Langit Cakrawala malam itu tidak gelap. Ia retak.
Garis cahaya keunguan membelah angkasa seperti luka yang dipaksa terbuka. Awan berputar liar, angin menjerit, dan tanah di bawah kaki para penduduk Kota Arkavel bergetar seolah menolak takdir yang sedang turun.
Hesti berdiri di puncak Menara Arsip, napasnya tertahan.
“Apa itu?” bisiknya, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Sesuatu di dalam dadanya menjawab. Bukan dengan suara, melainkan denyut panas yang menjalar ke telapak tangannya. Simbol aneh dan lingkaran bertumpuk dengan garis-garis bercabang, menyala redup di kulitnya.
“Tidak. Jangan sekarang,” gumamnya, refleks menutup tangan.
Langkah kaki tergesa terdengar di belakangnya.
“Hesti!” seru seorang pria tua dengan jubah abu-abu. “Turun dari situ! Gerbang Utara mengirim sinyal darurat!”
Hesti menoleh. “Pak Ardan, langitnya-”
“Aku tahu!” potong Ardan, suaranya bergetar antara marah dan takut. “Ini bukan fenomena alam. Ini pertanda perang.”
Dentuman keras tiba-tiba mengguncang menara. Dari kejauhan, teriakan membaur dengan bunyi terompet peringatan. Di balik tembok kota, cahaya merah menyala. Api, darah, atau mungkin keduanya.
Hesti menelan ludah. “Mereka datang?”
Ardan mengangguk singkat. “Pasukan Tanah Retak, dan mereka tidak datang untuk bernegosiasi.”
Di Gerbang Utara, kekacauan pecah tanpa ampun.
Prajurit-prajurit Arkavel berbaris tergesa, perisai saling berbenturan. Di luar tembok, bayangan hitam bergerak seperti gelombang hidup. Makhluk-makhluk berzirah retak dengan mata menyala merah, menghantam gerbang besi raksasa.
“Dorong! Jangan biarkan mereka masuk!” teriak Komandan Raska, mengangkat pedangnya.
“Gerbang tidak akan bertahan lama!” balas seorang prajurit, panik.
Tiba-tiba, tanah terbelah. Sebuah tangan raksasa berlapis batu mencuat, diikuti tubuh makhluk setinggi menara penjaga.
“Golem, tanah retak!” Seseorang menjerit.
Benturan pertama menghancurkan setengah gerbang.
Saat itulah Hesti tiba.
Ia tidak membawa pedang. Tidak pula mengenakan zirah. Hanya mantel arsipnya yang berkibar tertiup angin perang.
“Hesti, kau gila?” teriak Raska. “Pergi dari sini!”
“Aku tidak bisa,” jawab Hesti. Suaranya terdengar tenang meski jantungnya berdebar liar. “Ada sesuatu yang memanggilku.”
“Ini medan perang, bukan perpustakaan!”
“Justru karena ini perang,” sahut Hesti pelan. “Aku harus ada di sini.”
Telapak tangannya kembali panas. Simbol itu menyala lebih terang, memantulkan cahaya ke wajah para prajurit di sekitarnya.
“Apa itu?” tanya salah satu dari mereka, mundur selangkah.
Hesti memejamkan mata. Dalam gelap, ia melihat pintu-pintu raksasa melayang di kehampaan. Tujuh buah. Enam tertutup. Satu retak.
Suara bisikkan menggema.
Penjaga telah terbangun.
“Hesti!” teriak Ardan dari belakang barisan. “Jangan dengarkan suara itu!”
Sudah terlambat.
Golem mengangkat tinjunya, siap menghantam tanah dan meratakan barisan manusia. Refleks, Hesti mengangkat tangan.
“Berhenti!” teriaknya.
Cahaya meledak.
Bukan ledakan panas, melainkan tekanan yang membuat udara seakan membeku. Tangan golem berhenti di udara, bergetar hebat.
“Apa yang kau lakukan?” Raska ternganga.
Hesti membuka mata, terkejut sama besarnya. “Aku … aku hanya-”
Simbol di tangannya bersinar menyilaukan. Garis cahaya melesat, membelit tubuh Golem seperti rantai tak kasatmata. Dengan suara gemuruh panjang, makhluk itu runtuh, pecah menjadi bongkahan batu.
Sunyi sesaat menyelimuti medan perang.
Lalu, sorak sorai meledak.
“Kita menang!” teriak seseorang.
Hesti tidak tersenyum, ia gemetar. “Aku tidak seharusnya bisa melakukan itu,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.
Ardan mendekat, wajahnya pucat. “Hesti, apa yang kau simpan selama ini?”
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Aku yakin, ini baru permulaan.”
Di kejauhan, di balik kabut hitam, sepasang mata mengamati.
“Jadi penjaga itu akhirnya muncul,” ujar sosok berjubah gelap, suaranya dingin. “Lebih cepat dari yang kita perkirakan.”
“Haruskah kita menyerangnya sekarang?” tanya bawahannya.
Sosok itu tersenyum tipis. “Tidak. Biarkan ia tumbuh. Setiap penjaga selalu membawa kehancurannya sendiri.”
Malam semakin kacau.
Serangan berhasil dipukul mundur, tetapi kerusakan parah tak terhindarkan. Mayat bergelimpangan. Tembok retak. Jerit kesakitan memenuhi udara.
Hesti berjalan di antara para korban, membantu sebisanya. Setiap langkah terasa berat, seolah dunia menatapnya dengan tuntutan yang belum ia pahami.
Seorang prajurit muda menahannya. “Nona, tadi itu, kau penyihir?”
Hesti menggeleng cepat. “Bukan.”
“Lalu apa?”
Ia terdiam. Kata-kata terasa kosong.
“Aku juga ingin tahu,” jawabnya akhirnya.
Di menara penjaga, Ardan menunggu dengan wajah muram.
“Kau tahu apa arti simbol itu, bukan?” tanya Hesti begitu masuk.
Ardan menarik napas panjang. “Aku berharap tidak pernah melihatnya lagi.”
“Pak Ardan.”
“Itu tanda Penjaga Gerbang Cakrawala,” ucapnya pelan. “Legenda tertua. Mereka yang terikat pada tujuh gerbang langit.”
Hesti menegang. “Gerbang itu nyata?”
“Lebih nyata dari perang hari ini.”
“Lalu, kenapa aku?”
Ardan menatapnya lama. “Karena setiap era memilih penjaganya sendiri, dan era ini sedang menuju kehancuran.”
Hesti memalingkan wajah ke jendela. Retakan di langit masih terlihat, berdenyut seperti nadi raksasa.
“Jika aku penjaga,” katanya lirih. “Apa tugasku?”
Ardan menjawab tanpa ragu, “Menjaga gerbang agar tidak dibuka.”
“Jika seseorang memaksanya?”
“Seluruh Cakrawala akan runtuh.”
Hesti mengepalkan tangan. Simbol itu meredup, tetapi tidak menghilang.
“Kalau begitu,” katanya, suara penuh tekad dan ketakutan yang bercampur. “Aku harus belajar sebelum semuanya terlambat.”
Di luar, langit bergetar sekali lagi.
Seolah menjawab.
Perang baru saja dimulai.
***
“Langit itu bergerak lagi,” ujar Raska dari balik jendela menara, suaranya rendah. Namun, tegang. “Aku tidak menyukainya.”
Hesti berdiri di samping Ardan, menatap retakan yang berdenyut pelan. “Seperti mata yang mengawasi,” pikirnya. Perasaan itu membuat tengkuknya dingin.
“Pak Ardan,” katanya pelan. “Apa yang sebenarnya berusaha keluar dari sana?”
Ardan tidak langsung menjawab. Ia meraih tongkat kayunya, mengetuk lantai sekali. “Bukan apa, Hesti,” ucapnya berat. “Melainkan siapa.”
“Siapa?” Raska menoleh tajam.
“Para penuntut gerbang,” lanjut Ardan. “Mereka yang kalah pada perang pertama, terkurung di balik cakrawala.”
Hesti menarik napas. “Mereka tahu aku ada.”
“Ya,” sahut Ardan tanpa ragu. “Itulah masalahnya.”
Pintu menara terbuka kasar. Seorang prajurit berlumur darah masuk tergesa. “Komandan! Pasukan bayangan muncul di sektor timur. Mereka tidak menyerang, tapi mereka menunggu.”
“Menunggu apa?” bentak Raska.
Prajurit itu menelan ludah. “Menunggu Hesti.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Aku tidak akan bersembunyi,” kata Hesti cepat, memecah keheningan. “Jika mereka datang karena aku, maka aku yang harus menghadapinya.”
“Itu keputusan bodoh.” Raska memotong tajam. “Kau bukan prajurit.”
“Kalian bukan penjaga gerbang,” balas Hesti, suaranya bergetar. Namun, tegas.
Raska terdiam. Rahangnya mengeras. “Kalau kau mati-”
“Kalau aku lari,” potong Hesti, menatapnya lurus. “Lebih banyak yang akan mati.”
Ardan mengangguk pelan. “Ia benar.”
Raska menghela napas kasar. “Baik, tapi kau tidak sendirian.”
Di lapangan timur, kabut hitam menggantung rendah. Sosok-sosok berjubah muncul satu per satu.
“Hesti.” Suara dari balik kabut memanggil, dingin dan berlapis gema. “Penjaga yang baru terbangun.”
Hesti melangkah maju. Jantungnya berdenyut keras. Namun, tidak goyah dan ragu.
“Apa yang kalian inginkan?” tanyanya.
“Kebenaran,” jawab suara itu. “Juga kunci.”
Simbol di tangan Hesti kembali menyala.
“Aku bukan kunci,” katanya.
Sosok itu tertawa lirih. “Semua penjaga berkata demikian.”
Raska berbisik, “Perintah saja, kami serang.”
Hesti menggeleng. “Belum waktunya.” Ia menatap kabut, lalu berkata lantang, “Jika kalian ingin gerbang, kalian harus melewatiku.”
Kabut bergolak. Pedang-pedang terhunus. Busur ditarik.
Hesti sadar, tidak ada lagi jalan kembali.