


oleh Yossyta S · 45 Bab
Untuk biaya pengobatan ibunya yang mengalami sakit gangguan jiwa, dengan terpaksa, Nayla Putri Anissa rela menjadi pengantin palsu menggantikan anak majikannya yang telah melarikan diri di hari menjelang pernikahan. Dengan segala rencana yang telah diatur oleh kedua majikannya itu, Nayla hanya bisa pasrah mengikuti semua arahannya. Kemudian dengan menggunakan masker untuk menutupi wajah aslinya, gadis itu akan bersiap-siap melakukan ijab kobul dengan seorang CEO muda yang terkenal sangat dingin dan arogan, yang bernama Arga Dewantara. Lalu, apakah sang calon pengantin pria bisa menyadari kalau Nayla itu bukanlah calon istrinya yang sesungguhnya? Jika tidak, apa yang akan terjadi setelah itu?
Di sebuah dapur, terlihat seorang gadis sedang sibuk menelepon seseorang.
"Iya ya, Bude. Pasti Nay akan segera kirim uang kalau Nay udah gajian ya, Bude," ujarnya. "Kalau begitu Nay tutup dulu ya. Assalamualaikum."
"Huff!" Gadis cantik bernama Nayla itu menghela napas panjang. Dengan raut wajah yang terlihat sedih ia menutup teleponnya.
"Ada apa, Nay?" tanya Eni, teman satu kampung yang membawanya bekerja di rumah ini. "Apa Budemu meminta uang lagi?" tebaknya.
Dengan sangat lesu gadis berlesung pipi itu mengangguk lemas.
"Kok, Bude Rini sering banget sih minta dikirim uang sama kamu. Padahal, 'kan tiap bulan juga kamu udah selalu kirim duit ke dia."
"Ya, mau gimana lagi? Uang itu juga untuk biaya pengobatan ibuku, Mbak."
"Emang Bude Rini minta dikirim uang berapa?"
"10 juta."
"Apaa?! Se-sepuluh juta! Gila banyak amit, Nay." Sontak Eni langsung terkejut ketika mendengar nominal yang disebutkan oleh Nayla.
Lalu, tiba-tiba saja kedua orang itu tersentak kaget, ketika mendengar ada keributan dari lantai atas. Dengan segera kedua wanita yang bekerja sebagai pelayan itu pun langsung bergegas ingin menuju ke sana.
Sementara di lantai dua. Terlihat wanita paruh baya sedang sibuk mengetuk pintu sebuah kamar.
Tok-tok-tok ....
"Rissa ... tolong buka pintunya, Sayang!" seru Winda, sang ibu dari Larissa itu merasa sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Karena sudah sedari tadi ia mengetuk pintu kamar. Namun, putrinya itu tak kunjung mau membukanya juga.
"Kenapa anak itu belum juga membukakan pintu? Sebenarnya ke mana dia?" Rasa ketakutan mulai menyelimuti dirinya, dan pikiran buruk pun datang silih berganti hingga membuatnya cemas.
"Mah, ada apa?" tanya lelaki paruh baya yang berstatus sebagai suaminya itu dibuat kebingungan olehnya.
"Ini, Pah. Rissa dari tadi gak mau bukain pintu, Pah," jawabnya sembari menunjuk ke arah pintu kayu yang ada di hadapannya. "Mama jadi khawatir, Pah. Takut terjadi sesuatu padanya."
Seketika itu lelaki paruh baya yang bernama Aditama Putra ini ikut merasa panik. "APA! Dia tidak bukain pintu?" pekiknya kaget. "Apa-apaan anak itu? Bikin masalah saja! Apa dia gak mikir, pernikahannya hanya tinggal menghitung hari?" ujar Aditama mulai geram. Ia pun ikut mengetuk pintu.
Tok-tok-tok ....
"Rissa, Larissa! Buka pintunya!" teriaknya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar menggema ke seluruh ruangan.
Sementara di sisi lain, dengan rasa penasaran dan juga ketakutan, terlihat beberapa pelayan langsung menghampiri majikannya.
"Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tau, ada apa dengan Non Larissa?" tanya salah satu seorang pelayan wanita kebingungan.
"Dasar pelayan bodoh! Gak perlu kamu tau. Cepat kalian dobrak pintu ini!" titah Aditama kepada sang pelayan.
Tanpa berkata apa-apa, dua orang lelaki mengangguk. Lalu mereka pun bergerak mendekati pintu dan segera mendobraknya.
Brakk!
Pada akhirnya pintu pun terbuka. Lalu dengan tergesa-gesa semua orang yang ada di luar kamar segera masuk, dan betapa terkejutnya mereka di saat melihat kamar itu dalam keadaan kosong melompong tak berpenghuni.
"Larissa!" pekik nyonya besar dengan wajah yang panik. "Ke mana anak itu? Pah, L-Larissa di mana, Pah?" pekik Winda syok.
"Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya dia kabur dari rumah yang dijaga ketat! Cepat kalian semua cari Larissa sekarang juga!" teriak Aditama memberi perintah ke semua orang.
Sontak semua orang mencari keberadaan sang anak majikan. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka melihat seutas tali yang terikat di balkon menjulur ke bawah.
"Tuan, Nyonya, lihat ini!" seru salah satu pelayan.
"Pah ... lihat, kayaknya Larissa benar-benar kabur dari rumah!" ucap Winda menunjukkan tali tersebut. Aditama bergegas ke balkon. Benar saja, seutas tali menggelantung.
"Sial! Sejak kapan otak anak itu pintar melakukan ini semua?" gumam laki-laki paruh baya itu. "Tunggu apa lagi? Dasar bodoh! Cepat kalian semua cari anak itu sampai ketemu! Aku gak peduli kalian mau cari ke mana. Yang penting anak itu harus bisa ditemukan, titik!"
"Ba-baik, Tuan!" Semua para pekerja mengangguk dengan ketakutan.
"Dan ingat, jangan pernah kembali sebelum kalian bisa menemukan anak itu, MENGERTI?!" Aditama yang murka menarik tali itu lalu melemparnya dengan kasar.
"Brengsek! Kenapa anak itu pakai kabur segala? Bagaimana dengan rencanaku untuk memperbesar bisnis nanti?" kata Aditama kesal.
Selang beberapa menit kemudian. Di ruang tamu.
Aditama tampak bingung. Berjalan mondar-mandir di tengah ruangan. Winda pun ikut bingung. Putri satu-satunya kabur dari rumah, semua rencana akan gagal karena kebodohan putrinya tersebut.
Bisa saja, calon suami putrinya akan menuntut ganti rugi dan akan menarik semua investasi dari bisnisnya. Winda duduk dengan wajah cemas, sesekali jari-jari lentik itu memijit keningnya yang mulai pening.
"Tuan ... Nyonya ...." Dua pegawai lelaki telah kembali. Lalu di belakang mereka ada para pelayan. Aditama dan Winda menoleh. Kedua pasang mata kedua orang tua Larissa mencari sosok anaknya.
"Di mana anak saya? Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Winda kebingungan.
"Belum, Nyonya." Seraya menggeleng dua pelayan laki-laki itu menunduk ketakutan.
"Jadi, kalian belum bisa menemukan Larissa? Dasar bodoh! Sudah kukatakan jangan kembali sebelum kalian bisa menemukan anak itu!" bentak Aditama.
"Selama ini apa saja kerjaan kalian? Bagaimana bisa Larissa sampai melarikan diri? Bukankah aku menyuruh kalian untuk selalu mengawasinya selama 24 jam?" Dengan penuh penekanan dan mengintimidasi, Aditama merasa sangat geram.
"Ma-maafkan sa-saya, Tuan! Ini semua adalah salah saya. Karena saya yang lalai, sehingga saya tidak bisa menjaganya dengan baik," ucap Nayla, salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Larissa. Dengan terbata-bata gadis itu berusaha memberanikan diri untuk menjelaskan.
"Oh, jadi semua ini karena kamu?" Dengan tatapan tajam, lelaki paruh baya itu berjalan mendekatinya.
Dengan penuh ketakutan Nayla langsung menundukkan kepalanya.
"Coba jelaskan padaku! Bagaimana bisa Larissa bisa lolos dari penjagaanmu, huh?"
"Ta-tadi s-saya keluar sebentar, Tuan. Non Rissa ingin minum jus jeruk. Mungkin, ketika saya sedang membuat jus jeruk di dapur, Non Rissa kabur, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu kalau Non Rissa akan kabur dari kamarnya," ucap Nayla menceritakan kronologis kejadian.
"Lalu, waktu Rissa kabur tadi, kalian semua pada ke mana, huh? Masa tidak ada seorang pun yang melihatnya?" cecar Aditama menatap tajam ke arah semua orang-orang yang sedang berada di sana.
"Bukankah saya sudah mengatakan pada kalian agar selalu mengawasinya? Saya pikir, kalian saja yang benar-benar tidak bisa menjaga Larissa!" Sambil menggertakkan gigi, ingin sekali ia menghajar semua pegawainya itu. Namun, dengan cepat Winda langsung menghampirinya.
"Sabar, Pah! Sudah jangan marah-marah lagi, ya. Ingat dengan penyakit jantung, Papah!" Dengan pelan Winda mengusap-usap lengan sang suami, berusaha untuk meredakan emosinya.
"Bagaimana Papah tidak emosi? Rissa tidak ada sekarang, terus kita nanti harus bagaimana?" sahutnya cemas.
"Iya, Mamah juga bingung, kenapa Larissa malah pakai kabur segala?" ujar Winda gusar. Wanita paruh baya yang sedang berdiri di sebelah suaminya itu terlihat gelisah.
Lalu dia melirik Nayla. "Semua ini gara-gara kamu yang tidak becus jagain Rissa. Sehingga dia bisa sampai kabur dari sini!" bentak Winda melotot kesal pada Nayla.
"Ma-maafkan sa-saya, Nyonya!" ucap Nayla menunduk ketakutan.
"Lalu, apa yang bisa kamu lakukan agar kami bisa memaafkanmu?" Winda memicingkan matanya. Ia memperhatikan Nayla dari rambut hingga ke ujung kaki.
Setelah diamati gadis itu mempunyai perawakan yang sama dengan Larissa. Tiba-tiba muncul sebuah ide di benaknya.
"Apa saja, Nyonya. Apa saja akan saya lakukan agar Nyonya dan Tuan mau memaafkan saya dan juga tidak memecat saya dari pekerjaan ini!" Dengan sangat memelas gadis tersebut memohon agar tidak dipecat dari pekerjaannya.
"Ok, kalau begitu ... kamu yang akan menggantikan Larissa besok!"
Deg!
"Mak-maksud, Nyonya?" Dengan wajah yang terlihat sangat syok, gadis berlesung pipi itu menatap sang majikan dengan kebingungan.
"Kamu yang harus menggantikan Rissa menikah besok!"
JEDDERR!
"APA! ME-MENIKAH?" pekik Nayla syok.

Yossyta S
10 Pengikut · 1 Novel