


oleh Akina · 24 Bab
"Aduh, kenapa sakit sekali?" Aku membuka mata dan merasa sakit di bagian bagian bawahku. Ya, baru saja aku melalui malam pertamaku. Aku baru saja menikah dengan Mas Bagas. Namun, saat aku membuka mata aku tidak melihat keberadaan Mas Bagas di sampingku. Seingatku tadi dia tidur memelukku dari belakang. Aku yang merasa sangat haus kemudian keluar kamar untuk hendak mengambil air minum di dapur. Suasana begitu hening, pantas saja karena masih menunjukkan pukul 12 malam. Aku berjalan perlahan ke dapur justru mendapatkan suara yang tak biasa. Suara apakah itu?
“Aduh, kenapa sakit sekali?”
Aku membuka mata perlahan. Rasa nyeri menjalar dari perut ke bagian bawah tubuhku. Aku menggigit bibir, menahan sakit yang tertinggal dari malam tadi—malam pertamaku sebagai seorang istri. Rasa asing itu masih melekat, perih dan menyakitkan, bercampur dengan emosi yang belum sempat kupahami.
Aku baru saja menikah dengan Mas Bagas, pria yang dipilihkan Papa untukku. Meski semuanya terjadi begitu cepat, aku mencoba percaya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Apalagi malam tadi, kami begitu dekat. Dia tidur memelukku dari belakang, tubuhnya hangat dan napasnya menenangkan.
Tapi pagi ini—or lebih tepatnya tengah malam—saat aku membuka mata, dia tak ada di sampingku.
Aku mengedarkan pandang ke sekeliling kamar. Sepi. Hening. Korden masih tertutup, dan hanya lampu tidur kecil yang menyala redup di pojok ruangan. Jam digital di meja menunjukkan pukul 00.12. Masih terlalu malam untuk bangun, tapi rasa haus membuatku tak bisa kembali tidur.
Aku bangkit perlahan, mengerang kecil karena nyeri itu masih terasa. Dengan susah payah aku ke luar kamar, melewati lorong sempit menuju dapur. Suasana rumah benar-benar sunyi. Tak ada suara apa pun hingga langkahku terhenti di depan kamar Marina.
Seketika tubuhku kaku.
Ada suara samar. Namun, cukup jelas untuk membuat tubuhku gemetar. Desahan. Napas yang saling bertabrakan. Aku tahu suara itu—suara yang baru saja kudengar tadi malam.
Aku menahan napas dan mendekatkan telinga ke daun pintu. Rasa takut mulai menyusup ke dadaku. Tapi aku harus tahu. Aku harus memastikan ini hanya perasaanku saja.
Dengan tangan gemetar, aku menunduk dan mengintip dari celah kecil dikunci pintu. Seketika tubuhku membeku. Mataku membelalak.
Tidak.
Mas Bagas.
Dan Marina.
Mereka bergulat di atas ranjang. Seperti yang kulakukan tadi malam bersamanya. Seperti yang seharusnya menjadi hal sakral antara suami dan istri. Tapi sekarang, dia melakukannya dengan sepupuku sendiri. Di rumahku. Di malam pertamaku.
Air mata menggenang di pelupuk mataku. Aku menutup mulut, berusaha menahan isak. Tapi perihnya terlalu dalam. Dada ini sesak seolah tertindih beban yang tak terlihat. Nafasku tercekat. Luka ini menampar seluruh harga diriku.
Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus pura-pura tidak tahu? Apakah aku harus membiarkan mereka?
Tidak. Aku tidak bisa diam. Ini rumahku. Dan dia suamiku.
“Apa-apaan ini!” Aku mendobrak pintu, tapi terkunci dari dalam.
Jantungku berdebar keras. Tanganku mengepal erat, menahan emosi yang membuncah. Tak lama kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari dalam. Pintu terbuka.
Dan di sanalah dia.
Mas Bagas berdiri di hadapanku, mengenakan piyama yang sama saat kami tidur tadi malam. Di belakangnya, Marina berdiri dengan rambut berantakan dan mata setengah terpejam.
Plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mas Bagas. Tanganku bergetar setelahnya. Tapi hatiku lebih hancur.
“Kalian benar-benar tega padaku,” suaraku serak, hampir tak terdengar. “Di malam pertama pernikahanku, kalian”
Mas Bagas hanya menatapku tanpa ekspresi. Datar. Seolah aku orang asing.
“Apa, Andini?” katanya, tenang dan dingin.
Kata-katanya menusuk seperti pisau.
“Kenapa kamu melakukan ini sama Marina? Dia sepupuku, Mas. Dan kamu, Marina? Aku izinkan kamu tinggal di rumahku, tapi kamu balas dengan pengkhianatan?”
Marina malah tersenyum sinis. Ia mendekat dan meraih lengan Mas Bagas, memeluknya dengan mesra di hadapanku. Lebih mesra dari apa pun yang pernah Mas Bagas berikan padaku.
“Mbak, aku malas berbohong. Sebenarnya aku dan Mas Bagas sudah menikah jauh sebelum kalian.”
Aku mengerjap, seolah menanti bantahan dari Mas Bagas. Tapi dia hanya diam.
“Apa? Apa kamu bilang?” tanyaku, suaraku meninggi. “Katakan, Mas. Katakan itu tidak benar.”
Namun Mas Bagas mengangguk pelan. “Ya. Memang benar. Aku dan Marina sudah menikah.”
“Apa?” Aku terhuyung ke belakang. Rasanya dunia runtuh di atas kepalaku.
“Beneran, Mbak. Kita nikah siri kok. Jadi status istri sah memang Mbak, tapi aku istri pertama,” sambung Marina dengan santai. “Aku juga nggak mau punya anak, jadi dari awal pernikahan aku sudah KB. Simple, kan?”
Tanganku mengepal. Napasku tersendat. “Kalian, kalian pasti bohong”
Tapi mereka malah tertawa. Tertawa seperti mempermainkan hidupku.
“Mbak Andini yang cantik, kita memang sudah menikah. Papa-ku sendiri yang menikahkan kami. Awalnya nggak setuju sih, tapi daripada berzina, akhirnya Papa setuju. Kami saling cinta kok. Mas Bagas juga sayang banget sama aku.”
“Ceraikan aku sekarang juga, Mas!” teriakku, tak bisa menahan diri lagi.
Mas Bagas malah menggeleng. “Nggak bisa, Andini. Kamu tahu kondisi Papamu, kan? Gimana kalau dia syok terus jantungan? Kita menikah demi Papamu. Kalau bukan karena itu, mana mungkin aku nikah sama kamu.”
Kata-katanya seperti racun.
“Sayang, jangan gitu dong. Kasihan Mbak Andini nanti hatinya patah,” cibir Marina sambil menyender manja di bahu suamiku.
“Lalu, pernikahan kita itu untuk apa?” bisikku pelan.
Mas Bagas tersenyum miring. “Karena perjodohan. Aku setuju karena aku tahu pernikahan ini akan memberiku posisi penting di perusahaan keluargamu. Aku akan jadi penerus. Sayang banget kalau kutolak.”
Aku menatap mereka dengan mata basah. Luka ini terlalu dalam. Tubuhku masih nyeri, tapi yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan ini.
Aku ingin menjerit. Ingin mengusir mereka dari rumahku. Tapi suara Papa terngiang di kepala. Papa yang sedang sakit jantung, Papa yang menitipkan kepercayaan pada Mas Bagas, anak sahabatnya. Aku tak bisa merusaknya. Aku tak bisa menghancurkan hatinya.
Tapi bagaimana dengan hatiku?
Malam pertama seharusnya jadi awal kisah cinta, tapi bagiku, malam ini jadi awal dari luka panjang yang mungkin takkan pernah sembuh.

Akina
10 Pengikut · 6 Novel