


oleh Aulia Hazuki · 97 Bab
Sarni adalah penjual permen yang laris di kalangan warga, terutama anak-anak. Namun, setelah satu persatu kematian anak-anak terjadi, warga mulai curiga padanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Adikku tiba-tiba memasuki rumah tanpa mengucapkan salam. Kakinya melenggang santai menuju kamarnya. Dia bahkan lalu melewatiku yang sedang ada di ruang tamu tanpa menyapa sama sekali. Bahkan menengok pun tidak.
Aku lalu berniat menegurnya, tapi belum sempat aku membuka mulut ....
"Kalau masuk rumah tuh assalamualaikum dulu!" Langkah kakinya segera dicegat oleh Bunda. Bunda berkacak pinggang dengan wajah tegas.
Adikku langsung cemberut. Wajah anak yang tampan tapi terkesan agak nakal itu sekarang terlihat agak kesal.
"Assalamualaikum, Bun," katanya akhirnya.
Bunda menghela napas. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada tangan adikku.
"Kamu beli gulali lagi?" tanya beliau segera.
Lukman, adikku yang baru berusia 7 tahun itu mengangguk.
"Iya Bun, enak soalnya," jawabnya lalu kembali memasukkan permen ke dalam mulutnya.
"Seminggu ini udah beli beberapa kali. Jangan makan manis-manis terus!" tegur Bunda.
Lukman kembali cemberut.
"Iya Bun, besok enggak kok," katanya segera.
Aku mengalihkan pandanganku dari layar ponsel. Lukman kemudian tampak asyik kembali menjilati permen gulalinya yang berbentuk aneh.
"Bentuk apa tuh?" tanyaku segera, karena merasa aneh dengan bentuknya.
"Tung Tung Sahur," jawab Lukman segera dan kembali memasukkan permen ke dalam mulutnya.
Aku segera memutar bola mataku. Kapan anak-anak ini akan selesai bermain-main dengan anomali aneh itu?
Setelah itu Lukman masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Sudah beberapa kali dia melakukan hal itu. Semenjak beranjak memasuki sekolah dasar, dia lebih suka menyendiri dalam kamarnya. Aku tahu dia lalu akan sibuk bermain dengan ponselnya dan tidak mau diganggu siapa pun. Apalagi dia anak laki-laki, pastilah lebih ketat soal siapa yang bisa mengganggunya. Menyebalkan sih, tapi mau bagaimana lagi?
Kulihat Bunda mengernyitkan dahi.
"Kenapa, Bun?" tanyaku heran. Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Bunda.
Bunda mendecakkan lidah.
"Lukman sering sekali beli gulali di Bu Sarni itu ya? Seminggu ini sudah empat kali beli," kata beliau dengan nada kesal. Jelaslah, beliau pasti kesal kalau anaknya jajan manis terus.
Aku segera tersenyum.
"Ya gimana Bun, namanya anak-anak hehe, semua suka permen. Apalagi kalo bentuknya unik-unik," balasku.
Bunda mengangguk.
"Memang. Sejak aktif jualan, selalu ramai anak-anak beli," kata beliau.
Bu Sarni adalah nama tetanggaku. Usianya lebih tua dua tahun daripada Bunda, 42 tahun. Beliau adalah sosok yang ramah dan aktif di perumahan tempatku tinggal.
"Bunda baru tahu kalau dia ada basic bikin-bikin permen kayak gitu," kata beliau lagi.
"Mungkin ikut semacam pelatihan, Bun. Kan ada tuh pelatihan baking, mungkin termasuk bikin permen juga," balasku.
Bunda mengangguk dan tidak berbicara lagi. Beliau lalu kembali ke dapur. Aku lalu meneruskan tugas sekolahku. Aku baru saja memasuki masa krusial kelas 3 SMA. Aku harus menjaga nilaiku agar bisa masuk PTN incaranku. Apalagi aku berniat masuk dengan nilai yang sempurna di universitas negeri.
Tak lama kemudian tampak derap kaki mendekati rumahku dan ketika aku mengangkat wajah, kulihat Rama, teman sekolah Lukman muncul. Mereka sekelas di sekolah dasar yang tidak begitu jauh dari perumahan.
"Kak Adel, Lukman ada?" tanyanya.
Aku mengernyit menatapnya. Dia juga sedang makan permen gulali yang sama seperti Lukman, hanya saja punya dia bentuknya Spiderman.
"Ada," jawabku.
"Lukman! Ada Rama nih!" Aku langsung berteriak memanggil adikku.
Pintu kamar adikku dibuka.
"Eh Rama! Mau main?" sapanya dengan wajah cerah.
Rama mengangguk.
"Ayo ke lapangan. Bawa layangan ya," katanya.
Lukman mengangguk dan segera masuk kembali ke dalam kamar, lalu keluar membawa layang-layang andalannya.
"Mainnya jangan sampai kesorean ya. Sebelum maghrib udah harus sampai di rumah," kataku memberi peringatan.
"Iya," jawab Lukman pendek. Dia lalu menoleh pada Rama.
"Irham mana? Aku mau gantian main layangan punya dia," tanyanya.
"Irham nggak ikut main, sakit perut katanya dia," jawab Rama.
"Oh ya udah nanti aku pinjam punya kamu aja," balas Lukman.
Aku hanya mesem-mesem saja mendengar percakapan dua anak itu. Tak lama kemudian mereka lalu keluar rumah.
Aku meneruskan tugas sekolahku sampai waktu menunjukkan pukul 5 sore dan aku lupa kalau belum shalat Ashar. Aku segera mengambil wudu dan salat. Selesai salat Bunda menghampiriku.
"Del, jemput Lukman ya, ini udah mau maghrib."
Aku mengangguk. Lukman jelas kelamaan main sampai lupa waktu.
Aku segera keluar rumah. Aku tahu harus mencarinya di mana. Dia pasti sedang di lapangan perumahan. Cuma ada satu lapangan di sini jadi dia tak mungkin pergi jauh.
Dugaanku benar. Dari jauh aku melihat Lukman masih bermain layangan dengan Rama. Ada dua anak lebih besar lainnya yang juga bermain dengan mereka.
"Lukman, ayo pulang!" panggilku.
Lukman menoleh.
"Bentar, Kak!" katanya. Dia lalu meneruskan bermain.
Aku mendecakkan lidah. Mulai malas ketika dia enggan diajak pulang. Aku lalu memutuskan untuk memberinya kelonggaran waktu lima menit.
"Aku pulang dulu gaes." Tiba-tiba salah satu anak yang lebih besar berkata sambil menggulung benang layangannya.
"Ya udah aku ikut pulang kalau gitu. Nggak seru kalo cuma main bertiga," kata Lukman.
Alhamdulillah, pikirku segera. Jadi aku tak perlu menunggu lama-lama lagi.
Si anak yang pamit duluan lalu berjalan melewatiku sambil menundukkan badannya. Aku mengangguk padanya.
Aku segera menoleh pada Lukman.
"Lukman! Ayo pu ...!" Seruanku terpotong oleh suara keras.
BRAKKK!!!
"AAAHHH!!!"
Jantungku serasa berhenti. Aku menoleh ke belakang tanpa sadar dan segera terkesiap.
Itu anak yang tadi bermain dengan Lukman! Anak yang pamit duluan untuk pulang. Dan barusan, sebuah mobil baru saja menabraknya.
"Aliii!!!" teriak Lukman segera menyadarkanku.
"Lukman, jangan lihat!!!" Aku segera memeluk adikku untuk memblokir pandangannya dari adegan mengerikan yang sedang terjadi.
"K-kak! Ali, Kak!" serunya dalam pelukanku. Dia berontak.
Aku segera mengeratkan pelukanku.
"Ssst, jangan lihat, Lukman!!!" seruku memerintahkannya.
Dengan mata membelalak lebar aku melihat mobil yang menabrak teman Lukman segera berhenti. Pengemudinya keluar dengan wajah pusat pasi.
Di depan mobilnya, di jalan depan lapangan, kulihat setengah tubuh teman Lukman sudah berada di bawah mobil, tergilas. Darah mulai mengalir deras di jalanan.
Kepala anak itu tiba-tiba bergerak, dan tiba-tiba menoleh ke arahku.
"To-long ...."
Darah lalu membanjir keluar dari mulutnya.
Wajahku semakin pucat pasi. Anak itu memandangku untuk terakhir kalinya sebelum kepalanya terkulai dan matanya menutup.

Aulia Hazuki
32 Pengikut · 6 Novel