


oleh Dzahrafa · 99 Bab
Hati Dania hancur berkeping-keping melihat sahabat dan calon suaminya berkhianat. Bukan hanya pengkhianatan melainkan ingin menguasai harta dan pembunuhan sadis mereka susun di belakangnya. Cintanya telah sirna. Diam-diam Dania telah menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Pagi itu Gita bertamu ke rumah Dania. Sudah hampir tiga bulan lamanya Gita tak bertamu ke rumah Dania karena sibuk kegiatan perkuliahan.
Dania bahagia sahabatnya bertamu ke rumahnya. Mereka menghabiskan waktu cukup lama bercerita. Saling menceritakan hal-hal baru ini.
Gita syok saat Dania menceritakan bahwa dia mempunyai kekasih. Selama ini Gitalah yang menceritakan kisah asmaranya. Gita pikir Dania adalah perempuan yang tidak menyukai lawan jenis.
Selama ini Gita sering memperkenalkan pacarnya ke Dania. Dania pikir mengenalkan Fano ke Gita tak akan membawa masalah. Dia yakin Gita tak akan berbuat macam-macam.
Mereka sudah bersahabat sejak SMP. Sering duduk sebangku. Melanjutkan ke jenjang SMA di sekolah yang sama. Dan sama-sama mengambil jurusan akuntansi. Dua sahabat yang tak pernah terpisahkan. Bagaikan prangko.
Seusai lulus SMA Dania memilih tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bukan terkendala masalah biaya. Melainkan ingin membantu kakeknya mengurus swalayan peninggalan almarhum kedua orang tuanya.
Berbeda dengan Gita. Dia melanjutkan ke perguruan tinggi swasta yang ada di kotanya. Dan mengambil jurusan akuntansi dengan jalur beasiswa berprestasi.
“What? Ini enggak mimpikan kamu punya pacar? Dan kamu serius mau ngenalin pacar kamu ke aku, Dania?” tanya Gita mode serius dan masih tak percaya.
“Seriuslah. Memangnya muka aku kelihatan bohong. Kamu udah punya pacar lagi? Kalau udah bisa kenalin ke aku juga.”
“Aku sih belum punya pacar lagi. Malas cari cowok. Mending ngerjain tugas dan nyari duit.”
“Tumben kamu pintar. Biasanya nunda-nunda ngerjain tugas. Dan ujungnya aku yang ngerjain tugas kamu.”
“Ya malas aja lagi belajar. Sekarang aku sadar kalau belajar lebih penting dari pada cari cowok.”
Sudah dua jam lamanya mereka membahas seputar laki-laki, cinta, dan pernikahan. Gita berpamitan untuk pulang. Dania pun pergi ke swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai kesana.
Para karyawan menyambut kedatangan Dania. Dania pun membalas sapaan mereka satu persatu. Tidak lupa mengecek satu persatu pekerjaan mereka.
Di ruang kerjanya Dania menghabiskan waktunya fokus ke laptop. Mengecek data pengeluaran dan pemasukan. Mengecek daftar barang-barang yang akan dibelinya di pabrik dan kemudian memesannya.
Selain mengurus swalayan milik keluarganya, Dania bekerja online. Menjual desain gaun. Pekerjaan ini yang tahu hanyalah kakeknya. Dan ia sendiri ingin memiliki butik jika modalnya sudah terkumpul banyak.
Ponsel Dania berdering. Fano kekasih menghubunginya. Sambil menerima panggilan Fano, Dania menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit.
“Aku sudah di depan swalayan, Dania,” ucap Fano.
“Kenapa enggak masuk temui aku di ruangan?”
“Ada kakekmu di sana. Aku enggak enak.”
Sudah berulang kali Fano tak mau menemuinya secara langsung di ruangan. Menghubunginya mungkin menjadi solusi bagi Fano.
Menurut kakeknya Dania, Abas, Fano adalah sosok pecundang. Hanya memberi harapan palsu. Dan cucunya tak pantas mendapatkan sosok laki-laki seperti Fano.
“Ya sudah aku ke depan.”
Dania melihat kakeknya sedang duduk mengawasi kinerja karyawannya. Meski di usia 65 tahun kakeknya tetap ingin mengecek keadaan swalayan. Pergi ke swalayan tak setiap hari. Di waktu tuanya kakek juga menghabiskan waktunya mengikuti kegiatan keagamaan dan berkebun di samping halaman rumahnya.
Dania menghampiri kakeknya dan meminta izin keluar sebentar. Kakeknya memberi izin tidak boleh lebih dari satu jam. Jika sampai melanggar Dania tak akan diberi izin lagi.
“Kek, Dania izin keluar makan siang sama Fano.”
“Fano ke mana enggak jemput kamu ke sini? Jadi laki-laki kok pengecut,” omel Kakek Abas.
“Fano di depan enggak enak mau masuk,” jawab Dania apa adanya
“Jadi laki-laki kok pengecut. Bilang sama Fano kapan mau nikahin kamu. Jangan pacaran aja!”
“Iya, kek. Nanti Dania bilang ke Fano.”
“Kalau dalam satu bulan ini Fano enggak ada niatan melamar kamu, kalian harus akhiri hubungan kalian. Kakek ingin kamu segera menikah.”
Fano membuka pintu mobil untuk Dania. Perilaku Fano sangat romantis. Sudah satu bulan ini sejak mereka menjalin hubungan Fano selalu memberikan perhatian kecil kepadanya.
Laki-laki seperti Fano adalah idamannya. Masih muda sudah memiliki pekerjaan mapan. Apalagi yang harus diragukan Dania? Pesona Fano benar-benar memikat Dania.
“Kamu mau makan siang di mana Dania?”
“Di tempat biasanya Fano.”
Sambil menunggu makanan datang Dania menceritakan pesan kakeknya. Respon Fano terlihat agak keberatan dengan permintaan kakeknya Dania. Fano belum siap untuk melamar dan menikah di waktu dekat.
“Jadi kakekmu memintaku untuk segera melamarmu. Aku bukannya enggak serius sama kamu Dania. Tapi, aku belum siap berumah tangga.”
“Kamu kok gitu Fano? Apa kamu hanya manfaatin perasaan aku?”
“Sudahlah nanti kita bahas lagi permasalahan ini,” kata Fano agak ketus.
**
Seminggu kemudian Dania mengajak Gita makan siang. Dania berniat memperkenalkan Fano kepada Gita.
Dania dan Gita menunggu kedatangan Fano di rumah makan apung. Gita sangat penasaran siapa sosok Fano. Bagaimana bisa Dania menerima kehadiran Fano? Apa istimewanya Fano?
“Maaf kalau menunggu lama,” kata Fano.
Gita menatap Fano. Para mantannya tak ada yang mengalahkan ketampanan Fano. Pantas saja Dania jatuh cinta banget.
“Fano, ini sahabatku. Namanya Gita.”
“Hallo, salam kenal saya Fano kekasihya Dania.”
“Salam kenal juga, saya Gita.”
Pasangan romantis. Gita menjadi obat nyamuk. Sejak tadi Gita terus curi pandang ke arah Fano.
Sejak perkenalan tadi Gita jatuh cinta pada sosok Fano. Laki-laki yang sempurna. Mapan di usia muda. Idaman semua perempuan.
Hidup di keluarga serba pas-pasan membuat Gita berambisi memiliki pasangan hidup yang kaya raya. Para mantannya pun sering dia poroti. Bukan main. Dania sering meminta barang mahal dan mengikuti tren.
Sudah berulang kali Gita berganti pacar. Mulai dari anak penjabat hingga anak CEO. Mereka semua juga meminta imbalan kepada Gita. Gita dengan sukarela menyerahkan tubuhnya. Baginya kebutuhannya nomor satu. Kuliah lancar. Uang saku aman.
Semua kebusukannya ia simpan rapat. Dania sahabatnya tak mengetahui kelakuannya. Keluarganya malah mendukung perbuatan Gita. Orang tuanya pun ikut menikmati.
Sikap Gita berawal mengikuti jejak kakaknya. Gita awalnya tidak ingin seperti itu. Tuntunan kebutuhan yang mengharuskannya mengikuti jejak kakaknya.
“Apa aku rebut aja Fano dari Dania? Dania kan kaya sejak kecil. Keluargaku sejak kecil miskin. Lebih baik aku deketin Fano diam-diam,” tekad Gita dalam hati.
Sesekali Gita mengikuti obrolan Fano dan Dania. Walaupun Dania tak melanjutkan kuliah wawasannya sangat luas. Tidak diragukan lagi kepandaiannya.
“Habis ini kamu mau ke mana, Git?”
“Langsung pulang, Dan. Kasihan mamaku di rumah sendirian.”
“Fano, kamu antar Gita ke rumahnya bisa? Rumahmu sama Gita sama arahnya.”
“Tidak usah. Aku pulang bisa naik grab. Aku tidak ingin merepotkan,” tolak halus Gita.
“Tidak masalah, aku bisa mengantarkan Gita pulang.”
“Kamu pulang diantar Fano. Aku tidak mempermasalahkan kalian berduaan. Kalian sudah sama-sama dewasa. Pasti tahu mana batasannya. Aku percaya kalian tidak akan macam-macam.”
Gita sangat senang Fano mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan pulang Gita menyusun rencana menggaet Fano.
Tanpa adanya topik obrolan mereka saling diam. Suara musik menemani perjalanan mereka.
“Ini arahnya ke mana lagi Gita?”
“Belok kanan. Kalau ada rumah berpagar cokelat itu rumahku.”
Fano mengemudikan mobilnya pelan. Mengamati setiap rumah. Ternyata tak sulit menemukan keberadaan rumah Gita.
“Betul ini rumahmu?”
“Iya betul. Bolehkah aku meminta nomor WhatsAppmu Fano?”
Fano agak ragu memberi nomor WhatsAppnya. Pikiran buruk segera ia tepis. Gita adalah sahabat kekasihnya. Tak mungkin berbuat macam-macam.
“Boleh. Sini ponselmu.”
“Terima kasih Fano. Apa kamu tidak ingin mampir ke rumahku. Sekedar minum kopi atau teh.”
“Tidak Gita. Lain kali.”

Dzahrafa
48 Pengikut · 2 Novel