“Apa? Dunia manusia?! Nggak salah kasih nama, ‘kan?”
Suara Vega menggema di aula Akademi Sihir Utara, membuat beberapa burung unta bersayap dua yang sedang menyapu langit-langit kaget dan langsung menabrak tembok.
“Vega Arkalis, tolong jaga volume suara. Ini akademi, bukan pasar lelang naga,” ujar Master Relan tenang, tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen magang.
Vega mengerutkan dahi, rambut merah tuanya berantakan ke segala arah, mata melotot ke arah secarik kertas yang masih panas di tangan.
“Tiga bulan? Di dunia manusia? Tanpa sihir? Master, ini bukan magang. Ini pembuangan!”
Master Relan hanya menghela napas. “Ini tugas wajib. Semua penyihir muda harus memahami dunia manusia sebelum jadi penyihir penuh. Lagi pula, kamu perlu belajar hidup dengan disiplin. Bukan sihir untuk hal remeh setiap lima detik.”
Vega mengangkat tangan, menghitung dengan jari.
“Saya cuma pakai sihir buat hal penting, Master. Contohnya, teleportasi ke kamar mandi.”
“Kamu teleport ke kamar mandi dosen dua kali minggu lalu,” potong Relan dingin. “Termasuk saat beliau sedang di dalamnya.”
Vega tersenyum kikuk. “Itu, kecelakaan. Sumpah.”
Master Relan berdiri, menyerahkan sebuah koper tua, dan menyodorkan benda seperti bros mungil berkilau biru.
“Ini bros penyegel. Selama kamu pakai, sihirmu terkunci. Kamu magang sebagai manusia biasa. Tanpa trik, mantra, dan jangan buat ribut.”
Vega menatap benda itu seolah baru saja diberikan hukuman mati.
“Apa saya bisa, ganti tempat? Dunia peri? Lembah naga? Bahkan zona waktu patah juga saya mau.”
“Tidak bisa.” Master Relan menepuk pundaknya. “Bersikaplah seperti manusia. Bertahanlah selama tiga bulan. Jangan pakai sihir. Dunia manusia sangat rapuh terhadap energi kita.”
“Rapuh? Master, saya pernah lihat manusia nonton sinetron 100 episode tanpa berhenti. Itu bukan rapuh, tapi keras kepala akut.”
Relan menatapnya datar. “Pergi sebelum saya ubah kamu jadi bunga plastik.”
“Baik, baik! Kalau saya balik dalam tiga minggu, jangan salahin saya.”
“Tiga bulan.”
Vega masih menatap bros penyegel itu dengan tatapan seolah diminta menikah dengan lintah raksasa.
“Aku yakin ini salah kirim. Nama Vega kan ada dua, mungkin satu lagi yang harusnya magang ke dunia manusia? Vega, yang kutu buku itu?”
“Cuma ada satu Vega Arkalis di seluruh akademi ini,” sahut Relan tanpa ekspresi. “Itu kamu.”
Vega menatap sekeliling, berharap ada portal terbuka secara ajaib dan menyelamatkannya. Tidak ada. Hanya suara burung sapu bersayap dua yang kembali menabrak dinding karena trauma suara barusan.
“Aku bersumpah, akan patuh mulai sekarang! Lihat!” Vega membuka catatan sihirnya. “Aku sudah menuliskan niat hidup disiplin hari ini!”
Relan mengintip ke kertas itu. Tertulis,
“Niat hidup disiplin. Mulai besok, atau minggu depan. Kalau inget.”
Ia menutup kertas pelan. “Kamu berangkat sekarang!”
“Ya ampun, ini nggak adil!” teriak Vega. “Aku bahkan belum nge-pack lip gloss ajaibku!”
Relan mengangkat tongkat, dan portal mulai terbuka perlahan. Berputar di udara seperti pusaran air, membentuk lorong bercahaya.
Saat Vega hendak diseret paksa masuk, ia berbalik arah, melesat ke ruang asrama, menendang pintu kamar yang setengah terbuka, dan menghambur masuk.
“Aku butuh waktu! Setidaknya sehari buat persiapan batin!”
Beberapa menit kemudian ....
Dug-Dug-Dug!
Vega muncul kembali di lorong utama sambil menyeret koper besar, membawa boneka naga pink ukuran jumbo di pelukan kiri, dan panci emas yang dijadikan helm di kepala.
“Aku pergi dengan gaya!” teriaknya sambil berlari kencang melewati para siswa dan staf yang melongo.
“Itu, dia bawa panci?” tanya salah satu murid pelatihan ramuan.
“Itu panci sup akademi! Dia maling!” bentak koki kantin yang langsung mengejar, tapi menyerah karena napasnya habis di tangga pertama.
Vega terus melaju seperti angin, menerobos taman sihir, memanjat patung pendiri akademi yang entah kenapa sekarang berubah jadi ayam. Dia naik ke atap menara teleportasi.
“Aku tidak akan dikirim ke dunia manusia! Hidup dunia sihir! Tolak realita!”
Seisi akademi geger. Beberapa murid menjatuhkan ramuan, seekor naga kecil pingsan karena panik.
Vega berdiri di ujung menara teleportasi akademi, rambut merahnya berkibar tertiup angin. Ia memegang bros penyegel seperti senjata.
“Aku akan lompat ke Zona Waktu Patah! Lebih baik hidup di dimensi bolak-balik daripada di dunia manusia!”
“Vega.”
Suara itu menggema seperti suara gema dalam gua.
Langit yang cerah berubah kelam. Angin berhenti. Awan bergulung-gulung membentuk siluet wajah raksasa. Aura sihir kental menekan udara hingga semua penyihir muda di akademi ikut berlutut.
Sosok Dewa Sihir muncul dalam bayangan langit. Tak ada yang bisa melihat wajahnya dengan jelas, hanya sepasang mata bercahaya dan jubah bintang melayang-layang di langit.
“Vega Arkalis.”
Vega mendongak, lehernya nyaris kaku. “Ya, Yang Maha Misterius, sekaligus menakutkan?”
“Kamu telah diberikan banyak kesempatan dan mengacaukannya. Kini waktunya belajar. Jika gagal, kamu tidak akan kembali sebagai penyihir.”
Petir menyambar tepat di samping menara.
Vega tersentak dan langsung melompat ke belakang sambil berteriak, “Oke! Oke! Saya berangkat! Tidak perlu efek soundtrack maut begitu!”
Vega kembali ke aula, berdiri lunglai di depan Master Relan. Wajahnya pucat, bros penyegel kini sudah terpasang rapi di dada, dan kopernya terseret seperti nasibnya.
“Aku, aku siap.”
“Bagus.” Relan menepuk pundaknya. “Satu hal lagi.”
“Apa?” tanya Vega lesu.
“Jangan pakai sihir untuk hal konyol seperti menggoreng telur dari kejauhan atau mengubah kamar mandi menjadi jacuzzi.”
Vega menarik napas. Dalam. Sangat dalam.
“Aku, akan berusaha menjadi manusia normal.”
Portal terbuka lagi. Kali ini Vega melangkah sendiri, meskipun masih sempat melirik balik dan bergumam, “Kalau aku mati di sana gara-gara nggak bisa menyalakan kompor, tolong tulis di batu nisanku. ‘Dibuang oleh Dunia Sihir’.”
Begitu kakinya menyentuh pusaran portal, angin dari dimensi seberang langsung menerpa wajah. Hangat, agak berdebu, dan berbau, gorengan?
“Seriusan?” gumam Vega, menahan napas. “Duniaku penuh aroma lavender dan kabut embun. Ini? Kayak festival tahu isi.”
Tubuhnya meluncur dalam lorong cahaya yang bergelombang, penuh warna-warna cerah berkedip tak karuan. Ia sempat berputar dua kali, nyaris kehilangan koper dan boneka naganya.
“Oke. Jangan muntah. Jangan muntah. Jangan–”
BRAK!
Vega mendarat dengan keras di atas tumpukan kardus bekas di sebuah gang sempit. Boneka naganya mencium wajah.
“Selamat datang di dunia manusia,” desisnya lemah, dengan satu kaki masih menyangkut di koper.
Seorang ibu-ibu lewat sambil membawa kantong belanja.
“Astaghfirullah! Ada anak jatuh dari langit!”
“Saya mahasiswi pindahan,” ujar Vega sambil bangkit setengah konyol. “Luar kota. Jauh. Agak beda galaksi.”
Ibu itu menatapnya curiga, lalu melanjutkan jalan sambil berbisik, “Pasti anak konten.”
Vega mengeluh pelan, menyeret koper keluar gang sambil menatap dunia barunya.
“Tiga bulan. Tanpa sihir, dan kemungkinan besar aku akan mati.”
Ia menatap bros penyegel di dadanya, yang kini berpendar biru lembut seperti mengejek.
“Oke, manusia. Mari kita lihat siapa yang menyerah duluan.”