Hesti menggenggam gulungan erat-erat, jantungnya berdegup kencang. Apa aku benar-benar siap?
Dalam batinnya, ia mendengar suara kecil, entah dari cahaya atau dari dirinya sendiri: Keberanian bukan selalu tentang maju. Kadang, keberanian berarti berhenti di tempat yang orang lain tak sanggup tempati.
Ia menutup mata, air mata jatuh perlahan. “Kalau memang aku harus tinggal ….”
Raka langsung memotong, panik. “Tidak! Kau tidak boleh bilang begitu!”
Arman mendekat, suaranya parau. “Hesti, pikirkan baik-baik. Kami butuh kau di luar sana.”
Hesti membuka mata, sorotnya mantap. “Kalian juga bisa. Aku percaya, tapi kalau memang ini jalanku, aku tidak takut.”
Sosok berjubah itu mengangguk pelan, suaranya bergetar. “Kau lebih berani daripada aku dulu.”
Tiba-tiba, cahaya emas dari gulungan berdenyut kuat, lalu sebuah suara bergema memenuhi aula: “Keputusan sejati bukanlah memilih siapa yang tinggal. Keputusan sejati adalah memilih untuk tetap bersama, apa pun harganya.”
Sosok berjubah itu terhuyung, topeng peraknya retak. Dari celah topeng, tampak wajah seorang pria muda dengan mata sendu. “Jadi bukan pengorbanan?”
“Bukan,” sahut Hesti tegas.
“Cahaya tidak ingin memisahkan. Cahaya ingin menyatukan.”
Pilar-pilar di aula bergetar, lalu ruangan dipenuhi kilau emas. Sosok berjubah itu menutup matanya, tubuhnya perlahan larut dalam cahaya. “Akhirnya aku mengerti.”
Ketiganya menatap sekeliling. Simbol-simbol kuno di lantai menyala, membuka jalan menuju pintu berikutnya.
Arman menoleh pada Hesti, kagum. “Kau baru saja mematahkan kutukan.”
Raka tersenyum kecil meski wajahnya masih tegang. “Kau membuktikan, Hesti bahwa kebenaran tidak selalu sejalan dengan apa yang tampak di depan mata.”
Hesti menunduk, menahan tangis lega. Dalam batinnya, ia berbisik, Ternyata, rahasia terbesar cahaya adalah kesetiaan untuk tetap bersama.
Mereka bertiga melangkah lagi, kali ini dengan hati yang lebih kuat. Aula yang tadinya mencekam kini terasa hangat, seolah memberi restu.
Hesti berbisik lirih, “Kita tidak boleh goyah lagi. Cahaya ini bukan hanya tanggung jawabku, tapi tanggung jawab kita bersama.”
Raka menepuk bahunya. “Benar. Kita jaga sama-sama.”
Arman menambahkan, “dan kita akan melawan apa pun yang menghadang.”
Hesti tersenyum tipis, lalu menatap pintu cahaya yang semakin terang. Inilah perjalanan kita, dan aku tidak lagi sendiri.
***
Langkah kaki mereka berderap pelan di lorong panjang setelah meninggalkan aula penuh bayangan. Cahaya emas dari gulungan di tangan Hesti Fauziah Hafidz berpendar lebih stabil, seolah lega setelah ujian berat tadi. Namun, perasaan itu tak bertahan lama, sebab lorong ini justru berakhir pada sebuah pintu raksasa dari batu obsidian, dihiasi ukiran menyerupai gelombang suara.
Hesti berhenti, menatap lekat ukiran itu. “Seperti nada musik.”
Raka menyipitkan mata. “Kau benar. Lihat, pola ukirannya membentuk tangga nada.”
Arman mengernyit. “Tangga nada? Apa maksudnya, kita harus menyanyi?”
Hesti terdiam sesaat, lalu mengangguk ragu. “Mungkin begitu. Setiap ujian selalu ada simbol. Kalau ini musik, bisa jadi pintu ini hanya terbuka dengan harmoni.”
Raka menghela napas berat. “Masalahnya, siapa di antara kita yang bisa bernyanyi?”
Arman langsung menunjuk dirinya sambil tersenyum lebar. “Jelas aku. Suaraku lumayan.”
Hesti menatapnya curiga. “Lumayan fals, mungkin?”
Arman tertawa kecil, lalu menepuk dadanya. “Percaya saja dulu.”
Begitu ia mulai melantunkan nada, pintu itu bergetar lalu mengeluarkan suara keras seperti deritan.
“Berhenti!” seru Raka sambil menutup telinganya. “Kau hampir membuat telingaku pecah.”
Arman cemberut. “Setidaknya aku mencoba.”
Hesti mengamati ukiran lagi. Ada tujuh garis seperti partitur, dan pada tiap garis ada simbol cahaya kecil. Ia mendekat, menyentuh satu simbol, lalu terdengar denting lembut seperti alat musik petik.
“Ah, jadi bukan sekadar nyanyian,” gumamnya. “Kita harus memainkan musik ini bersama.”
Raka menoleh cepat. “Bersama? Maksudmu, kita semua harus ikut?”
“Ya,” jawab Hesti mantap.
“Kalau tadi ujiannya tentang kebersamaan, aku yakin ini juga begitu. Musik tidak akan harmonis kalau hanya dimainkan satu orang.”
Arman melangkah mendekat, menatap simbol di batu. “Kita tidak punya alat musik.”
“Batu ini adalah alat musiknya,” jelas Hesti. “Sentuh sesuai pola cahaya, mungkin ia akan membentuk melodi.”
Raka mendesah. “Kedengarannya rumit.”
Hesti tersenyum tipis. “Bukankah semua hal rumit akan terasa lebih ringan kalau dikerjakan bersama?”
Raka terdiam, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Kita coba.”
Mereka membagi peran. Hesti berdiri di sisi kiri, Raka di tengah, dan Arman di kanan. Hesti memberi isyarat dengan tatapannya. “Kita ikuti urutan cahaya. Dengarkan baik-baik. Jangan terburu-buru.”
Arman mengangkat alis. “Kalau aku salah sentuh, apa yang terjadi?”
“Semoga tidak ada lantai jebakan,” jawab Hesti sambil menahan senyum.
Raka mendengkus. “Semoga.”
Mereka mulai menyentuh simbol satu per satu. Denting demi denting terdengar, menyatu menjadi melodi sederhana. Awalnya canggung, beberapa kali Raka terlambat, Arman salah nada, membuat alunannya kacau.
“Aduh!” Arman mengeluh. “Kenapa selalu aku yang salah?”
“Karena kau terlalu cepat,” Hesti menegur, suaranya sabar. “Dengarkan, jangan terburu-buru. Rasakan iramanya.”
Arman mengangguk, lalu mencoba lagi.
Kali ini, ketika mereka lebih fokus, melodi itu terdengar indah, seperti simfoni kuno yang bergema di seluruh lorong.
Pintu obsidian bergetar pelan, retakan cahaya muncul di sela-sela ukirannya. Namun, mendadak, cahaya pada simbol bergerak lebih cepat, seolah menguji ketangkasan mereka.
“Cepat, ikuti iramanya!” seru Hesti. Tangannya bergerak lincah, matanya fokus mengikuti cahaya.
Raka terengah, hampir kehilangan ritme. “Ini semakin sulit!”
Arman menepuk simbol dengan gugup. “Aku sudah bilang, aku bukan musisi!”
Hesti merasakan jantungnya berpacu. Jika salah langkah, pintu ini bisa menutup selamanya. Ia menenangkan diri, lalu berseru, “Jangan pikirkan nada, ikuti perasaanmu! Musik bukan hanya soal teknik, tapi soal hati!”
Raka berhenti sejenak, lalu menghela napas, mencoba meresapi kata-kata Hesti. Tangannya mulai lebih tepat, mengikuti irama dengan lebih alami.
Arman pun mencoba menirukan, meski sesekali salah, tapi kali ini ia tidak panik.
Melodi mereka akhirnya berpadu indah. Pintu obsidian bersinar terang, lalu perlahan terbuka, menyingkap ruangan bercahaya emas dengan simbol berbentuk lingkaran di lantai.
Mereka melangkah masuk. Di tengah ruangan, berdiri sebuah monumen kristal raksasa, memancarkan cahaya lembut. Dari dalam monumen terdengar bisikan, bukan suara menakutkan, melainkan lantunan seperti doa.
Hesti mendekat, menaruh gulungan bercahaya di hadapannya. Cahaya gulungan dan kristal saling bersahutan, menyatu menjadi satu aliran terang.
Suara lembut bergema di ruangan: “Keindahan sejati lahir dari harmoni, dan harmoni lahir dari hati yang mau mendengar.”