


oleh Jelitamelisasari · 21 Bab
Hasnia Daeng Sugi, perempuan yang masih terlihat seperti remaja SMA di usianya yang sudah menginjak 25 tahun itu, yang hidupnya selalu dibatasi oleh bapaknya, menyebabkan dia jomlo dari lahir. Mungkin kalau dia ditanya: "Memangnya suami sempurna itu seperti apa?" "Hasanuddin Daeng Tobo," jawabnya jujur dengan nada malu-malu, tetapi mau. Walaupun setelah itu, ia harus menelan pil pahit, setelah melihat dari jauh Tobo sedang merangkul seorang perempuan dan gosip Tobo akan segera menikah sudah beredar bagai virus yang sangat dikutuk kehadirannya. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tak seperti beberapa tahun yang lalu, kali ini keluarga dekat maupun jauh semua berkumpul, membuat rumah yang tadinya sepi jadi ramai karena hari ini sedang ada acara akikah kemenakan yang kedua dari Hasanuddin Daeng Tobo.
Selama keluarga yang lain sedang sibuk berbincang dan berlalu lalang memenuhi rumah besar ini, Tobo justru mendudukkan dirinya sambil bermain handphone di salah satu kursi yang terletak di halaman belakang rumah kakaknya, sang empu acara, Syarifah Daeng Rampu.
Tobo menyendiri karena tadi ada telepon masuk, serta ingin menghindar dari pertanyaan keramat yang selalu ditanyakan tiap hari oleh mamanya. Yaitu, "Kapan kau nikah?"
"Kak, kita sudah punya calon tidak? Atau kita sudah punya pacar? Eh, tapi tidak pernah kulihat saya."
Tiba-tiba dari arah samping seorang laki-laki muda menegur Tobo sambil memegangi pundaknya. Laki-laki itu kemudian ikut mendudukkan diri di sampingnya.
Tobo sekilas berjengit kaget dan hampir saja menjatuhkan handphone-nya yang bisa dilipat tiga itu.
Maka pria yang sudah berusia 30 tahun itu pun mematikan handphone-nya, lalu ia simpan dalam kantong baju kemeja batiknya.
"Oh Rusdi! Apa kabar kau? Sudah lama saya tidak pernah lihat ko!" tegur Tobo ramah, serta berusaha ingin mengalihkan pertanyaan awal dari Rusdi.
Rusdi ini sepupu Tobo dari pihak Tettanya (Bapak). Mereka terpaut delapan tahun kalau tak salah ingat, serta Rusdi dan keluarganya tinggal di kota, tepatnya di Jl. Tanjung Bunga.
"Alhamdulillah, saya baik-baikja, Kak. Saya biasaja juga ke sini, masa tidak dilihatka?" Rusdi terlihat sedikit kecewa karena Tobo tak menyadari kehadirannya, padahal ia sangat mengidolakan pria matang di sampingnya ini.
Tobo tersenyum canggung. "Oh begitu? Mungkin sibuk sekalika jadi tidak sadarka kalau ada ko," balas Tobo, ia benar-benar tak pernah melihat Rusdi akhir-akhir ini.
Rusdi manggut-manggut paham, memaklumi pekerjaan sang kakak sepupu yang memang banyak sekali, apalagi ia memang tak pernah menegur Tobo. Baru kali ini ia memberanikan diri sebab Tobo terlihat santai sambil senyum-senyum tipis di depan layar handphone.
"Jadi Kak Tobo sudah punya pacar tidak? Atau kita sudah punya calon istri?" Pertanyaan ulang Rusdi yang membuat Tobo menghela napas dalam, dia sudah benar-benar muak mendengar pertanyaan serupa.
Sebaliknya, Rusdi bertanya karena berpikir kalau penyebab Tobo sibuk di depan layar handphone, sambil tersenyum-senyum itu karena bertukar pesan dengan sang pacar.
"Belum ada, belum ada yang cocok, sibuk juga," jawab Tobo seadanya.
Kedua mata Rusdi berbinar takjub menatap Tobo. "Deh bisanya! Laki-laki spek Daeng Tobo belum punya pacar?" tanya Rusdi tak percaya. "Mungkin kalau laki-laki lain sudah adami lima istrinya."
"Kalau kau ia? Adami pacarmu?" tanya Tobo karena ingin membalikkan situasi. Mendengar kalau ada laki-laki yang punya istri lebih dari satu membuatnya bergidik ngeri.
"Ih janganki remehkanka, saya ada tiga pacarku!" balas Rusdi menggebu-gebu, merasa bangga sekali, laki-laki itu tersenyumlah lebar. "Mauki satu?" tawarnya enteng. Rusdi seperti menawar kacang tanah pada Tobo saja.
Spontan Tobo menoyor kepala Rusdi dengan keras dari belakang karena kaget dan marah.
"Astagfirullah! Pongorominne anak-anak eh! Ngu'rangiko!" kata Tobo kesal. (Ini anak sudah gila! Sadarko!).
Percayalah,Tobo tak pernah berbuat sekasar ini, dia tipe pria yang kalau marah akan diam saja seraya mengelus dada sambil berusaha mendinginkan kepalanya.
Sementara Rusdi mengeluh sambil sibuk mengelus-elus bagian kepalanya yang sakit, ada seorang perempuan berhijab datang menghampiri mereka berdua.
"Daeng Tobo, nacarikki Mama di depan," beritahunya sambil menatap penasaran ke arah Rusdi. Dia Salma Daeng Rannu, sang adik bungsu.
Tobo mengangguk dan berdiri dari kursinya, tetapi sebelum melangkahkan kaki meninggalkan halaman belakang, Tobo kembali berbicara pada Rusdi dengan nada mengintimidasi. "Tidak baik dan tidak boleh seperti itu, ingatko nah!"
Rannu beralih mendudukkan diri setelah melihat sang kakak sudah tak terlihat lagi di pandangannya. Dia menatap penuh rasa penasaran pada Rusdi.
"Kenapaki?" tanyanya perhatian, padahal di balik semua itu ia ingin tahu kenapa kakaknya bisa terlihat semarah itu. Rannu sempat melihat Tobo menoyor kepala Rusdi dari belakang.
"Tidakji," balas Rusdi menolak untuk menjawabnya membuat rasa penasaran Rannu menguap seketika.
Lalu gadis itu pun melipir pergi setelah berdecak kesal karena tak dapat jawaban pasti.
***
Tobo melangkahkan tungkai panjangnya sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, mencari sang mama yang memanggilnya.
Pria itu mencuri perhatian semua orang, karena di antara semuanya, hanya Tobo yang tingginya menjulang seperti gapura kabupaten, dengan tubuh tegap nan atletis ditambah wajah yang rupawan walaupun warna kulitnya berwarna tan karena sering panas-panasan.
Sesekali Tobo tersenyum saat ada yang menyapanya, tetapi pria itu masih fokus mencari keberadaan sang mama.
Ruang tamu rumah sang kakak memang sangat besar di mana ada beberapa meja dengan banyak sekali sofa yang mengelilingi dan semuanya sudah diduduki oleh para tamu.
"Mama di sana, Kak."
Tiba-tiba dari belakang, ada Rannu yang menggandeng tangannya sembari menuntun di mana mama mereka berdua berada. Ternyata ada di dekat pintu masuk sedang bergosip ria bersama tiga orang lainnya.
Setelah berbincang sedikit dengan sang kakak, Rannu pun melepaskan gandengannya lalu pergi dari sana, sebab ia lebih memilih menemui suaminya saja. Lagi pula bukan ia yang dipanggil, serta ia sudah menebak kalau Mama pasti memanggil Tobo karena ada seseorang yang akan beliau kenalkan lagi.
Rannu tentu saja tak habis pikir kenapa sang kakak susah sekali dibujuk untuk menikah, padahal Mama sudah banyak mengenalkan seorang gadis cantik dari keluarga terpandang.
"Ini adami Tobo tawwa eh!" sambut seorang ibu-ibu dengan nada riang sesaat setelah dia menyadari keberadaan Tobo di depannya.
"Duduk, duduk saja, Tente," tegur Tobo pada wanita yang menyadari keberadaannya lebih dulu.
Hj. Maria Daeng Sunggu atau biasa dipanggil Hj. Sunggu oleh orang-orang, wanita yang melahirkan Tobo, menoleh sambil tersenyum ke arah sang anak.
"Siniki duduk samping Mama, Nak," ajak Hj. Sunggu sambil menepuk-nepuk sofa kosong di sampingnya.
Tobo memasang senyum tipis, merasa tidak enak. Masa iya, ia harus dijodohkan lagi di tempat seramai ini? Sebab, ia melihat tepat di depannya ada seorang gadis berambut panjang yang diikat ekor kuda tersenyum malu ke arahnya.
Mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia menolak ajakan mamanya. Maka, Tobo pun pada akhirnya mendudukkan diri si samping sang mama.
Hj. Sunggu menepuk lutut putranya yang dibalut oleh celana kain berwarna hitam. "Tobo! Ini loh Lia yang Mama ceritakan tadi malam."
Tobo tak membalas ucapan sang mama. Pria itu malah terpaku saat ia tak sengaja menoleh ke arah lain, ia melihat pada seorang perempuan yang baru saja masuk dan disambut langsung oleh anak pertama dari kakaknya.
Melihat senyum ceria yang tersimpul dari bibir kecilnya entah kenapa membuat Tobo resah, kedua tangannya tiba-tiba berkeringat, jantungnya berdegup kencang. Oh, ya Allah, ia gugup setengah mati. Tak menyangka gadis itu diundang juga ke sini.
Refleks, Tobo lebih menegapkan cara duduknya, lengan tangannya yang sedikit kusut ia usap, serta rambutnya yang sudah rapi ia perbaiki lagi.

Jelitamelisasari
0 Pengikut · 3 Novel