


oleh Akina · 5 Bab
Naya tidak pernah merasa istimewa. Hari-harinya berjalan biasa, kelas, catatan, dan senja yang sering menemaninya pulang. Namun, sebuah pertemuan kecil dengan Raka, teman sekelas yang selalu tampak begitu jauh dari dirinya, perlahan mengubah warna di kesehariannya. Percakapan ringan, tawa yang tidak sengaja pecah, hingga keheningan yang terasa nyaman. Di balik langit jingga, di antara kata-kata yang ditulisnya diam-diam, Naya belajar satu hal, bahagia bisa hadir dalam bentuk paling sederhana, kadang lewat kehadiran seseorang yang hanya duduk di samping kita. Ini adalah kisah tentang langkah-langkah kecil, rasa yang tumbuh perlahan, dan keberanian untuk mengakui bahwa hati pun bisa belajar berbahagia.
Langit sore di atas halaman sekolah berwarna jingga keemasan, memantulkan cahaya yang lembut ke jendela-jendela kelas. Hampir semua murid kelas 2-B sudah pulang. Kursi-kursi kosong berderet rapi, papan tulis penuh coretan samar kapur yang belum sempat dibersihkan. Hanya ada seorang siswi yang masih bertahan di dalam kelas, duduk menunduk di bangku tengah dengan wajah lelah.
Namanya Naya. Sejak setengah jam lalu ia berusaha memahami soal-soal matematika di buku catatannya. Pensilnya terus menari, tapi bukannya menghasilkan jawaban, malah membuat coretan-coretan baru yang semakin berantakan. Ia mengetuk ujung pensil ke kertas sambil bergumam pelan.
“Kenapa susah banget, sih.”
Suara itu nyaris tertelan senyap sore. Namun, ternyata ada yang mendengar. Dari arah depan kelas, sebuah suara ringan menyahut, membuat Naya terlonjak kaget.
“Kamu tahu nggak? Cara kamu ngeluh barusan mirip banget kayak orang yang baru menyerah sama hidup.”
Naya menoleh. Seorang cowok duduk santai di kursi dekat jendela depan. Tubuhnya condong ke belakang, dagu ditopang tangan, matanya menatap ke arahnya dengan senyum samar. Raka.
Ia adalah sosok yang cukup dikenal di sekolah, kapten basket, cukup pintar di kelas dan entah bagaimana selalu tampak ramah pada siapa saja. Kehadirannya membuat banyak orang merasa nyaman, meski tak semua cukup berani mendekat.
“A-aku kira kamu sudah pulang,” kata Naya gugup, suaranya lebih lirih dari yang ia harapkan.
Raka menutup buku di mejanya, terkekeh singkat. “Nggak. Jemputanku telat. Kamu juga belum pulang?”
Naya mengangkat buku catatannya, seolah memberi alasan. “Masih perang sama soal ini.”
“Matematika?” Raka berdiri, melangkah santai ke arahnya. Suara langkah sepatu terdengar jelas di kelas yang nyaris kosong. Ia berhenti di samping meja Naya, mencondongkan tubuh sedikit untuk melihat coretan-coretan di kertas.
Naya merasakan wajahnya memanas. Kehadiran Raka terlalu dekat. Aroma sabun yang segar ikut terbawa angin, membuatnya makin salah tingkah.
“Hmm.” Raka menunjuk salah satu bagian. “Kamu salahnya di sini. Kalau ada tanda kurung, dikerjain dulu yang di dalam.”
Naya menunduk, mengikuti arah telunjuknya. Angka-angka yang tadi terasa seperti musuh, kini tampak lebih masuk akal.
“O-oh, jadi begitu,” gumamnya.
Raka menarik kursi di sebelahnya dan duduk tanpa ragu. “Aku ajarin bentar, ya. Biar besok nggak bingung lagi.”
Naya hanya bisa mengangguk. Tangannya masih memegang pensil erat-erat. Suara Raka terdengar jelas, tenang dan sabar ketika ia mulai menjelaskan. Ia membuat garis-garis kecil di kertas, menghubungkan angka satu ke angka lainnya, menjabarkan langkah-langkah sederhana yang tadinya terasa rumit. Sesekali ia menoleh ke Naya, memastikan gadis itu mengikuti penjelasannya.
Naya berusaha keras fokus pada soal, tapi sebagian pikirannya justru sibuk memperhatikan wajah Raka yang serius, atau senyum kecil yang muncul setiap kali ia mengangguk tanda mengerti. Degup jantungnya terasa lebih keras dari biasanya.
“Paham sampai sini?” tanya Raka setelah beberapa menit.
“Paham,” jawab Naya cepat, mungkin terlalu cepat.
“Kalau gitu, coba kerjain soal berikutnya. Aku lihat.”
Tangan Naya sedikit gemetar saat menulis, tapi ia berhasil menyelesaikan soal itu. Raka mengambil buku, membaca sebentar, lalu mengangguk puas.
“Benar. Kamu ternyata cepat nangkep. Cuma butuh dijelasin sekali.”
Pipinya bersemu merah. “Mungkin tadi aku lagi lemot aja.”
Raka tersenyum tipis. “Bukan. Kadang orang cuma butuh teman buat nyoba lagi.”
Ucapan itu sederhana, tapi entah kenapa menempel di pikiran Naya. Ia menatap Raka, ingin berkata sesuatu, tapi tidak tahu harus apa. Suasana kembali hening, hanya ada tirai yang bergoyang perlahan tertiup angin sore.
Dari lapangan basket terdengar suara teriakan pelatih dan pantulan bola. Raka menoleh sekilas ke arah jendela, lalu kembali bertanya, “Kamu ikut ekskul apa?”
Naya menggeleng pelan. “Nggak ikut.”
“Nggak ikut? Sayang banget.”
“Aku nggak jago apa-apa,” jawabnya singkat.
Raka menatapnya beberapa detik, lalu terkekeh ringan. “Siapa bilang? Kamu aja yang belum nyoba.”
Naya terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi membuat dadanya terasa hangat sekaligus bingung.
Ponsel Raka tiba-tiba bergetar di meja. Ia melirik sebentar, lalu bangkit. “Jemputanku udah datang.” Ia menutup bukunya, mengangkat tas. “Thanks ya, udah mau jadi temen belajar dadakan.”
Naya cepat-cepat menatapnya. “Harusnya aku yang makasih. Kamu udah nolongin.”
Raka menepuk ringan meja di sampingnya. “Besok kalau masih bingung, tanya aja. Aku nggak keberatan.”
Ia berjalan ke arah pintu, lalu sempat menoleh sekali lagi. Senyumnya santai, tapi ada sesuatu yang sulit didefinisikan di sana. “Jangan keburu nyerah, Naya.”
Pintu kelas tertutup perlahan. Naya masih duduk mematung, jantungnya berdetak cepat, wajahnya memanas. Hari yang biasa saja tiba-tiba terasa berbeda.
Matanya kembali menatap buku catatan. Angka-angka yang tadi tampak menakutkan kini terasa lebih ramah. Di samping salah satu soal, ada coretan kecil—tulisan tangan Raka yang menjelaskan langkah-langkah sederhana.
Naya menyentuhnya dengan ujung jari, lalu tersenyum tipis.
Matahari pagi menembus celah tirai kamar, membuat Naya terbangun dengan wajah masih kusut. Ia menguap pelan, lalu menoleh ke meja belajar. Buku catatan matematika yang semalam belum sempat dibereskan masih terbuka, menampilkan coretan-coretan tangannya yang bercampur dengan tulisan Raka.
Hanya melihatnya saja membuat dadanya terasa hangat. Ingatan tentang sore kemarin kembali, bagaimana Raka duduk di sebelahnya, menjelaskan dengan sabar, bahkan menyebut namanya dengan mudah.
Naya menutup buku itu cepat-cepat, seakan takut terlalu terbawa perasaan. Ia berdiri, merapikan seragam, lalu turun ke ruang makan. Ibunya sudah menyiapkan sarapan sederhana.
“Berangkatnya jangan telat, ya,” pesan ibunya sambil menyodorkan roti panggang.
Naya mengangguk. “Iya, Bu.”
Di sepanjang perjalanan ke sekolah, pikirannya masih melayang pada ucapan Raka, Kadang orang cuma butuh teman buat nyoba lagi. Kalimat itu sederhana, tapi entah mengapa berulang-ulang terngiang di kepalanya.
Begitu tiba di kelas, suasana sudah cukup ramai. Teman-temannya sibuk berbincang, ada yang belajar, ada yang bercanda. Naya duduk di bangku tengah, membuka buku, berusaha terlihat sibuk.
Tapi matanya refleks melirik ke arah pintu saat seseorang masuk. Raka.
Ia datang dengan langkah santai, menyalami beberapa teman, lalu duduk di kursinya di barisan depan. Sekilas, matanya bertemu dengan Naya. Ia mengangkat alis sambil tersenyum tipis, seolah memberi salam tanpa suara.
Wajah Naya memanas. Ia buru-buru menunduk, pura-pura membaca catatan.
Bel tanda pelajaran berbunyi. Guru matematika masuk, memberi soal latihan di papan tulis. Kelas mendadak riuh dengan keluhan. Beberapa siswa langsung mengeluh keras-keras, sementara yang lain hanya bisa menatap angka-angka dengan pasrah.
Naya menggenggam pensilnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sepenuhnya takut pada soal-soal itu. Ia mencoba mengingat apa yang Raka ajarkan. Tangannya bergerak lebih percaya diri, meski sesekali ia berhenti untuk berpikir.

Akina
10 Pengikut · 6 Novel