“Aruna, kamu sudah kirim uang untuk bulan ini? Adikmu perlu membayar biaya praktikum besok pagi. Jangan sampai dia tidak bisa ikut ujian gara-gara uangnya telat.”
Suara Ibu di ujung telepon terdengar menuntut, bukan bertanya. Aruna yang baru saja meletakkan tas kerja di atas kasur lipatnya, menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
Hari ini, kantor benar-benar menguras energinya. Proyek desain grafis yang ia kerjakan ditolak mentah-mentah oleh klien yang perfeksionis, dan sekarang, ia harus menghadapi "klien" lain yang tidak kalah menuntut, keluarganya sendiri.
"Iya, Bu. Nanti Aruna transfer, tapi, Bu, bulan ini Aruna juga ada tagihan listrik dan cicilan rumah yang jatuh tempo lebih awal. Kalau uang itu dipakai buat praktikum Adik, uang buat—"
"Ya cari cara lain, Aruna!" potong Ibu dengan nada tinggi.
"Kamu kan sudah bekerja. Jangan pelit sama keluarga sendiri. Kalau bukan kamu yang bantu, mau Ibu minta tolong siapa lagi? Ayahmu masih berusaha mencari kerja, meski belum ada hasil. Jangan jadi anak yang tidak tahu terima kasih."
Sambungan telepon terputus.
Aruna menatap layar ponselnya yang redup. Kalimat "kalau bukan kamu, siapa lagi" itu kembali menghantam ulu hatinya, persis seperti pukulan palu godam. Itu adalah kalimat sakti, mantra yang memaksa Aruna untuk selalu tunduk dan mengabaikan kesejahteraan dirinya sendiri.
Ia berjalan menuju cermin kecil yang retak di sudut kamar kontrakan sempitnya. Bayangan wanita berusia tiga puluh dua tahun menatap balik dengan tatapan kosong.
Tidak ada gincu yang memulas bibirnya. Tidak ada pakaian modis yang melekat di tubuhnya, hanya kaus kedodoran yang sudah dicuci berkali-kali. Aruna menyentuh wajahnya sendiri, meraba kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur selama berbulan-bulan.
Inilah rutinitas yang menyesakkan itu. Rutinitas yang sudah ia jalani sejak hari kelulusan kuliah, tepat di saat ia seharusnya terbang mengejar mimpinya sebagai ilustrator lepas, tapi justru terperangkap dalam jeratan tanggung jawab yang ia warisi dari kegagalan orang tuanya.
Ia melangkah menuju meja kayu kecil di sudut ruangan. Di sana, tumpukan amplop tagihan tersusun rapi, atau mungkin lebih tepat disebut “berserakan”, menunggu giliran untuk dibayar.
Ia menghitung sisa uang di rekeningnya melalui aplikasi m-banking. Angkanya cukup untuk membayar biaya praktikum adiknya, tapi sangat tidak cukup untuk menambal lubang-lubang keuangan lainnya.
Aruna terduduk di lantai, membiarkan tubuhnya meluruh. Ia teringat teman-teman seangkatannya di kantor yang kemarin bercerita tentang liburan akhir pekan ke Bali, atau rencana mereka untuk mengambil KPR rumah subsidi. Sementara ia? Ia bahkan tidak berani membayangkan masa depan. Masa depannya habis terpakai untuk membayar masa lalu orang tuanya dan masa depan adik-adiknya.
Apakah ini hidup yang seharusnya ia jalani? Apakah cinta kasih dalam keluarga harus dibayar dengan penghancuran diri sendiri secara perlahan?
Aruna bangkit, berjalan menuju jendela yang menghadap ke gang sempit. Cahaya lampu kota Jakarta yang gemerlap di kejauhan tampak begitu jauh, seolah dunia itu tidak pernah mengundangnya untuk ikut serta.
Ia memikirkan Ibu yang sedang terbaring di rumah, mungkin sedang memikirkan cara lain untuk menekan Aruna lebih jauh. Ia memikirkan Ayah yang mungkin sedang duduk melamun di teras, merencanakan hutang baru tanpa pernah terpikir bagaimana cara melunasinya.
"Aku lelah," bisiknya pada angin malam yang berembus masuk lewat celah ventilasi.
Ia tahu, kelelahan bukanlah alasan untuk berhenti bagi orang-orang seperti dia. Di keluarga tempat ia dilahirkan, lelah adalah kemewahan yang tidak boleh dirasakan.
Aruna kembali ke meja kerja, menyalakan laptopnya yang mulai mendengung keras. Ia harus mencari proyek sampingan lagi. Ia harus lembur lagi. Ia harus memeras otaknya lebih keras lagi.
Baru saja ia hendak membuka perangkat lunak desain, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu dari Ayah. Jantung Aruna berdegup kencang, sebuah firasat buruk menjalar dari tengkuknya.
‘Aruna, Ayah butuh bicara. Ada urusan mendesak soal pinjaman di bank yang harus diselesaikan besok. Mereka mengancam akan menyita sertifikat rumah kalau tidak ada pembayaran segera. Kamu harus bantu, ini jumlahnya tidak sedikit.’
Aruna membeku. Tangannya yang berada di atas papan tik bergetar hebat. Pinjaman bank? Lagi? Ayah baru saja berjanji untuk tidak berutang lagi setelah kejadian bulan lalu.
Matanya nanar menatap layar yang menampilkan nominal fantastis yang diminta Ayah. Jumlah itu jauh melampaui total gajinya selama enam bulan ke depan.
Ia merasa seolah lantai di bawahnya tiba-tiba menghilang, meninggalkannya jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berujung. Belum sempat ia membalas pesan itu, ponselnya kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal, memiliki kode area yang sama dengan kantor penagihan hutang yang pernah meneleponnya dulu.
Dengan jari gemetar, Aruna menekan tombol terima.
"Halo, dengan Saudari Aruna? Kami dari pihak Collection Bank Arta, ingin mengonfirmasi mengenai jaminan sertifikat rumah yang sudah jatuh tempo. Jika tidak ada penyelesaian malam ini, besok pagi tim kami akan datang ke alamat yang terdaftar untuk penyitaan aset."
Berbuat apa.
***
“Aruna, sudah masuk belum? Ibu cek di m-banking belum ada notifikasi masuk, padahal ini sudah tanggal dua puluh lima. Biasanya kantor kamu tidak pernah telat, kan?”
Aruna mematikan sambungan telepon sebelum sempat menjawab. Ia menatap layar ponselnya dengan pandangan nanar.
Jantungnya masih berdegup kencang, sisa dari teror telepon penagih utang semalam. Pagi ini, bukannya disambut oleh rasa syukur karena gajinya telah masuk ke rekening, ia justru disambut oleh kewajiban yang sudah menunggu untuk dikuras habis.