


oleh Chaotic Devil Queen · 100 Bab
Lucien tak nyata—begitu kata semua orang, tapi sejak Lilian memainkan game terlarang itu, suara lembutnya terus membisikkan cinta dan ancaman. Saat dunia mimpi dan realitas mulai menyatu, Lilian harus memilih: melawan sesuatu yang tak bisa disentuh, atau jatuh ke pelukan iblis yang hanya datang di jam dua malam.
Suara dering telepon menggema di sebuah kamar bernuansa merah muda.
Cahaya remang dari lampu tidur menyinari perabotan yang tersusun rapi, memberi kesan hangat. Namun, kesan itu perlahan berubah menjadi asing ketika malam semakin larut. Di atas ranjang empuk bersprei bunga-bunga, seorang gadis cantik terbangun oleh dering tajam yang mengiris kesunyian.
Matanya yang masih berat terbuka setengah. Dengan gerakan malas, ia meraih ponsel Android yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Nama yang terpampang di layar membuatnya tertegun.
“Lucien?” Alisnya mengernyit. Napasnya tertahan. “Eh? Lucien? Ini benar-benar Lucien?”
Keraguan, harapan, dan rasa tidak percaya bergulat dalam pikirannya. Jari-jarinya yang dingin menekan tombol hijau. Ia mengangkat telepon.
“Ha-halo? Ini sungguhan Lucien, kan? Bukan orang iseng?”
Tiba-tiba, hawa di kamar berubah.
Suhu ruangan merosot drastis.
Cahaya lampu tidur seperti menyusut, padahal tak ada yang menyentuhnya.
Dari belakang, sepasang tangan lentik dengan kuku hitam legam merayap ke atas bahunya—perlahan, seperti bayangan yang menjelma nyata. Sentuhannya dingin. Lembut, tetapi mencengkeram, menghantarkan rasa ngeri hingga ke tulang.
“Tentu saja, Sayang. Ini aku, Lucien kesayanganmu,” bisik suara pria itu—lembut, dalam, dan menggoda seperti racun manis.
Gadis itu tersentak. Ia berbalik secepat kilat.
Kosong. Tak ada siapa pun.
“Siapa?” tanyanya panik, napas memburu.
Suara itu kembali terdengar, masih dari ponsel, “Ini aku, Sayang. Lucien.”
Suasana kamar kini terasa sesak, seolah dinding mendekat, menghimpit tubuhnya yang kecil.
“Jangan main-main! Tunjukkan dirimu!” teriaknya frustrasi, matanya liar menatap sekeliling.
“Aku di sini.”
Suara itu datang dari arah berbeda.
Perlahan ia menoleh ke arah ranjang. Di sana, duduk seorang pria.
Lucien.
Wajahnya seperti potongan mimpi—indah dan buruk sekaligus. Mata tajam berkilat dalam bayangan, rambut hitam acak-acakan menambah kesan liar dan berbahaya. Ia mengenakan kemeja putih yang terbuka seluruh kancingnya, memperlihatkan dada bidang dan perut yang terbentuk sempurna.
Senyumnya nakal. Licik.
“Kemarilah. Duduk di pangkuanku,” ajaknya, dengan nada menggoda yang memerintah.
Tanpa sadar, gadis itu melangkah. Tubuhnya seperti digerakkan oleh sesuatu yang bukan miliknya. Jantungnya berdebar keras, tetapi pikirannya kosong. Dikuasai pesona yang tak dapat dijelaskan. Ia duduk di pangkuan pria itu, seolah memang tempatnya di sana.
---
Pagi harinya.
Koridor kampus ramai oleh langkah kaki dan suara obrolan mahasiswa. Namun, Lilian berjalan lesu, menyeret tubuh seperti zombie yang gagal tidur.
“Lilian, kau sudah tahu kabar terbaru, belum?” tanya Dania, sahabatnya yang cerewet, tetapi setia.
“Aku tahu. Sekarang sudah tanda-tanda,” sahut Lilian tanpa semangat.
“Tanda-tanda?” Dania mengerutkan kening. “Tanda-tanda akhir? Akhir zaman?!”
“Tanda-tanda akhir bulan, Bodoh!” Lilian mencibir. “Uangku semakin menipis. UKT belum terbayar. Ke mana lagi aku harus mencari uang?”
Dania menatap sahabatnya penuh prihatin. “Turut berduka cita untukmu,” ujarnya setengah bercanda. “Omong-omong, kau kenal kakak tingkat kita yang bernama Cantika?”
Lilian mengangkat bahu, malas.
“Tidak tahu dan tidak peduli. Aku introver. Antisosial. Stoisisme.”
“Ya ampun, anak ini!” Dania menepuk kening. “Untuk apa kau masuk jurusan psikologi? Untuk mendiagnosis penyakit mentalmu sendiri?”
“Persis,” jawab Lilian santai. Nada suaranya tenang, seakan dunia tidak pernah bisa membuatnya gentar.
Dania memutar bola mata. “Soal Kak Cantika, aku dengar dia meninggal setelah main game Making Love With Devil. Game yang sering kau mainkan itu.”
Lilian tertawa pelan. Matanya menyipit penuh ironi. “Jangan ganggu hobiku. Lucien itu semangat hidupku. Menakutiku seperti itu tidak akan berhasil. Aku lebih baik didatangi Lucien dalam wujud hantu gentayangan daripada harus berhenti main game.”
“Kau ini benar-benar susah diatur!” Dania mulai kesal.
“Tidak bisa diatur? Untuk apa mengatur orang? Aku tidak butuh saran darimu. Terima kasih.” Ucapan Lilian datar, tetapi tajam seperti pisau.
Tanpa menunggu reaksi Dania, Lilian berlari ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Ia menenggelamkan kepala ke atas meja—kebiasaan mahasiswa yang kelelahan dan kehabisan arah hidup.
“Akhirnya bisa tidur,” gumamnya pelan, menyerah pada kantuk.
Dania hanya bisa mengembuskan napas. “Sebenarnya anak ini kenapa, sih?” tanyanya lirih, lalu ikut masuk ke kelas dengan langkah berat.
---
Langit mulai meredup saat Lilian berdiri terpaku di depan pintu rumahnya. Kemeja kuliah lusuh, sepatu kanvas kotor setelah seharian berjalan dari rumah ke rumah demi menawarkan produk yang bahkan dirinya sendiri enggan membeli. Tangan kanannya menggenggam erat tas usang berisi formulir, catatan target, dan sebungkus bubur hangat yang dia sisihkan dari sisa uang makan siangnya.
Napasnya tertahan, lalu ia embuskan perlahan. “Ibu, aku pulang,” ucapnya lirih, seolah berharap ada keajaiban menyambutnya dari balik pintu kayu itu.
Harapan itu segera hancur oleh teriakan histeris dari dalam.
“HUWAA! PERGI! PERGIIIII!” Sebuah botol kaca melesat, jatuh dan pecah keras tepat di lantai depan kakinya. Pecahan menyebar tajam ke segala arah.
Lilian menunduk. Tidak terkejut. Hanya lelah. Sudah biasa.
Ia melangkah pelan, mendekati sumber teriakan itu—wanita yang dulu mengandungnya selama sembilan bulan, tetapi kini bahkan tak ingin disentuhnya.
“Ibu,” ucap Lilian lembut kepada wanita paruh baya bertubuh kurus dengan wajah penuh kerut lelah. “Aku tahu Ibu benci padaku. Tapi jangan sentuh barang-barang yang bisa melukai Ibu sendiri.”
Wanita itu memberontak, menepis tangannya. “LEPASKAN AKU! AKU TIDAK MAU DISENTUH!” teriaknya, mengoyak senja yang tenang. Suaranya seperti lolongan luka yang belum pernah sembuh.
Lilian tetap memegangi tangan ibunya. Ia menarik tali tambang dari bawah meja kecil dekat sofa. Dengan tenang, ia mulai mengikat perlahan, meskipun pergelangan ibunya yang lebam dan luka membuat hatinya mencelos.
“Maaf, Bu,” bisiknya sambil mengetatkan simpul. “Ini demi keselamatan Ibu sendiri.”
Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan wadah plastik kecil berisi bubur. Aroma kaldu ayam menyebar lembut—kontras dengan kekacauan di ruang tamu. Lilian menuju dapur, mengambil sendok, lalu kembali duduk di hadapan ibunya.
“Ayo makan dulu, Bu. Sedikit saja. Setelah itu Ibu bisa istirahat.”
Wanita itu menggeleng liar. “AKU TIDAK MAU!” Matanya merah. Suaranya pecah. “KAU ANAK HARAM! KARENA KAU, SEMUA CITA-CITAKU HANCUR! KAU SAMA DENGAN MEREKA—ORANG-ORANG YANG MEMPERKOSAKU!”
Diam.
Lilian hanya mengangguk pelan. Tidak membantah. Tidak menangis. Ia tahu, ibunya tidak sedang bicara sebagai seorang ibu—tetapi sebagai korban. Luka itu belum sembuh. Dan ia, anak yang lahir dari luka itu, hanyalah pengingat yang terus menghantui ibunya setiap hari.
“Ya, aku sama saja,” ucapnya tenang, menyodorkan sendok berisi bubur. “Tapi setidaknya aku tetap di sini. Aku tidak pergi.”
Ia menelan ludah, suaranya mulai bergetar, tetapi tatapannya tegas. “Kalau aku sudah lulus kuliah nanti, kita akan hidup bebas, Bu. Kita akan jadi perempuan yang kuat. Yang tidak lagi tergantung pada siapa pun. Kita akan balas dendam, bukan dengan kekerasan, tapi dengan hidup yang lebih layak. Dengan pendidikan. Dengan kemerdekaan.”
Sendok itu masih menggantung di udara.
“Ibu harus makan. Kita harus kuat. Kalau kita lemah, kalau kita sakit, siapa yang akan membela perempuan lain yang bernasib sama seperti Ibu?”
Akhirnya, satu sendok bubur masuk ke dalam mulut ibunya. Lilian tersenyum kecil, lalu menyuapkan sendok berikutnya. Tangisan lirih mulai terdengar di sela-sela desahan napas wanita itu.
Di ruangan sempit itu, dua perempuan yang sama-sama patah saling bertahan dengan cara yang hanya mereka berdua mengerti.

Chaotic Devil Queen
37 Pengikut · 3 Novel