


oleh Trioboy · 109 Bab
Adnan adalah anak sang mafia bisnis, dan menggantikan beliau sebagai CEO di perusahaan ternama di Kalimantan. Tapi, memutuskan mengundurkan diri begitu ayahnya muncul kembali setelah beliau lama menghilang. Adnan merintis usahanya sendiri hingga mendapat gelar sang raja bisnis. Dikira miskin oleh istri tercinta, ipar dan mertuanya karena penampilannya yang dibuat sederhana dan mengaku sebagai pengangguran yang tidak memiliki sanak saudara. Menikahi Nabila, sang anak almarhum sopirnya, karena merasa bersalah akan sesuatu hal, namun akhirnya dia benar-benar jatuh cinta. Tapi, apa yang terjadi saat Nabila mengetahui yang sebenarnya, padahal dia telah mengandung anak Adnan? Kebenaran apa itu?
"Ayah?" Adnan terkejut setelah menjawab video call yang masuk ke ponselnya. Ayah yang dinyatakan meninggal selama 9 tahun ini sekarang tersenyum kepadanya.
"Halo, Son. Lama tidak melihatmu langsung, ternyata kamu tumbuh menjadi pebisnis andal sepertiku." Tuan Sultan Basyir tersenyum lebar menatap putra semata wayangnya.
Ayah Adnan, Sultan Basyir yang terkenal sebagai mafia bisnis telah dinyatakan meninggal beberapa tahun yang lalu, karena mobil yang membawanya terjun ke jurang. Mobil itu tersangkut di pucuk pohon besar yang menjorok ke laut Kotabaru. Di dalam bangkai mobil itu ditemukan jasad sopir yang wajahnya sudah separo terbakar, sedangkan tempat duduk penumpang kosong dengan pintu samping terbuka, sehingga sang mafia bisnis itu diduga jatuh ke lautan yang dalam.
Sebatang rokok terjatuh dari jepitan jemari panjang Adnan. Masih tidak percaya dengan yang dilihatnya. "Jadi, selama ini, Ayah di mana?"
"Ada terus mengawasimu, Nak," jawab Tuan Sultan berwibawa. Tapi Adnan melihat ayahnya dengan pandangan yang berbeda, dia melihat ada konspirasi di dalamnya karena dia mengenal ayahnya dengan baik, bagaimana cara pikir orang tua itu.
"Lalu ... lalu bagaimana dengan Pak Daus? Apa dia bagian dari rencana?" tanyanya menuntut kebenaran.
Pertanyaan Adnan jelas bukan dari rencana Tuan Sultan, oleh karena itu senyuman beliau pun memudar. "Kamu memang cerdas, Nak. Aku tidak salah menilaimu." Tuan Sultan menganggap anaknya cerdas karena bisa menerka kebenarannya, padahal media massa bisa mereka tipu.
"Pak Daus mengabdi setia kepada keluarga kita, dia sudah jadi sopir keluarga sebelum aku lahir, Yah," ucap Adnan dengan pandangan menerawang.
"Beliau dengan suka rela mengorbankan jiwa dan raganya, Adnan. Keluarganya pun sudah ayah berikan kompensasi yang layak." Jawaban sang ayah membuat Adnan syok luar biasa.
"APA?" Adnan berdiri dengan mendadak dari singgasana ruang direktur di sebuah perusahaan nomor 1 di Kalimantan.
Seketika Adnan merasa menjadi anak seorang yang jahat, licik dan mementingkan diri sendiri. Dia merasa berdosa kepada Pak Daus yang sudah dianggapnya seperti ayah kedua baginya. Orang yang sering mendengar keluhannya dan menjadi orang kepercayaannya saat ingin mencurahkan unek-unek di hatinya, termasuk soal asmara.
"Ayah melakukan itu bukan tanpa alasan, Adnan. Kamu pasti mengerti, banyak orang yang mengincar nyawa ayah, sehingga kami membuat sandiwara seperti ini." Tuan Sultan memberikan penjelasan, berharap sang anak mengerti.
Namun penjelasan Tuan Sultan berikutnya tidak dihiraukan Adnan, karena pemuda berusia awal 30 itu sudah meninggalkan ruangannya.
Adnan keluar ruangan dan berjalan dengan linglung. Karyawan yang melihatnya langsung menunduk hormat, namun tidak juga dihiraukannya.
Dia tahu ayahnya seorang mafia bisnis yang tidak memandang posisi keluarga atau teman dalam berbisnis. Beliau menyamaratakan semuanya. Bukan karena keluarga atau teman dekat, maka beliau akan memberikan perlakuan khusus, bukan. Seperti itulah cara mafia berbisnis dan Adnan masih menerima cara bisnis ayahnya yang seperti itu, namun kalau sampai menyangkut nyawa, dia merasa itu sudah keterlaluan.
Adnan ingat dengan Pak Daus yang menjadi sopirnya saat masih sekolah dulu, selalu menceritakan tentang keluarganya terutama anak bungsunya yang cantik dan baik hati. Beliau yang begitu menyayangi keluarga, mengingat itu tiba-tiba saja Adnan semakin merasa bersalah.
***
Nabila adalah anak bungsu Pak Daus, seorang penjahit kecil-kecilan di desanya setelah lulus sekolah menengah atas.
Istri Pak Daus menjalankan toko bangunan terbesar di desanya, salah satu bisnis Tuan Sultan yang kurang maju namun cukup berhasil ketika dijalankan oleh beliau. Adnan tidak percaya kalau ayahnya memberikan kompensasi berupa usaha yang paling rendah sebagai ganti nyawa suami beliau.
Selama sebulan, Adnan memata-matai keluarga itu. Dari luar, memang kehidupan mereka terlihat nyaman, namun setelah Adnan cukup dekat dengan Nabila, ternyata gadis itu tersiksa oleh kakaknya sendiri.
Kakaknya yang suka sekali barang mewah, suka berkumpul dengan teman-teman sosialitanya, selalu meminta uang ke adiknya, padahal suaminya seorang akuntan di sebuah perusahaan cabang milik Adnan, selalu meminta uang hasil menjahit Nabila.
Detik itu juga, setelah sebulan mengenal keluarga Pak Daus, Adnan melamar Nabila tanpa memberitahu ayahnya terlebih dahulu.
"Maaf, Ayah. Adnan mengundurkan diri dari perusahaan. Adnan ingin berdiri dengan kaki sendiri tanpa bantuan si Mafia Bisnis," ucap Adnan, terpaksa menelepon Tuan Sultan ketika kaki tangan ayahnya mendatanginya dan memaksanya untuk ikut pulang.
Setelah itu Adnan membangun wisata Paunjunan di desa Nabila. Dalam waktu enam bulan, tempat itu berkembang dengan pesat. Adnan mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya, membangun bisnis-bisnisnya yang lain dalam bidang perniagaan.
Memang dirinya memiliki darah seorang Sultan, Sang Mafia Bisnis seperti ayahnya, maka usaha yang disentuhnya selalu berjalan dengan sukses, dan dia mendapat julukan Sang Raja Bisnis di kalangan perniagaan.
Selama beberapa tahun terakhir dia mendapat tekanan karena harus menggantikan ayahnya yang menghilang, menjalankan bisnis Tuan Sultan, padahal dia sendiri belum lulus kuliah hingga membuat Adnan yang supel, ramah, banyak teman menjadi pemurung dan cepat marah.
Dirinya yang tampan, tinggi, dan berkharisma menjadi tak terjangkau begitu kesehariannya dipenuhi dengan rapat, rapat dan rapat di perusahaan.
Namun setelah kemunculan kembali ayahnya dan memutuskan keluar dari kekangan beliau, Adnan seakan kembali seperti masa mudanya dulu, dia jadi lebih ceria apalagi setelah berhasil menikahi Nabila.
Perempuan cantik dan baik hati, persis seperti yang pernah Pak Daus ucapkan.
"Adnan berhasil menjadi suami Nabila, Pak. Seperti harapan bapak dulu, ingin Nabila memiliki suami yang tampan dan kaya seperti Adnan," gumam Adnan pelan sambil memeluk istri tercinta. Cara bicaranya pun jauh lebih sopan setelah menikahi Nabila.
Kehidupan baru pun dimulai. Adnan dan Nabila masih harus tinggal di rumah Pak Daus, juga bersama dengan ibu mertua dan kakak iparnya. Karena atas permintaan sang ibu mertua, sebab beliau masih belum siap ditinggalkan si bungsu.
Apakah perlakuan kakaknya Nabila masih sama? Masih meminta uang ke adiknya? Apakah dia akan berubah setelah mengetahui adik iparnya itu ternyata seorang Raja Bisnis yang begitu terkenal seantero Kalimantan.

Trioboy
11 Pengikut · 1 Novel