“Ibu benar-benar harus pergi sekarang, Rio. Jaga dirimu baik-baik di sini, ya?”
Suara Ibu terdengar agak terburu-buru di ambang pintu depan. Perempuan itu mengusap lembut puncak kepala Rio, meninggalkan kecupan singkat di dahinya sebelum berbalik menuju taksi yang sudah menunggu di luar.
Ban mobil berderit pelan di atas tanah berbatu, lalu perlahan menjauh, meninggalkan kepulan debu tipis yang terbang berhamburan di udara sore.
Rio hanya bisa berdiri terpaku di teras rumah kayu yang tampak kusam itu. Tangannya menggenggam erat tali ransel biru di punggungnya, sementara matanya menatap nanar ke arah jalan raya yang kini sudah kosong melompong.
Rasanya ia ingin sekali berlari mengejar mobil itu dan memohon kepada Ibu agar membawanya pulang ke kota.
“Masuklah. Udara sore kurang baik untuk kesehatanmu.”
Rio menoleh pelan. Kakek Yan berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu kayu jati yang kokoh. Lelaki tua itu mengenakan kemeja batik yang sudah pudar warnanya dan celana kain hitam panjang.
Wajahnya yang dipenuhi kerutan tampak tanpa ekspresi, sedatar papan penggilesan baju di rumah Rio. Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, Kakek Yan langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari cucunya.
Langkah kakinya terdengar berat, beradu dengan lantai papan yang berderit pelan setiap kali diinjak.
Rio menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan rasa pasrah. Ia menyeret langkah kakinya masuk ke dalam rumah. Pintu depan ditutupnya rapat-rapat, mengunci dirinya dalam kesunyian yang mencekam.
Liburan kenaikan kelas kali ini benar-benar menjadi sebuah bencana besar bagi Rio. Ketika teman-teman sekelasnya di Jakarta sibuk memamerkan rencana liburan mereka ke Bali, Singapura, atau setidaknya bermain gim daring bersama sepuasnya di rumah, Rio justru terdampar di desa terpencil ini.
Ayah dan Ibunya harus pergi ke luar kota untuk urusan dinas yang sangat mendesak selama dua minggu penuh, dan mereka memutuskan bahwa menitipkan Rio di rumah Kakek Yan adalah pilihan terbaik.
Masalah utamanya adalah rumah ini sama sekali tidak memiliki koneksi Wi-Fi. Jangankan Wi-Fi, sinyal telepon seluler di sini pun timbul tenggelam seperti lumba-lumba di laut.
Ketika Rio mencoba memeriksa ponselnya, hanya ada simbol silang merah di sudut kanan atas layar. Ponsel pintarnya kini tidak lebih berharga daripada sebongkah batu bata yang mahal.
***
“Kek, di mana kamar tidur Rio?” tanya Rio dengan volume suara yang agak ditinggikan, berharap suaranya bisa menembus keheningan rumah.
Kakek Yan yang sedang menyeduh teh di dapur hanya menunjuk ke arah sebuah pintu kayu di lorong tengah dengan menggunakan dagunya.
Tidak ada senyuman hangat, tidak ada pelukan melepas rindu, bahkan tidak ada pertanyaan apakah Rio merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh dengan kereta api tadi pagi. Kakek Yan memang terkenal sebagai sosok yang sangat pendiam dan kaku sejak dahulu kala.
Rio berjalan menuju kamar yang ditunjuk oleh kakeknya. Ketika pintu dibuka, aroma kayu tua yang bercampur dengan bau kamper langsung menyengat indra penciumannya. Kamar itu sangat sederhana.
Hanya ada sebuah tempat tidur kayu tunggal dengan sprei bermotif kotak-kotak biru, sebuah lemari pakaian kecil, dan sebuah meja belajar yang permukaannya sudah agak retak. Di sudut ruangan, sebuah jendela kaca besar menghadap langsung ke arah pekarangan samping yang ditumbuhi rumput liar yang tinggi.
Rio melemparkan ranselnya ke atas kasur, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Suara detak jam dinding kuno di ruang tamu terdengar sangat nyaring di telinganya.
Tik, tok, tik, tok.
“Bagaimana mungkin aku bisa bertahan selama dua minggu di tempat sekuno ini?” gumam Rio seraya menutup wajahnya dengan menggunakan bantal.
Ia merasa sangat merindukan kamarnya yang nyaman di Jakarta, merindukan suara bising kendaraan, merindukan teman-temannya.
Di desa ini, ia tidak mengenal siapa pun. Tidak ada anak seusianya yang terlihat bermain di sekitar rumah Kakek Yan sepanjang perjalanan masuk tadi.
Waktu bergerak dengan sangat lambat, seolah-olah jarum jam sengaja mempermainkan perasaan Rio. Ketika malam tiba, suasana rumah menjadi semakin sunyi dan mencekam. Makan malam pun dilewati tanpa banyak obrolan berarti.
Kakek Yan hanya sibuk dengan piringnya sendiri, sesekali menyeruput teh hangat dengan tenang, sementara Rio hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya dengan malas. Usaha Rio untuk membuka percakapan tentang hobi kakeknya hanya dibalas dengan anggukan atau gelengan kepala yang singkat.
***
Setelah selesai makan malam, ia membersihkan piring, Kakek Yan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu dari dalam.
Rio kembali sendirian di ruang tengah yang remang-remang, ditemani oleh lampu bohlam berwarna kuning yang sinarnya mulai berkedip-kedip tidak stabil.
Karena merasa tidak ada hal menarik yang bisa dilakukan, Rio memutuskan untuk kembali ke kamarnya, mencoba memejamkan mata.
Rasa kantuk sama sekali tidak mau datang menghampirinya. Pikirannya terus berputar, memikirkan betapa membosankannya hari esok yang harus ia jalani kembali di rumah ini.
Di tengah keheningan malam yang larut, ketika suara jangkrik di luar rumah mulai saling bersahutan, Rio tiba-tiba mendengar sesuatu yang tidak biasa. Rumah kayu tua ini memang sering mengeluarkan suara derit akibat pemuaian suhu, tetapi suara yang satu ini terdengar sangat berbeda.
Krieeek. Ssshh.
Rio langsung menegakkan posisi duduknya di atas kasur. Matanya melebar, mencoba mempertajam pendengarannya di tengah kegelapan malam.
Suara itu terdengar samar-samar, tetapi cukup jelas untuk disadari. Bukan suara tikus yang berlari, melainkan suara gesekan kayu yang berat, disusul oleh suara dengung halus yang terdengar sangat asing di telinganya.