


oleh J.W Hasya · 90 Bab
Terjebak dalam sebuah labirin misterius—Nadia Atmanegara, harus menghadapi bahaya yang mengintai di setiap sudut. Sebuah portal trans-dimensi berhasil membawanya ke dunia tak kasat mata, di mana kebenaran serta ilusi berbaur. Setiap langkahnya, membuat Nadia semakin dekat dengan sebuah rahasia yang tersembunyi. Apakah Nadia bisa menemukan jalan keluar sebelum semuanya terlambat, lalu kehilangan segalanya? Ataukah justru, wanita tersebut semakin jauh terjebak dalam labirin dan tak bisa kembali lagi untuk selamanya?
Sebuah mobil putih meluncur di areal perkebunan teh yang begitu sepi. Di kiri serta kanan jalanan beraspal yang tampak tipis dan sebagian besar sudah mengelupas hingga menyembulkan batu-batu kerikil yang berserak, sehingga membuat jalan di sekitar perkebunan tersebut cukup berbahaya bila berkendara dengan kecepatan penuh.
Raut wajah seorang wanita yang duduk di belakang kemudi terlihat tenang, ia memacu mobil yang dikendarainya dengan kecepatan sedang. Setiap kali menurunkan atau menambah kecepatan mobil ketika berada di jalan yang rusak parah atau saat melintas di tikungan, debu-debu tampak berterbangan menutupi sekitar jalan yang ia lalui. Bahkan, burung-burung yang berada di semak belukar pinggiran jalan pun terbang ketakutan saat mobil putih tersebut melintas dengan cepat.
Siang berganti petang, matahari berwarna merah saga dengan suasana sekitar areal perkebunan semakin sunyi. Semua pekerja baik di kebun atau yang tengah bertugas menjemur teh di bangsal---bangunan panjang yang terbuat dari kayu beratap rumbai, berjajar memanjang berseberangan dengan kebun---telah pulang ke rumahnya masing-masing.
Areal perkebunan yang begitu luas tersebut seperti daerah tak bertuan, sunyi dan sepi. Hanya mobil putih yang dikendarai olehnnya meliuk-liuk di tengah jalan membelah areal perkebunan dengan suara mesin mobil yang menderu memecah keheningan.
Tiba-tiba saja mendung menggayut bumi, menutupi pendar cahaya matahari senja berwarna merah saga, suasana menjadi gelap. Sang pengendara mobil putih menyalakan lampu depan, jalan yang mulai diselimuti gelap menjadi terang, dan ia kembali leluasa memandang jalan yang membentang di depan.
Gelegar petir menyambar-nyambar, suara gemuruh membahana serta kilatan cahaya putih perak membelah angkasa, membias sampai ke areal perkebunan. Seseorang yang mengemudikan mobil putih tersebut semakin menambah kecepatan, ia tak mau terjebak dalam hujan angin di tempat tak berpenghuni seperti di perkebunan teh tersebut.
Setelah terdengar suara petir dan kilat yang menyambar-nyambar beberapa kali, hujan pun turun dengan sangat deras. Derasnya air hujan itu seketika menutupi jalan di tengah perkebunan yang beraspal tipis dan berlubang-lubang. Beberapa mobil tersebut berguncang saat melindas jalan berlubang, tapi si empunya tak mau ambil peduli. Ia masih terus memacu kendaraannya dan tak ingin berada di tengah perkebunan yang begitu luas tersebut hingga malam hari. Sebab, cerita-cerita mistis tentang perkebunan teh---yang pernah ia dengar, sedikit banyak telah menciutkan nyalinya.
Andai ia bertemu dengan penjahat yang ingin membegal atau merampok, baginya tak begitu masalah. Sebab masih sama-sama manusia. Setidaknya, ia masih bisa melawan, karena ia berpikir, jika; dia punya sedikit ilmu bela diri. Tapi, andai yang ditemui adalah sosok tanpa kepala atau manusia dengan muka hancur berantakan, atau seluruh badan berdarah-darah, atau bisa jadi di dalam mobilnya dipenuhi makhluk-makhluk astral tak kasat mata---seperti cerita para buruh perkebunan. Siapa yang tak akan mati mendadak karena jantungan?
Curah hujan yang begitu deras membuat kaca mobil menjadi berkabut, meski ia telah menyalakan wiper untuk membersihkan kaca dari kabut air hujan yang menghalangi jarak pandang, akan tetapi ia masih tidak bisa melihat dengan jelas jalanan di depannya. Kemudian, ia pun tak mau peduli, memilih untuk membenamkan gas mobil hingga melesat menerjang jalan yang dipenuhi lubang yang kini telah menjelma menjadi kubangan air dan lumpur.
Akhirnya, sampai juga ia di jalan raya---keluar dari areal perkebunan teh---meski begitu, suasananya tidak berbeda jauh dengan perkebunan teh, masih begitu sunyi dan sepi. Jika pun ada rumah-rumah, itu pun perumahan para staf kebun---rumah kuno peninggalan Belanda---yang sudah tidak ditempati lagi, serta jaraknya berjauhan satu dengan yang lainnya.
Perkampungan penduduk sekitar tiga kilometer dari perumahan kuno peninggalan Belanda yang baru saja ia lewati tersebut. Sejurus kemudian, ia kembali konsentrasi menyetir mobilnya, menerobos hujan lebat di jalan beraspal hitam dan sedikit lumayan bagus, tidak seperti jalan di dalam areal perkebunan tadi. Untuk menghilangkan kesunyian, ia menyalakan musik dari audio car dan mencoba mengikuti setiap lirik lagu yang didengarnya. Meski begitu, ia sebetulnya masih belum sepenuhnya nyaman.
Dia semakin menambah kecepatan mobilnya, meski tahu jika; itu sangat berisiko, sebab jalan agak licin. Namun ia tak peduli dan ingin cepat keluar dari daerah sekitar kebun teh. Menemui keramaian lagi, melihat manusia dan segala bentuk yang bernama kehidupan.
Pada sebuah tikungan di ujung perkebunan teh, hampir mencapai perkampungan penduduk, mobil yang ia kendarai tergelincir dan keluar dari badan jalan, menerobos semak belukar lalu terperosok ke dalam sebuah parit, di depan sebuah rumah bergaya Indis. Mesin mobil putih meraung-raung beberapa saat sebelum mati dengan lampu mobil yang masih tetap menyala, di dalam parit yang dipenuhi semak belukar.
Keadaan kembali hening, hanya suara derik jangkrik memecah kesunyian malam di tempat tersebut. Insekta malam saling bersahutan, suara burung hantu ber gerung-gerung di setiap dahan pohon yang masih basah akan tetes-tetes air hujan. Suara bising yang ditimbulkan oleh mesin mobil yang merangsek ke semak belukar dan masuk ke parit, kini hilang lenyap.
Namun, suasana di tempat tersebut kembali sunyi seolah tak pernah terjadi apa-apa. Hujan masih turun dengan begitu derasnya, seolah menyelimuti kecelakaan yang baru saja telah terjadi di sebuah daerah perkebunan teh---Bintang Jatuh. Lalu, sang pemilik mobil putih, tak tahu di mana rimbanya.

J.W Hasya
89 Pengikut · 4 Novel