


oleh Kratzer · 71 Bab
"Jika aku bisa melihat warna dunia, mungkin aku akan sangat bahagia." Satu kalimat yang selalu memenuhi benak Aluna. Namun, ketika impian itu terwujud yang terjadi justru menjadi mimpi buruk baginya. Terlebih ketika harus menikah dengan Nakula Nareswa. Pria yang diyakini Aluna sebagai penyebab kematian sang ibu. Dari semua luka dan rasa dingin yang menusuk, satu titik kehangatan justru Aluna dapatkan dari Adryan Nareswa, kakak dari Nakula. Pria yang selalu menyuguhkan senyuman hangat yang terkadang tidak dimengerti Aluna. Apa Nakula akan cemburu atau sebaliknya? Apakah Aluna akan mengejar kehangatan itu atau justru pasrah berada dalam genggaman Nakula?
Dreet ... dreett ....
Benda pipih dengan warna yang memudar di sudut-sudutnya itu, bergerak entah sudah berapa lama. Tidak berdering, hanya getaran perlahan yang membuatnya semakin menuju ujung nakas dan bersiap untuk terjun bebas. Sedangkan sang pemilik tengah sibuk adonan kue sambil sesekali bersenandung lirih.
Dug!
Suara cukup keras berhasil membuat Aluna akhirnya terganggu dan menunjukkan netra pada asal suara. Bola matanya melebar seketika, melihat ponselnya sudah tergeletak di lantai tak berdaya.
"Ah, tidak!" Aluna berseru, secepat kilat mengambil ponselnya. Membolak-balikkannya, seakan tengah meneliti benda rapuh yang memang sudah terlihat tua itu. Embusan napas pasrah pun terdengar.
"Retaknya bertambah lagi," gumamnya perlahan sambil mengelus retakan pada layar dengan tangan.
Di saat yang bersamaan, ponsel itu kembali bergetar. Hanya menunjukkan deretan nomor tanpa nama, sedang melakukan panggilan yang sedari tadi belum terjawab empunya.
"Siapa?" Kening Aluna mengernyit, seakan menunjukkan pertanyaan pada dirinya sendiri.
"Halo," lirihnya sedikit ragu karena tidak mengenal seseorang yang tengah berbicara di ujung sana.
Hanya memerlukan beberapa detik, untuk mengubah ekspresi wajah Aluna menjadi gusar dengan seketika. Rasa panik dan takut menyerang menjadi satu, setelah mendengar uraian singkat dari sang penelepon yang ternyata berasal dari rumah sakit.
"I-ibu ... ibu saya ... kecelakaan?"
Kekuatan tubuh Aluna terasa hilang dengan seketika. Beruntung tangannya masih sempat bertumpu pada sisi nakas untuk menopang tubuh.
"Ba-baik," gumamnya gugup. "Saya akan ke sana. Sa-saya segera ke sana!" Tergesa menutup panggilan dan langsung berlari keluar rumah membawa lelehan air mata yang semakin lama semakin deras membasahi wajah cantik miliknya.
***
Membutuhkan waktu 20 menit, hingga akhirnya Aluna sampai di rumah sakit yang ia tuju. Seperti orang gila, tanpa peduli dengan tatapan orang sekeliling yang tengah menatap bingung kearahnya. Keadaan Aluna sekarang terlihat cukup berantakan, terlebih dengan celemek penuh tepung yang belum sempat ia tanggalkan.
Kini Aluna sudah berdiri di depan ruang IGD. Ruangan yang ditunjukkan oleh perawat, tempat sang ibu berada sekarang. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya Aluna yang menunggu dengan rasa takut yang semakin lama semakin membuncah. Merapalkan doa diselingi isak tangis tertahan.
Ia tidak tahu pasti bagaimana kecelakaan itu terjadi. Perawat hanya berkata jika ibunya ditabrak oleh seorang pria menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi. Entah di mana pria itu sekarang, Aluna bahkan tidak sempat untuk memikirkannya.
Derit pintu terdengar, bersamaan seorang dokter yang keluar dari ruangan ICU. Beberapa bercak noda darah turut menghiasi jas putih yang tengah dia kenakan.
"Dokter!" Aluna langsung menghampiri sang Dokter dengan segera. "Ba-bagaimana keadaan ibu saya?!" Merapatkan dua tangan yang tengah bergetar pada dada. "Ibu saya baik-baik saja'kan? Ibu saya pasti baik-baik saja. Iya'kan?" Seakan tengah meyakinkan dirinya sendiri jika tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada hari ulang tahunnya hari ini.
"Maafkan saya, Nona." Dokter itu menggelengkan kepala perlahan. Sikap yang sangat tidak diinginkan oleh Aluna. "Saya sudah berusaha, tapi pendarahan yang dialami pada kepala pasien terlalu parah. Jadi ...."
"Dokter, ibu saya ...." Tenggorokan Aluna tercekat, tanpa bisa mengeluarkan suara.
"Maafkan saya, Nona. Ibu Anda tidak bisa diselamatkan."
"Tidak! Tidak mungkin ibu saya meninggalkan kami!"
Aluna segera membuka pintu ICU yang sedari tadi menjadi penghalang untuk bertemu sang ibu. Bau antiseptik bercampur anyir darah langsung menguar menusuk indra penciuman, tapi Aluna tidak perduli. Tubuh yang tergeletak di atas brankar menjadi tujuannya. Wajah itu kaku, dengan kedua mata terpejam seolah enggan untuk kembali terbuka walau hanya untuk beberapa saat.
"Ibu," lirih Aluna dengan suara bergetar hampir tidak terdengar. Genangan air mata semakin luruh, melihat wajah pucat dengan luka di beberapa bagian.
"Ibu, bangun! Ibu, jangan tidur!" Dua tangannya menangkup wajah sang ibu dengan gemetar. Dingin. "Ibu!" Aluna mengguncang tubuh kaku itu dengan perlahan.
"Ibu!" Tetap tidak ada jawaban.
Teriakkan itu terdengar sangat pilu dan menyesakkan. Aluna bersimpuh di samping brankar, tanpa memperdulikan dinginnya lantai yang menopang tubuh sekarang. Rasanya tangisan itu sangat sulit untuk dihentikan, mengingat jika Aluna kehilangan cahaya hidup yang ia miliki selama ini. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika ada orang lain yang juga baru saja masuk ke ruangan tersebut.
"Sudah meninggal, ya?"
Satu kalimat yang berhasil membuat Aluna mengangkat wajahnya dengan perlahan. Hanya dipisahkan oleh brankar, berdiri seorang pria dengan kedua tangan terlipat di atas dada.
Aluna tidak pernah melihat wajah itu. Terlalu asing, terlebih dengan senyuman samar pada salah satu sudut bibirnya. Sungguh sesuatu yang sangat tidak pantas dia tunjukkan pada Aluna yang tengah berkabung sekarang.
"Kamu ...."
"Mobilku tergelincir dan orang tua ini tiba-tiba saja muncul mengejutkanku. Jadi ini yang terjadi." Pria dengan rambut silver itu mengendikkan bahu dengan acuh. "Berapa yang kamu inginkan?"
Sikap dan ucapan pria itu membuat Aluna muak. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah yang ditunjukkannya. Walau hanya sebuah permintaan maaf dan empati untuk beberapa saat. Sekedar basa basi.
'Apa semua orang kaya seperti ini? Mungkin semua memang seperti ini kecuali Ian.' Batin Aluna bergumam.
"Kamu yang menabrak ibuku?" Aluna berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Kamu yang sudah membunuh ibuku?" Kedua tangan mengepal dengan erat, menahan amarah yang kian membuncah. "Aku akan membuatmu mendekam di penjara karena sudah mengambil nyawa ibu!" teriaknya nyaring dengan telunjuk yang mengarah tepat di depan wajah pria itu.
Kening pria bernama Nakula itu mengernyit seketika. Tampaknya sedikit tidak terima dengan kata kasar yang ditujukan Aluna padanya. Namun, detik berikutnya justru suara tawa yang keluar dari bibir.
"Memenjarakan aku? Apa kamu tidak tahu siapa aku?" Senyum remeh itu masih ada.
Tawa itu masih terdengar dan berhenti ketika sang pria mencondongkan tubuh untuk mensejajarkan wajahnya pada Aluna. Aluna dapat mencium aroma maskulin parfum mahal menguar dari tubuh pria itu.
"Aku, Nakula Nareswa. Apa kamu pikir bisa menuntut ku dengan mudah, bahkan hukum saja tunduk padaku," bisiknya sambil menatap tajam langsung pada netra perempuan di hadapannya. "Jadi, lupakan saja ocehan konyol mu itu, Nona." Nakula kembali menegakkan tubuhnya. "Karena kamu tidak menerima ganti rugi, maka aku akan pergi sekarang."
Sayangnya semua yang dikatakan pria itu adalah benar. Siapa yang tidak mengenal keluarga Nareswa? Keluarga kaya dengan perusahaan besar miliknya. Semua orang menghormati keluarga Nareswa, begitu dengan keadilan yang sayangnya bisa dibeli menggunakan uang mereka.
Aluna meluapkan kemarahan dengan melayangkan pukulan pada wajah maupun dada bidang Nakula. Dengan sigap Nakula mengunci tangan Aluna dan memojokkannya pada lemari besi yang berada tepat di belakang Aluna.
"Ini tidak adil! Aku yang akan menghukummu!" Aluna berteriak nyaring.
"Kamu!"
Wajah Nakula merah padam, menunjukkan amarah tertahan. Urat lehernya menegang seolah ingin mencabik perempuan yang sangat berani menyentuh kemeja mahalnya. Namun, detik berikutnya dua matanya menyipit, hanya untuk meniti setiap ukiran wajah perempuan asing di depannya sekarang.
'Wajah ini ... sepertinya aku pernah melihat wajah ini, tapi di mana?' batin Nakula berbisik.
***

Kratzer
5 Pengikut · 2 Novel