


oleh Radhika Nadhil · 56 Bab
"Pak Kades, anak kambingku matilah! Kek mananya ini!" "Pak Kades, genteng rumahku ada kuntilanaknya lho. Tolonglah diapakan dulu itu. Takut kali aku, lho!" Tak pernah terbayangkan sedikit pun dalam hidup Arya, bahwa ia akan menjabat sebagai Kepala Desa tanpa pernah ia rencanakan sedikit pun. Hari-harinya pun diwarnai oleh kekonyolan para warga yang sering membuatnya mendadak punya darah tinggi. Belum lagi seorang gadis bernama Anabia Zemma, gadis berusia 23 tahun yang dijodohkan dengannya. Gadis ceplas-ceplos yang terkenal suka bikin onar di desa. "Kau sentuh aku, kupotong anumu!" Lantas, seperti apa Arya menghadapi hari-harinya? Penasaran, baca kisah mereka sampai tamat ya.
"Di rumah Pak Kades ada apaan, Ma, ramai bener?" Arya, pemuda berusia 25 tahun itu, baru saja pulang dari kafe tempat usahanya.
Ia menghampiri sang mama yang berdiri di teras, memerhatikan kerumunan di rumah yang berada tak jauh dari tempatnya.
"Pak Kades ketahuan korupsi dana desa, Ya. Mana uangnya dipake buat kawin lagi."
"Astaghfirullah. Terus gimana?" Arya ikut menatap ke tempat yang sama.
"Ya ditangkap, tapi istrinya malah meraung-raung. Udah tahu suaminya salah masih aja dibela. Pantesan, ya, jalan rusak di depan rumah Buk Hamidah sama Pak Abdul nggak rampung-rampung. Eh ternyata dananya dikorupsi. Hadeuh." Mama geleng-geleng kepala.
Mendengar perkataan mamanya di awal, Arya terdiam sambil menoleh menatap wanita yang sedang menggerutu itu. Apakah dia tidak sadar? Apakah dia lupa? Bahwa apa yang dilakukan istri Kades itu juga pernah ia lakukan dulu.
Ya, papa Arya juga tersandung kasus korupsi yang termasuk ke dalam kejahatan tingkat berat. Sampai sekarang, pria itu masih di penjara.
Tak kuasa menanggung malu sebab berita tertangkapnya sang papa viral, Arya dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke Kota Medan. Lalu memilih tinggal di sebuah desa yang jauh dari pusat kota bernama Desa Alur Manyun.
Desa yang penduduknya hampir rata-rata berprofesi sebagai petani.
"Jujur, Mama lebih suka kades yang lama. Lebih jujur dan mengayomi daripada dia. Untung ketahuannya pas masih menjabat setahun." Mama tak sudahnya mengomentari.
"Ya udahlah, Ma. Biar jadi urusan KPK. Kita berdoa aja semoga orang yang gantiin kades yang sekarang ini nanti orangnya amanah."
"Aamiin, dan Mama udah punya calon kandidatnya."
Kening Arya berkerut. "Siapa?"
"Lihat aja nanti," kekeh Mama lalu meninggalkan Arya masuk ke rumah.
Arya mengusap tengkuk. "Perasaanku kok nggak enak, ya."
***
Arya menghela napas panjang. Dua hari setelah kejadian tertangkapnya kades di Desa Alur Manyun, ia diminta untuk datang ke kantor kecamatan. Ditemani sang mama, kini ia sudah berada di ruangan camat.
"Tahu kenapa dipanggil kemari?" Seorang pria bertubuh gemuk dan tinggi berjalan sambil membawa map berwarna biru.
Arya mengangguk. Ia sudah dengar semua dari mamanya, jika ia akan ditunjuk untuk menggantikan posisi kades sementara memimpin Desa Alur Manyun.
"Tapi, Pak, saya—"
"Sssttt ... silakan dibuka." Pria bernama Ilyas Manurung itu memotong. Ia meletakkan map tepat di hadapan Arya sebelum akhirnya duduk di sofa yang bersinggungan dengan pemuda itu.
Arya mengurai napas pelan. Ia ambil map di meja lalu dibuka. Ia baca dengan teliti sampai akhir. Napasnya berembus berat. Di tangannya keputusan besar sedang ditimang.
"Pak, sebenarnya saya—"
"Ah, jadi gini, Arya. Biar enak kita ngobrolnya, coba tanda tangani dulu di sini." Camat menunjuk tulisan nama Arya di sudut berkas.
"Maaf, tapi kenapa harus saya? Masih banyak tetua di Desa Alur Manyun yang saya rasa lebih pantas untuk menggantikan posisi kades lama." Kali ini Arya tidak bisa menahan unek-uneknya lebih lama lagi. Pria di depannya seperti sengaja dengan terus memotong.
Pak Ilyas menghela napas pelan dan mulai menatap Arya dengan serius.
"Benar, tapi mereka semua dekat dengan kades yang lama. Saya khawatir, kejadian yang sama akan terulang. Di desa itu, yang latar pendidikannya bagus cuma kamu, dan kamu juga tidak dekat dengan kades lama. Dengar Arya, ini hanya sementara sampai kami menemukan pengganti yang baru."
Arya menarik napas dalam. Meski sementara, tapi tanggung jawab yang akan ia pikul pasti sama beratnya dengan kades lama. Belum lagi dengan para tetua yang kontra dengan terpilihnya ia sebagai kades pengganti.
"Tapi gimana kalau saya gagal, Pak? Saya nggak punya pengalaman yang cukup untuk menjadi pemimpin."
"Saya yakin kamu bisa. Walikota juga sudah setuju dan menandatangani keputusan jabatanmu."
Arya menghela napas pelan. "Banyak yang nggak suka kalau saya jadi kades di Desa Alur Manyun."
"Kata siapa? Malah banyak yang merekomendasikan kamu saat saya turun ke balai desa. Sebenarnya ada tiga kandidat, tapi setelah saya diskusikan dengan Walikota, ternyata kamu yang dipilih. Udahlah, jangan apa kali. Saya yang jamin. Sekarang tanda tangan." Pak Ilyas mendesak.
Arya ragu-ragu menatap berkas di meja. Tanda tangannya akan mengubah jalan hidupnya.
"Ini tugas, bukan pilihan." Pak Ilyas melanjutkan ucapannya dengan tegas.
Arya mengambil pulpen dan mulai menandatangani kolom namanya di sudut berkas. Ia berkeringat. Detak jantungnya bertalu-talu.
Coretan tangan itu telah resmi tercantum dan membuatnya sah menjadi kepala desa. Pak Ilyas tersenyum lega lalu menjabat tangan Arya.
"Selamat bertugas. Desa Alur Manyun mulai sekarang adalah tanggung jawabmu."
Arya menarik senyum tipis. Terlihat keraguan di sana. Apakah dia bisa menjalankan tugas yang katanya sementara ini dengan baik?
***
Pulang dari kantor kecamatan, Arya dibawa oleh salah seorang perangkat desa menuju balai desa. Mengumumkan pada seluruh warga Desa Alur Manyun bahwa Arya telah dilantik menjadi kades sementara.
Para warga menyambut antusias. Beberapa pujian dan harapan terlontar. Namun, tidak semua warga berekspresi sama. Para tetua yang dekat dengan kades lama tampak sinis menatap remah Arya yang mereka anggap bocah ingusan.
"Bisa apa anak itu? Nggak cocok kurasa dia jadi kades. Terlalu muda. Mana belum menikah."
"Palingan juga nggak lamanya itu. Mana sanggup anak kota ngurus desa ini! Lihat aja nanti."
"Intinya, apa yang udah dibuat sama kades lama, jangan pernah dia usik atau kubakar rumahnya!"
Demikian obrolan pria-pria yang kontra dengan terpilihnya Arya.
"Terima kasih Bapak-Ibu atas dukungannya. InsyaAllah, saya akan menjalankan tugas kades sebelumnya dengan baik."
Suara sorakan memenuhi ruang terbuka di balai desa.
"Habis ini carilah istri, Bang. Jangan membujang terus!" celetuk salah seorang warga, yang seketika mengundang gelak tawa warga yang lain.
Arya tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuk. Ayolah, dia masih 25 tahun. Tidak ada syarat harus punya istri bukan ketika menjabat sebagai kepala desa?
"Jadi segan pulak awak manggil Abang. Kupanggil apa kau sekarang, Ya? Pak Kades?" Salah seorang pemuda yang seusia dengan Arya menggoda seraya terkekeh.
Dia Boris Johnson Simatupang—teman Arya di desa itu sekaligus orang kepercayaan Arya di kafe tempat usahanya. Boris memang suka menggoda Arya. Ia sering memanggilnya dengan sebutan 'si Anak Jakarta'.
"Iya pulak, ya. Kades kita masih muda kali, bah. Aneh pulak kalau dipanggil Bapak!" Tawa terbahak seorang pria lima puluh tahunan menyela.
Di sudut perkumpulan, mamanya Arya menatap sambil tersenyum. Ada kebanggaan di hatinya melihat putra keduanya tumbuh menjadi seorang kades. Ya walaupun cuma sementara.
"Senyamannya Bapak-Ibu aja asal nggak merendahkan saya," jawabnya kalem sambil melirik ke arah mamanya yang tersenyum lucu.
Di tempat yang agak jauh dari perkumpulan, seorang pria memerhatikan Arya lekat seperti sedang merencanakan sesuatu.
-tbc-

Radhika Nadhil
79 Pengikut · 1 Novel