


oleh Rarha Ira · 24 Bab
Buku ini menceritakan tentang seorang wanita muda dengan segala permasalahan dalam hidupnya. Kehilangan seorang ayah adalah titik terberat baginya. Namun, siapa sangka, setelah kepergian cinta pertamanya itu, justru menambah kesulitan dalam hidupnya. Masalah datang silih berganti. Bukan hanya dari orang sekitar, tetapi juga dari suami, saudari, ibunda tercinta, juga orang-orang sekitar. Jika saja mentalnya lemah, mungkin saat ini ia sedang dalam penanganan medis. Novel ini terinspirasi dari kisah nyata. Dari kehidupan salah seorang wanita yang sedang berjuang melewati cobaan dan ujian hidupnya. Bagaimana kisah selengkapnya? Mampukah Aira menjalani kehidupannya yang begitu berat? Yuk, langsung ikuti kisahnya.
"Maaf, Buk," ucap seorang wanita cantik berpakaian serba putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya menatapku sendu. Kami menunggunya melanjutkan ucapan dengan perasaan yang tak menentu.
"Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Allah lebih sayang sama Bapak."
Bagai tersambar petir, seketika aku ambruk. Duniaku rasanya runtuh dan hancur berkeping-keping. Aku meraung di lantai marmer rumah sakit yang berwarna putih, seputih wajah pria yang saat ini tengah terbaring tak bernyawa di atas pembaringan.
"Bu, kami paham apa yang kalian rasakan, tapi mohon maaf, kalau kalian seperti ini akan mengganggu kenyamanan pasien lain," tegur seorang perawat dengan badan yang sedikit berisi. Namun, aku tak peduli dan terus meluapkan rasa sakit yang terasa menghimpit dada ini dengan menumpahkan seluruh air mata.
Kedua kakak perempuanku juga melakukan hal yang sama. Menangis dan meraung tanpa peduli teguran dari perawat itu. Sedangkan ibu langsung tumbang dan tak sadarkan diri. Tubuhnya lemah. Selemah tubuh cintanya yang tak lagi bernyawa.
Kami semua larut dalam linangan air mata, hingga tak sadar harus menyelesaikan administrasi untuk mengurus surat kematian bapak. Ya, cinta pertamaku itu kini telah berpulang, kembali ke pangkuan Sang Ilahi.
Suara tangisan menggema ke seluruh penjuru ruang ICU. Sanak saudara yang berada di luar pun, turut menangis mendengar kabar kematian bapak. Mereka ingin masuk, tetapi dilarang oleh perawat.
Tubuhku lemah dengan wajah penuh linangan air mata. Pak Lik Pram datang dan menyeretku keluar dari ruangan itu, sedangkan kedua kakakku dibopong oleh suaminya karena tak mampu lagi berdiri tegak.
Di luar, aku menangis dalam dekapan Bang Izul, suamiku. Tak kupedulikan ucapannya yang mengatakan harus kuat menghadapi kenyataan ini. Katanya, "kamu harus kuat, kasihan Bapak. Dia akan sedih dan nggak tenang ninggalin dunia kalau kalian, terutama kamu, kayak gini terus. Ikhlasin, biar terang jalan pulangnya."
"Bapak, Bang, Bapak!" seruku dengan suara bergetar.
"Iya, aku tahu kamu kehilangan bapak. Bukan cuma kamu, tapi kita semua! Kalau kamu kayak gini terus, bakal nyiksa bapak, Ra!" Bang Izul terus saja mengingatkan itu sampai aku muak mendengarnya.
Aku bangkit dan melepaskan pelukannya kemudian berkata, "Kamu belum ngerasain kehilangan seorang ayah dalam hidupmu, Bang, makanya mudah buatmu mengatakan itu. Sedangkan aku? Aku udah nggak punya Bapak lagi!"
Aku menangis sampai terisak-isak. Bang Izul kembali membawaku ke dalam dekapannya dan mengusap punggungku dengan lembut, tapi itu semua tak cukup membuatku merasa baik.
'Ya Allah, ternyata sesakit ini kehilangan orang tua. Pantas saja semua orang yang aku kenal selalu menangis ketika orang tuanya tiada. Bahkan, ada yang sampai pingsan,' aku bergumam dalam tangis.
Tak berapa lama, Bang Izul melepaskan pelukan. Seorang adik sepupu datang menghampiri. Ia memeluk tubuhku erat, seolah ikut merasakan kepedihan dalam hati.
"Nggak apa-apa, Mbak, nangis aja, tapi jangan lama-lama. Ikhlasin, supaya Pakde Amar tenang di alamnya yang baru. Kasihan beliau kalau kalian nggak bisa ikhlas," ucapnya menahan tangis.
"Bapakku udah nggak ada. Aku udah nggak punya bapak lagi," ucapku terisak dengan suara terbata-bata.
"Masih ada bapakku, ada Pakde Su. Mereka berdua itu bapakmu juga, Mbak, soalnya ada darah Pakde Amar dalam diri mereka." Gladis masih terus berusaha menghiburku tanpa melepaskan pelukan.
Ya, dia memang benar. Masih ada Pak Lik Pram dan Pakde Su sebagai pengganti Bapak, tapi bagaimanapun mereka tak akan bisa sama. Aku tak prnah dekat dengan Pakde Su yang memang rumahnya lumayan jauh dari kami. Sedangkan Pak Lik Pram, beliau termasuk orang yang tegas dan bisa dibilang galak kalau kata kami. Jadi, nggak terlalu dekat juga dengan beliau.
"Bapak udah nggak ada. Allah udah panggil Bapak buat pulang, kembali ke pangkuan Allah. Allah sayang sama Bapak. Allah nggak mau Bapak ngerasain sakit lagi. Allah nggak mau lihat Bapak tersiksa lagi. Allah nggak mau lihat Bapak kesusahan lagi hidup di dunia. Allah sayang sama Bapak. Allah sangat sayang sama Bapak," racauku menenangkan diri sendiri.
"Iya. Allah sayang sama Pakde Amar. Allah nggak mau Pakde Amar kesusahan lagi hidup di dunia ini, makanya Allah panggil beliau secepat ini," ucap Gladis menyemangati, "sekarang yang bisa kita lakuin adalah kirim doa untuk Pakde, semoga Allah menempatkan beliau ditempat terbaik di sisi-Nya."
Aku tak lagi menjawab ucapannya. Kini, pikiranku kembali pada Ibu. Bagaimana keadaannya? Apakah beliau sudah sadar?
Aku menghapus air mata dengan lengan baju, lalu menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kekuatan. Aku harus melihat Ibu. Aku harus memastikan beliau baik-baik saja.
"Bang, ibu gimana?" tanyaku lirih, masih terisak.
Bang Izul menatapku dengan penuh kasih. "Tadi pas aku ke ruang tunggu, ibu masih belum sadar. Dokter udah kasih obat penenang biar beliau istirahat."
Aku mengangguk lemah dan ingin segera ke sana, tapi kakiku masih gemetar. Takut melihat Ibu dalam kondisi yang lebih lemah daripada aku.
"Bang, tolong antar aku ke ibu," pintaku akhirnya.
Bang Izul tak menjawab, hanya menggenggam tangan dan membimbingku menuju ruang perawatan. Sepanjang perjalanan, suara tangisan keluarga masih terdengar. Mereka semua sama hancurnya denganku. Aku menunduk, tak sanggup melihat mereka satu per satu.
Saat kami tiba di depan ruang perawatan, kulihat Kak Lila dan Kak Rina duduk di kursi tunggu dengan mata sembab. Kedua suami mereka berdiri di belakang, tak banyak bicara.
"Ibu masih belum sadar?" tanyaku cemas.
Kak Lila menggeleng. "Baru aja bangun sebentar, terus nangis lagi. Dokter kasih obat supaya Ibu bisa istirahat."
Aku mengintip ke dalam kamar. Ibu berbaring di ranjang dengan wajah yang tampak lebih tua dari sebelumnya. Garis-garis halus di wajahnya semakin dalam, menunjukkan kesedihan yang tak terlukiskan.
Pelan-pelan aku melangkah masuk, mendekat ke sisi tempat tidur. Aku menggenggam tangannya yang terasa begitu dingin.
"Ibu," panggilku dengan suara serak.
Kelopak mata Ibu bergerak sedikit, lalu perlahan terbuka. Matanya yang dulu penuh kasih kini dipenuhi kesedihan.
"Ra," bisiknya lirih. Air mataku kembali mengalir.
"Ibu, aku di sini," ucapku, menggenggam tangannya lebih erat.
Beliau menatapku lama, lalu matanya berkaca-kaca lagi. "Ra, bapakmu pergi."
Aku tak tahu harus berkata apa. Kata-kata terasa begitu kosong saat ini.
Aku hanya bisa memeluk Ibu, membiarkan air mata kami bercampur. Kami berdua menangisi kehilangan yang sama—kehilangan sosok yang begitu berharga dalam hidup kami.
Di belakangku, terdengar isakan Kak Lila dan Kak Rina.
***

Rarha Ira
19 Pengikut · 1 Novel