


oleh Sittiistiqomah · 13 Bab
Ketika kepercayaan mulai retak, haruskah ia tetap bertahan atau pergi? Aulia selalu percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya. Namun, keyakinannya mulai goyah ketika ia menemukan bukti bahwa suaminya, Aksa, menyembunyikan sesuatu darinya. Sebuah foto, pesan-pesan misterius, dan kehadiran seorang wanita dari masa lalu membuatnya mulai mempertanyakan segalanya.
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasahi jalanan kota yang sepi. Aksa menatap ke luar jendela ruang kerjanya, pikirannya dipenuhi berbagai hal. Sudah lima tahun ia menikah dengan Aulia, wanita yang ia cintai lebih dari siapa pun. Rumah tangga mereka berjalan harmonis, meski tak selalu sempurna.
Namun, akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berubah dalam diri Aulia. Ia lebih sering termenung, lebih sering terlihat gelisah. Tatapannya yang dulu penuh kehangatan kini terasa jauh. Aksa mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah kelelahan semata, tetapi hatinya berkata lain.
Aksa menarik napas panjang dan menutup laptopnya. Sudah hampir pukul sebelas malam, dan ia harus segera pulang. Ia meraih kunci mobilnya lalu berjalan keluar dari kantor. Hujan yang mengguyur membuat udara semakin dingin, tetapi ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya lebih dingin lagi.
Di rumah, Aulia duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ponselnya tergeletak di meja dengan layar yang masih menyala, menampilkan sebuah pesan singkat.
"Aku rindu."
Tangannya gemetar saat ia membaca pesan itu. Dadanya sesak, pikirannya kalut. Ia tahu ini salah, ia tahu ia telah melangkah terlalu jauh. Tetapi semuanya terjadi begitu saja, tanpa pernah ia rencanakan.
Aulia tak pernah berniat mengkhianati Aksa. Ia mencintai suaminya, selalu. Namun, ada kekosongan yang entah sejak kapan mulai menggerogoti hatinya. Mungkin sejak Aksa semakin sibuk dengan pekerjaannya, atau mungkin sejak ia mulai merasa kehilangan dirinya sendiri dalam peran sebagai istri yang sempurna.
Kemudian, Faris datang.
Faris adalah teman lama yang tiba-tiba muncul kembali di hidupnya. Ia hadir dengan caranya yang lembut, mendengar setiap keluh kesah yang selama ini Aulia pendam. Ia membuatnya merasa dihargai, didengarkan, sesuatu yang lama tidak ia rasakan.
Aulia meremas ponselnya. Ia ingin menghapus pesan itu, ingin melupakan semua yang telah terjadi. Tapi hatinya berkhianat. Jemarinya justru bergerak membalas pesan itu.
"Jangan hubungi aku lagi."
Ia berharap ini adalah akhirnya, bahwa ia bisa kembali menjalani rumah tangganya tanpa dihantui rasa bersalah. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu ini bukanlah akhir. Ini hanyalah awal dari kehancuran yang mungkin tak bisa ia hindari.
Aksa tiba di rumah. Ia membuka pintu dengan perlahan, mendapati Aulia masih duduk di ruang tamu. Wanita itu tampak terkejut melihatnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Aksa, mencoba terdengar biasa saja.
Aulia menggeleng. "Aku menunggumu, Mas"
Aksa tersenyum kecil, mendekatinya lalu mencium keningnya lembut. Namun, saat bibirnya menyentuh kulit istrinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada jarak yang tak kasatmata di antara mereka.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil duduk di sampingnya.
Aulia tersenyum, tetapi senyum itu terasa dipaksakan. "Aku baik."
Aksa menatapnya dalam-dalam. Ia ingin percaya, tetapi ada sesuatu dalam sorot mata Aulia yang mengatakan sebaliknya.
Malam itu, mereka tidur berdampingan, tetapi terasa seperti dua orang asing yang dipisahkan oleh dinding tak terlihat.
Itu adalah awal kehancuran bagi mereka. Bersama namun tiada lagi kata yang bermakna.
***
Malam itu, setelah Aksa tertidur Aulia tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar, pikirannya berputar-putar tanpa arah. Ponselnya masih tergeletak di meja samping tempat tidur, dan meski ia sudah menghapus pesan terakhir dari Faris, bayangan pria itu terus mengganggu pikirannya.
Kenapa semua harus menjadi seperti ini?
Aulia menggigit bibirnya. Ia tahu bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar. Bukan hanya karena pesan-pesan itu, tapi juga perasaan yang mulai tumbuh tanpa bisa ia kendalikan.
Ia memejamkan mata, mengingat kembali bagaimana semuanya bermula.
Kejadian enam Bulan Lalu
Hari itu, Aulia sedang duduk sendirian di sebuah kafe setelah selesai menghadiri acara reuni kecil dengan teman-teman kuliahnya. Ia sengaja datang lebih awal, berharap bisa menikmati waktu sendiri sebelum kembali ke rumah.
Namun, ia tidak menyangka akan bertemu seseorang dari masa lalunya.
"Aulia?" Suara itu membuatnya menoleh. Dan di sanalah dia melihat seseorang yang menggetarkan hatinya. Pria itu adalah Faris.
Faris tampak tak banyak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu beberapa tahun lalu. Senyum hangatnya masih sama, tatapannya masih seteduh dulu.
"Aku hampir nggak percaya ini kamu," kata Faris sambil duduk di depannya tanpa menunggu izin.
Aulia tersenyum tipis. "Ya, aku juga nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini."
Mereka berbincang lama, mengenang masa-masa kuliah mereka. Aulia dulu sempat dekat dengan Faris, tapi tak pernah ada hubungan lebih dari pertemanan. Saat itu, ia sudah jatuh hati pada Aksa dan Faris pun tampaknya memahami bahwa dirinya tak pernah punya tempat dalam hati Aulia.
Namun, ada sesuatu dalam tatapan Faris saat itu yang membuat Aulia sedikit gelisah. Seolah pria itu masih menyimpan sesuatu yang belum tersampaikan.
"Apa kabar suamimu?" tanya Faris akhirnya.
Aulia mengangguk pelan. "Baik. Dia sibuk dengan pekerjaannya."
Faris mengangguk. "Dan kamu? Apa kamu juga baik-baik saja?"
Pertanyaan itu menghantam Aulia lebih keras dari yang seharusnya. Ia ingin menjawab ‘ya’, tapi entah kenapa, kata-kata itu terasa sulit keluar dari mulutnya.
Sejak pertemuan itu, segalanya berubah.
Faris mulai menghubunginya sesekali, sekadar menanyakan kabar atau mengirimkan hal-hal kecil yang mengingatkan pada masa lalu mereka. Aulia mencoba menjaga jarak, tapi entah bagaimana, ia mulai menikmati perhatian itu.
Awalnya, ia meyakinkan diri bahwa ini hanyalah pertemanan biasa. Tapi lama-kelamaan, ia sadar bahwa ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya sesuatu yang seharusnya tidak ada.
***
Aulia menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Aksa yang terlelap. Suaminya itu masih pria yang sama yang dulu ia cintai dengan segenap hatinya. Tapi kenapa ada kekosongan yang tidak bisa ia pahami?
Aulia meremas selimutnya. Ia harus berhenti. Semua ini harus dihentikan sebelum semuanya semakin hancur. Tapi apakah ia benar-benar bisa?
Keesokan paginya, Aksa bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap punggung Aulia yang masih membelakanginya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya sejak tadi malam.
"Aulia," panggilnya pelan.
Aulia terkejut, tapi ia berusaha menyembunyikannya. "Hm?"
Aksa mengusap wajahnya, mencoba memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Akhir-akhir ini kamu terlihat berbeda. Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?"
Jantung Aulia berdegup kencang. Ia menelan ludah, berusaha tetap tenang. "Nggak ada apa-apa. Aku cuma lelah, Mas!"
Aksa mengangguk pelan, meskipun hatinya berkata lain. Ia bukan pria bodoh. Ia tahu ketika istrinya menyembunyikan sesuatu.
Tapi untuk saat ini, ia memilih diam.
Yang pasti, ia akan mencari tahu.

Sittiistiqomah
34 Pengikut · 2 Novel