


oleh Seleannore · 21 Bab
Hubungan pernikahan Duke dan Duchess Eddenberg itu hancur sesaat setelah mereka kehilangan anak pertama yang masih berkembang dalam kandungan. Komunikasi yang buruk, menjadi faktor utama renggangnya hubungan mereka. Emosi dan trauma yang mereka simpan, lambat laun mengubah sifat mereka jadi lebih sensitif. 2 tahun setelahnya, keduanya mencoba memperbaiki hubungan mereka lagi. Mencoba berkomunikasi layaknya pasangan kekasih. Namun, hal itu tak mudah. Ada lagi badai lain yang mencoba menghancurkan perahu mereka. Badai apa yang akan menerjang rumah tangga mereka? Akankah hubungan yang mereka coba perbaiki akan bertahan dari badai tersebut?
"Hentikan!"
Suara tembakan terdengar di mana-mana. Satu peluru bahkan nyaris mengenai kepala seorang nyonya rumah jika saja salah satu pelayan itu tak mendorongnya menjauh.
Suasana ricuh memenuhi telinganya hingga ia tak dapat fokus dan bertindak. Pelayan tadi menahan tangan sang penyusup sambil berteriak, "Larilah, Nyonya! Temukan desa dan berlindung di sana. Anda harus selamat!"
"K-kenapa? Kenapa hanya aku yang harus selamat?"
Sambil memegangi perut besarnya, Nyonya itu mencoba berlari menjauh. Meski dengan pikiran yang kacau, dirinya hanya ingat satu hal. Dia harus menemukan desa agar seluruh pelayannya dapat tertolong. Desa terdekat, tapi di mana desa itu?
***
"Kau minum alkohol lagi, ya?" ucap seorang pria yang berpakaian rapi sebelum memasukkan satu suap roti ke dalam mulutnya.
"Aku hanya minum sedikit," balas istri yang duduk di sampingnya, sambil menguap.
Di villa kediaman Eddenberg ini, suasana tenang selalu menyelimuti selama 2 tahun terakhir. Dan suasana itu sangat dinikmati oleh pasangan itu, Calsius Eddenberg yang menikahi Adelle Ashten. Tapi tenang, hanya suasana. Berbeda dengan hubungan suami istri itu yang jauh dari kata tenang.
Berbanding terbalik dengan suaminya yang sudah berpakaian rapi, Adelle masih dalam kondisi berantakan dengan gaun tidur ivory yang menyelimuti tubuhnya. Benar tebakan Calsius. Semalam, istrinya itu meminum kembali alkohol yang ia larang.
"Pakai pakaian yang pantas dulu sebelum makan."
Adelle mengabaikan ucapan Calsius yang terdengar sangat jelas itu.
"Aku nyaman mengenakan ini. Lagi pula aku tidak akan pergi ke mana-mana hari ini, aku lelah," balas Adelle seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Calsius mengembuskan napas gusar seraya menggelengkan kepalanya pelan. Hal ini sudah terjadi selama kurang lebih 2 tahun sejak pindah ke villa keluarga ini.
Tapi biasanya, mereka tak pernah mengobrol sepanjang ini. Mereka hanya akan bertemu saat sarapan dan kembali fokus pada kegiatan masing-masing. Lebih tepatnya, hanya Calsius yang memiliki kegiatan. Karena Adelle hanya hidup bebas tanpa beban di rumah itu dan menikmati hidupnya.
Tapi pagi ini, Adelle sengaja mengenakan gaun tidur untuk menarik perhatian Calsius agar berbicara lebih panjang dengannya. Karena jujur, Adelle sudah mulai merasa bosan.
"Ini surat dari kerajaan. Akan ada perayaan ulang tahun Yang Mulia minggu depan, jika kau tak mau pergi, akan aku kirim surat untuk tidak menghadiri pesta itu," ucap Calsius seraya memberikan surat itu.
Adelle membacanya perlahan, tapi kemudian dia berseru, "Aku akan ikut!"
"Kamu yakin? Isu buruk tentangmu itu bertebaran di mana-mana. Dan saat pesta, mereka pasti akan memanfaatkannya untuk menyerangmu," balas Calsius dengan tatapan khawatir.
"Justru itu. Aku tahu kabar buruk tentangmu juga. Hubungan kita terpandang buruk di mata mereka, kan? Karena itu kita perlu menunjukkan kepada mereka bagaimana hubungan kita yang sesungguhnya."
Adelle meneguk air minumnya. "Karena itu hanya isu, aku tidak peduli. Karena yang tahu, hanya kita, kan?" lanjutnya lagi.
"Ya sudah. Kalau begitu, kita akan berangkat."
Adelle mengangguk. Kemudian menyelesaikan sarapannya. Villa sebesar ini hanya dihuni oleh mereka berdua dan beberapa pelayan wanita yang tugasnya hanya untuk membersihkan rumah, menyiapkan hidangan, dan tugas rumah tangga lainnya.
Kebanyakan hanya penjaga rumah yang direkrut langsung oleh Calsius untuk meningkatkan keamanan villa.
Agar hal yang sama, tidak terulang lagi. Agar, Adelle Eddenberg aman, agar istrinya itu aman dari ancaman.
"Aku ada pekerjaan di luar hari ini dan sepertinya akan pulang larut. Makan malam di kamarmu saja, aku akan makan di luar," ucap Calsius kemudian beranjak ke dalam untuk mengambil berkas dan mengenakan jas panjang untuk melengkapi pakaiannya.
"Baiklah, pulang dengan hati-hati."
Setelah berpisah, Adelle masuk ke dalam kamar lagi. Masih dengan pakaian yang sama, karena kegiatannya hari ini hanya bersantai. Layaknya kucing peliharaan yang hidup tenang tanpa beban.
Tapi tak dapat dipungkiri jika Adelle memikirkan semua isu miring tentang keluarga ini. Terutama tentang Calsius yang banyak dibicarakan di berbagai pesta bertopeng yang selalu ia hadiri.
Benar, Adelle sering keluar malam untuk menghadiri pesta bertopeng. Calsius mengetahui hal itu, tapi tentu Calsius tidak mengetahui seberapa sering Adelle keluar di malam hari. Hanya untuk mendengarkan isu menjijikkan yang menjatuhkannya.
'Duchess pembuat onar yang tak berguna'
Itu sapaan populer yang orang-orang tahu mengenai Adelle. Dan itu benar adanya, karena selama 2 tahun dia pindah ke sini, ia tak pernah lagi memegang pekerjaan seorang Duchess.
Netra ungunya menatap kosong ke arah topeng miliknya, kemudian ia selipkan untaian rambut pirangnya ke belakang telinga.
Ada isu lain yang lebih membuatnya marah. Para wanita di tempat pesta itu malah sering memuji suaminya. Dan berharap, jika Calsius menyadari jika Adelle tidak berguna dan cepat membuangnya.
Adelle tersenyum miring walau dengan hati yang teriris.
"Justru kalian yang tak berguna dan bisanya hanya menilai orang lain tanpa tahu yang sebenarnya."
***
"Tuan, maaf harus memberitahukan hal ini malam-malam," ucap pelayan pribadi Adelle tepat di depan pintu saat Calsius baru saja tiba.
"Ada apa, Anna?" tanya Calsius.
"Itu, Nyonya minum alkohol lagi."
Calsius mengembuskan napasnya berat. Kemudian berlari kecil sembari berharap jika Adelle belum minum banyak dan masih sadar. Calsius pergi menuju kamar Adelle yang berada tepat di depan kamarnya.
Saat pintu terbuka, terlihat Adelle yang tengah meneguk langsung satu gelas alkohol.
"Adelle, hentikan," ucap Calsius seraya mendekat dan meraih pergelangan tangan Adelle.
"Calsius? Kau sudah pulang?"
Suara pelan dan aneh itu membuat Calsius yakin jika Adelle sudah dalam kondisi tidak sadar. Ini gawat, pikirnya.
"Hey, lihat. Katanya mereka menginginkan wajah tampan ini. Apa boleh buat, aku tidak boleh sampai kehilangan cinta Duke Eddenberg, kan?" ucap Adelle lagi dengan lebih menggoda.
Tangan lentiknya mengelus lembut wajah Calsius. Menelisik setiap inci dari wajah yang sangat ia sukai itu. Adelle kemudian memajukan bibirnya, mengecup dan meraih bibir suaminya itu. "Lihat, mereka tidak bisa mendapatkan bibir manis ini."
Amarah Calsius yang semula memuncak kini mereda. Sudah ia duga jika ia tak bisa berhadapan dengan Adelle yang tengah mabuk. Ini bisa gawat, karena saat mabuk, Adelle berubah menjadi sangat agresif seperti serigala yang mengincar kelinci sepertinya.
"Kemari dan tidurlah."
Calsius membaringkan tubuh Adelle yang mulai melemas. Kemudian menyelimutinya hingga leher agar istrinya itu tak kedinginan.
"Tunggu, kalau kau pergi, mereka akan menangkapmu."
Calsius terkekeh mendengarnya. Kemudian dengan lembut, ia kecup kening Adelle. "Aku hanya milikmu, puas? Sekarang tidurlah, jika kau tidak tidur maka mereka akan membawa ku."
Lucunya, Adelle langsung memejamkan matanya dan menurut. Seutas senyum terbit di sudut bibir perempuan itu. Dan Calsius sebenarnya selalu menyukai sisi Adelle yang mabuk ini. Karena saat mabuk, Adelle menjadi sangat jujur terhadapnya.
Adelle juga, jadi bertingkah manis di depannya.
"Selamat malam, Tuan Putri."

Seleannore
2 Pengikut · 1 Novel