


oleh Flamboyan jingga · 31 Bab
Pindah ke Desa Cempaka yang sunyi, Rani mendapatkan warisan berupa selendang merah magis dari neneknya. Bersama Bima dan Sari, Rani menemukan bahwa desa tersebut adalah gerbang menuju dunia legenda yang dihuni makhluk ajaib seperti singa berbulu cokelat seperti mentari. Namun, ancaman muncul saat kabut hitam dari Kerajaan Bayangan mulai mencuri ingatan penduduk. Rani harus menguasai kekuatan selendangnya di Bukit Gema untuk melawan kegelapan. Di tengah petualangan ini, ia mulai mengungkap rahasia besar keluarga tentang jati diri neneknya dan takdirnya sebagai penjaga harmoni antara dua dunia. Sebuah kisah tentang keberanian, persahabatan, dan keajaiban.
Pagi itu, kesibukan sangat terasa di sebuah rumah di kawasan Jakarta Pusat. Rani menatap pemandangan yang tidak biasa baginya. Minggu lalu, kedua orang tuanya telah menceritakan segalanya. Sang ayah akan dimutasi ke luar daerah.
Sebagai pegawai pemerintahan, dinas ke luar kota adalah hal biasa, dan Rani sudah terbiasa ditinggal ayahnya bekerja. Namun, kali ini terasa berbeda. Ibunya bersikeras untuk pulang ke rumah orang tuanya di desa selama Ayah pergi dinas.
Padahal, biasanya mereka tetap tinggal di Jakarta sambil menunggu kepulangan sang ayah. Rani kecil tidak mengerti mengapa ibunya begitu teguh ingin pulang ke rumah Nenek. Namun, bagi Rani hal itu bukanlah masalah besar. Ia adalah anak yang mudah bergaul dan cepat beradaptasi.
Hanya saja, ia pasti akan merindukan teman-teman sekolah dan teman-teman bermain di sekitar rumahnya. Dunia Rani yang selama ini hanya berkisar antara rumah, sekolah, dan tempat bimbel kini harus berubah total.
Sang ibu memilih pulang kampung ke salah satu kota di Jawa Tengah. Sisi baiknya, Rani sangat menyukai sayur lodeh buatan Nenek yang rasanya sangat sedap dan nikmat, karena itu merupakan keahlian Nenek. Yang selama ini selalu dirindukan oleh nya, yang hanya bisa dinikmati setiap mereka berkunjung ke rumah Nenek.
Hari Minggu yang dinanti pun tiba. Sebuah truk besar datang untuk mengangkut perabotan yang sudah dikemas rapi. Perabotan sisanya ditinggalkan untuk dijual atau diberikan kepada tetangga sekitar kompleks yang membutuhkan.
Suara kardus yang diseret lalu diangkat, suara barang-barang berpindah tempat. Ibu yang sedang bekerja membantu untuk memberikan instruksi barang mana yang lebih dulu diangkat.
"Lebih praktis begini, kita bisa membelinya lagi nanti di sana," kata Ibu meyakinkan.
Saat hendak berangkat, Ayah menatap Rani cukup lama. Beliau memeluk dan menciumnya, lalu berjanji akan menjemput mereka di rumah Nenek setelah urusan dinas selesai.
"Rani, harus jadi anak yang baik yah. Jaga Ibu, dan titip salam buat Nenek. Ayah akan segera menjemput Rani, begitu pekerjaan Ayah selesai." Ada setitik bening di sudut mata Ayah.
"Janji yah, Ayah. Rani tunggu kedatangan Ayah, rumah pasti sepi tanpa adanya Ayah." Ayah menganggukkan kepala, lalu menggendong Rani dan menaikannya ke truk.
Rani kecil belum mengerti keadaan yang sebenarnya. Ia tidak tahu bahwa kedua orang tuanya telah berpisah.
Perjalanan menuju rumah Nenek dilalui dengan gembira. Mereka sempat berhenti untuk mengisi perut. Namun, perjalanan delapan jam itu akhirnya membuat Rani mengantuk. Sebelum matanya terpejam, ia sempat melihat setitik air mata di sudut mata ibunya. Tak lama kemudian, ia pun tertidur pulas.
Saat truk berhenti, Rani terbangun sambil mengucek matanya. Ia memandang ke sekeliling dan langsung mengenali tempat itu. Rumah Nenek. Nenek sudah berdiri di depan rumah menyambut mereka. Rani segera turun dibantu oleh sopir, dan ia berteriak kegirangan.
"Nenek!" serunya sambil menghambur ke pelukan sang nenek. Mereka tertawa bersama.
"Cucu Nenek sudah besar, Rani bertambah cantik ya," puji Nenek.
"Iya dong, Nek! Siapa dulu," jawab Rani jenaka, membuat Nenek tertawa sambil mengelus kepalanya.
Semua perabotan dimasukkan ke dalam rumah yang terletak tepat di samping rumah Nenek. Mendadak banyak tetangga berdatangan membantu Ibu menurunkan barang-barang, halaman seketika ramai dengan suara-suara.
Sementara itu, Rani diajak Nenek masuk ke dalam rumah. Di sana, Nenek telah menyiapkan minuman dan makanan kesukaan Rani.
"Enak?" tanya Nenek.
"Masakan Nenek memang juara!" ucap Rani sambil mengangkat jempolnya.
Sejak saat itu, Rani tinggal di dekat rumah Nenek. Ibu mendaftarkannya ke sekolah yang tak jauh dari sana. Guru-guru di sekolah barunya sangat baik dan ramah. Di kelas, ia mendapatkan sahabat baru. Sari yang periang dan pandai, serta Bima yang sangat kocak.
Kehidupan Rani pun mulai penuh warna kembali. Suatu sore, saat Rani duduk bersantai dengan Nenek yang menceritakan kisah masa mudanya. Beliau kemudian memberikan sebuah selendang merah kepada Rani sebagai kenang-kenangan.
Waktu terus berlalu. Rani merasa senang tinggal di desa bersama Nenek, meski terkadang rasa sedih muncul karena ketiadaan Ayah di sampingnya. Beruntung, Ibu dan Nenek selalu punya cara untuk menghiburnya.
Setiap pulang sekolah, Rani senang bermain di bukit yang terletak di pinggir desa. Di sana, ia bisa bebas berteriak, bernyanyi, dan berlari-lari sepuas hati. Tak lupa, ia selalu membawa burung beo pemberian pamannya yang pintar menirukan suara.
Rani mulai menyadari bahwa Desa Cempaka bukanlah desa biasa.
Desa ini merupakan titik temu antara dunia nyata dan dunia ajaib yang dihuni oleh makhluk-makhluk legenda seperti emas, singa berbulu matahari, dan rusa putih penjaga musim.
Saat ia mulai masuk ke sekolah SD Negeri Cempaka, ia menyadari naga penjaga pintu gerbang bisa bersinar matanya. Negeri Amarta Emas, kabut hitam dari Kerajaan Bayangan mulai merayap dan mengancam untuk menelan ingatan seluruh penduduk desa. Rani harus belajar menguasai kekuatan selendang merahnya melalui "Jembatan Suara" di Bukit Gema.
Petualangan ini bukan hanya tentang melawan kegelapan, tetapi juga tentang keberanian, persahabatan, dan kerinduan seorang anak pada ayahnya.
Di balik setiap keajaiban yang ditemui, Rani perlahan mulai menguak rahasia besar yang disembunyikan ibu dan neneknya mengenai ayahnya yang sebenarnya dan takdir besar yang menanti dirinya sebagai penjaga harmoni dua dunia.
Perjalanan baru kehidupan Rani pun resmi dimulai di desa Nenek.

Flamboyan jingga
9 Pengikut · 4 Novel