Mencintaimu adalah pilihanku, menggantikan posisimu dengan yang lain itu bukan tujuanku. Apa pun ujiannya, selama kamu bersamaku. Aku kuat.
Shinta Claudia, kata-kata itu yang selalu menjadi kekuatan untuknya dalam membersamai Rifki."Mas, apa kamu enggak ada niatan menikah lagi, seperti saran Mommy?"Rifki yang tengah bersiap menatap tajam ke arahnya. "Shinta Claudia, dengarkan baik-baik. Aku sangat mencintaimu. Jika aku ingin menikah lagi, tidak mungkin aku berusaha sejauh ini bersamamu. Jadi, please jangan pernah berucap seperti yang Mommy ucapkan, ya!" "Terima kasih, Mas." Shinta memberikan kecupan singkat di pipi Rifki, akan tetapi tiba-tiba indera penciumannya merasakan hal yang sangat aneh. "Mas, kamu pakai parfum apa sih? Baunya gak enak banget!" ketus Shinta. Ia segera berlari ke arah wastafel. Shinta langsung memuntahkan semua isi dalam perutnya padahal dia belum sarapan apa-apa. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rifki cemas. "Mas, stop!" teriak Shinta. "Kamu pake parfum apaan sih? Bau banget!" Shinta segera berlalu ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba terdengar kembali teriakan Shinta dari dalam. "Mas! Tolong dong, aduh ini kenapa di kamar mandi juga bau! Kamu pakai apa sih?" gerutu Shinta mengibaskan tangannya. ''Bau?'' gumam Rifki heran, ia segera mencium seluruh tubuhnya. "Ahh, nggak bau kok," ujarnya lagi. "Kenapa, Sayang. Kamu baik-baik saja 'kan?" Shinta merasa lelah, moodnya mendadak saja menjadi sangat buruk. Ia memutuskan untuk berbaring dan berhenti marah-marah tidak jelas. Pikirannya dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan, Shinta memeluk boneka kesayangan dengan pikiran yang kosong. Namun, tiba-tiba ia kembali berteriak, "Mas!" "Ya, Sayang kamu kenapa sih? Pagi-pagi sudah bertingkah aneh?""Mas ...." Shinta duduk di pinggiran ranjang, dengan perasaan campur aduk. Ia kembali berlari ke kamar mandi. "Mas tolong ambilkan testpack aku di laci!" Rifki hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan aneh istrinya, tapi ia tetap melakukan apa yang Shinta perintahkan tanpa bertanya lebih lanjut. Shinta menerima alat itu dengan jantung yang sudah berdisko ria, perasaannya campur aduk. 'Semoga sesuai harapan!' gumam Shinta, ia memejamkan matanya sebelum melakukan percobaan kesekian kalinya yang selalu gagal.
Dengan perasaan cemas, Shinta mengangkat beda itu, dan ternyata hasilnya garis dua. Shinta membuka pintu kamar mandi, badannya sudah lemas. Ia merasa tidak memiliki tenaga lagi untuk sekadar menopang bobot tubuhnya. "Sayang!" Rifki segera menangkap badan Shinta membawa ke dalam pelukannya, "kamu kenapa?""Mas ...." Shinta menangis dalam pelukan suaminya. "A-ku hamil, Mas!" Isak tangis yang ia tahan akhirnya pecah juga. "Jadi?" Rifki tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Ia memeluk erat tubuh istrinya. "Aku akan memberitahu kabar gembira ini pada saat sarapan nanti, Sayang." Shinta hanya mengangguk pasrah. ***"Akhirnya kamu hamil juga, Shinta. Selamat ya, Sayang. Akhirnya cita-cita mommy memiliki cucu laki-laki akan terwujud.""Selamat ya, Kakak. Akhirnya Kakak hamil juga. Aku sudah tidak sabar mengajak keponakanku bermain bola.""Iya, Sayang. Pokoknya anak pertama kita itu harus laki-laki, tidak boleh perempuan. Mau ditaruh di mana nama baik keluarga kita, jika anak pertama perempuan?" tambah Rifki, mematahkan rasa bahagia Shinta."Sayang mulai sekarang, kamu tidak boleh mengerjakan apa pun. Jika kamu ngidam sesuatu, langsung bilang sama aku. Nanti aku akan carikan semuanya." Sejak Shinta dinyatakan hamil, ia menjalani hari dengan penuh rasa syukur, karena kasih sayang mertua dan adik iparnya kembali seperti dahulu. Namun, ada hal yang selalu membuat Shinta tertekan yaitu 'cucu laki-laki'. Sebisa mungkin Shinta menepis pikiran negatif itu. ***"Shinta, kamu sudah turun, Sayang. Sini-sini." Bu Ellya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya."Terima kasih, Mom," balas Shinta, langsung duduk di sebelah mertuanya."Kakak ngidam apa hari ini?" tanya Sherly antusias. Shinta hanya tersenyum menanggapi ucapan adik iparnya, sudah seminggu sejak Shinta dinyatakan hamil, adik iparnya selalu bertanya ngidam apa hari ini? "Nggak, Dek. Kakak belum ngidam apa-apa." "Mbak. Tolong bawakan sarapan untuk Nyonya Muda!" teriak Bu Ellya pada asisten rumah tangganya. Tak lama datanglah kedua asisten itu, yang satu membawakan satu mangkuk sereal lengkap dengan susu, yang satunya lagi membawa buah-buah asem, ada mangga muda, jeruk, asam jawa dan yang lainnya. "Silakan dinikmati, Nyonya Muda," ucap pelayanan itu dengan ramah, setelah ia meletakkan semangkuk sereal yang sudah dicampurkan susu. "Terima kasih, Mbak." "Taruh saja buahnya di sana!" tunjuk Bu Ellya pada pelayanan satu lagi. Setelah memastikan tugasnya selesai, kedua pelayanan itu segera berlalu ke tempatnya masing-masing. "Nanti setelah serealnya habis, kamu langsung makan buah-buahan ini, ya." "Tapi, Mom. Ini 'kan buah mentah," kilah Shinta, belum saja makan buah itu, sudah ngiler duluan. "Ini tuh bagus, Nak, agar nanti anak yang kamu kandung lahirnya laki-laki," papar Bu Ellya. "Nah, Sayang. Kamu dengerin saja apa yang Mommy arahkan, semua juga demi kebaikan kamu," timpal Rifki, membenarkan ucapan ibunya. "Mommy juga sudah memesan banyak sekali cemilan asin, untuk kamu nikmati nanti. Mungkin hari ini datangnya." "Emang cemilan juga berpengaruh, Mom?" tanya Shinta. "Oh jelas dong. Mulai sekarang, mommy yang akan mengatur semua asupan makanan kamu," ucap Bu Ellya dengan semangat. Meskipun dengan amat terpaksa. Namun, Shinta tetap memakan semua makanan yang dianjurkan oleh mertuanya. 'Semoga saja aslam-ku tidak kumat,' gumam Shinta dalam hati. "Aku berangkat dulu ya, Sayang. Ingat pesanku tadi 'kan?" tanya Rifki yang hendak berangkat kerja. "Iya, Mas. Aku ingat semua pesanmu," jawab Shinta, meraih tangan suaminya, Rifki membalas dengan kecupan di kening Shinta. Hal kecil yang selalu membuat Shinta bahagia adalah perhatian dan kasih sayang sang suami.