


oleh Dejuju.Y · 43 Bab
Guru muda Yohan, Milah, dan Apep ditugaskan mengajar di sekolah terpencil yang terkenal dengan reputasi buruknya. Siswa-siswa di sana bermasalah. Sudah 3 tahun tidak naik kelas, dan tampaknya tidak ada harapan untuk masa depan mereka. Ketika mulai mengajar, mereka mengalami sesuatu yang tidak biasa. Pocong pengintip mulai mengintai mereka, membuat mereka merasa tidak aman. Apakah itu hanya khayalan, atau ada sesuatu yang lebih gelap di balik sekolah itu? Yohan, Milah, dan Apep harus bekerja sama untuk mengungkap rahasia di balik sekolah itu sebelum mereka menjadi korban berikutnya.
"Inalilahi wainalilahi rojiun. Telah berpulang ke rahmattulloh, Mang Diding penjual sayur keliling di kampung kita telah meninggal dunia. Diharapkan seluruh warga dapat berpartisipasi untuk membantu penguburan jenazah. Terima kasih."
Setelah pengumuman selesai, Apep tertawa kecil sambil berkata, "Utang ke Mang Diding tujuh ribu lagi. Ahh, gak usah dibayar, toh dianya juga sudah meninggal."
Sore itu cuaca sangat panas sekali, membuat Apep kegerahan dan badannya berlumur keringat.
"Mendingan aku mandi dulu!" katanya sambil berjalan memasuki kamar mandi.
Saking terburu-burunya, Apep sampai lupa membawa handuk.
Langsung saja dia membuka semua pakaiannya dan segera membasahi seluruh badannya yang berkeringat itu dengan air shower.
Swurrrr!
"Segarnya!" kata Apep.
Setelah tubuhnya basah kuyup, Apep langsung mengambil sampo dan membilas rambutnya yang keriting jamblang dengan semua sampo yang ada.
Tak kalah hebohnya, Apep juga bernyanyi di kamar mandi sambil berteriak seperti ia sedang mengadakan konser.
"Di sini Bang Apep akan membawakan lagu Jangan Begadang dari Roma Irama. Selamat mendengarkan." Apep berkhayal jika gayung yang sedang ia pegangi itu sebuah mic.
"Oke, kita lanjut!"
Tok-tok!
Di sela itu, ada suara orang yang mengetuk jendela kamar mandi. Apep terhenyak dan segera menghampiri jendela itu sembari bertanya, "Siapa itu? Yohan bukan?" Namun, tidak ada jawaban.
Karena penasaran, Apep pun membuka kelambu transparan yang dipakai penutup jendela kaca kamar mandi itu dengan begitu cepat.
Slepp! Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mungkin aku salah dengar!" pikirnya seraya menutup setengah dari kelambu itu.
Saat itu, posisi Apep berjalan membelakangi jendela. Kemudian terdengar kembali ketukan yang sama. Apep serentak berbalik dan langsung melihat seraut wajah pocong sedang mengintipnya dari jendela tadi. Apep ketakutan sampai berlari keluar dari kamar mandi.
"Aaaaaaa!"
Di ruangan yang lain, tepat di rumah kontrakan itu, ada Yohan dan Milah yang ingin menikmati seblak di meja makan di dekat kamar mandi.
"Kamu denger ada suara orang yang berteriak?" Yohan bertanya kepada Milah sebelum ia memakan seblak yang baru dibelinya itu.
"Eh, enggak tuh!" bantah Milah.
"Aaaaaaaa!"
Tiba-tiba Apep berlari ke tempat mereka dengan hanya memakai celana dalam yang basah. Serentak Yohan dan Milah pun kaget dan langsung berteriak.
"Aaaaaa!"
"Astagaa!"
"Ada pocong! Ada pocong!" teriak Apep sambil melompat-lompat di depan Yohan dan Milah. Mereka pun langsung menutup kedua matanya.
"Cepat pakai bajumu!" suruh Yohan.
"Mataku ternoda!" Milah merungut di sana. Kedua pipinya pun memerah.
"Ya ampunn! Aku lupa pakai baju! Tunggu sebentar!"
Apep berlari tunggang-langgang memasuki kamarnya dan tak lama setelah itu ia pun kembali dengan balutan baju bersih di badannya.
"Sekarang kalian boleh buka mata! Aku sudah pakai baju," suruhnya sambil tersenyum.
"Kamu bikin kaget saja!"
"Iya, sampai seblak kami teh pada jatuh semua! Padahal sedikit pun belum kami makan. Baru aja kami tiup-tiup biar dingin. Eh, pas udah dingin malah gak bisa dimakan."
Mendengar Milah kesal membuat Apep merasa bersalah.
"Nanti Apep ganti atuh! Kalian jangan marah lagi, ya!"
"Iya sudah, kami tunggu seblak barunya."
"Nanti Apep beliin di Bi Jum, ya!"
"Emm!"
"Oh iya! Barusan kamu lari-lari emangnya ada apa?" tanya Yohan kepada kejadian beberapa menit yang lalu yang telah dialami oleh Apep.
"Tadi aku diintip pocong!" jawabnya berbisik.
"Serius kamu?" Milah tidak percaya. Apep berusaha meyakinkannya.
"Serius tak kewer-kewer!" ujar Apep sambil bercanda.
"Kurang kerjaan tuh pocong, ngapain dia ngintipin kamu mandi? Kamu itu bukan cowok hot, gak pantes diintipin," ejek Milah membuat Apep tersinggung.
"Euleh, euleh. Kurang hot gimana saya? Body kaya Aderai gini!"
"Sudah atuh, kalian ini ribut terus! Kalau beneran kamu habis diintip sama pocong, sekarang di mana pocongnya?" Yohan bertanya pada Apep yang masih terlihat panik.
"Di jendela kamar mandi!"
"Ayo kita pergi ke sana!" ajak Yohan cepat.
"Kamu gak takut, Yohan? Itu pocong loh!" tanya Milah, gadis itu terlihat sama takutnya dengan Apep.
"Justru yang aku takutkan itu cuma maling yang nyamar menjadi pocong. Pas kita ketakutan terus lari dari rumah nanti dia masuk ambil semua barang yang ada di rumah ini," jelas Yohan pada kedua temannya.
"Bisa jadi begitu! Ayo kita pastiin dulu!" ajak Milah dengan jalan lebih dulu di depan kedua teman laki-lakinya.
Krekettt!
Pintu kamar mandi dibuka olehnya. Keadaan di dalam shower, air masih menyala dan semua peralatan mandi berserakan di bawah lantai.
"Mana pocongnya? Yang ada kamar mandi kaya kapal pecah?" tanya Milah dengan gusar.
"Tadi beneran pocongnya ada di balik jendela itu!" ujar Apep sambil menunjuk ke arah jendela yang kelambunya terbuka setengah. Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.
Yohan penasaran dan segera berjalan menghampiri jendela itu.
"Gak ada, Apep." Yohan mendekatkan wajahnya ke kaca jendela itu. Dia tidak melihat apa-apa selain sekumpulan warga yang sedang memakamkan jenazah Mang Diding.
"Kontrakan kita dekat sama kuburan. Pantas saja Apep jadi berhalusinasi," pikir Yohan sambil menutup kelambu dari jendela itu.
"Gak ada, Pep!"
"Beneran udah gak ada?"
"Iya!"
"Huhh, legaaa!" ucap Apep sambil memegangi dadanya yang sedari tadi berdegup kencang.
Sementara itu, Milah merasa aneh setelah ia mencium aroma aneh di rambut Apep.
"Kamu habis keramas?"
"Iya, biar seger mandinya."
"Tapi ada yang meninggal!"
"Terus apa hubungannya?" tanya Apep pada Milah penasaran.
"Itu pamali!"
"Kenapa pamali?" Apep semakin kebingungan sampai mengernyitkan dahinya ke atas.
"Konon katanya jika ada orang yang meninggal dunia di sekitar kampung kita, maka kita dilarang keramas pada hari itu dengan alasan nanti akan sakit dan lebih parahnya ikut meninggal seperti orang yang meninggal itu." Jelas Yohan membeberkan larangan yang gak boleh dilakukan menurut sesepuh yang ada di kampung itu.
"Sumpah aku gak tahu!" kata Apep masih ketakutan.
"Makanya lain kali kalau ada kumpulan di balai desa, datang. Jadi kamu bisa tahu apa yang boleh kita lakuin dan yang gak boleh kita lakuin di kampung ini."
"Kita ini perantau! Jadi jangan berbuat yang aneh-aneh!" tegur Yohan pada Apep.
"Iya, Yohan! Aku bakalan lebih berhati-hati lagi!"
"Iya sudah, kita siap-siap ke mesjid! Sebentar lagi sudah mau magrib, loh!" ajak Yohan kepada kedua temannya.
"Iya, Han!"
Cukup sepuluh menit, Yohan dan Milah sudah selesai memakai pakaian terbaiknya untuk menghadap Tuhan.
Sementara Apep, pemuda pecicilan itu masih sibuk mencari sarung di dalam kamarnya.
"Aduhh! Sarungku ke mana?"
"Bantu aku dulu cari sarung, Yohan!" teriak Apep meminta bantuan.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka sedikit oleh angin.
Kreket! Suaranya terdengar mengalun.
"Yohan!"
Apep mengira jika itu Yohan yang datang, makanya dia memanggilnya. Tapi di balik pintu kamar yang sedikit terbuka itu tak terlihat ada siapa pun. Apep pun kembali disibukkan mencari sarung di dalam lemari bajunya.
"Ke mana sarungnya, ya? Perasaan kemarin aku sudah menyimpannya di dalam lemari?"
Krekkk! Suara pintu yang terbuka oleh angin terdengar kembali.
Apep perlahan-lahan memutar kembali kepalanya ke belakang. Saat itu sesosok pocong yang sama telah mengintipnya kembali. Kali ini Apep berteriak sekeras mungkin sampai Yohan dan Milah datang.
"Pocong! Pocong!"
"Apep! Sadar, Apep!"
"Ada apa lagi sih?" tanya Yohan.
"Barusan ada pocong yang ngintip aku di balik pintu itu!" jawab Apep sembari menunjuk ke arah pintu.
"Mana? Gak ada, kok?" tanya Yohan seraya melihat ke arah pintu yang ditunjukan oleh Apep.
"Pocongnya ada di sana! Dia mengintip aku seperti di kamar mandi tadi."
Yohan dan Milah saling menatap ragu. Kemudian Yohan mencoba untuk menenangkan sambil menasehati Apep, "Kamu itu guru ngaji, guru agama! Jadi aku mohon, jangan bicara sembarangan! Aku takut, orang tua murid kalau tahu soal ini, mereka akan menganggap kamu sebagai guru agama yang tidak baik."

Dejuju.Y
5 Pengikut · 3 Novel