


oleh Ayang WahyuApril · 100 Bab
“Kenapa hutan ini berubah, Kina?” bisik Nara, menatap langit yang kini kelam. Kina meraih tangan sahabatnya. “Karena ada yang mencoba mengambil jantungnya, Nara. Kita harus menghentikannya.” Dalam kelanjutan petualangan magis ini, Nara, Kina, dan Milo kembali ke Hutan Ajaib yang mulai hancur. Rahasia lama terbongkar, bahaya baru mengintai, dan hanya ikatan mereka yang bisa menyelamatkan dua dunia. Namun, berapa harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan keajaiban?
Langit pagi itu tampak kelabu, seakan dunia sendiri sedang menahan napas. Nara duduk di tepi jendela, memandang keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.
Angin membelai rambutnya pelan, membawa aroma tanah basah yang entah kenapa terasa begitu familiar. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya—sebuah gelisah aneh yang tak bisa dia jelaskan.
"Nara, kau melamun lagi." Kina muncul dari pintu, melipat tangan di depan dada. Suaranya terdengar ringan, tapi matanya penuh perhatian.
Nara mengerjap, tersenyum tipis. "Aku merasa sesuatu memanggilku, Kin."
Dia menoleh, menatap sahabatnya. "Dari Hutan Ajaib."
Kina mendekat, menarik kursi lalu duduk di sampingnya. "Hutan Ajaib?" ulangnya, kening berkerut.
"Bukankah kita sudah mengucapkan salam perpisahan waktu itu?"
"Aku tahu." Nara menggenggam ujung kausnya, gemetar sedikit tanpa sadar. "Tapi rasanya belum selesai. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di sana."
Kina menatapnya lama sebelum akhirnya berbisik, "Kau bermimpi tentangnya?"
Nara mengangguk, menunduk. "Bukan cuma sekali. Berkali-kali. Ada suara samar dan memanggil namaku dari antara pepohonan."
Mereka diam beberapa saat. Hanya suara angin yang terdengar, menggesek dedaunan di luar sana.
"Aku tidak suka ini," kata Kina akhirnya, nadanya berat.
"Tapi aku tahu kalau kau memutuskan pergi, aku akan ikut."
Senyum kecil mengembang di wajah Nara. "Terima kasih, Kin."
Sebelum mereka sempat berkata lebih jauh, suara dentingan kecil terdengar dari meja kayu di sudut ruangan. Keduanya menoleh serentak.
"Apaan itu?" tanya Kina, suaranya menegang.
Nara bangkit cepat, berjalan ke arah suara. Di atas meja, sebuah benda kecil berkilau dan sebuah liontin perak berbentuk daun yang dulu mereka dapatkan dari Hutan Ajaib.
Tapi sekarang, liontin itu bergetar, bersinar samar, seolah hidup.
"Nara," bisik Kina, langkahnya mundur setengah sadar.
Nara meraih liontin itu dengan hati-hati. Saat jarinya menyentuh permukaannya, dunia di sekitarnya seolah berguncang bukan dalam arti nyata, tapi di dalam dirinya sendiri, seperti sesuatu yang lama terkunci kini dibuka.
Suara itu datang lagi. Lebih jelas.
"Kembali."
Nara menarik napas tajam. "Kau dengar itu?" tanyanya cepat.
Kina menelan ludah. "Aku tidak yakin. Tapi aku percaya padamu."
Liontin itu berdenyut hangat di tangan Nara, seakan menuntunnya.
"Kita harus kembali," bisik Nara. Matanya bersinar dengan tekad.
Kina menghela napas dalam-dalam. "Kalau begitu kita harus bersiap."
Tanpa menunggu lagi, mereka mulai mengemasi barang-barang. Tas kecil, jaket tahan air, senter, dan tentu saja—peta lama yang pernah mereka pakai.
"Kita perlu membawa makanan juga," seru Kina sambil memeriksa tasnya. "Dan mungkin tali tambahan?"
Nara mengangguk cepat. "Apa pun yang bisa membantu."
Dalam hati, Nara bertanya-tanya apa yang menunggu mereka di Hutan Ajaib kali ini?
Kenapa panggilannya terasa lebih mendesak, lebih berat, seolah bukan sekadar undangan tapi peringatan?
Mereka berlari kecil menuruni bukit menuju tepi hutan, tempat semuanya dulu bermula. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, dan udara di sana terasa berbeda lebih pekat, lebih hidup.
Nara berhenti sejenak di batas hutan. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Apa kita siap?" tanyanya, setengah berharap Kina akan memberinya alasan untuk berhenti.
Tapi Kina hanya tersenyum—senyum kecil yang memberinya kekuatan. "Bersama, kan?"
Nara mengangguk. "Bersama."
Mereka melangkah masuk.
Kabut menelan mereka dalam sekejap, membuat jarak satu-dua meter terasa seperti dunia lain. Suara burung, suara serangga semua terdengar jauh dan aneh, seperti gema dari dunia lain.
"Nara, kau yakin ini jalannya?" tanya Kina sambil mengayunkan senter kecil ke kanan-kiri.
Nara menggenggam liontin di dadanya. "Aku yakin, entah kenapa aku tahu."
Mereka berjalan lebih dalam, menembus semak belukar dan pohon-pohon besar dengan akar mencuat seperti tangan raksasa.
Tiba-tiba, ada sesuatu berkelebat di sudut pandang mereka.
"Nara!" seru Kina, melompat mundur.
Nara menoleh cepat. "Apa itu?!"
Sesuatu atau seseorang mengintip dari balik batang pohon besar. Mata kecilnya berkilat dalam cahaya redup.
"Milo?" gumam Nara, hampir tak percaya.
Makhluk itu menghilang dalam sekejap.
"Kau lihat itu, kan?" Kina menatapnya dengan mata melebar.
Nara mengangguk perlahan, jantungnya berdegup kencang. "Aku lihat. Aku yakin itu Milo."
Mereka berlari ke arah bayangan tadi, menyibak ranting dan semak berduri tanpa peduli.
"Nara, tunggu!" Kina memanggil dari belakang. "Jangan sembarangan!"
Tapi Nara tak bisa berhenti. Ada sesuatu di dalam dirinya sebuah keyakinan aneh bahwa jika dia tidak mengejar sekarang, dia akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.
"Nara, ini jebakan!" seru Kina lagi, napasnya memburu.
Nara mengabaikan. Kakinya melangkah lebih cepat, sampai tiba-tiba tanpa peringatan—tanah di bawahnya runtuh.
"Aaaah!" teriak Nara sambil terjatuh.
"Nara!" teriak Kina, melemparkan dirinya ke tanah, mencoba meraih tangan Nara sebelum terlambat.
Dalam sekejap, Nara bergelantungan di pinggir lubang besar, debu dan batu-batu kecil berjatuhan di sekelilingnya.
"Pegang tanganku!" teriak Kina, meraih sejauh mungkin.
Nara menggigit bibir, tangan kirinya berusaha meraih. Tanah di bawahnya berderak, ancaman runtuh lagi.
"Kau harus percaya padaku!" teriak Kina, wajahnya penuh ketakutan dan tekad.
Aku harus percaya. Aku harus percaya. Nara mengeraskan hati, mendorong dirinya ke atas dengan sisa tenaga.
Dengan satu tarikan kuat, Kina menarik Nara ke atas, hingga mereka berdua jatuh terengah-engah di tepi lubang.
Nara menatap Kina, napasnya berat. "Terima kasih," bisiknya.
Kina tersenyum lemah. "Jangan buatku jantungan lagi."
Tapi sebelum mereka sempat beristirahat lebih lama, dari dalam lubang terdengar suara.
Suara kecil mengerang.
Nara dan Kina saling pandang. Ketegangan menggantung di udara, berat seperti awan badai.
"Nara," bisik Kina, suaranya bergetar. "Apa itu?"
Nara perlahan-lahan merangkak mendekat ke tepi, menyorotkan senter ke bawah.
Apa yang dilihatnya membuat bulu kuduknya berdiri.
Di dasar lubang, terbaring sesosok makhluk dengan kulit berkilau samar, dan mata yang perlahan terbuka menatap mereka lurus-lurus dengan pandangan kosong.
"Tolong.
Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Nara dan Kina membeku.
Mereka baru saja memulai petualangan ini.
Dan Hutan Ajaib sudah menunjukkan ini akan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.

Ayang WahyuApril
169 Pengikut · 45 Novel