


oleh snakewhite · 103 Bab
Nama yang Tak Pernah Hilang, bukan hanya tentang cinta sepasang insan, melainkan tentang bagaimana takdir mempertemukan kembali hati-hati yang pernah hancur, menyingkap rahasia darah, dan menguji kesetiaan di antara cinta yang datang silih berganti. Di tengah cinta yang bertaut kembali, muncul generasi berikutnya, Andika Pratama, Reina Ryzuki, Maya Anjani, Anjani Liyani, dan Leonel, yang terikat oleh rahasia keluarga, pengorbanan dan janji yang tak pernah padam. Bagaimana akhir dari kisah mereka? Yuk, ikuti ceritanya.
Pagi itu, tepatnya awal tahun ajaran baru di SMA TUNAS BANGSA Jakarta, Angga Pratama mulai menapaki halaman sekolah barunya.
Tepat pada hari itu diadakan Masa Orientasi Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Semua murid baru berkumpul di halaman sekolah, mereka berbaris dengan memakai seragam dengan hiasan yang unik, lucu, dan kocak.
Sesaat, mata Angga menatap tertuju pada gadis cantik dengan senyum tipis di bibirnya. Angga tersenyum ke arahnya. Dengan malu dan menunduk, gadis itu membalas dengan senyum kecil namun manis.
Setelah seminggu mengikuti MPLS, murid baru mulai mengikuti pelajaran sekolah, mereka masuk kelas masing-masing. Angga kebetulan satu kelas dengan gadis yang mencuri perhatiannya. Anak-anak dengan tertib duduk di bangku masing-masing sambil menunggu wali kelas mereka.
"Selamat pagi, anak-anak." Bu Vera, wali kelas 10 A menyapa sambil tersenyum.
"Selamat pagiii, Buuu!" jawab anak-anak serempak.
Sebelum pelajaran dimulai, mereka memperkenalkan diri masing-masing. Angga pertama mengenalkan diri karena sesuai abjad namanya paling depan, disusul yang lainnya, tibalah dengan abjad depan huruf 'D'. Gadis yang mencuri perhatian Angga maju memperkenalkan diri, suaranya lembut, tapi tampak malu-malu.
"Perkenalkan, nama saya Dewi Anjani," ucapnya dengan nada lembut sedikit malu-malu.
"Ooo, ternyata namanya Dewi Anjani, nama yang indah seperti nama tokoh pewayangan," gumam Angga dalam hati.
Diam-diam, mata Angga tak bisa lepas dari Anjani. "Ya Tuhan, bibirnya itu, senyumnya, bagaikan sihir yang memabukkan. Hatiku luluh lantak, seperti istana pasir diterjang ombak," batin Angga, merasakan sengatan aneh yang belum pernah ia kenal.
Anjani pun dengan tertunduk malu melirik ke arahnya, hati Angga semakin berdebar saat mata mereka beradu pandang.
Di kantin tak sengaja Angga berpapasan dengan Anjani. Anjani keluar dari kantin, sedang Angga baru melangkah ke kantin. Angga tersenyum ke arah Anjani, Anjani pun membalas senyumannya.
"Dug! dug!"
Jantung Angga berdebar tak karuan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Ya ampun, kenapa jantungku jadi seperti ini? Seperti ada konser perkusi dadakan di dalam diriku," bisik Angga dalam hati, mencoba menenangkan diri.
Hari-hari berlalu, Angga tak kuasa menahan rasa di hati, ia menulis surat dalam bentuk puisi:
Rembulan saksi, senyummu terukir.
Di hening malam, bayangmu hadir.
Senyummu lembut, kata manja berbisik.
Hati berdetak, ombak bergelitik.
Mungkinkah aku, yang sepi ini,
Bersama dirimu, dalam mimpi?
Kata sederhana, tak seindah syair,
Namun, harapku kau selalu hadir.
Anjani, ku suka, sahabat sejati,
Bukan hanya teman, tapi hati ke hati.
Di malam indah, dewi bersinar,
Maukah kau jadi kekasih, takdir terukir?
Angga Pratama.
Angga melipat puisi dan memasukkannya ke amplop warna merah muda. Keesokan harinya, setelah usai istirahat siang, Angga meminta tolong ke Novi, teman sekelas yang kebetulan sebangku dengan Anjani.
Dengan hati berdebar Angga menghampiri Novi, "Nov, tolong kasih surat ini ke Anjani ya, plisss!" sambil melipat tangan di dada, memohon.
"Eh, apaan nih?" kata Novi sambil menyambar surat dari Angga, "Cie, surat cinta buat Anjani, ya?"
"Kenapa nggak kamu kasih langsung, dodol?" ledek Novi sambil terkekeh.
"Dasar introvert kamu, Ngga!" lanjut Novi sambil mencubit lengan Angga.
"Elah, kamu kan tahu, Nov," jawab Angga sambil salah tingkah. "Saya kalau ngomong sama cewek yang saya taksir, langsung lemes kayak kena setrum!"
"Makanya, otak kamu tuh yang sudah kesetrum Anjani!" balas Novi sambil ngacir, membawa surat itu.
Sampai di dalam kelas, Novi menemui Anjani.
"Nih, ada kado dari sang pangeran!" sambil menyodorkan amplop warna merah muda.
"Dari siapa Nov?" tanya Anjani dengan pipi agak memerah.
"Baca sendiri, enetar juga tau siapa pangeran yang kasih tuh kado!" ucap Novi sambil duduk di samping Anjani.
Anjani memasukkan amplop itu ke dalam tas sekolahnya. Novi yang melihat Anjani memasukkan amplop ke dalam tas nyeletuk, "Kok nggak kamu baca Anj?"
"Entarlah Nov, malulah," ucap Anjani dengan nada malu.
"Ahh, kamu sama sama introvert," ucap Novi.
"Sama sama dengan siapa?" ucap Anjani bertanya-tanya.
"Itu, dengan pangeran yang kasih amplop ke kamu!" timpal Novi.
Teng! teng!
Bel pelajaran berbunyi, murid-murid kelas 10 A mulai duduk di tempatnya masing-masing, Angga bersama Rudi masuk kelas mereka duduk sebangku.
Pak Budi, guru matematika masuk kelas dengan tampang 'killer-nya.'
"Selamat siang, anak-anak." Pak Budi memberi salam ke murid-muridnya.
"Selamat sianggg, Pak!" jawab anak-anak serempak.
"Ngga, kamu bengong mulu, kaya sapi ompong, mikirin Anjani ya?" tegur Rudi.
Pak Budi sedang menulis soal di papan tulis.
"Angga Pratama, maju kamu kerjakan soal 1 di papan tulis, dan kamu Dewi Anjani, kerjakan no 2 di sebelahnya!" kata Pak Budi, sambil menunjuk ke arah Angga dan Anjani.
"Mati aku, mana di samping saya ada Anjani lagi, mimpi apa aku semalam, anjiir, anjiir!" Angga menggerutu dalam hati.
Anjani maju ke depan dan disusul Angga di sebelahnya, Angga menelan ludah, nampak seperti orang habis ketelek karet gelang. Sedangkan Anjani mengerjakan dengan lancar, sambil sesekali melirik Angga.
"Sial, kenapa kaki ini nggak bisa diam?! Jangan sekarang dong—Anjani lihat lagi!" batin Angga, panik.
Pak Budi geleng-geleng kepala saat melihat hasil jawaban soal yang dikerjakan Angga.
"Hmm, ini jawab soal begini dapet rumus dari mana, Angga!" ujar Pak Budi dengan nada tidak puas, melihat hasil jawaban yang Angga kerjakan.
"Dapet dari ngelamun kali, Pak!" celetuk Novi, sambil cengengesan di ikuti tawa yang lain.
Anjani yang melihat suasana itu hanya menundukkan kepalanya.
"Angga sepertinya lagi kesambet setan asmara tuh, Pak!" timpal Rudi sambil cengar-cengir.
Sontak seluruh ruangan tertawa riuh.
Tok! tok!
Sudah, sudah, kalian semua kapan pinternya kalau pada bercanda terus!" ucap Pak Budi agak kesal, sambil memukul-mukul papan tulis dengan penghapus.
"Sial, rasanya kayak dikurung di penjara selama sebulan! Kalau begini terus, kapan bel pulang berbunyi?!" keluh Angga dalam hati, merasa waktu berjalan sangat lambat.
Tak berapa lama bel pulang sekolah berbunyi.
Teng! Teng!
Bel pulang sekolah berbunyi. Angga seakan bebas dari penjara, semua murid berhamburan keluar, Angga merapikan bukunya, memasukkannya ke dalam tas.
"Kamu nggak mau pulang Ngga? Mau jadi satpam di sini!" ucap Rudi sambil menepuk pundak Angga.
"Pulanglah Rud, lagian di sini sudah seperti neraka nih, kelas," ujar Angga gusar.
"Lagian kamu ada apa sih, akhir-akhir ini kaya orang kesambet setan gagu," ucap Rudi dengan nada bercanda.
"Kamu udah nembak Anjani ya, ditolak, apa gimana?" Rudi terus interogasi Angga.
"Tahulah Rud, rasanya malu ampek ke pantat-pantat nih!" jawab Angga sambil berdiri, bergegas keluar kelas dan diikuti Rudi.
Mereka berdua melangkah menuju halte bus tempat biasa anak-anak sekolah menunggu bus.
Sementara itu Anjani yang masih di halaman sekolah menunggu seseorang di depan kelas 10 B. Seorang gadis yang tak kalah cantik dengan Anjani keluar dari ruang kelas 10 B.
"Sudah lama, Dik?" ucap seorang gadis yang baru keluar dari ruang kelas. Wajahnya cantik dengan senyum tipis menghias bibirnya.
"Baru saja kok, Kak," jawab Anjani, dengan memanggil gadis itu dengan sebutan 'Kak.'
"Kok lama Kak keluarnya, emang ada pelajaran tambahan?" ucap Anjani lagi.
"Ya, kelas kakak lagi ada ulangan, jadi agak lama, soalnya susah banget tuh ulangan fisika," kata gadis cantik, yang ternyata kakak Anjani, Dewi Andini.
Sesampainya di halte, anak-anak yang dari tadi menunggu bus sekolah masih menunggu bus dengan sabar.
"Hei, Ngga! Gadis yang bareng Anjani, cantik juga ya?" celetuk Rudi, sambil menepuk bahu Angga, sambil memandang dengan tatapan tajam.
"Ah, kamu Rud, nggak boleh lihat cewek cakep, sampai mau copot tuh biji mata!" gurau Angga.
Angga yang melihat Anjani mendekat ke halte, hati Angga semakin mau copot.
"Hssst, bisa stroke nih jantung," gumam Angga dalam hati.
Suasana sore itu,terlihat mendung menggantung dilangit,mengiringi perjalanan pulang mereka dan menanti apa yang akan terjadi esok pagi.
Bersambung!

snakewhite
2 Pengikut · 1 Novel