Di kedalaman hutan yang sunyi, suasana tiba-tiba berubah mencekam, Juki dan
Lili kini menyadari mereka tidak sendiri. Perlahan, tapi pasti, sosok-sosok
misterius bermunculan dari balik pepohonan. Melingkar dan memutus segala jalan
keluar bagi mereka berdua.
Juki dan Lili semakin terjebak di tengah sekelompok orang berjubah dan
bertudung hitam yang berdiri mengelilingi mereka itu.
"K-kalian siapa?" tanya Lili dengan tubuh gemetar.
"K-kalian mau minta tebusan berapa?" tanya Juki yang tak kalah
gemetar dari Lili.
Anehnya, tak ada satu pun dari sekelompok orang itu yang menjawab pertanyaan
mereka. Orang-orang itu hanya berjalan mendekat sambil mengulurkan kedua
tangannya ke depan, seperti hendak mencekik mereka berdua.
"Tolong jangan apa-apakan saya ya, Bapak-Bapak atau Om-Om sekalian!
Saya ini masih ting-ting, belum pernah nikah, masih polos, belum paham hal-hal
dewasa. Jadi, tolong jangan macam-macam sama saya ya." Lili memohon dengan
sangat, karena takut kalau nanti dirinya akan dilecehkan oleh mereka.
"Hush, ngomong apa sih kamu, Li?" tegur Juki.
"Gini-gini kan aku ini perempuan cantik, Juki. Aku takut mereka
melakukan hal-hal yang tak diinginkan. Kalau itu terjadi, kan kasihan kedua
orang tuaku yang sudah susah payah membesarkan putri secantik aku ini. Hati
mereka pasti hancur kalau anak perawannya habis di tangan orang-orang nggak
jelas ini," bisik Lili panjang lebar.
"Astaga! Sok kecantikan amat sih kamu? Belum tentu juga mereka tertarik
sama kamu," cibir Juki.
"Yee, pasti tertariklah, secara aku kan cantik kayak Lisa Blackpink,
daripada kamu pakai segala nanya mereka minta tebusan berapa, sok kaya
kamu!" balas Lili.
"Lha, kan memang aku kaya," jawab Juki.
"Iya, juga sih, kamu memang anaknya orang kaya." Lili terpaksa
mengiyakan, karena itu memanglah benar adanya.
Sekelompok orang itu kini mulai memegang tubuh mereka, ada yang memegangi
bagian leher, kepala, tangan, dan juga kaki.
"Aduh, sakit! Pelan-pelan dong megangnya, sakit tahuuu!" Lili
memarahi orang-orang itu.
"Heh, kalian lancang ya! Berani-beraninya menyentuhku. Nanti kuadukan
kalian semua pada ayahku, baru tahu rasa kalian! Asal kalian tahu ya, ayahku
punya pabrik tekstil, ibuku punya butik ternama, mereka bisa bayar pengacara
mahal nomor satu di negeri ini, kalian semua pasti akan dituntut dan
dijebloskan ke penjara." Juki pun turut memarahi mereka.
Sekelompok orang itu tak memedulikan ucapan mereka berdua dan malah semakin
mencengkeram kuat setiap bagian tubuh yang mereka sentuh.
"Aaa! Sakiiitt!" Juki dan Lili malah semakin merasa kesakitan dan
leher meraka pun tercekik, sehingga membuat mereka lama-kelamaan tak lagi dapat
berkata-kata.
Saat Juki dan Lili sudah hampir tak bisa bernapas akibat cekikan di leher
mereka, tiba-tiba Jane dan Leo yang berjalan sambil membopong Julia pun tiba di
tempat tersebut, dan tanpa sengaja melihat kejadian itu.
"Woiii, apa yang kalian lakukan pada teman kami? Lepaskan mereka!"
teriak Leo lantang.
Jane pun terlihat sangat terkejut menyaksikan Juki dan Lili yang hampir mati
tercekik saat ini.
Sekelompok orang itu rupanya juga tak memedulikan kedatangan mereka. Dengan
sangat emosi, Leo terpaksa membaringkan Julia di tanah dan berlari ke arah
orang-orang tersebut.
Baru saja Leo hampir tiba dan menarik salah satu dari orang-orang itu,
tiba-tiba terdengar suara kokokan ayam hutan, pertanda bahwa hari sudah mulai
pagi, dan anehnya bersamaan dengan itu, sekelompok orang itu pun tiba-tiba
menghilang begitu saja dari hadapan mereka.
Juki dan Lili terjatuh lemas ke tanah, sementara Leo dan Jane tercengang,
lagi-lagi mereka dibuat syok dengan segala hal aneh yang terjadi di hutan
tersebut.
Setelah tersadar dari keterkejutannya, baik Leo maupun Jane segera membantu
Juki dan Lili untuk bangkit berdiri.
"Kalian nggak apa-apa, kan?" tanya Leo khawatir.
Juki dan Lili yang juga masih syok dengan kejadian tadi pun menggeleng
lemah, sambil memegangi tubuh dan lehernya yang masih terasa sakit.
"Syukurlah, kalian selamat," kata Jane.
"Apa-apaan tadi itu ya? Kenapa mereka tiba-tiba menghilang seperti
itu?" ujar Juki heran.
"Jangan-jangan mereka tadi itu hantu?" timpal Lili.
"Ah, sudahlah jangan dulu dibahas, yang penting sekarang kita semua
harus segera kembali ke vila dan mengobati luka Julia," kata Jane.
Juki dan Lili pun kini melihat ke arah Julia yang tubuhnya terluka parah dan
dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Astaga! Julia kenapa?" pekik Lili kaget.
"Ya ampun, kasihan banget Julia," kata Juki merasa sedih melihat
keadaan Julia saat ini.
"Ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan kalau sudah sampai di vila.
Sekarang kita harus cepat meninggalkan hutan ini," kata Jane.
"Iya, benar. Aku setuju, kita memang harus segera kembali ke vila dulu,
sebelum ada hal aneh lagi yang menimpa kita di hutan ini," timpal Juki.
Mereka pun bersama-sama meneruskan perjalanan untuk kembali ke vila, dengan
Leo yang masih setia membopong tubuh Julia hingga tiba di vila nanti.
***
Seiring dengan menghilangnya sekelompok orang-orang misterius yang berjubah
dan bertudung hitam tadi, maka berhenti pulalah mantra yang diucapkan dari
mulut Asep.
Baik Alex maupun Asep kini sama-sama mengakhiri ritualnya dengan hati
kecewa, karena semua hal yang mereka inginkan tak terjadi sesuai harapan
mereka.
"Sial! Semuanya jadi berantakan," geram Alex di kediamannya.
"Kenapa sih si Leo harus masuk ke hutan dan menolong teman-temannya
segala? Kalau begini kan rencanaku semalam untuk menghabisi teman-temannya itu
jadi gagal."
Alex kembali memandangi foto putranya itu dengan wajah sendu. "Maafkan
ayah, Nak, karena semalam ayah gagal membantumu," ujarnya dengan rasa
bersalah.
Kini Alex pun kembali teringat akan kejadian dua tahun silam yang menimpa
Arthur akibat kesalahan yang diperbuat oleh dirinya.
"Maaf. Maafkan ayahmu ini ya, Nak. Ayah tahu, ini semua salah
ayah." Alex menangis tersedu-sedu menyesali sesuatu di masa lalu.