


oleh Hiken Rose · 9 Bab
Dunia mengenal Energi Origin, warisan kuno para dewa yang hanya muncul sekali dalam seribu tahun. Kaen Drakheil ditunjukkan sebagai remaja berandalan yang dicap sampah oleh guru dan murid lain tapi punya kekuatan tersembunyi yaitu Origin Core. Kaen secara tidak sengaja mengaktifkan Origin Core untuk pertama kalinya ketika menyelamatkan seseorang dari serangan monster. Kaen mulai diperhatikan karena mengalahkan murid elit dengan sekali tinju saat wujud Origin aktif, di sini para karakter gadis mulai tertarik dengannya.
Langit sore di salah satu kota yang modern seperti layar LCD yang rusak warna jingga memudar bercampur asap hitam dari pabrik, ditambah kerlip lampu neon toko-toko jalanan yang belum waktunya menyala. Suara klakson bersahutan, motor lewat sembarangan, dan pedagang kaki lima berteriak menawarkan bakso, sate atau mie instan seduh kilat.
Di tengah keributan ini, ada satu anak muda yang hidupnya bahkan lebih berantakan daripada lalu lintas kota yaitu Kaen Drakheil.
“Kaen, kau sudah bikin pusing! Jangan masuk kelasku lagi!” teriak salah satu guru dari jendela lantai dua.
Kaen menyeringai dari bawah sambil mengunyah permen karet. “Santai, Bu. Saya cuma lewat. Lagian kelas ibu bau kapur.”
Beberapa murid yang nongkrong di halaman langsung ketawa, tapi tawa mereka bercampur dengan tatapan merendahkan. Semua orang tahu Kaen bukan siapa-siapa anak berandalan, dicap gagal, sering bolos, nilainya jeblok. Singkatnya, kalau dunia ini MMORPG, maka statusnya cuma NPC jalanan yang sering jadi korban bully.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka tahu di tubuh Kaen tersembunyi sesuatu yang bahkan para dewa pun iri Origin Core.
Hari itu, seperti biasa, Kaen kabur dari sekolah. Ia menyalakan musik dari ponsel bututnya, earphone sebelah kanan sudah mati, jadi suaranya cuma keluar mono. Sambil menendang kaleng kosong, ia menyusuri jalan gang belakang kota.
“Ah, hidup emang gini. Lahir jadi figuran, mati juga tidak ada yang notice. Setidaknya aku bebas!” gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara raungan aneh terdengar dari balik gedung tua. Bukan suara anjing, bukan pula suara motor bobrok lebih seperti monster yang lepas dari film CGI.
“Eh?” Kaen mendongak.
Dari arah lorong, seorang anak kecil berlari sambil menangis. Di belakangnya, muncul makhluk besar berkulit abu-abu dengan mulut penuh taring dan mata merah menyala. Monster itu mengaum, menghantam tembok, membuat bata-bata runtuh.
Warga sekitar langsung teriak dan lari tunggang-langgang. Jalanan berubah jadi chaos.
Anak kecil itu tersandung, jatuh tepat di jalur monster.
Semua orang berhenti, tapi tak satu pun yang berani menolong.
Kaen menatap pemandangan itu. Rasanya tubuhnya pengin kabur juga. Tapi entah kenapa, langkah kakinya malah maju.
“Brengsek! kenapa aku yang harus menanganinya!”
Belum sempat ia lanjut ngomel, tubuhnya sudah melompat, meraih anak kecil itu, dan menahannya di pelukan. Monster itu menerkam, cakarnya hampir menghantam.
Dan di saat itulah, sesuatu di dalam Kaen menyala.
Rasa panas membakar dada Kaen. Seolah ada mesin kuno yang tiba-tiba aktif setelah ribuan tahun tertidur. Simbol bercahaya muncul di lengannya, berputar cepat seperti roda gigi.
“Apa ini?”
Tubuhnya memancarkan aura biru pekat. Asap energi keluar, membuat udara bergetar. Mata Kaen berubah terang, pupilnya seperti bintang mini.
Monster itu berhenti sejenak, ragu. Tapi Kaen justru merasakan keberanian aneh yang bukan miliknya.
Ia meletakkan anak kecil itu di belakangnya. “Udah, jangan nangis. Kalo aku mati, setidaknya rating dramaku tinggi.”
Anak kecil itu makin nangis.
Monster mengaum dan menerjang. Tapi sebelum cakar itu mendarat, tangan Kaen bergerak sendiri. Pukulan kanannya menghantam udara dan sebuah gelombang energi meledak.
BOOM!
Monster itu terlempar menghantam tiga dinding sekaligus, langsung pingsan dengan suara lengking seperti radio putus sinyal.
Semua orang melongo.
Kaen menatap pukulan nya sendiri. “Lah? Apa aku sehebat itu?”
Polisi kota datang terlambat, lengkap dengan pasukan keamanan khusus. Mereka menahan garis warga, memeriksa monster yang pingsan dan tentu saja, langsung menodongkan senjata ke Kaen.
“Bocah itu! Dia sumber energi abnormal!”
Kaen panik. “Eh, jangan salah tangkap! Aku cuma, ya gitu deh. Insting superhero dadakan.”
Sebelum sempat ia kabur, seorang wanita tinggi berambut merah api datang melangkah. Ia mengenakan seragam akademi elit dengan jubah khas para “pewaris dewa.” Tatapannya menusuk Kaen seperti pisau panas.
“Namamu siapa?”
“Ehm, Kaen. Kaen Drakheil.”
Wanita itu menyipitkan mata. “Energi tadi? itu Origin Core, bukan?”
Kerumunan berdesis. Kata itu bukan sekadar istilah. Origin Core energi kuno yang katanya hanya muncul sekali dalam seribu tahun.
Kaen mencoba senyum kaku. “Origin Core? Heh, kayak nama game mobile. Kayaknya salah orang, deh.”
Wanita itu mendekat, lalu mencengkeram kerah Kaen. Aura apinya meledak, membuat udara di sekitar jadi panas.
“Dengarkan aku baik-baik, sampah jalanan. Mulai sekarang, kau tidak bisa lari. Dengan Origin Core dalam tubuhmu, kau resmi jadi milik Akademi Valkyria.”
Kaen tak berkutik. “Eh! Gratis biaya sekolah nggak, sih?”
Pagi itu, gerbang Akademi Valkyria menjulang megah di depan Kaen. Bangunannya lebih mirip kastil kerajaan campur mall elit dinding marmer putih, pilar emas, dan patung dewi bersayap yang memegang tombak.
Kaen berdiri di luar gerbang, memakai seragam baru yang ukurannya jelas nggak pas. Celana terlalu ketat, jas kebesaran. Ia menarik dasinya dengan wajah kusut. “Gila, sekolah kayak gini pasti bayar SPP lebih mahal daripada beli rumah. Untung diriku dapet jalur cheat.”
Dari belakang, suara kerumunan murid elit berbisik
“Itu dia, murid dari jalanan yang punya Origin Core.”
“Masa iya monster kayak dia boleh masuk sini?”
“Dengar-dengar dia bahkan tidak punya silsilah dewa. Malu-maluin.”
Kaen menguap. “Pagi-pagi udah gosip, kayak ibu-ibu arisan. Chill lah.”
Ruang kelas Akademi Valkyria lebih mirip auditorium teater. Puluhan murid duduk rapi dengan seragam licin dan emblem keluarga bangsawan. Kaen masuk, semua kepala langsung menoleh.
Guru wanita berkacamata, rambutnya disanggul rapi, menatap daftar nama. “Kaen Drakheil. Duduk di barisan belakang.”
Kaen berjalan dengan gaya sok tenang. Tapi saat lewat, ia mendengar bisikan yang jelas.
“Lihat, sampah kota.”
“Kenapa dia bisa satu kelas sama kita? Jijik banget.”
Kaen senyum tipis. “Love you too, guys.”
Belum sempat ia duduk, seorang cewek berambut merah menyala berdiri. Dialah yang kemarin menyeret Kaen dari jalanan. Puri Flamelight, pewaris Dewi Api.
“Guru, ini nggak masuk akal! Orang seperti dia tidak pantas satu kelas dengan pewaris dewa!”
Suasana tegang. Semua murid menunggu respon guru.
Kaen mengangkat tangan santai. “Tenang, aku juga tidak minat duduk dekatmu, Nona Cabe Rawit.”
Seluruh kelas. “Hah?!”
Puri mendelik, wajahnya merah bukan hanya karena rambutnya. “Apa kau barusan memanggilku cabe rawit?!”
Kaen angkat bahu. “Lagian, warnanya matching kan. Lagian kamu sendiri yang membawaku!”
Tawa kecil pecah di kelas. Guru mengetuk papan. “Cukup! Duduk sekarang juga.”
“Maksudku bukan itu. Kamu belum tahu asal usulnya dan ini kelas untuk orang elite saja!”
“Berisik lah!” Kaen pura-pura tak mendengar.
Puri menggertakkan gigi, duduk dengan aura api mengepul. Kaen pun akhirnya duduk dan langsung ketiduran lima menit kemudian.
Istirahat siang, Kaen baru keluar dari kantin ketika tiga cewek lain menghampirinya.
Miya Neilvlad rambut hitam panjang, sayap gelap lipat di punggung, wajah datar seperti tidak punya ekspresi. Dia menatap Kaen lama, lalu berkata datar
“Kau menarik. Energi Origin Core mu tidak sesuai teori sihir mana pun. Aku akan meneliti tubuhmu.”
Kaen nyaris tersedak air minum. “Eh, bisa jangan phrasing gitu? Diriku masih perjaka, Mbak.”
Momo Mae rambut pirang bob dia tidak bisa mengendalikan kekuatan rubah ekor 9 nya dengan sempurna jadi terkadang muncul ekor telinga rubah mencuat. Begitu melihat Kaen, dia langsung melompat ke pelukannya. “Kyaaa! Jadi ini orangnya! Auranya persis kayak kakakku! Aku tidak mau melepasnya!”
Kaen panik. “Tunggu, aku baru bab 2 udah dapet adegan begini?!”
Von Silfane gadis polos berambut nevy pendek. Ia tersenyum malu-malu.
“Um! Terima kasih sudah menolongku kemarin dari murid yang mengganggu.”
Kaen garuk kepala. “Eh? Aku nolongin? Aku tidak mengingat nya.”
Von menunduk. “Tapi kau satu-satunya yang menyapaku tanpa mengejek.”
Ketiganya langsung adu aura Miya menatap dingin, Momo merangkul erat, Von memegang lengan Kaen pelan.
Lalu dari jauh, Puri menatap sinis dengan api kecil menyala di tangannya. “Hemm!”

Hiken Rose
0 Pengikut · 1 Novel