


oleh Ynurnun · 35 Bab
Ia tidak bersalah. Namun, fitnah itu berhasil menghancurkan kehormatan dan hidupnya. Fitnah yang ditelan mentah-mentah oleh warganya yang membuat tatapan mereka berubah lebih cepat dari membalikkan telapak tangan. Namanya, Rindang. Sejak hari itu, kehidupannya berubah drastis. Ia merasa kehancuran selalu berada di depan mata. Sebab, hidup tanpa kehormatan sama saja seperti bergerak, tetapi tak bernyawa. Hidupnya berjalan di balik tatapan tak suka dan menjijikkan. Lagu-lagu yang mengiringi setiap detik hidupnya adalah cibiran. Kata ibunya, "Kamu harus menikah dengan Dahlan untuk mengembalikan kehormatan dan marwah keluarga." Siapa Dahlan? Lalu, benarkah apa yang dikatakan ibunya?
Jilbab besar yang membungkus kepalanya beterbangan tersapu angin. Sesekali, ia harus merapikannya, agar aurat yang selalu ia tutup rapat tidak terekspos dan menjadi tontonan orang yang bukan muhrimnya. Sebab, ia terlalu menjaga kehormatannya agar tak ternoda sedikit pun.
Rindang, orang-orang kerap memanggilnya. Ia baru saja pulang setelah hampir seharian mengajar di madrasah sebagai seorang guru tanpa pamrih. Bukan uang yang memanggilnya untuk menebar ilmu pada anak-anak di kampung yang gila sekali belajar meski dengan sarana seadanya. Akan tetapi, sebuah panggilan jiwa yang tak bisa ditepis oleh perempuan dua puluh dua tahun itu. Senyum yang ditebar oleh wajah-wajah polos muridnya selalu berhasil menjadi obat lelahnya. Rindang beruntung setiap hari mendapatkan hadiah senyum tulus setelah belajar.
"Baru pulang dari sawah, Bu?" sapa Rindang pada seorang ibu tua yang berpapasan dengannya. Tidak ada sahutan seperti biasa. Tatapan wanita itu juga berubah—terlihat sinis dan menjijikkan. Seolah Rindang sedang membawa sampah berbau busuk di tubuh.
Rindang tentu saja bingung. Namun, otaknya yang sudah disetir sejak awal untuk tidak suudzon pada orang lain mengantarkan Rindang pada pikiran positif. Barangkali, ibu itu sedang lelah, pikirnya. Kemudian, ia melanjutkan langkah kaki di jalan setapak berdebu.
Rindang tak hanya berpapasan dengan ibu tua itu. Banyak warga lainnya yang biasa ia jumpai setiap harinya. Namun, raut wajah yang ditunjukkan oleh mereka tak jauh berbeda. Rindang dibuat bingung. Ia sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ada apa dengan orang-orang?
Tak ingin mengambil pusing lebih lama. Perempuan yang selalu membiarkan kakinya lebih sering tertutup debu karena berjalan di jalan setapak daripada naik ojek atau becak itu melanjatkan kembali ayunan langkahnya. Ia tidak ingin lebih lama terjebak dalam pikiran-pikiran aneh yang jatuhnya nanti suudzon.
Senyuman Rindang masih terus terpatri manis membingkai wajah yang dengan kulit sawo matang itu. Ia tidak berkulit putih mulus, tetapi ia sangat manis dengan pancaran ketulusan di wajahnya. Semua orang merasakan itu. Tidak heran jika para pemuda di kampung menjadikan Rindang sebagai sasaran menambatkan hati. Sayangnya, Rindang tidak ingin membuka hati kepada mereka yang hanya berniat menjalin hubungan tanpa kejelasan yang pasti. Rindang tidak ingin berpacaran, tetapi ia ingin langsung membawa hubungan yang terjalin ke dalam ikatan halal.
Langkah Rindang yang pasti tiba-tiba berhenti. Sepasang bola mata cantik miliknya menangkap sebuah pemandangan yang menggetarkan dada ketika ia sudah tiba tak jauh dari pekarangan rumahnya. Banyak warga berkumpul di sana. Namun, tidak ada raut wajah kesedihan yang ia lihat dari orang-orang. Tidak ada juga terlihat ada bendera kuning terpasang di pagar. Hanya gerak bibir manusia yang tak terbaca.
Rindang tersentak ketika sebuah teriakan tertangkap indra pendengarannya. Tatapannya langsung jatuh pada seorang pria yang berdiri angkuh di pintu pagar bambu.
"Itu dia!"
Tatapan pria itu nyalang. Jari telunjuknya tajam menunjuk ke arah Rindang. Perempuan itu bingung melihat perlakuan pria yang dikenal dengan sapaan Karmin itu.
Rindang menoleh ke belakang. Tidak ada satu pun manusia yang berdiri di dekatnya. Hanya ia sendiri dalam keadaan bingung. Jadi, yang dimaksud Karmin adalah dirinya, 'kan?
Orang-orang yang berdiri di pekarangan rumah bergerak mendekati Rindang yang masih terpaku. Dalam waktu singkat, orang-orang sudah berkerumun. Lalu, muncul Karmin dari balik kerumunan itu dan berbicara dengan nada keras.
"Dia sudah melakukan hal yang tidak-tidak di madrasah! Dia sudah menodai nama madrasah!"
Kening Rindang mengkerut dalam. Ia tidak paham apa maksud arah bicara Karmin. Namun, saat Rindang hendak angkat suara, kecaman demi kecaman lebih dulu terdengar memekakkan telinga.
"Bunuh saja dia!"
"Usir dia dari kampung ini!"
"Pelacur!"
Sumitro datang menjadi garda terdepan untuk putrinya dan menghentikan suara-suara berisi kecaman dan hinaan keras. "Tunggu dulu, Bapak, Ibu!" ucap Sumitro dengan nada tinggi agar suaranya tidak tenggelam oleh apa pun juga. "Memangnya ada buktinya, kalau anak saya melakukan hal hina seperti yang dituduhkan?"
"Saya melihatnya sendiri, Bapak, Ibu. Rindang berpegangan tangan dan berpelukan di madrasah," ucap Karmin setelah melihat ekspresi wajah warga yang mulai berubah. Karmin berbicara tanpa ragu. Seolah apa yang ia katakan adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.
Siapa pun yang berbicara atas nama Dahlan—tuan tanah dan orang terkaya di kampung Area—pasti akan dipercaya. Seperti ucapan Karmin kali ini. Kalimat yang terucap begitu lantang dari bibir hitam Karmin langsung ditelan mentah-mentah. Mereka mengecam Rindang tanpa ampun meskipun tidak ada bukti nyata yang ada di genggaman kaki tangan si Dahlan itu.
"Bagaimana, Bapak, Ibu, bisa mempercayai suara tanpa bukti? Itu, kan, jatuhnya fitnah," ucap Sumitro masih berdiri tegak membela putrinya yang sudah bergetar ketakutan. Ia memeluk Rindang dengan erat. Seolah menegaskan, bahwa ia akan selalu membela Rindang sampai kapan pun. Karena, Sumitro yakin apa yang dikatakan Karmin adalah fitnah belaka.
"Pak Sumitro, saya tahu pasti Bapak akan membela Rindang. Karena, Rindang adalah putri Bapak. Tapi, Rindang sudah melakukan perbuatan yang salah dan hina, Pak," ucap Karmin dengan cepat.
"Benar, Pak Sumitro. Anak Bapak sudah mencemarkan nama baik madrasah," sambung seorang pria yang rambutnya mulai beruban.
Rupanya, tidak ada yang mau mempertimbangkan pembelaan dari Sumitro. Mereka sudah terlanjur percaya dengan ucapan Karmin. Ingat! Apa pun yang bersangkutan dengan Dahlan, orang-orang pasti akan mempercayainya tanpa perlu menimbang lebih dulu.
Sumitro kalah telak. Ia tidak bisa melawan banyak orang sekarang. Tidak ada yang bisa Sumitro lakukan selain meminta maaf atas nama putrinya agar Rindang tidak dihakimi dengan sadis.
"Kalau memang apa yang dikatakan itu benar. Saya meminta maaf atas nama putri saya, Rindang," ucap Sumitro penuh permohonan. Ia bahkan rela berlutut agar putrinya selamat dari penghakiman yang sebenarnya sangat tidak adil.
Rindang tidak rela melihat ayahnya berlutut. Rindang berteriak dengan sekeras yang ia bisa. "Saya tidak pernah melakukan apa-apa! Kalian bisa tanya anak-anak di madrasah."
Namun, percayakah mereka pada Rindang? Jawabannya, tentu saja tidak. Mereka sudah tercuci otaknya oleh Karmin dan kekuasaan Dahlan.
"Tidak ada maling yang mau mengakui kesalahannya," jawab Karmin.
Lalu, seorang ibu ikut menimpali. "Tidak ada maling teriak maling."
"Demi, Tuhan. Saya tidak pernah melakukan apa yang sudah dituduhkan," ucap Rindang lagi agar semua orang percaya padanya. Air matanya semakin tidak terbendung. Tubuhnya bergetar menghadapi kejadian yang begitu tiba-tiba seperti ini.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, Rindang. Kamu sudah membuat Tuhan-Mu marah," ucap seorang warga.
Apa yang harus Rindang lakukan sekarang? Ia tahu hukum yang berlaku di kampung Area. Siapa pun yang ditemukan melakukan hal zina, pasti akan diarak dalam kondisi tubuh tidak tertutup sehelai benang pun. Rindang tidak mau itu terjadi hanya karena tuduhan tanpa pembuktian.
"Pelacur seperti dia harus diarak keliling kampung!"
Sumitro langsung berdiri. Ia menolak keras keputusan itu. Bagaimana mungkin anaknya yang ia yakini tidak bersalah harus membayar fitnah dengan hal keji seperti itu? Tidak! Sumitro tidak mau melihat putrinya terjajakan kehormatannya.
"Anak saya tidak bersalah! Jadi, dia tidak berhak diarak seperti seorang pelacur!" tegas Sumitro.
Karmin tersenyum penuh kemenangan. Bukan Rindang harus diarak yang ia inginkan. Akan tetapi, keinginan hati tuannya.
"Bapak, Ibu, tenang dulu. Kali ini, kita maafkan saja Rindang," ujar Karmin.
Lalu, siapa yang bisa menolak perintahnya sekarang? Tidak ada, tentunya. Para warga hanya manut dengan ucapan Karmin.
"Tapi, kami tidak mau kalau anak-anak kami diajar sama seorang pelacur. Akan jadi apa anak-anak kami nanti?" protes seorang warga.
"Kalau itu, terserah, Bapak, Ibu, saja nanti," jawab Karmin. "Sekarang, lebih baik kita bubar dulu."
Semua orang berhamburan dari kerumunan itu. Tersisa Rindang dan Sumitro yang terduduk di atas tanah kering berdebu.
"Pak, Rindang nggak pernah melakukan apa yang dituduhkan Pak Karmin," ucap Rindang dengan nada bergetar menahan tangis.

Ynurnun
50 Pengikut · 4 Novel