“Sudah siap?”
“Sudah, dong!”
Gala dan Nabila telah bersiap hendak pergi jalan-jalan. Tujuan mereka sebelum jalan-jalan, terlebih dulu mereka berniat untuk datang ke makam Amira.
Nabila merasa rindu terhadap anak perempuannya itu. Gala yang mengerti dengan perasaan Nabila, ia menyetujui keinginan Nabila untuk pergi ke sana.
“Kita ke makamnya saudara kamu ya, Sayang. Andai Amira masih ada, pasti kamu akan senang. Kalian akan tumbuh bersama,” ujar Nabila sambil memangku Sandi.
Gala mengusap bahu Nabila. Berusaha menenangkan hati wanitanya itu.
“Kamu yang sabar, ya! Tuhan lebih sayang sama Amira. Mungkin di sana, Amira bahagia dan sedang melihat kita. Jadi, kamu jangan bersedih, ya!” seru Gala.
Nabila menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun sedih, ia telah mengikhlaskan kepergian Amira.
Mobil Gala pun telah sampai di depan gerbang pemakaman umum. Segera Gala memarkirkan mobilnya.
Sebelum masuk, mereka membeli buket bunga serta bunga mawar untuk taburan di atas makam.
“Amira … lihat Ibu bawa siapa? Ini saudara kamu, Sayang!” ujar Nabila, setelah mereka berada di depan makam Amira.
Nabila mengajak ngobrol batu nisan itu, seolah Amira sedang berada di hadapannya.
Setelah puas ngobrol, lanjut Nabila dan Gala memanjatkan doa untuk Amira. Lantas ia menabur bunga mawar dan Gala pun menaruh buket bunga di atas makam Amira.
“Kita pergi sekarang, yuk!” ajak Gala.
Nabila pun mengangguk, lantas berdiri dan berjalan meninggalkan makam Amira. Tanpa diduga, Sandi yang berada di gendongan Nabila dengan posisi menghadap ke belakang, tersenyum sambil melambaikan tangan.
Setelah berada di dalam mobil, Gala melajukan mobilnya hendak menuju taman. Nabila sangat senang mengetahui jika Gala hendak mengajaknya ke sana.
“Sampai sana aku mau makan es krim yang banyak. Kamu tidak boleh melarang, terus aku mau makan bakso yang besar. Kamu juga jangan melarang!” seru Nabila.
Gala terkekeh melihat tingkah Nabila. Sebelumnya Gala memang suka melarang Nabila memakan es krim terlalu banyak.
“Oke, untuk hari ini kamu boleh makan apa saja terserah kamu. Aku tidak akan melarang kamu,” sahut Gala.
Nabila tersenyum senang mendengar tanggapan Gala.
Suasana hari ini seperti biasa, di jalanan kota itu tampak sibuk dengan kendaraan yang lalu lalang. Beruntung, cuaca tidak begitu panas, sehingga cukup nyaman untuk mereka pergi ke taman.
“Em … Sayang, boleh aku minta sesuatu?” tanya Gala.
Nabila menoleh ke arah Gala, tampaknya ada sesuatu yang penting yang hendak Gala sampaikan.
“Minta apa, Mas?” tanya Nabila.
Gala menghela napas kasar berusaha bersikap tenang sebelum berbicara.
“Aku minta kamu hindari Ello. Aku tidak suka lihat kamu berada di dalam satu ruangan bersama dia, seperti yang tadi aku lihat,” jawab Gala.
Nabila terdiam, ternyata Gala hendak membahas masalah itu. Ia pikir Gala tidak akan berpikiran macam-macam terhadapnya.
“Maafkan aku, Mas. Tadi aku sangat buru-buru ingin membawakan bekal untuk Mami dan Papi di perjalanan. Tapi pas aku mau ke dapur, aku kira ada Mbok Min di sana. Tapi ternyata tidak, hanya ada Ello yang sedang minum. Terpaksa aku masuk ke dalam sana, dan buru-buru ambil bekalnya. Em … apakah kamu marah sama aku, Mas?” tanya Nabila.
Gala terdiam, raut wajahnya tampak datar. Ia fokus menatap lurus ke arah jalanan.
“Mas!” panggil Nabila. Akan tetapi Gala tidak menyahut.
Nabila menjadi tidak enak hati melihat raut wajah Gala yang tiba-tiba berubah. Nabila menunduk, seperti biasa ia akan meremas ujung bajunya jika dalam keadaan takut ataupun gugup.
Gala tiba-tiba terkekeh sambil mengacak rambut Nabila. Hal itu membuat bibir Nabila maju beberapa centi, dan menggerutu karena ulah Gala.
“Kata siapa aku marah? Aku suka lihat ekspresi kamu kayak gitu. Kayak anak kecil yang sedang dimarahi ayahnya. Gini, Sayang … aku cuma minta kamu hindari Ello. Masalah tadi, oke aku maklum. Aku hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi. Aku tahu, kamu wanita baik dan sudah pasti akan selalu menjaga kehormatan kamu. Hanya saja, aku tahu Ello seperti apa. Hem … ya sudah aku juga minta maaf sudah membuat kamu takut. Janji nggak bakal ulangi lagi,” ujar Gala, mengacungkan jari kelingking ke udara.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di taman yang banyak ditanami bunga. Taman itu adalah taman kesukaan Delima, sewaktu Delima dan Gala masih berpacaran.
“Indah sekali tamannya, Mas. Aku sangat menyukainya. Mas, itu ada penjual es krim. Kamu tunggu di sini, jagain Sandi sebentar. Aku mau jajan dulu!” tunjuk Nabila ke arah penjual es krim yang tidak jauh dari tempat itu.
Gala hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, menatap Nabila yang berjalan terburu-buru ke arah penjual es krim.
“Kedua ibumu sama-sama sangat lucu, Sayang. Mereka menyukai tempat ini dan tingkahnya seperti anak kecil,” ujar Gala, lalu mencium pipi Sandi.
Setelah puas menikmati banyak es krim, berfoto-foto, dan duduk-duduk memandangi bunga-bunga yang telah bermekaran. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Cuaca di langit pun tampak mendung, seperti akan segera turun hujan.
“Bagaimana, Sayang? Kamu puas?” tanya Gala, ia sedang menyetir.
“Puas sekali, Mas, nanti kapan-kapan kita ke sini lagi, ya! Es krimnya juga enak. Em … aku lupa nggak makan bakso. Tapi … sudah kenyang duluan. Tapi nggak apa-apa, bisa kapan-kapan,” jawab Nabila.
Sekelebat kilat cahaya dari langit muncul. Awan pun semakin gelap berwarna pekat. Disusul oleh suara petir yang begitu memekakkan telinga. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya.
Di pangkuan Nabila, Sandi tertidur lelap setelah diberikan ASI.
Nabila pun merasa ngantuk, beberapa kali ia menguap menahan kantuk. Hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan tak lama kemudian terlelap tidur.
“Sepertinya mereka kelelahan,” gumam Gala.
Jalanan saat ini cukup lenggang. Gala menambah kecepatan laju kendaraannya, ia ingin segera sampai di rumah. Namun, saat ia membelokkan mobilnya, seseorang tiba-tiba melintas di depan mobil yang dikendarai Gala. Membuat Gala terpaksa menginjak rem secara mendadak.
“Mas!”