Kabut turun perlahan di lereng hutan tua yang membentang di perbukitan Tanah Batak. Pohon-pohon besar berdiri seperti penjaga zaman yang tak pernah tidur. Akar-akar raksasa mencengkeram tanah hitam yang lembap, seolah menyimpan rahasia berusia ratusan tahun.
Di tengah kesunyian itu, langkah kaki terdengar tergesa.
April menyibakkan ranting yang menghalangi jalannya. Napasnya naik turun, tetapi matanya menyala penuh rasa ingin tahu.
“Ini pasti tempatnya,” gumamnya pelan.
Ia berhenti di depan sebuah batu besar yang setengah tertutup lumut. Ukiran aneh terpahat di permukaannya—garis-garis melingkar, simbol kuno yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
April menelan ludah.
“Aneh sekali,” bisiknya.
Sudah tiga hari ia mengikuti peta tua yang ditemukan di rumah kakeknya. Peta itu menunjukkan satu titik di hutan yang jarang didatangi orang.
Sebagian warga desa bahkan melarang siapa pun datang ke tempat ini.
Katanya, hutan itu bukan sekadar hutan.
Ia adalah tempat para arwah penjaga.
April sebenarnya ragu. Namun, rasa penasaran selalu lebih kuat dari rasa takut.
Ia meraba ukiran pada batu itu, tiba-tiba tanah bergetar sangat halus.
April langsung menarik tangannya. “Apa tadi?”
Suara ranting patah terdengar dari belakang. April menoleh cepat. “Siapa di sana?”
Tak ada jawaban. Namun, langkah kaki kembali terdengar.
Lalu, seseorang muncul dari balik semak.
Seorang pemuda.
Tubuhnya tinggi, pakaiannya penuh debu perjalanan. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi matanya tajam mengawasi sekitar.
Pemuda itu berhenti beberapa langkah dari April.
Keduanya saling menatap.
“Seharusnya aku yang bertanya,” kata pemuda itu. Suaranya tenang, tetapi tegas.
April mengangkat alis. “Ini hutan bebas, kan? Bukan milikmu.”
Pemuda itu menyilangkan tangan. “Benar, tapi orang biasanya tidak datang sejauh ini sendirian.”
“Orang biasanya juga tidak muncul tiba-tiba dari semak,” balas April cepat.
Pemuda itu menahan senyum kecil. “Namaku Wahyu.”
April sempat ragu sebelum menjawab. “April.”
Beberapa detik mereka hanya saling memandang, kemudian Wahyu menunjuk batu besar di depan April. “Kau juga mencarinya?”
April mengerutkan dahi. “Maksudmu batu ini?”
“Bukan batunya.”
Wahyu melangkah lebih dekat, matanya meneliti ukiran di permukaan batu. “Yang tersembunyi di bawahnya.”
Jantung April berdetak lebih cepat. “Bagaimana kau tahu?”
Wahyu tidak langsung menjawab. Ia menelusuri ukiran itu dengan jari. “Aku sudah mencarinya selama dua tahun.”
April terdiam. “Dua tahun?”
Wahyu mengangguk pelan. “Legenda lama. Tentang sesuatu yang terkubur di tanah ini.”
April merasakan bulu kuduknya berdiri. “Pedang Arwah?”
Wahyu menoleh tajam. “Kau tahu?”
April menghela napas pelan. “Kakekku pernah menyebutnya.”
“Lalu?”
“Katanya itu hanya cerita untuk menakuti anak-anak.”
Wahyu tertawa pendek. “Kalau begitu kau tidak akan berada di sini.”
April tidak bisa membantah. Ia menatap kembali batu besar itu. “Kalau memang ada sesuatu di bawahnya, bagaimana cara membukanya?”
Wahyu menggeleng pelan. “Itulah teka-tekinya.” Ia menunjuk salah satu ukiran.“Simbol ini bukan sekadar hiasan. Ini seperti kunci.”
April mendekat. “Apa maksudnya?”
“Entahlah, tapi—” Belum sempat Wahyu menyelesaikan kalimatnya, tanah kembali bergetar.
Kali ini lebih kuat.
Burung-burung di pepohonan tiba-tiba terbang panik.
April mundur satu langkah. “Ini tidak normal.”
Wahyu menatap batu itu tajam. “Tidak. Ini reaksi.”
“Reaksi apa?”
Wahyu menatap April. “Reaksi karena seseorang yang seharusnya tidak datang dan akhirnya datang.”
April mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”
Tiba-tiba ukiran di batu mulai bersinar redup. Cahaya merah samar merembes dari celah-celahnya.
April membeku. “Apa yang terjadi?”
Wahyu tampak sama terkejutnya. “Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya.”
Tanah bergetar semakin kuat. Retakan muncul di sekitar batu.
Suara gemuruh terdengar dari bawah tanah, seperti sesuatu yang telah lama terkunci akhirnya bergerak.
April menelan ludah. “Wahyu, aku punya firasat buruk.”
Wahyu tidak menjawab. Matanya terpaku pada cahaya yang semakin terang.
Tiba-tiba, batu besar itu terbelah.
Tanah di bawahnya membuka seperti pintu raksasa.
Angin dingin keluar dari dalam tanah, membawa aroma logam dan sesuatu yang lebih tua dari hutan itu sendiri.
April mundur cepat. “Astaga.”
Di dalam lubang itu, sebuah benda tertanam di tanah hitam.
Sebuah pedang. Namun, pedang itu berbeda. Bilahnya gelap seperti malam, tetapi garis-garis cahaya merah mengalir di sepanjang logamnya seperti urat nadi yang hidup.
Wahyu berbisik hampir tak terdengar. “Pedang Arwah.”
April merasakan sesuatu aneh di dadanya. Seolah pedang itu memanggilnya.
“Jangan mendekat,” kata Wahyu cepat.
Kaki April sudah melangkah. “Aku tidak tahu kenapa.” Suaranya bergetar. “Rasanya seperti ia memanggilku.”
Wahyu menatapnya dengan cemas. “Itu bukan hal baik.”
April berhenti tepat di depan pedang.
Angin dingin berputar di sekitar mereka. Suara samar terdengar di udara. Seperti bisikan banyak orang.
Wahyu mengeraskan rahang. “April. Mundur.”
Tangan April sudah terulur. “Aku hanya ingin melihatnya.”
“Jangan!”
Terlambat.
Jari April menyentuh gagang pedang. Sekejap. Cahaya merah meledak keluar. Angin berputar seperti badai kecil. Suara jeritan gaib memenuhi udara.
Wahyu menutup wajahnya dengan tangan. “Apa yang kau lakukan?”
April terkejut. Pedang itu tiba-tiba terangkat sendiri dari tanah, lalu ia jatuh tepat ke tangan April.
Cahaya merah menyala terang. Bayangan-bayangan samar muncul di udara. Puluhan sosok prajurit transparan berdiri di sekitar mereka. Mata mereka kosong. Namun, semuanya menatap April.
April gemetar. “Apa mereka?”
Wahyu menatap pemandangan itu dengan wajah pucat. “Arwah penjaga.”
Salah satu arwah maju selangkah. Suaranya bergema seperti berasal dari masa lalu. “Pedang telah memilih.”
April menelan ludah. “Memilih siapa?”
Arwah itu menatapnya lurus. “Kau.”
April memandang pedang di tangannya. “Aku bahkan tidak tahu cara menggunakannya.”
Arwah itu menjawab pelan. “Pedang ini bukan sekadar senjata.”
Wahyu bertanya tegang. “Lalu, apa?”
Arwah itu menoleh perlahan ke arah hutan yang gelap. “Ini adalah kunci perang.”
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Bukan dari tanah. Dari hutan.
Wahyu langsung waspada. “April.”
“Apa lagi?”
Wahyu menatap pepohonan dengan mata tajam. “Kita tidak sendirian.”
Dari balik kabut hutan, beberapa sosok mulai muncul. Mereka mengenakan baju perang hitam. Mata mereka dingin.
Pemimpin mereka tersenyum tipis. “Jadi benar.” Ia menatap pedang di tangan April. “Pedang Arwah telah bangkit.”
Wahyu menggertakkan gigi. “Masalah baru,” gumamnya.
April memegang pedang itu lebih erat. “Siapa mereka?”
Pemimpin pasukan itu menjawab santai. “Orang-orang yang sudah menunggu momen ini dan selama puluhan tahun.” Ia mengangkat tangannya. Pasukannya maju. “Serahkan pedang itu.”
April mundur satu langkah. “Kalau tidak?”
Pemimpin itu tersenyum tipis. “Perang dimulai di sini.”
Wahyu berdiri di depan April. Tangannya mengepal. “Sepertinya petualangan kita baru saja dimulai.”
April menelan ludah. Pedang Arwah di tangannya berdenyut seperti hidup, dan jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Ia baru saja membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci. Sesuatu yang akan menyeret mereka ke dalam perang yang jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.