"Sudah transfer, Herman?"
Pertanyaan Risa meluncur datar, ada lapisan baja tersembunyi di balik nada suaranya. Ia berdiri di ambang pintu dapur, menatap suaminya yang sedang menyempurnakan simpul dasi sutra di depan cermin besar ruang makan. Dinding-dinding di sekeliling mereka dilapisi marmer Carrara dingin. Udara AC terasa terlalu bersih, terlalu steril.
Herman memutar badannya perlahan, senyumnya terukir rapi, seperti dipesan dari katalog eksekutif. Jam tangan Patek Philippe-nya berkilauan tertimpa cahaya lampu kristal.
Kontras dengan kemewahan itu, jari-jari Risa mencengkeram erat sebuah mangkuk keramik kecil yang berisi delapan keping koin receh. Itu adalah seluruh kekayaan likuidnya saat ini untuk urusan sarapan.
"Kenapa terburu-buru, Risa? Baru juga jam tujuh pagi." Herman menjawab, nadanya penuh kesabaran yang dibuat-buat, seperti sedang mengajari anak kecil tentang konsep waktu.
"Untuk belanja. Kulkas kosong. Aku tidak bisa membuatkan anak-anak sarapan hanya dengan melihat kaleng biskuit, dan kau tahu hari ini jadwal Fira padat," desak Risa, langkahnya maju satu meter, mengurangi jarak yang memuakkan antara kemakmuran Herman dan kemiskinannya.
Herman mendengkus geli, mengambil cangkir kopi dari mesin espresso otomatis premium yang harganya setara dengan biaya sekolah dasar Fira selama setahun.
"Itu namanya manajemen yang buruk, Sayang. Disiplin finansial. Coba cek m-banking kamu. Sudah masuk sejak lima menit yang lalu. Aku sangat tepat waktu."
Risa menarik napas, matanya tertutup sejenak. Ia tahu persis apa yang akan dilihatnya, tetapi ritual penghinaan ini harus dilalui setiap pagi. Ia mengeluarkan ponselnya, model terbaru yang dibelikan Herman dua tahun lalu sebagai 'investasi citra'. Jantungnya berdebar, bukan karena antisipasi, melainkan karena rasa mual yang sudah menjadi kebiasaan.
Sebuah notifikasi muncul di layar putih. Dana masuk. Dari Rekening Herman Prasetya. Keterangan. Biaya Operasional Harian Istri.
Angka itu terpampang jelas, mengejek di tengah kecerahan layar HD.
Rp5.000,00
Lima ribu rupiah.
Untuk seorang istri eksekutif yang tinggal di kompleks elit Jakarta Selatan, lima ribu rupiah adalah lelucon. Itu bukan uang saku, itu adalah hukuman harian yang dilegitimasi.
Risa mengangkat pandangannya, mencari mata Herman yang sedang menyesap kopinya dengan kenikmatan aristokratis.
"Mas. Lima ribu. Apa kau serius?"
Herman meletakkan cangkirnya, gerakan yang anggun dan berwibawa. Ia menyentuh dasinya lagi, memastikan kesempurnaannya.
"Sangat serius, dan jangan berteriak. Fira dan Dani bisa mendengarmu," bisiknya, suaranya tenang, tetapi ancamannya lebih tajam daripada pisau dapur.
"Ini bukan tentang nominal, Risa. Ini tentang efisiensi dan kreativitas. Lima ribu itu lebih dari cukup jika kamu tahu cara mengolahnya. Kita sedang mempraktikkan konsep financial optimization."
Risa merasakan panas merayap naik ke pipinya. Financial optimization. Kata-kata besar itu, selalu diucapkan dengan lidah Herman yang licin, digunakan untuk menutupi kekejian yang sederhana, dia kelaparan di tengah tumpukan harta.
"Aku tahu cara mengolahnya, Herman. Aku sudah mengolahnya menjadi telur dadar yang tipis, nasi yang dihemat, dan kebohongan kepada anak-anak tentang kenapa kita tidak pernah makan ayam. Apa kau pikir aku tidak tahu harga lima ribu di tahun 2025? Itu hanya cukup untuk satu liter air mineral!"
"Nah, itu dia masalahnya. Kamu selalu membandingkan dengan harga di minimarket premium. Pergi ke pasar tradisional. Belilah satu ikat bayam dan dua butir telur. Itu sudah cukup untuk protein dan serat bagi kita bertiga. Hari ini kamu hanya perlu bertahan, besok baru kita evaluasi. Bukankah kamu bilang ingin hidup sehat dan minim sampah?" Herman tersenyum, senyum yang memuakkan, menunjuk pada filosofi hidup yang ia paksakan, yang sebenarnya hanyalah kedok untuk kepelitan ekstremnya.
Pintu kamar Fira terbuka. Fira, si sulung yang berusia sepuluh tahun, muncul dengan seragam sekolah yang masih terlihat bagus, meskipun Risa harus menjahitnya berulang kali. Dani, tujuh tahun, mengikutinya dengan mata setengah mengantuk.
"Pagi, Ayah! Pagi, Bunda!" sapa Fira ceria.
"Ayah mau pergi ya? Hari ini Fira mau lomba membaca puisi. Ayah nanti datang?"
Herman seketika mengubah ekspresinya. Wajahnya bersinar penuh kasih, palsu dan berkilauan seperti lapisan pernis di furnitur jati Italia. Ini adalah fase 'Fasad Keluarga Bahagia'.
"Tentu saja, Sayang. Ayah akan usahakan datang, tapi pekerjaan Ayah sangat penting, mengurus uang banyak agar Fira bisa sekolah di tempat terbaik," kata Herman, mencium kening Fira.
"Bunda kalian, dia adalah manajer keuangan terbaik. Dia sangat pintar mengurus rumah tangga dengan anggaran yang disiplin."
Risa memejamkan mata, membiarkan pujian palsu itu membakar telinganya. Herman sedang mencuci otak anak-anaknya, menanamkan narasi bahwa penghematan ekstrem ini adalah kebijakan yang bijak, bukan penyiksaan.
"Bunda, nanti sarapannya sereal yang ada marshmallow-nya ya? Punya Dani sudah habis," pinta Dani polos.
Risa mati rasa. Ia hanya bisa tersenyum kaku.
"Nanti ya, Sayang. Kita sedang diet gula, jadi Bunda akan buatkan sesuatu yang lebih spesial dan sehat," jawab Risa, kepalanya sudah memutar roda kalkulasi gila. Lima ribu. Bayam. Dua telur. Tidak ada sereal, tidak ada marshmallow. Tidak ada susu. Bahkan tidak ada bumbu yang layak.
Herman mengambil tas kerjanya, tas kulit buaya yang harganya bisa memberi makan Risa selama setahun.
"Baiklah. Aku harus berangkat. Jadwal rapat padat. Risa, ingat, hari ini adalah tantanganmu. Tunjukkan bahwa kamu adalah istri yang cerdas. Efficiency is key to success."
Dia melangkah keluar, diikuti oleh sopir pribadinya yang sudah menunggu di mobil sedan mewah hitam. Suara deru mesin mobil yang jauh lebih mahal daripada seluruh isi rekening Risa lenyap ditelan gerbang otomatis.
Risa menunggu sampai pintu depan benar-benar tertutup. Keheningan yang tersisa di rumah besar itu adalah kekosongan yang mencekik. Sangkar emas ini terasa seperti penjara, indah di luar, tapi berkarat dan beracun di dalam.
Fira dan Dani kembali ke ruang makan, menunggu sarapan. Risa harus bertindak cepat. Ia kembali ke dapur, meraih kunci motor skuter lamanya yang tersembunyi di gudang, motor yang Herman larang untuk digunakan di depan umum, demi menjaga citra.
"Fira, Dani, kalian tonton TV dulu. Bunda harus keluar sebentar, beli bahan rahasia untuk sarapan yang sangat enak. Jangan buka pintu untuk siapa pun," perintah Risa, memberikan dua anak itu instruksi seolah ia akan menjalankan misi mata-mata.
Ia menatap ponselnya sekali lagi. Saldo di rekeningnya, setelah transfer Herman, menjadi Rp5.000,00.