Langit ketujuh selalu sunyi, bukan karena damai, melainkan karena tidak ada ruang bagi suara selain perintah.
Di sanalah Ares Elardian berdiri, tegak seperti patung marmer, busur perak tergenggam di tangan kirinya. Tatapannya lurus ke hamparan cahaya di bawah sana bumi, tempat takdir manusia dirangkai.
“Target berikutnya.” Suara tua menggema di udara. Tidak terlihat wujudnya, tetapi Ares mengenal suara itu. Penjaga Takdir.
Sebuah cahaya membentuk bayangan seorang perempuan. Rambutnya hitam panjang, matanya redup, pundaknya seolah memikul beban dunia.
“Aruna Wulandari,” lanjut suara itu. “Takdir cinta belum ditentukan. Panah akan menetapkan.”
Ares mengangguk pelan. Ia tidak bertanya. Ia tidak pernah bertanya.
Busur ditarik. Panah cahaya bergetar, menunggu dilepaskan. Namun, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, dada Ares terasa asing.
Ada sesuatu yang mengusik. Bukan emosi, ia tidak memiliki itu dan melainkan gangguan, seperti nada fals dalam harmoni sempurna.
“Fokus,” gumamnya, entah pada panah atau dirinya sendiri.
Di bumi, Aruna Wulandari duduk di tepi ranjang sempit, menatap dinding kamar kos yang retak. Jam dinding berdetak keras, seolah mengejek kesunyiannya.
“Takdir.” Ia terkekeh hambar. “Omong kosong.”
Ponselnya bergetar. Pesan dari rumah sakit. “Ibu perlu operasi lanjutan. Biaya belum terpenuhi.”
Aruna menghela napas panjang. Ia menutup mata, menahan air yang enggan jatuh.
“Apa lagi yang bisa salah?” bisiknya.
Di langit ketujuh, Ares melepaskan panah. Namun, sesuatu meleset.
Cahaya panah berbelok tajam, seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Ares sempat terkejut, reaksi pertama yang tidak tercatat dalam sejarah Ethereal dan dalam sepersekian detik, panah itu berbalik arah.
Menusuk dadanya sendiri.
Tidak ada rasa sakit, tetapi ada ledakan hangat yang menjalar, menghancurkan kekosongan di dalam dirinya.
“Ares!” Suara Penjaga Takdir berubah keras. “Apa yang kau lakukan?!”
Ares terhuyung. Dunia berputar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan.
Takut.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Cahaya di sekelilingnya retak. Aturan dilanggar.
“Panah cinta tidak boleh mengenai Ethereal!” gema suara itu mengguncang langit.
Ares menatap tangannya sendiri. Cahaya di tubuhnya meredup. Identitasnya sebagai Ethereal mulai goyah.
“Saya tidak bermaksud,” ucapnya. Suaranya serak, asing di telinganya sendiri.
“Takdir telah kacau,” kata Penjaga Takdir dingin. “Kau penyebabnya.”
Di bumi, Aruna terbangun dari tidur gelisah. Jantungnya berdebar tanpa alasan. Ia duduk, memegangi dada.
“Aneh,” gumamnya. “Kenapa rasanya seperti ada yang melihat?”
Angin malam menyelinap lewat jendela, membawa rasa dingin yang tidak biasa.
Keesokan paginya, Aruna hampir terlambat bekerja. Ia berlari keluar kos, menabrak seorang pria tinggi di depan gerbang.
“Ah, maaf!” katanya refleks.
Pria itu terdiam. Matanya abu-abu pucat dan menatap Aruna seolah dunia baru saja diciptakan.
“Tidak apa-apa,” jawabnya kaku.
Aruna mengernyit. “Kamu anak baru di sini?”
Pria itu ragu sepersekian detik. “Ya. Nama saya Ares.”
“Ares,” ulang Aruna. Ada getaran aneh saat menyebut nama itu. “Saya Aruna.”
Ares mengangguk, tetapi batinnya bergejolak.
‘Ini dia. Manusia itu. Takdir yang kusentuh.’
Penjaga Takdir telah menjatuhkan hukuman buat Ares harus turun ke bumi, hidup sebagai manusia, dan memperbaiki kekacauan takdir yang ia buat.
Jika ia gagal, Aruna akan mati sesuai jalur takdir terburuk.
Jika ia berhasil, ia tidak akan pernah kembali menjadi Ethereal.
“Aku harus pergi,” kata Aruna buru-buru. “Kerja.”
“Boleh saya ikut?” Ares bertanya, terlalu cepat.
Aruna menatapnya heran. “Ikut ke mana?”
“Ke arah yang sama,” jawab Ares jujur. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi. Bumi terlalu luas, aturan terlalu kabur.
Aruna tertawa kecil. “Aneh, tapi ya sudah. Ayo.”
Mereka berjalan berdampingan. Diam, tetapi tidak canggung.
Ares memperhatikan setiap detail langkah Aruna yang sedikit pincang, cara ia menghela napas saat lelah, tatapan matanya yang menyimpan luka.
‘Mengapa manusia tetap berjalan meski beban seberat itu?’ pikirnya.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Aruna tiba-tiba.
Ares tersentak. “Maaf. Saya hanya belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar menjadi manusia.”
Aruna berhenti. Menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Kalau begitu, kamu salah guru. Hidupku berantakan.”
Ares menelan ludah. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya.
“Berantakan bukan berarti tidak berarti,” katanya pelan.
Aruna terdiam. Senyum itu memudar, digantikan ekspresi bingung.
“Kamu aneh, Ares.”
“Aneh itu buruk?”
Aruna menggeleng. “Tidak selalu.”
Mereka melanjutkan langkah. Di atas sana, langit ketujuh bergemuruh, menyimpan rahasia dan ancaman.
Takdir telah dipanah dengan cara yang salah, dan cinta yang seharusnya menjadi alat dan kini berubah menjadi pertaruhan.
***
Ares berhenti mendadak di tengah trotoar. Aruna hampir menabraknya dari belakang.
“Eh! Kenapa berhenti tiba-tiba?” Aruna menahan langkah, alisnya berkerut.
Ares menoleh cepat. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Kau mendengarnya?”
“Mendengar apa?” Aruna refleks menoleh ke kanan dan kiri. Jalanan pagi ramai, klakson bersahutan, orang-orang berlalu-lalang. “Tidak ada yang aneh.”
Ares memejamkan mata sejenak. Suara itu jelas baginya. Panggilan dari langit ketujuh. Teguran. Ancaman.
“Kita harus pergi dari sini,” katanya cepat.
“Pergi ke mana?” Aruna menatapnya curiga. “Ares, kamu benar-benar aneh sejak tadi.”
Belum sempat Ares menjawab, angin berputar kasar di ujung jalan. Udara mendadak berat, seolah ditekan dari segala arah. Orang-orang berhenti berjalan, kebingungan.
“Apa itu?” Aruna mundur setapak. “Kenapa rasanya sesak?”
Ares refleks berdiri di depan Aruna. Tangannya terangkat, melindungi. “Jangan bergerak.”
“Kamu tahu apa yang terjadi?” Suara Aruna meninggi. “Ares, jawab aku!”
Bayangan hitam merambat di dinding bangunan, membentuk simbol cahaya retak dan tanda pengawas takdir.
“Ares Elardian.” Suara bergema, hanya terdengar oleh Ares. “Waktumu terbatas.”
Aruna menatap Ares yang kaku. “Kamu bicara dengan siapa?”
Ares menggertakkan gigi. “Dengan kesalahan saya sendiri.”
Bayangan itu bergerak cepat. Lampu jalan bergetar. Kaca toko berderak.
“Pegang tanganku,” perintah Ares tegas.
“Apa?” Aruna terkejut. “Tidak, tunggu—”
Ares menarik tangan Aruna. Sentuhan itu memicu kilatan cahaya singkat. Aruna tersentak, jantungnya berdegup liar.
“Apa yang barusan terjadi?” Napasnya memburu.
“Aku tidak bisa menjelaskan sekarang.” Ares berkata cepat.
“Mereka menginginkanmu.”
“Siapa mereka?” Aruna mencoba melepaskan tangan, gagal.
“Ares, ini tidak lucu!”
“Aku tahu.” Tatapan Ares tajam, penuh tekad yang belum pernah ia miliki.
“Itulah masalahnya.”
Bayangan itu mendekat. Tanah bergetar pelan.
“Ares!” Aruna memanggil namanya, kali ini dengan nada takut.
Ares menarik Aruna ke pelukannya, membelakangi ancaman. “Percayalah padaku. Sekali ini saja.”
Aruna terdiam. Detik terasa memanjang.
“Aku benci takdir,” bisiknya.
Ares menutup mata. “Aku juga, dan aku akan melawannya.”