


oleh swnababan · 9 Bab
Mas Rangga adalah laki-laki pilihanku. Semua harta yang diberikan orang tuaku telah diserahkan padanya agar terlihat berwibawa di depan banyak orang. Namun, kepercayaan dan cintaku padanya tega dia khianati. Seorang asisten dan teman dekatku telah menjadi duri dalam rumah tangga yang kujalani selama enam tahun tanpa keturunan. Apa kurangnya aku sebagai seorang wanita kaya dan cantik? Bukankah semua yang dimiliki Mas Rangga adalah milikku? Begitupun, aku tak ingin membuatnya malu dengan menarik semua fasilitas yang ada. Haruskah aku meninggalkannya bersama perusahaan pemberian papaku? Apa tindakan yang harusnya dilakukan untuk menghukum mereka?
“Kok Mas Rangga belum angkat teleponku, sih? Dichat WA juga centang satu. Pake telepon WA juga tidak berdering. Di mana dia?” tanyaku pada teman yang dari dulu hingga sekarang.
“Kali aja dia sibuk sama perempuan-perempuannya. Apa kamu nggak tahu, kalau dia sekarang lagi dekat sama cewek yang tak kalah cantik sama kamu?” sahut temanku, saat kami mengobrol pada sebuah kafe hanya sekedar membuang suntuk saja.
“Jangan ngaco kamu, ah. Mas Rangga itu nggak kayak gitu. Jangan suka fitnah suamiku. Kamu nggak enak banget, loh,” rutukku pada Marcella. Teman dekat waktu aku bekerja di satu perusahaan. Setelah menikah dengan Mas Rangga, aku disuruh resign dari kantor dan hanya menunggu di rumah saja dan melayani makan suamiku pulang dari kantor.
Sejak dua jam yang lalu, aku belum bisa menghubungi Mas Rangga. Tak biasanya dia mengabaikan panggilanku melalui telepon seluler. Tadi pagi dia tidak berpesan apa pun untuk tidak bisa diganggu ketika sampai di kantor nanti. Biasanya jika ada rapat atau meeting dengan klien, pasti akan memberitahu sebelum berangkat menuju kantor.
Hari kemarin adalah hari yang paling menyedihkan bagiku. Aku mencium bau parfum wanita yang sama sekali aku nggak pernah punya wangi parfum tersebut. Sebenarnya aku nggak curiga, cuma aku heran saja, kenapa akhir-akhir ini Mas Rangga seperti kurang peduli padaku. Bukti memang belum ada, tapi hatiku mulai nggak enak dan merasa ada yang ingin menyakiti.
Meski aku masih tetap mengobrol asyik dengan Marcella, tapi hati dan pikiranku tetap pada Mas Rangga. Begitu pedulinya aku dengan keadaannya, sampai-sampai makanan dan minuman yang telah terhidang di meja, belum bisa aku nikmati meskipun sudah dicicipi beberapa saja. Lagi-lagi Marcella meledek aku, agar jangan suka percaya pada laki-laki yang sifatnya aneh dalam waktu terakhir.
Aku nggak bisa menyalahkan Marcella dengan semua cerita yang menakut-nakutiku. Karena dia juga korban dari perselingkuhan suaminya dengan sekretaris yang wajahnya tak begitu cantik. Hanya karena ingin punya jabatan tetap dan mendapatkan uang lebih dari seorang bos perusahaan, sekretarisnya itu rela untuk ditiduri hingga hamil.
Pada tiga bulan pertama, Marcella tak mengetahui kalau suaminya akan memiliki anak dari rahim lain. Namun, cerita yang dirahasiakan suaminya itu tercium ketika Marcella menemukan dua buah tespek dari dalam tas kerja suaminya. Awalnya tak mengakui, tapi karena desakan dari Marcella dan mengancam untuk menarik semua fasilitas beserta perusahaan milik orang tuanya, maka suaminya mengakui semuanya.
Ternyata Marcella bukan perempuan yang bodoh dan mau menjadi boneka dalam rumah tangganya. Dia memaafkan segala kesalahan suaminya dengan tetap menarik semua fasilitas yang ada.
Aku yakin kalau Mas Rangga adalah tipe laki-laki setia. Dia tak akan punya bakat selingkuh seperti suaminya Marcella. Aku bisa yakinkan itu karena kehidupan Mas Rangga sebelum menikah denganku juga sama dengan suaminya Marcella. Mereka kaya dan memiliki segalanya seperti sekarang ini setelah menikahi kami.
[Mas belum bisa pulang sore ini. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Apalagi ini akhir tahun. Tahulah seperti apa perusahaan kalau sudah tutup buku. Sampai-sampai makan pun tak sempat lagi karena saking asyiknya ngurusin kerjaan.]
Mas Rangga mengirimkan pesan lagi melalui ponsel.
[Emangnya Mas lembur sampai malam?]
[Mas belum tahu, Sayang. Ini aja meeting belum selesai.]
[Kalau memang belum selesai, kenapa Mas bisa chat aku? Harusnya nggak bisa dong.]
[Iya, memang belum selesai. Kebetulan kami istirahat sekitar sepuluh menit karena semuanya pada mumet. Apalagi sekarang perusahaan kita, kan makin meningkat. Jadi banyak yang harus dilaporkan, agar tak salah dalam menghitung keuangan.]
[Tapi, Mas. Jangan lama pulang, ya. Aku kesepian di rumah. Takut.]
[Iya, mas akan pulang secepatnya kok. Kalau kamu kesepian, ajak tuh, temen kamu main ke rumah.]
[Ya, udah, Mas. Nanti aja.]
Setelah berkirim pesan dengan Mas Rangga, aku mulai lega. Tak ada pikiran negatif yang tercipta untuknya. Aku percaya dengan semua ucapan suamiku. Dan harus percaya demi keutuhan rumah tangga.
Untuk menghilangkan jenuh karena tak memiliki lawan bicara di rumah, kebetulan Bi Darsi, asisten rumahku, pergi ke rumah saudaranya yang sedang menggelar hajatan dari pagi hingga malam, aku membersihkan beberapa laci. Barang-barang yang tak terpakai lagi akan dibuang, agar tak memenuhi tempat untuk menyimpan benda-benda yang bentuknya kecil.
Ketika membersihkan laci yang sangat jarang kubuka, ditemukan sebuah blanko transferan yang jumlahnya tidak sedikit. Setelah melihat nominal uang tersebut, berjumlah enam juta rupiah. Nama yang tertera pada nomor rekening yang dituju adalah Marcella.
Sampai tiga kali aku membaca nama itu. Nama itu benar-benar Marcella. Aku belum tahu betul ini Marcella siapa. Kulihat tanggal pengiriman sekitar tiga hari yang lalu. Itu artinya uang itu dikirim sebelum aku bertemu dengan Marcella. Apakah Marcella yang dimaksud adalah temanku? Ah, tak mungkin, karena Marcella juga pernah menjadi korban perselingkuhan suaminya. Jadi tak mungkin kalau dia membalas perselingkuhan itu dengan suamiku pula.
Aku masih heran, kenapa Marcella bisa menuduhkan perselingkuhan pada suamiku dengan wanita lain, kalau memang perempuan itu adalah dia sendiri? Aku jadi ragu dan tak percaya atas apa yang telah kutemukan hari ini.
Untuk pembuktian selanjutnya, aku kembali lagi mencari blangko transparan lainnya yang dilakukan oleh Mas Rangga. Namun, hanya kertas ini yang terlihat. Sebaiknya aku berpikiran positif saja, bisa saja Marcella meminjam uang pada suamiku atau suamiku yang berhutang pada Marcella. Atau Marcella yang dimaksud adalah orang lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Semoga saja tidak terjadi apa-apa, dan pikiranku yang buruk tentang mereka tidaklah benar.
Pukul 09.00 malam, Mas Rangga belum juga pulang. Kabarnya terlambat sampai rumah pun belum ada. Aku paling benci kalau harus sendirian di rumah, karena aku penakut dengan hal-hal yang berhubungan dengan hantu. Suara cicak saja pun, sudah kuanggap kalau hantu sedang melihatku dan ingin mengganggu.
Bi Darsi belum juga pulang sejak pagi. Kalau ada dia, ketakutanku akan berkurang. Apalagi malam ini gerimis turun disertai gluduk. Menambah ketakutanku menjadi sempurna.

swnababan
2 Pengikut · 1 Novel