Liontin bulan sabit tiba-tiba bersinar terang, menyilaukan. Sorotnya membuat para pengikut berjubah hitam terhuyung, menjerit, lalu memudar ke dalam kegelapan.
Pria berjubah hitam mencoba bertahan, menutupi wajahnya dengan kain. “Tidak ini tidak mungkin!”
Hesti membuka mata, suaranya bergetar dan mantap. “Bayangan hanya bisa berkuasa jika kita menyerah, tapi aku tidak akan menyerah!”
Cahaya meledak ke seluruh ruangan. Saat mereda, pria itu lenyap, hanya meninggalkan abu hitam yang terseret angin.
Keheningan turun kembali. Puteri Cahaya menatap Hesti dengan tatapan bangga. “Kau telah memilih dengan benar. Ingatlah, cahaya bukanlah milik satu orang. Ia hidup dalam setiap hati yang berani.”
Hesti mengangguk pelan, matanya berair. “Terima kasih, aku akan menjaga cahaya ini, apa pun yang terjadi.”
Arman dan Raka mendekat, keduanya menepuk bahu Hesti bergantian.
“Kau luar biasa,” ucap Arman dengan senyum lega.
Raka menambahkan. “Perjalanan kita baru saja dimulai.”
Mereka bertiga berdiri di tengah ruangan bercahaya, menyadari bahwa pintu kebenaran baru saja terbuka, tapi bayangan Lingkaran Malam mungkin masih menunggu di luar.
***
Pintu batu itu perlahan menutup kembali, meninggalkan Hesti, Arman, dan Raka di luar ruang bercahaya. Hanya suara hujan di kejauhan yang menyambut mereka, seolah dunia di luar tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Hesti memegang liontin bulan sabit yang kini terasa lebih hangat. Di hatinya masih terngiang suara Puteri Cahaya. Cahaya bukan milik satu orang dan ia hidup dalam setiap hati yang berani.
“Jadi ini belum akhir, bukan?” tanya Arman, suaranya pelan dan sarat kegelisahan.
Raka menoleh cepat, matanya tajam. “Jelas belum. Kita hanya membuka gerbang pertama. Lingkaran Malam masih berkeliaran, dan aku yakin mereka tahu keberadaan kita.”
Hesti menarik napas panjang, lalu berujar mantap, “Kalau begitu, kita harus bersiap. Mereka tidak akan tinggal diam.”
Sebelum langkah mereka menjauh dari pintu gua, suara gesekan terdengar dari balik kegelapan. Bayangan bergerak cepat, lalu muncullah seorang lelaki tua berjubah abu-abu. Matanya redup, tapi menyimpan sinar licik.
“Ah akhirnya kalian membuka segel itu,” katanya dengan senyum dingin. “Aku sudah menunggu momen ini.”
Arman spontan maju setapak. “Siapa kau?”
Lelaki itu mengangkat tongkat kayu hitam yang penuh ukiran aneh. “Orang memanggilku Ki Murya. Aku saksi hidup sumpah lama dan sekaligus penjaga yang tak pernah diundang.”
Raka menyipitkan mata. “Penjaga? Atau pengkhianat?”
Ki Murya terkekeh kecil. “Sebut saja aku pewaris kebenaran lain. Kalian membawa cahaya, aku membawa keseimbangan. Tanpa bayangan, cahaya akan membakar segalanya.”
Hesti menatapnya lekat-lekat. “Keseimbangan? Atau sekadar dalih untuk melanggengkan kegelapan?”
Dialog itu menegangkan udara. Arman merasakan tangannya gatal ingin meraih pedang, dan Hesti mengangkat tangan menahannya.
“Biarkan aku yang bicara,” ucap Hesti lirih.
Raka berbisik ke telinganya, “Hati-hati, Hesti. Orang seperti dia bisa memutarbalikkan kebenaran dengan kata-kata.”
Hesti mengangguk tipis, lalu menatap Ki Murya. “Kalau kau benar penjaga, mengapa kau bersekutu dengan bayangan yang ingin menghancurkan istana?”
Ki Murya menatapnya dalam, seakan menembus isi hati. “Karena istana itu sendiri sudah menjadi bayangan. Kau pikir siapa yang pertama kali membuat Lingkaran Malam? Mereka lahir dari dinding istana, dari ambisi para penguasa.”
Arman tercengang. “Apa maksudmu?”
Ki Murya mendekat selangkah, tongkatnya bergetar pelan. “Kebenaran pahit, anak muda. Lingkaran Malam bukan sekadar kelompok rahasia. Mereka adalah bayangan yang dibiarkan tumbuh oleh para raja, dari generasi ke generasi. Kau, Hesti Fauziah Hafidz, hanya mewarisi luka lama yang belum pernah disembuhkan.”
Dada Hesti terasa berat. Jadi apakah benar semua ini lahir dari istana sendiri?
Namun ia menggeleng pelan, meneguhkan hatinya. “Kalau begitu, tugasku semakin jelas. Aku tidak hanya harus melawan Lingkaran Malam, tapi juga luka yang melahirkannya.”
Ki Murya menatapnya, lalu tersenyum samar. “Kata-kata indah, tapi apakah hatimu cukup kuat? Cahaya bisa menjadi pedang, tapi juga bisa menusuk balik.”
Raka mendengus. “Sudah cukup. Kalau kau ingin menguji, ujilah kami di medan nyata. Jangan hanya bermain kata.”
Ki Murya menurunkan tongkatnya. “Baik. Aku tidak akan menghalangi jalan kalian, tapi ingat, semakin terang cahaya, semakin pekat bayangan yang tercipta. Sampai jumpa di titik akhir.”
Bayangan menyelimuti tubuhnya, lalu ia lenyap begitu saja, meninggalkan udara dingin dan rasa was-was.
Arman segera menoleh ke Hesti. “Apakah kau percaya pada kata-katanya?”
Hesti terdiam sejenak, lalu menjawab lirih, “Sebagian mungkin benar, tapi kebenaran tidak akan membuatku berhenti. Justru itulah alasan aku harus melanjutkan.”
Raka mengangguk mantap. “Kita tidak boleh goyah. Kalau bayangan lahir dari istana, maka kita harus menyalakan cahaya di sana.”
Mereka bertiga keluar dari gua, menembus derasnya hujan malam. Langkah-langkah mereka berat, dan tekad di hati semakin kuat.
Sesampainya di kaki bukit, Arman tiba-tiba berhenti. “Tunggu lihat itu.”
Di kejauhan, obor-obor menyala, berderet seperti barisan semut api yang mendekat. Puluhan orang berbaju hitam bergerak menuju arah mereka.
“Lingkaran Malam.” Raka menghunus pedangnya. “Mereka sudah mengepung jalannya.”
Hesti menggenggam liontin bulan sabit, hatinya berdebar. Apakah ini ujian berikutnya?
Arman menoleh cepat, wajahnya tegang. “Apa yang harus kita lakukan? Melawan? Atau mencari jalan lain?”
Hesti menutup mata sejenak, merasakan hangat cahaya di telapak tangannya. Lalu ia membuka mata dengan senyum tipis. “Kita tidak bisa selalu berlari. Malam ini, kita hadapi mereka, tapi ingat, kita melawan bukan untuk membunuh, melainkan untuk menyalakan harapan.”
Raka menggeram pendek. “Baik. Aku akan menahan pedangku sebisa mungkin, tapi kalau mereka menyerang duluan, jangan salahkan aku.”
Arman mengangguk cepat. “Aku di sisimu, Hesti.”
Derap langkah pengikut Lingkaran Malam semakin dekat. Suara deras hujan bercampur dengan pekik mereka.
Hesti melangkah maju, menatap barisan bayangan itu. “Kalau kalian mencari cahaya maka malam ini, aku akan menyalakannya.”