Di hadapannya, mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis dibiarkan begitu saja, tak tersentuh sejak tadi karena rentetan cemoohan yang terus menghujam telinganya.
Long Chen tidak langsung menjawab. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap wanita paruh baya itu dengan sorot mata yang begitu tenang, hampir datar. Di dalam dadanya, badai emosi masa lalu bergejolak, dan ia berhasil meredamnya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan, cemoohan, dan pandangan rendah dari seluruh anggota keluarga besar bangsawan Lin, Long Chen telah belajar menjadi batu karang yang kokoh. Ombak caci maki sebesar apa pun yang menghantam, permukaannya tidak akan pernah pecah.
Bagi seluruh anggota Keluarga Lin, status Long Chen sangatlah jelas dan tidak bisa ditawar: dia adalah parasit. Tiga tahun lalu, pernikahan kontrak yang diatur oleh kakek Lin Wanru yang telah tiada memaksa sang jenderal muda dan berbakat untuk menikah dengan seorang pemuda antah berantah. Sejak sang kakek meninggal dunia, perlindungan tak kasat mata itu lenyap.
Long Chen berubah dari seorang suami terikat status menjadi target perundungan sosial nomor satu di dalam keluarga besar tersebut. Di mata mereka, Long Chen adalah simbol kegagalan, pria lemah tanpa latar belakang keluarga, tanpa kekayaan, dan tanpa kemampuan fisik yang layak diandalkan.
“Bibi Zhao benar,” sahut Lin Haoming, sepupu Wanru, dengan nada suara mengejek sambil menyilangkan tangan di dadanya. Pemuda itu tersenyum miring, menatap rendah ke arah Long Chen seolah-olah yang ada di hadapannya bukanlah seorang manusia, melainkan seekor serangga pengganggu.
“Aku dengar kemarin malam kau pergi ke pasar murah hanya untuk membeli sayuran sisa demi menghemat uang bulanan istrimu. Sungguh memalukan! Memiliki suami seorang pengangguran parasit seperti dirimu adalah noda terbesar dalam silsilah darah Keluarga Lin.”
Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling berbisik sambil menahan tawa. Mereka sudah terbiasa melihat pemandangan ini setiap hari. Di kediaman Keluarga Lin, menindas Long Chen adalah hiburan pagi yang tidak pernah dilewatkan oleh para kerabat. Tidak ada satu pun orang yang membela pemuda itu.
Di tengah keriuhan cemoohan tersebut, pintu utama ruang makan tiba-tiba berderit pelan saat dibuka dari luar. Suasana ruangan yang tadinya penuh dengan suara tawa merendah seketika berubah menjadi sunyi senyap.
Seorang wanita melangkah masuk dengan anggun, memancarkan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai rapi, berpadu sempurna dengan setelan formal berwarna gelap yang ia kenakan. Wajahnya cantik jelita, bergaris tegas, dengan sepasang mata tajam bagaikan elang yang mampu menembus jiwa siapa pun yang ia pandang. Dialah Lin Wanru, istri sah Long Chen, wanita yang namanya kerap membuat bulu kuduk orang-orang di luar sana merinding, meskipun sedikit pun dari rahasia besar itu belum pernah tersingkap di dalam rumah ini.
Kehadiran Lin Wanru membuat Nyonya Besar Zhao dan Lin Haoming sedikit meredam seringai mereka, meski ekspresi meremehkan di wajah mereka tidak lantas hilang sepenuhnya. Di hadapan publik dan keluarga besar, Wanru dikenal sebagai sosok wanita karier yang dingin, kaku, dan sangat sibuk dengan urusan bisnis serta kedinasan luar kotanya. Meskipun mereka tahu Wanru tidak terlalu menyukai suaminya sendiri, terbukti dari sikap dingin wanita itu kepada Long Chen selama ini, mereka tetap berhati-hati agar tidak melewati batas di depan Wanru secara terang-terangan.
“Ada apa ini? Kenapa suasananya begitu gaduh pagi-pagi begini?” tanya Lin Wanru terdengar dingin, datar, tanpa nada emosi yang berarti. Ia berjalan menuju kursinya di ujung meja makan, menarik kursi tersebut, lalu duduk tanpa melirik sedikit pun ke arah suaminya.
“Wanru, akhirnya kau turun juga,” ucap Nyonya Besar Zhao segera memasang wajah masam, mengubah nada bicaranya menjadi seolah-olah ia sedang mengadukan hal yang sangat penting demi kebaikan keponakannya itu. Ia menunjuk Long Chen dengan dagunya. “Kami hanya sedang memperingatkan suamimu yang tidak tahu di untung ini. Kau bekerja keras membanting tulang di luar sana untuk menjaga kehormatan keluarga, sementara dia di sini hanya bisa makan dari keringatmu tanpa memberikan kontribusi apa pun! Sampai kapan kau akan memelihara benalu tidak berguna seperti dia? Hah? Keputusan kakekmu dulu menikahkanmu dengannya benar-benar sebuah kesalahan besar yang membawa sial bagi garis keturunan kita!”
Lin Haoming langsung menimpali dengan cepat, memanfaatkan momen untuk semakin menjatuhkan Long Chen. “Benar, Kak Wanru. Kemarin rekan bisnis kita dari klan lain menanyakan status suamimu dan mereka tertawa lepas. Mereka bilang Keluarga Lin kini sudah jatuh miskin dan tidak punya standar lagi karena membiarkan pria lemah tinggal di rumah utama. Demi harga diri keluarga kita, sudah saatnya kau menceraikannya dan mencari suami dari kalangan bangsawan yang sepadan. Kami bahkan sudah menyiapkan beberapa kandidat dari pemuda terhormat di kota ini!”
Mendengar ucapan itu, Long Chen hanya menarik napas perlahan. Ia melirik sekilas ke arah istrinya, ingin melihat bagaimana wanita itu merespons tekanan publik keluarganya sendiri. Selama ini, Wanru selalu memilih diam atau sekadar mengabaikan Long Chen di depan umum. Sikap dingin sang istri sering kali diartikan oleh orang lain sebagai bentuk kebencian atau rasa malu yang mendalam karena memiliki suami sepertinya. Long Chen tidak pernah protes. Ia tahu persis beban apa yang sedang dipikul oleh wanita di hadapannya itu, beban yang jauh lebih berat daripada apa yang tampak di permukaan rumah tangga mereka.
Lin Wanru terdiam sejenak. Ia mengambil cangkir teh hangat yang dituangkan oleh pelayan pribadi di sampingnya. Jemarinya yang lentik memegang pinggiran cangkir porselen putih itu dengan stabil. Wanita itu menunduk menatap permukaan air the yang bergelombang kecil, lalu mengangkat pandangannya perlahan. Sorot matanya yang dingin menyapu wajah Nyonya Besar Zhao dan Lin Haoming satu per satu, membuat kedua orang itu sedikit salah tingkah di bawah tatapan intimidatif tersebut.